
Setelah kepergian suaminya, Alsya yang tadi sempat mengantar Aly sampai di teras rumah kembali memasuki rumah dan mengunci pintu rumahnya.
Sebenarnya tadi saat dia mengatakan masuk ke kamar adalah untuk mengganti pakaiannya yang kotor karena memasak, namun ada hal lebih yang sudah dia rasakan sebelum memasak, perutnya sempat terasa keram juga dia merasakan ada sesuatu yang terasa mengganjal di bagian tubuh bawahnya. Dan saat Aly pergi, rasa keram di perutnya semakin terasa menyiksa. Alsya langsung memapah tubuhnya sendiri untuk duduk. Tangannya mengusap lembut perut agar rasa keram itu mereda, dan akhirnya manjur, rasa keram pada perutnya sedikit mereda sehingga Alsya bisa kembali berdiri untuk masuk ke dalam kamar.
Alsya beranjak ke kamar, mendudukkan tubuhnya di atas ranjang lalu tangannya meraih ponselnya yang tergeletak di atas tempat tidur dan segera menghubungi kakaknya, Annisa. Setelah sambungan terhubung, Alsya memberitahukan kondisinya pada sang kakak yang kebetulan adalah seorang dokter ahli kandungan dan kakaknya malah mengatakan bahwa itu adalah kontraksi awal kelahiran lalu berkata lagi bahwa dia akan segera datang ke rumah Alsya secepatnya.
Alsya kembali merasakan keram di perutnya. Tangannya mencengkram erat kain pakaian yang tepat menutupi perutnya. Alsya meringis kesakitan bahkan cucuran keringat dingin mulai bermunculan di dahinya.
Rasa sakit yang amat dahsyat untuk dirasakan oleh seorang wanita kala masanya datang untuk memperjuangkan sang buah hati melihat dunia.
"Aaah... Astaghfirullah... Ya Allah..." Alsya meringis tak kuat menahan kesakitannya, tapi dia berusaha sebisa mungkin untuk berjalan menuju pintu lagi sebab tidak mungkin kakaknya bisa masuk karena pintu yang terkunci.
Dengan tertatih, Alsya berjalan menuju pintu dan berhasil membukanya setelah sampai. Namun dia tidak sanggup lagi untuk melangkah sehingga hanya bisa tergeletak di lantai dengan air mata yang mulai keluar dari sudut-sudut matanya.
"Alsya, kamu ada di dalam ?!." Seseorang mengetuk pintu bersamaan dengan suara tersebut.
Alsya sangat kenal dengan pemilik suara itu. "Iya, mbak... Buka aja pintunya...!." Ujar Alsya dengan suara melemah.
Pintu perlahan terbuka dan memunculkan sosok kakaknya.
"Astaghfirullah... Al ?!." Pekik Annisa langsung berjongkok di hadapan Alsya.
"Mbak... Perutku sakit sekali..." Rintih Alsya merasakan bagaimana rasanya kesakitan yang melanda perutnya.
"Iya, Al. Sebentar!." Ujar Annisa lalu keluar dan datang kembali bersama suaminya. "Mas, tolong angkat Alsya ke mobil !." Pintanya pada sang suami.
Suami Annisa mengangguk dan segera menggendong tubuh Alsya lalu membawanya ke mobil.
Annisa mengambil kunci rumah yang masih tergantung di pintu bagian dan langsung menutup pintunya dan menguncinya dari luar. Annisa berlari menyusul suami dan adiknya ke mobil.
Dengan hati-hati, Affan-suami Annisa, meletakkan tubuh Alsya ke jok belakang lalu membenarkan posisi kepala Alsya di atas pangkuan Annisa.
Mobil mulai melesat melakukan perjalanan menuju rumah sakit dengan kecepatan tinggi.
Annisa terus perhatikan keadaan Alsya. Alsya sedikit tenang saat Annisa mengusap-usap lembut perutnya, mungkin bayinya sedang tenang, itulah sekiranya yang di fahami Annisa.
__ADS_1
"Mbak...!!." Alsya tiba-tiba menjerit dan mencengkeram kuat lengan kakaknya saat rasa sakit itu kembali menerjang perutnya yang sempat tenang.
"Iya, Al, tenang... Kontrol nafasmu, ya..." Ucap Annisa mencoba menenangkan adiknya dengan telapak tangan masih terus mengusap-usap perut Alsya.
"Mbak... Al sudah lemas .... Al tidak kuat..." Rintih Alsya dengan pandangan mata sudah sayu seperti akan pingsan.
"Al, jangan pingsan !. Bangunlah !." Ujar Annisa mulai panik saat melihat adiknya akan pingsan, hal yang sangat membahayakan bagi sang ibu dan calon buah hatinya jika sampai Alsya hilang kesadaran. Annisa menepuk-nepuk wajah Alsya agar Alsya tetap terjaga, dan ternyata berhasil, Alsya urung menutup matanya.
"Mbak..." Gumam Alsya.
Akhirnya mobil sampai di lobi rumah sakit. Affan langsung keluar dan memanggil perawat agar membantunya.
"Al, kita sudah sampai." Ucap Annisa yang tanpa mendapatkan balasan sama sekali oleh Alsya, mungkin Alsya sudah kehilangan tenaganya untuk menjawab ucapan sang kakak.
Pintu mobil dibuka dari luar dan memperlihatkan tiga perawat rumah sakit, yaitu dua perempuan dan satu laki-laki. Mereka membantu mengeluarkan Alsya dari mobil dan membaringkannya di atas brankar lalu membawanya masuk ke rumah sakit, tepatnya ke ruang bersalin.
Annisa dan Affan membuntut di belakang hingga sampai di depan ruang bersalin mereka tidak diperbolehkan masuk selama proses pemeriksaan keadaan Alsya sebelum sesi melahirkan. Keduanya memilih duduk di kursi tunggu dengan pemikiran masing-masing, dimana tanpa mengatakan apapun, mereka menghubungi keluarga tentang kondisi Alsya yang akan melahirkan. Affan menghubungi Abah juga keluarga Aly sedangkan Annisa menghubungi Aly yang ternyata tidak membuahkan hasil meski telah mencobanya berkali-kali.
"Mas, Aly tidak bisa dihubungi sama sekali." Ujar Annisa kesal.
"Yah, tapi bagaimana dengan Alsya ?. Masa dia akan lahiran tapi suaminya tidak ada!."
"Sudah, tidak apa-apa, lagian Abah sama umma juga akan kesini."
"Tapi, mas... Ahh, kenapa aku merasa kesal sekali dengan Aly !." Ujar Annisa lagi.
Affan hanya bisa menggeleng pasrah sebab dia juga tidak faham kemana suami dari adik iparnya itu.
Tidak lama, keluarga besar datang, termasuk keluarga Aly.
"Alsya ada dimana ?." Abah langsung bertanya pada Annisa.
"NIS, bagaimana keadaan Alsya ?." Umma juga bersuara.
"Alsya ada di dalam, umma." Jawab Annisa sendu
__ADS_1
"Apa Aly juga ada di dalam ?." Kali ini ibunya Aly yang bertanya.
Annisa menggeleng lemah. "Belum, Tante. Alsya sendirian di dalam." Jawabnya.
"Astaghfirullah... " Pekik keempat orang tua itu.
"Kemana anak itu ?!." Ujar ayahnya Aly merasa geram sendiri dengan tingkah putranya yang demikian.
Dari awal Aly yang memutuskan untuk masih terus mondok meski sudah menyandang status sebagai suami, ayahnya memang sudah sangat marah ditambah sekarang, ayahnya seakan ingin membuat wajah putranya itu babak belur saja.
Semua orang terdiam dengan pemikiran masing-masing hingga pintu pemeriksaan dibuka, mereka terkesiap dan menghampiri perawat yang keluar dari sana.
" Pasien akan segera melahirkan. Jadi, dimanakah suaminya?, " Ujar perawat tersebut.
"Suaminya belum datang, sus. Saya yang akan menemaninya di dalam." Ucap umma yakin.
"Baiklah, mari ?!." Ucap perawat itu lalu kembali masuk ke dalam ruangan tersebut dan dibuntuti oleh umma.
Hati semua orang harap-harap cemas sebab belum juga ada kabar atas proses persalinan Alsya. Bahkan sudah setengah jam, masih belum juga ada tanda-tanda keadaan Alsya di dalam.
Pintu ruangan itu kembali dibuka membuat semua orang langsung mendekati dokter yang keluar dari sana.
"Bagaimana, dok ?." Tanya Annisa spontan. Meski sama-sama memiliki profesi sebagai dokter ahli kandungan juga teman dekat, keduanya tetap masih bersikap profesional dengan saling memanggil sebutan dokter jika sedang berbicara di area pekerjaan.
Jika ditanya, kenapa Annisa tidak ikut andil dalam penanganan Alsya, itu dikarenakan Annisa sedang menjadi mas cuti dari pekerjaan sebab dia sedang mengikuti program kehamilan yang harus dengan sesuai prosedurnya, yaitu menjauh dari kegiatan yang padat juga sesuatu hal yang akan berdampak negatif untuk prosesnya.
"Dokter Nissa, saya ingin berbicara sebentar dengan anda." Dokter tersebut memberikan sebuah isyarat dari tatapannya.
"Baiklah, ayo?!." Annisa yang memahami tatapan tersebut langsung menyetujuinya.
Kedua dokter itu masuk ke dalam ruangan tersebut untuk membicarakan hal penting mengenai kondisi Alsya sekarang.
"Apa yang terjadi ?."
_________________
__ADS_1