Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Pertemuan tak sengaja


__ADS_3

"Astaghfirullah !." Anand reflek menginjak pedal gasnya membuat mobilnya berhenti seketika.


Anand menoleh ke arah Alsya yang duduk di sampingnya. " Kamu baik-baik saja, yang ?." Ujarnya panik dan langsung mengusap lembut kening istrinya yang sedikit memerah karena terbentur dashboard.


"Tidak apa-apa, A. Ada apa ?, Kenapa berhenti mendadak ?." Tanya Alsya yang kebingungan dengan tingkah suaminya yang hampir mencelakai mereka berdua.


Untungnya tidak ada Fazal disana, dan jika ada, pasti sudah terjadi sesuatu pada putranya itu.


"Maaf, sayang. Aku sangat terkejut, tadi... Ya Allah !." Anand tidak melanjutkan ucapannya. Dia malah keluar dari mobilnya dan berlari ke arah depan.


Alsya yang penasaran ingin tahu juga ikut keluar dari mobil dan menghampiri suaminya. Alsya sangat terkejut saat melihat seorang bocah sekitar berusia dua tahunan sedang di pangku suaminya. "Mas, dia siapa ?." Tanyanya syok.


Alsya ikut berjongkok di hadapan suaminya. Dia menyentuh kepala bocah yang sedang menutup matanya itu.


"Aku tidak sengaja menabraknya, sayang. Sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang !." Anand mengangkat tubuh mungil itu ke dalam gendongannya lalu bergegas untuk ke mobil lagi.


"A'!. Tunggu !." Seru Alsya menghentikan langkah kaki suaminya.


Anand menoleh.


"A', ini sudah sangat malam. Apa...?." Alsya menatap wajah bocah itu kemudian beralih ke sekitanya.


Anand mengerti dengan arti tatapan mata istrinya tapi dia juga tidak bisa meninggalkan tanggung jawabnya terhadap bocah yang telah ditabraknya itu.


"Insya Allah, ini memang murni kecelakaan, sayang. Percaya saja, semoga Allah melindungi kita setelah ini." Ujar Anand meyakinkan istrinya agar tidak terlalu parno.


Kemudian dia menggendong tubuh bocah kecil itu masuk ke dalam mobilnya dengan terburu-buru. Alsya akhirnya menyetujui ucapan Anand dan langsung menyusul langkah suaminya.


Anand meletakkan tubuh bocah tersebut di pangkuan Alsya dan dia segera menyalakan mobilnya lagi dan langsung meluncur menuju ke rumah sakit.


Sampai di tempat tujuan, Anand kembali mengambil alih bocah itu dan dibawanya masuk kedalam bangunan rumah sakit kemudian meminta petugas rumah sakit untuk membantunya.


Keduanya duduk di kursi tunggu dekat ruang IGD, menunggu hasil dari pemeriksaan terhadap bocah yang tak sengaja Anand tabrak tadi.


"A', semoga dia baik-baik saja, ya ?. Tapi, kenapa ada anak kecil malam-malam keluar ?." Alsya masih meragukan tentang gadis yang ditemuinya.


Anand membawa tangan Alsya ke atas pangkuannya. "Kita berdoa saja semoga Allah selalu melindungi kita." Ujarnya lembut.


Alsya menghembuskan nafasnya berat lalu mengangguk mengiyakan.


Pintu Ruang IGD dibuka. Alsya dan Anand langsung menghampiri dokter yang baru keluar dari sana.


"Dok, bagaimana keadaannya ?."


"Dia baik-baik saja, tidak ada luka yang serius dan hanya sedikit syok saja sehingga belum sadar sampai saat ini. Pasien juga akan dipindahkan ke ruang inap biasa."


"Alhamdulillah, syukurlah. Terimakasih Dok."


"Iya, sama-sama." Dokter itu berlalu pergi.


Alsya dan Anand menunggu lagi di kursi tunggu dan tidak lama, terlihat dua orang perawat mendorong brankar keluar dari ruangan IGD.

__ADS_1


Alsya dan Anand terkesiap lalu mengikuti di belakangnya.


Satu jam berlalu. Bocah cantik itu mulai membuka matanya. Alsya yang lebih dulu menyadarinya langsung mendekat dan berdiri di samping ranjang yang berisi bocah kecil itu. Alsya mengusap lembut kepalanya bersamaan dengan Anand yang berjalan mendekat setelah keluar dari kamar mandi.


"Kamu sadar, sayang ?." Tanya Alsya penuh perhatian.


Bocah cantik itu mengerjapkan matanya berkali-kali saat melihat wajah Alsya tapi kemudian dia seperti orang kaget dan mencoba menghindar dari jangkauan Alsya.


Alsya memakluminya karena pasti bocah itu kaget sebab tidak mengenal orang-orang yang berada disekelilingnya. "Tidak apa-apa, sayang. Kami orang baik kok, kamu tidak usah takut sama kami ya ?." Ujar Alsya dengan suara yang sangat lembut.


"Ayah... Mau ketemu ayah..." Rengeknya tiba-tiba dan mulai menangis.


Alsya segera merengkuh tubuh mungil bocah itu ke dalam pelukannya. Tangan Alsya mengusap-usap lembut punggung bocah kecil itu.


Anand juga ikut mengusap-usap lembut kepala bocah tersebut.


Alsya meleraikan kembali pelukannya. "Anak cantik namanya siapa ?." Tanya Alsya masih dengan suara yang sangat lembut.


"Keyya."


"Keyya ?."


Bocah cantik itu mengangguk mengiyakan.


Alsya kembali memeluknya. " Baiklah, Keyya, jangan takut yaa, kami tidak akan menyakiti Keyya." Ujar Alsya mencoba menenangkan bocah itu agar tidak takut pada mereka.


"Gimana A' ?." Tanyanya pada suaminya kemudian.


"Sebelum orang tuanya ketemu, kita akan menjaganya."


"Tentu saja, tapi mereka juga salah karena telah teledor pada anak sendiri."


Alsya terdiam menurut. "Baiklah, kita akan menjaganya, tapi kita belum memberi kabar ke rumah."


"Sudah, tadi aku menghubungi asisten pribadiku untuk memberitahu orang di rumah.


Alsya kembali mengangguk. Dia melirik ke arah Keyya yang ternyata sudah terlelap kembali. Rupanya dia merasa nyaman dengan usapan lembut tangan Alsya. Alsya menatap lagi wajah suaminya sambil tersenyum. "Sudah tidur lagi." Ujarnya lembut.


Anand juga ikut tersenyum. "Dia nyaman sama kamu, sayang."


" Iya, sepertinya."


✓✓✓✓✓✓✓✓


Alsya dan Anand sudah bersiap untuk pulang ke rumah, karena siang ini Keyya sudah dibolehkan untuk pulang. Setelah dipikir-pikir, mereka akan membawa Keyya ke rumahnya bersamaan dengan anak buah Anand yang diperintahkan untuk mencaritahu tentang keberadaan orang tua Keyya.


"Ummi."


"Iya sayang ?."


"Keyya mau ketemu sama ayah." Perkataan yang sering sekali diucapkan oleh Keyya.

__ADS_1


Sebenarnya Alsya dan Anand sedikit bingung, kenapa Keyya selalu meminta untuk menemui ayahnya, padahal seharusnya anak seusia Keyya itu yang dipanggil-panggil adalah ibunya. Kadang keduanya berpikir jika Keyya hanya memiliki orang tua tunggal saja dan itu adalah ayahnya.


Setelah selesai melakukan pemeriksaan terakhir, infus yang menempel di tangan Keyya dilepaskan kemudian mereka semua bergegas pergi dari rumah sakit untuk menuju ke rumah.


Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, mereka sampai di rumah.


Keyya yang berada di gendongan Anand tampak memperhatikan keadaan sekitar. "Abi, ini rumah siapa?." Tanyanya polos sambil menatap wajah Anand.


"Ini rumah Abi sama Ummi, tapi sekarang ini juga jadi rumah Keyya."


"Woww, rumahnya gede ya Abi ?."


Anand tersenyum menanggapi dan tangan kanannya mengacak gemas rambut Keyya yang di kuncir rapi oleh Alsya tadi pagi.


Alsya juga menyumbangkan senyumnya melihat suaminya yang memang sangat menyukai anak-anak.


"Ummi.... !!." Fazal berlari menyongsong kedatangan kedua orang tuanya dan dibelakangnya Inne tampak siaga menjaga Fazal.


Alsya berjongkok dan merentangkan kedua tangannya lalu saat Fazal sudah sampai di dekatnya dia segera memeluknya erat dan berkali-kali mendaratkan kecupannya di kedua pipi Fazal. Meski hanya satu malam mereka tidak bertemu tapi Alsya sangat merindukan putranya itu.


Anand menurunkan Keyya dan memeluk erat tubuh Fazal setelah Alsya melepaskan pelukannya. "Abi jahat !. Tadi malam katanya keluarnya sebentar !."


"Iya, nak. Maafkan Abi ya ?. Kan tadi malam Abi harus nemenin orang sakit dulu."


Fazal hanya mengangguk mengiyakan tapi wajahnya masih terlihat murung.


"Oh ya, ini Abi bawain teman buat Fazal." Anand mendekatkan Keyya dengan putranya. "Namanya Keyya." Ujarnya melanjutkan.


Fazal memperhatikan Keyya dari ujung rambut hingga ujung kaki kemudian dia mengulurkan tangannya untuk bersalaman. "Hallo, namaku Fazal."


Keyya terlihat ragu-ragu menyalami tangan Fazal. "Keyya."


Mereka kembali melepaskan salamannya.


"Ya udah, sekarang kita masuk yuk ?!." Ujar Alsya karena saat ini mereka masih berada di depan pintu.


Semuanya menurut dan masuk ke dalam rumah.


Di lain tempat, Aly sangat syok saat mendapat kabar dari kedua orang tua angkat putrinya yang memberitahukan jika putrinya telah hilang.


Aly yang sangat marah tentunya tidak bisa tinggal diam. Selama ini meski dirinya tidak pernah bertemu dengan putrinya tapi dia juga tidak meninggalkan tanggung jawabnya dengan selalu rutin mengirimkan uang untuk kebutuhan sehari-hari Chayra pada orang tua angkatnya.


Dan saat putrinya hilang, dengan santainya mereka memberitahu Aly seolah tidak merasa bersalah sedikitpun.


Hari ini Aly bahkan tidak masuk ke kantor demi mencari putrinya. Dia juga baru tahu jika selama ini putrinya tidak sedang di Jogja, melainkan di kota yang sama dengan dirinya. Aly juga mengerahkan seluruh anak buahnya untuk ikut mencari keberadaan sang putri yang telah hilang.


Tempat yang dia tuju untuk mencari putrinya adalah area perkomplekan tempat tinggal orang tua angkat putrinya selama ini. Tapi setelah berjam-jam lamanya dengan sesekali bertanya pada orang-orang, Aly masih belum juga menemukan Chayra. Dia beralih ke daerah tetangga perkomplekan tersebut dan melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Tapi tetap saja, tidak ada yang melihat bocah kecil yang ada di foto yang berada di ponsel Aly saat dia menunjukkannya pada orang-orang yang dia tanyai.


✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓


Maafkan othor yang membuat ceritanya banyak pemain para pembaca...🙏🏻🙂

__ADS_1


Ini othor lakukan karena kisah hubungan Aly dan Alsya yang sudah terpisah, jadi mereka memiliki kisah hidup yang berbeda dan juga lingkup orang yang berbeda-beda juga🙏🏻😊😊


terus ikuti alurnya yaa... jangan bosan untuk memberikan dukungannya juga agar othor semakin semangat untuk menulis 🙏🏻🙏🏻🥰🥰


__ADS_2