
Mini market...
Pagi yang cerah secerah wajah Alsya yang sedang mencari-cari susu formula khusus untuk ibu hamil. Tangan Alsya memilah-milah kemasan demi kemasan karena dia akan membeli susu dengan merek yang berbeda seperti biasanya, sebab sudah merasa bosan.
Setelah menemukan beberapa jenis merek yang menurutnya sesuai keinginan, Alsya kembali memilih manakah yang akan dia ambil, dan jatuhlah pilihannya pada merek dengan kemasan berwarna biru lalu memasukkannya ke troli belanjaan. Alsya menelusuri lorong rak-rak lagi untuk mencari sesuatu yang mungkin saja akan dibeli. Tangannya mengambil beberapa jenis makanan ringan dan terus berjalan menuju area rak perlengkapan pribadi karena di rumah memang sudah hampir habis semua. Disana, dia mengambil beberapa sabun mandi, pasta gigi, shampo lalu cuci muka.
"Astaghfirullah !." Alsya terpekik dan langsung menarik kembali tangannya karena tidak sengaja menyentuh tangan seseorang.
Alsya menoleh ke arah orang yang berdiri di sampingnya.
Dia lagi ?!.
Alsya segera pergi dari tempat tersebut untuk menghindari pria menyebalkan yang beberapa hari lalu pernah mengganggunya.
"Hey, Nona ?!. " Teriak pria itu.
Alsya tidak menggubrisnya sama sekali dan memilih memasuki lorong rak-rak yang berbeda dari sebelumnya. Alsya benar-benar tidak ingin berurusan dengan pria itu lagi karena pasti hanya akan membuat dirinya marah saja.
Tangan Alsya kembali memilah-milah beberapa sayuran sehat, karena memang saat ini dirinya berada di area sayuran lalu beranjak lagi menuju area buah-buahan dan mengambil beberapa buah yang dia suka lalu berjalan lagi menuju kasir untuk membayar belanjaannya dan selesai setelah semuanya sudah rapi dikemas.
Alsya segera menghubungi supirnya yang kebetulan ada di luar mini market untuk membawakan belanjaannya keluar sedangkan dirinya sendiri memilih duduk istirahat di salah satu bangku dekat meja kasir.
Ponselnya berdering, membuat Alsya segera mengecek siapa yang menelponnya dan ternyata itu adalah suaminya. Alsya segera mengangkat teleponnya.
"Hallo, assalamualaikum."
"Waalaikum salam, sayang. Kamu sedang apa ?."
"Aku sedang belanja, mas di minimarket."
"Sama umma ?."
"Tidak, aku belanja sendirian tapi diantar supir Abah."
"Ouh, terus sekarang udah selesai belum belanjanya ?, Awas loh, jangan sampai kecapean."
"Iya, mas. Ini aku sudah selesai kok belanjanya, dan sekarang aku sedang istirahat dulu sebentar, sebelum pulang ke rumah."
"Ya udah, kalau sudah selesai langsung pulang ya, terus istirahat !."
"Iya, mas. Mas lagi mengajar ?."
"Nggak, mas udah selesai dari tadi, sekarang mas lagi istirahat di kamar."
"Oh, ya udah, mas. Aku mau pulang dulu, aku matiin ya teleponnya ?."
"Iya, sayang. Hati-hati dijalan. "
"Iya, mas. Assalamualaikum..."
__ADS_1
"Waalaikum salam..."
Sambungan telepon terputus. Alsya segera bangkit dari duduknya dan melangkah menuju pintu keluar dan menghampiri supir keluarganya yang sedang berdiri di samping mobil Abahnya.
"Mang, di daerah sini ada masjid nggak ?." Alsya bertanya demikian, karena dia memang tidak terlalu paham daerah sekitar, sebab terlalu lama mondok jadi perubahan-perubahan yang terjadi di daerah rumahnya, dia tidak tahu sama sekali.
"Ada, neng. Tapi lumayan jauh, kalau neng mau kesana, kita naik mobil saja."
"Oh, yaudah nggak papa, mang. Yuk ?!."
"Iya, neng." Ucap supir keluarganya dan langsung membukakan pintu belakang untuk Alsya masuk ke dalam mobilnya.
Mobil mulai beranjak dari tempat parkiran dan melesat menuju masjid terdekat, sebab waktu dhuhur sudah ngaret dua puluh menit yang lalu.
Hanya sepuluh menit mereka sudah sampai di area tempat parkir masjid. Alsya segera turun dari mobil, melangkah memasuki masjid dan langsung menuju area tempat wudhu.
Selesai sholat dhuhur sembari menunggu supir keluarganya yang masih didalam masjid, Alsya duduk di teras masjid sambil menatap area sekitar. Tatapan matanya tiba-tiba tertuju pada sebuah pedagang kaki lima di seberang jalan yang menjual es rujak. Alsya sangat ingin membelinya, dia langsung bangkit dan berjalan menuju pedagang tersebut. Sebelum menyeberang jalan, Alsya menengok kanan kiri untuk memastikan tidak ada kendaraan yang melintas lalu setelah aman, dia segera menyeberang.
"Assalamualaikum, mas." Ujarnya saat telah sampai di tempat tujuan.
"Waalaikum salam, mbak, mau beli es rujaknya ?."
"Iya, mas. Saya beli dua bungkus ya ?."
"Iya, mbak, sebentar yaa, silahkan mbaknya duduk dulu aja disana." Penjual itu menunjuk kursi kosong yang merupakan miliknya.
Alsya mengangguk dan duduk di kursi tersebut sambil menunggu pesanannya jadi.
Setelah menunggu selama delapan menit, akhirnya pesanan Alsya sudah jadi, dia segera membayarnya.
"Terima kasih, mas. Assalamualaikum."
Alsya kembali berdiri di tepi jalan untuk memastikan keadaan lalu lintas seperti sebelumnya, sebelum menyebrang. Setelah dirasa aman, Alsya mulai melangkahkan kakinya perlahan.
"Nona...!!, Awas...!!"
Teriakan itu membuat Alsya menoleh ke arah suara. Namun bersamaan dengan itu, Alsya merasa tubuhnya seperti dihantam sesuatu yang keras membuat tubuhnya terhempas dan mendarat di suatu tempat yang keras.
Astaghfirullah...
Lamat-lamat Alsya melihat beberapa orang berlarian ke arahnya dan setelah itu, matanya terpejam rapat sehingga tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya.
__________
Seorang pria yang sedang bahagia karena baru saja bertemu dengan gadis judes yang pernah ditemuinya saat lari pagi itu, kini sedang melakukan sholat dhuhur berjamaah di masjid. Setelah selesai, dia keluar dari masjid dan betapa terkejutnya dia saat melihat gadis itu lagi.
__ADS_1
Pria itu bernama Dimas, dengan nama lengkap Raden Dimas Aryana (Identitasnya ada di novel Lautan Pesona Azrinna).
Dari kejauhan, dia melihat gerak-gerik gadis tersebut yang tampak menikmati kesendiriannya sambil melihat-lihat sekeliling tempat duduknya. Dimas memilih duduk agar bisa lebih santai memperhatikan wajah cantik gadis tersebut, gadis yang tertutup rapat dengan pakaian syar'i juga kerudung besarnya yang menutup tubuhnya sampai jari-jarinya. Cara berpakaian yang sama seperti yang waktu dia lihat saat pertama kali bertemu dengan gadis tersebut.
Dimas terkesiap saat melihat gadis itu bangkit dari duduknya dan melangkah menyeberangi jalan. Dimas tak mau kehilangan sosok tersebut dan berusaha terus memperhatikannya dari kejauhan hingga dia melihat gadis itu berhenti di salah satu pedagang kaki lima. Dan setelah beberapa menit kemudian, gadis itu kembali menyeberangi jalan. Namun sesuatu hal membuatnya khawatir.
Dimas segera berlari menghampiri gadis itu dan berteriak. Tapi belum sempat menyelamatkannya, gadis itu sudah dihantam oleh sebuah mobil pick up yang melaju kencang dan membuat gadis itu terpental beberapa meter lalu terkapar di sisi trotoar.
Dimas segera merengkuh tubuh yang sudah berbalut darah itu dalam dekapannya. Bau amis membuatnya miris membayangkan betapa sakitnya luka yang dialami gadis cantik itu.
"Nona, nona, kau tidak apa-apa ?!." Ujarnya panik sambil menepuk-nepuk wajah gadis cantiknya.
"Nona, buka matamu !." Ujarnya semakin cemas karena gadisnya perlahan terlelap.
"Tolong...!!. Siapapun...!!." Teriaknya terdengar seperti orang kalap dan frustasi.
"Tuan, masuklah !." Sebuah mobil menghampiri.
Dimas segera mengangkat tubuh mungil gadisnya lalu masuk kedalam mobil tersebut.
Mobil melaju kencang membela perjalanan menuju rumah sakit. Selama perjalanan, Dimas terus memperhatikan wajah cantik yang sedang menyender di dadanya dalam keadaan tidak sadarkan diri. Tangan Dimas terulur dan membersihkan bercak darah yang mengotori wajah gadis cantiknya.
"Nona, bertahanlah..." Ucapnya lirih.
Dimas sedikit membenarkan posisi kepala gadisnya dan sangat terkejut saat melihat darah segar terus mengalir dari kepala gadisnya. Entah luka seperti apa yang terjadi pada kepala gadis itu yang jelas pasti sangat parah sebab lukanya tidak mau berhenti sama sekali.
Tanpa terasa, perjalanan telah sampai pada tempat tujuan. Pintu mobil dibuka dari luar, dan Dimas segera menggendong tubuh gadisnya, berlari sambil berteriak histeris meminta bantuan. Dan sesaat terlihat beberapa pegawai rumah sakit menghampiri lalu menyuruhnya meletakkan tubuh gadisnya itu di atas brankar.
Brankar didorong dengan tergesa-gesa menuju ruang ICU. Dimas semakin cemas saat melihat wajah-wajah petugas rumah sakit yang terlihat sangat cemas.
"Nona, bertahanlah..." Ucapnya lagi seolah-olah orang yang diajaknya bicara itu mendengar ucapannya.
Mereka sampai di pintu ruang ICU. "Maaf, tuan, anda tidak diperkenankan masuk." Ucap salah seorang petugas rumah sakit dengan tegas dan langsung menutup pintunya.
"Tidak !. Aku ingin menemaninya !." Ucap Dimas mencegah agar pintunya tidak ditutup.
"Tuan, anda tidak boleh seperti ini !. Anda harus tenang, kamu akan berusaha sebaik mungkin untuk pemeriksaannya. Jadi lebih baik anda mematuhi perintahnya."
"Tapi aku tidak bisa meninggalkan gadisku berjuang sendirian..." Ucap Dimas melemah, benar-benar merasa frustasi.
"Lebih baik anda perbanyak berdoa tuan, maaf, jangan mengganggu kenyamanan kami." Ucap petugas itu lagi lalu segera menutup pintu dan menguncinya.
Dimas hanya bisa pasrah menuruti perintah tersebut karena semua itu juga tiada lain adalah untuk gadisnya. Dimas melangkahkan kakinya yang terasa lemas tak bertenaga menuju kursi tunggu.
Saat duduk, dia memperhatikan pakaiannya sendiri yang telah kotor karena terkena darah, dan bau amisnya membuat dirinya semakin cemas sebab teringat bagaimana tadi luka yang ada di kepala gadisnya terus saja mengeluarkan darah.
"Astaghfirullah... Ya Allah, semoga Engkau menyelamatkan gadisku..." Ucap lirih penuh permohonan pada Sang Pencipta.
Suara berisik orang yang baru datang membuatnya menoleh ke arah suara dan terlihatlah pasangan suami istri berumur setengah baya, sedang berjalan tergesa dengan wajah penuh kekhawatiran bahkan yang perempuannya sedang menangis. Lalu disusul lagi dengan sepasang suami istri juga dengan wajah lebih muda.
__ADS_1
__________