
Tidak ada jalan yang mulus, sejatinya pasti ada liku, terjal, mawas diri, bahkan sampai memicu adrenalin. Begitupun dengan jalan tol yang katanya jalur tanpa hambatan pula memiliki belokan.
Intinya semua itu adalah cobaan dan ujian yang Allah berikan untuk meninggikan derajat hambanya. Jika merasa tak sanggup menghadapinya, bukan berarti Allah memberikan cobaan yang diluar batas kemampuan sang hamba, tetapi hambanya lah sendiri yang kurang memahami kemampuannya sendiri.
Semua ujian yang Allah berikan tidaklah jauh dari apa yang kita bisa. Percayalah.
__________
Sudah dua tahun setengah usia pernikahan Aly dan Alsya. Keduanya masih bersikap normal layaknya keluarga harmonis, ditambah dengan adanya sang putra yang semakin mewarnai kehidupan mereka.
Umur sang buah hati yang baru menginjak dua setahun setengah membuat keduanya juga semakin extra memforsir tenaga untuk menjaga sang buah hati yang telah diberi nama Hafidhz Muhammad Lathif, disapa Hafidhz.
"Hafidhz jangan kemana-mana ya, nak ?!, Mainnya disini aja, ummy mau ke dapur sebentar."
"Iya."
"Pinter."
Alsya segera beranjak pergi menuju dapur untuk meletakkan piring yang tadi dipakai untuk makan siang buah hatinya. Putranya memang masih sangat kecil, tapi kecerdasannya sangat menguntungkan bagi orang tuanya. Hafidhz adalah anak yang nurut dan patuh terhadap ucapan orang tuanya. Bahkan setelah selesai berkutat di dapur, Alsya kembali dan melihat Hafidhz masih sibuk dengan peralatan menggambar, seperti saat sebelum dia meninggalkannya.
"Hafidhz lagi gambar apa ?." Tanya Alsya mendekati tubuh putranya.
"Nggak ada, ummi." Tangan kecil Hafidhz langsung meringkus buku gambarnya dan menyembunyikannya di belakang punggung.
"Eh, kok di umpetin sih ?. Ummi mau lihat, dong..."
Hafidhz menggeleng. "Nggak boleh. Ummi jangan liat !?" Ucapnya angkuh.
Alsya yang mendapati sikap putranya yang demikian hanya bisa menggeleng pasrah. Dia tahu jika putranya itu gemar sekali menggambar, tapi entah kenapa gambar yang baru saja di buatnya itu tidak boleh dilihat.
Aly memang telah menyiapkan semuanya untuk Hafidhz, memfasilitasi apapun yang akan menjadi mainan untuk sang anak, begitupun perlengkapan ibadahnya, padahal usia Hafidhz masih sangat kecil.
Hafidhz mulai berdiri sambil membawa buku gambarnya dan menyimpannya di laci meja yang merupakan miliknya, lalu berjalan mendekati ibunya. Hafidhz duduk di pangkuan sang ibu.
"Kenapa, Hem ?."
"Afidhz mau ke Abi..." Rengek Hafidhz manja.
"Mau apa ke abinya sayang ?. Abi kan lagi kerja." Ujar Alsya mengusap kepala putranya.
"Nggak mau !. Afidhz mau ke Abi, ummi...!."
"Iya, iya. Bentar lagi Abi datang, nak. Nanti Hafidhz ke Abi, ya ?."
"Abi, lama !."
"Nggak, sayang, ini sudah sore, biasanya Abi datangnya sore, kan ?."
Hafidhz mengangguk.
"Pinter. Berarti sekarang kita siap-siap ya ?, Sekalian nunggu adzan, nanti sholat bareng Abi."
"He em."
Alsya menggendong tubuh putranya memasuki kamar sang putra untuk menggantikan pakaiannya dengan baju kokoh lalu dirinya sendiri ke kamar untuk mengganti pakaiannya juga. Berdua, mereka memasuki kamar khusus untuk melakukan ibadah.
Kumandang adzan Maghrib sudah mulai terdengar, tapi Aly masih belum juga kelihatan. Entah kemana perginya suaminya itu, karena biasanya Aly sudah sampai rumah sebelum Maghrib, lalu mereka akan melakukan sholat berjamaah bertiga.
Kalam iqomah juga mulai terdengar dan perlahan kembali hening. Karena malam sudah semakin pekat.
__ADS_1
"Ummi, Abi belum datang ?." Tanya Hafidhz yang sepertinya juga sama lelahnya menunggu.
"Iya, sayang. Kita sholat duluan aja ya ?."
"Abi gimana ?."
"Nanti Abi sholatnya nyusul, nak."
"Ya udah. Ayo, ummi ?!."
"Iya, sayang."
Alsya berdiri di shaf depan dan mulai mengandalkan takbir, diikuti oleh putranya yang mengikuti setiap gerakan sholatnya. Sholat itu begitu damai dan tenang hingga salam terakhir, dilanjut dengan wirid dan doanya. Lalu berlanjut lagi dengan menyimak hafalan Hafidhz begitupun tambahannya.
Waktu terus beranjak. Bahkan sampai mendekati isya pun, suaminya belum juga datang. Hati Alsya semakin gelisah, perasaannya campur aduk tak menentu.
Terlalu sibuk memikirkan tentang suaminya, saat melihat wajah sang putra, ternyata Hafidhz sudah terlelap dalam pangkuannya. Alsya bangkit sambil membawa hafidzh dalam gendongannya dan membawanya ke kamar sang putra. Baru saja tangannya memutar kenop pintu, ternyata di luar sedang diputar dan saat pintu telah terbuka, terlihat sosok yang dari tadi dikhawatirkannya berdiri di depannya.
"Mas." Alsya menyalami tangan Aly.
"Al, maaf aku baru pulang. Hafidhz tertidur?."
Alsya hanya mengangguk untuk menjawab dua pernyataan suaminya.
"Sini, biar aku saja yang membawanya ke kamar." Aly mengambil alih tubuh Hafidhz dan menggendongnya ke kamar lalu meletakkannya di atas tempat tidur.
"Sebentar, mas." Alsya dengan sigap mengganti pakaian putranya dengan pakaian tidur lalu kembali membenarkan posisi tidurnya. Alsya menatap wajah Aly. " Mas Aly tumben pulangnya malem, mas ?" Tanyanya.
"Kita ke kamar sendiri, Al. "
Alsya mengangguk dan mengikuti langkah kaki suaminya.
"Duduk dulu, Al."
Lagi. Alsya menuruti ucapan suaminya untuk duduk di samping Aly.
Alsya menatap wajah suaminya dengan lekat. "Ada apa, mas ?. Mas Aly tidak biasanya pulang jam segini, aku khawatir tau gak ?!."
"Iya, maafkan aku, Al. Aku sebenarnya sudah pulang seperti biasanya, tapi tadi ada masalah, jadi aku pulangnya telat." Aly menggenggam tangan Alsya untuk meredakan amarahnya. "Mas, ya ?." Ucapnya lagi.
"Masalah apa ?." Rupanya Alsya masih ingin tau.
Aly langsung terdiam, entah apa yang sedang difikirkan olehnya, yang jelas Aly terlihat seperti kebingungan.
"Mas."
"Tadi aku ketemu Ning Halimah, Al."
"Ning Halimah, mas ?."
"Iya."
"Memang kenapa dengannya ?."
Aly kembali diam dengan mata menatap lekat mata istrinya.
"Tadi aku mengantarkan Ning Imah ke rumah sakit, Al. Aku dapat amanah dari ummi nyai."
Jawaban yang tidak masuk akal bagi Alsya. Bukankah jarak kantor suaminya dan pesantren lumayan jauh ?, dan di pesantren juga banyak santri khodam, lalu kenapa harus Aly ?, Suaminya!.
__ADS_1
"Katakan, mas. Aku tau kamu sedang berbohong padaku." Ucap Alsya tegas.
"Apa lagi yang harus aku katakan, Al ?. Kamu tahu aku masih menjadi santri khodam nya ummi nyai. Perintahnya adalah hal yang mutlak bagiku."
Tak ingin memperpanjang obrolan, Alsya memilih bangkit dari duduknya dan keluar dari kamar.
"Al, kau mau kemana ?!." Tanya Aly kaget dengan Alsya yang tiba-tiba akan keluar dari kamar.
"Malam ini aku akan tidur bersama Hafidhz, mas." Jawab Alsya tanpa menoleh sedikitpun.
Dirinya memang percaya jika itu adalah amanah dari pengasuh pondok pesantren tempat suaminya mengabdikan diri, tapi mengingat ada sesuatu yang mengganjal, dia tidak bisa lagi menahan amarahnya pada sang suami dan berakhirlah ke kamar putranya yang terlihat sedang tidur nyenyak.
Alsya mendekati tubuh putranya, dia mengusap lembut kepala hafidzh dan tanpa terasa air mata tiba-tiba sudah membasahi pipinya.
Dia bersama sang putra menunggu dari setelah ashar hingga isya. Lelah, menunggu adalah hal yang paling melelahkan dan Aly membuat dirinya dan sang buah hati kelelahan karena menunggunya pulang untuk melakukan sholat berjamaah.
Bukan dirinya berprasangka buruk terhadap sosok suaminya itu, namun keadaan sendiri yang membuat pikiran-pikiran buruk seakan menghampiri kepalanya saat ini.
"Al."
Alsya tidak ada keinginan sama sekali untuk menoleh ke arah suaminya yang ternyata mengikutinya.
"Al."
Alsya merasa tubuhnya dipeluk begitu erat oleh sosok yang telah membuat dirinya tak kuasa menahan air matanya. Alsya semakin terisak, dia membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami.
"Aku takut, mas... Aku takut..." Ucap Alsya lirih di tengah-tengah isakan tangisnya.
"Iya, sayang. Maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku janji."
"Aku sahabatnya, mas. Aku tau apa yang ada di hati Ning Imah, dia menyukaimu, mas... Aku tidak sanggup mas... Aku tidak sanggup berbagi..."
Aly tidak menjawab ceracauan Alsya, saat ini dirinya dihadapkan sesuatu perkara yang sangat sulit. Entah kapan kebohongannya akan terlihat oleh Alsya?. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya hati Alsya jika kebohongan itu sudah terlihat.
"Ummi..." Rupanya tangisan Alsya membangunkan tidur sang buah hati. Hafidhz bangun dan menghampiri ibunya dengan mata yang juga berkaca-kaca, seakan merasakan apa yang sedang dirasakan ibunya.
"Iya, sayang ?." Alsya segera mengusap air mata di pipinya dan di pipi Hafidhz lalu membawa hafidzh ke atas pangkuannya.
"Ummi nangis?." Tanya Hafidhz dengan wajah polosnya.
Alsya tersenyum kaku. "Tidak, nak. Ummi tidak nangis."
Mendengar jawaban umminya sebenarnya bocah kecil itu kurang percaya tapi usapan lembut tangan sang ibu berhasil menenangkannya.
Aly berjongkok di hadapan sang putra. "Hafidhz juga nangis ?, Hem ?. Sini sama Abi, sayang." Aly mengambil alih Hafidhz dan pangkuan Alsya dan menggendongnya.
Alsya memalingkan wajahnya, membuang muka dari wajah sang suami. Dia rasakan tangan Aly menggenggam tangannya bersamaan dengan rasa hangat di keningnya karena Aly sedang menciumnya.
Alsya memejamkan mata, sebab air mata telah menggenang lagi di pelupuk mata.
"Kita tidur di kamar ya ?. Hafidhz akan tidur bersama kita."
"Aku masih mau disini, mas."
"Ayolah, Al. Jangan seperti ini, kasian hafidzh kalau nanti dia bangun tidak ada umminya di sampingnya." Genggaman jemari Aly semakin kuat meremat jemarinya. "Al, iya aku salah. Aku minta maaf, tapi aku mohon jangan seperti ini..." Pinta Aly dengan tatapan sendu memandang wajah ayu istrinya.
Alsya menghembuskan nafas berat, dia melirik wajah putranya yang di senderkan di pundang Aly dengan mata tertutup rapat, rupanya putranya sudah kembali tertidur.
Akhirnya Alsya mengangguk mengiyakan padahal sebenarnya dia masih tidak ingin berhadapan dengan suaminya itu.
__ADS_1
____________