
Hari pertama sang buah hati dibawa pulang ke rumah, suasana tidak sehening seperti sebelum-sebelumnya. Rumah menjadi sangat ramai meski malam maupun siang sebab sanak keluarga banyak yang memutuskan untuk tidak pulang dengan alasan yang merujuk pada hal yang sama yaitu adanya bayi.
"Al." Panggil Aly sambil memegang pipi istrinya.
"Hem..." Alsya menggeliat dan mulai membuka matanya. Dia baru saja tidur nyenyak pada jam tiga dini hari dan di jam lima sudah dibangunkan kembali.
Alsya melirik ke wajah suaminya.
"Ada apa, mas ?." Tanya Alsya masih dengan mata sayup-sayup.
"Maaf, ya, sayang. Tapi, sepertinya anak kita haus."
"Apa dia bangun ?."
"Iya, sayang. Dia sudah bangun dari tadi."
Alsya menghembuskan nafasnya berat, menjadi seorang ibu memang sudah pasti sangat melelahkan. Dia sudah merasakannya sendiri, dimana dia telah kekurangan istirahatnya setiap hari karena demi sang buah hati.
"Ya udah, siniin, mas." Pintanya.
Aly segera bergegas mengambil bayinya yang berada di box bayi dan meletakkannya di pangkuan Alsya.
Setelah kenyang diberi ASI, bayinya kembali terlelap tenang.
"Kamu mau tidur lagi, sayang ?."
"Sepertinya iya, mas. Aku masih sangat mengantuk."
"Ya udah, kamu tidur lagi aja, sini dede bayinya."
"Biar dia disini aja, mas. Takut bangun lagi."
"Oh, baiklah. Sini, biar mas yang naruhnya." Aly mengambil alih sang bayi dan meletakkannya di atas tempat tidur dekat tubuh Alsya.
Alsya kembali terlelap dengan ditemani bayinya karena Aly sudah keluar dari kamar.
Aly menemui keluarganya yang berada di ruang beranda. Mereka memang bermalam di rumah Aly. Katanya adat orang Jawa yang mengharuskan keluarga melakukan begadang saat salah satu anggota keluarganya ada yang melahirkan. Aly hanya bisa menurut dengan keluarganya.
"Kamu sudah sholat subuh, Ly ?." Tanya pamannya yang sedang duduk di sofa ruang tamu.
"Sudah, om."
"Kalau begitu, sini. Kamu ikut mengaji bareng kita."
"Iya, om."
Aly duduk, ikut berkumpul bersama keluarga besarnya untuk mengadakan mengaji bersama. Hal yang sering dilakukan oleh keluarganya setiap ada acara atau semacam perkumpulan keluarga besar.
Di pimpin oleh sang paman, Aly mulai membaca surah ayat hafalannya yang kebetulan kebagian juz 22-25. Mereka memang membagi surahnya agar meski membaca dalam waktu beberapa jam saja sudah bisa mengkhatamkan Al-Qur'an tiga puluh juz.
Pukul setengah tujuh, kegiatan mengaji selesai setelah di tutup dengan doa yang dipimpin oleh paman Aly, pak Ahmad.
Aly kembali beranjak ke kamarnya untuk menemui sang istri. Saat masuk, ternyata Alsya masih tertidur nyenyak, begitupun dengan bayinya. Tangan Alsya memeluk sang buah hatinya.
Aly tidak tega jika harus membangunkan istrinya, karena sangat faham jika Alsya masih membutuhkan istirahat yang cukup agar kondisinya cepat pulih. Tangan Aly bergerak menyingkir anak rambut Alsya yang menutupi sebagian wajahnya.
Tatapan Aly lekat memandang wajah sang istri, dan entah kenapa dia teringat akan satu istrinya lagi membuat rasa bersalah kembali menyergap hatinya. Dia masih memikirkan bagaimana reaksi Alsya jika sampai Alsya tahu bahwa selama ini Alsya telah memiliki madu yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri. Aly takut Alsya akan membencinya, membenci Halimah, juga meminta sesuatu yang sangat sulit untuk diwujudkan Aly, sebuah perceraian.
"Mas." Alsya membuka matanya.
Rupanya Alsya terganggu oleh tangan Aly yang sedari tadi mengusap-usap kepalanya.
"Iya, sayang ?."
"Mas Aly sudah sarapan ?."
"Belum."
__ADS_1
"Maaf, ya mas. Aku nggak bisa ngurusin kamu." Ucap Alsya dengan tatapan mata sendu.
"Sayang, hey ?!. Tatap mata mas."
Alsya menurut dan menatap mata suaminya yang juga sedang menatap matanya.
"Mas tidak masalah, mau kamu ngurusin mas ataupun tidak, karena mas mencintai kamu tanpa sebab. Lagian sekarang juga keadaan kamu sedang tidak baik-baik saja, mas mengerti, sangat mengerti. Mas tidak akan menyiksa kamu dengan harus selalu mengurusi mas, padahal kamu sendiri sedang kurang sehat."
"Tapi, mas. Itukan tugas Al, sebagai seorang istri."
"Iya, mas tahu. Tapi taat pada ucapan suami adalah hal yang paling penting bagi seorang istri."
"Tapi, mas..."
"Sudah, ya. Mas gak mau bahas ini lagi." Ucap Aly sambil bangkit, dia tidak suka dengan pembahasan tersebut jadi memilih menghindar saja. Tapi sebelum keluar Aly menyempatkan diri untuk mengecup Alsya lalu berbalik hendak pergi.
"Zahwa ?!."
"Zahwa ?!."
Pekik keduanya yang sama-sama terkejut dengan kehadiran sang ponakan yang tiba-tiba ada disana saja.
"Zahwa ada disini ?." Tanya Alsya pada bocah kecil berumur tiga tahunan itu.
"Iya, Tante." Jawab Zahwa dengan suara polosnya.
"Sama siapa kesini nya?." Tanya Aly pada putri dari kakaknya itu.
"Sama ibu, sama nenek juga." Jawab Zahwa dengan suara polosnya.
Aly dan Alsya menoleh ke arah pintu, terlihat dua orang beda usia berjalan mendekat, ibu dan kakaknya Aly.
Ibu duduk disamping kiri Alsya sedangkan Sarah, kakaknya Aly duduk di samping kaki Alsya dan Aly sendiri duduk di samping kanan Alsya.
"Kalian ini, bayi kalian masih berumur seminggu sudah akan membuat lagi." Decak Ibunya menyindir.
"Ibu..." Alsya merasa canggung karena kepergok oleh ibu mertua.
"Bener kamu tidak mengerti ibu ngomong apa, Ly?." Tanya ibunya sinis.
Sarah yang sudah jengah dengan perdebatan yang menurutnya tidak berguna itu mulai bersuara. "Anakmu masih tidur terus, Al?." Tanyanya.
"Iya, mbak. Bangun, kalau lapar aja kayanya."
"Iya, bayi memang seperti itu, Al. Zahwa juga pas bayi sama, jarang sekali matanya terjaga."
"Iya, mbak."
"Al, ini, ibu buatkan jamu untukmu." Ibu menyodorkan sebuah gelas yang berisi cairan berwarna merah bata.
"Jamu apa Bu ?." Aly yang bertanya.
"Kamu ini. Mau tau aja urusan perempuan. Sudah sana, kamu keluar aja !." Ujar ibunya sengit.
"Ya Allah, Bu. Aly cuma mau tau aja kok."
"Gak usah."
"Ya udah, Aly keluar dulu ya. Sayang, mas keluar dulu ya ?."
"Iya, mas."
Sepeninggalan Aly, ibu mulai memberikan perhatian pada menantunya yang terlihat masih sangat lemah. Memang sudah sepantasnya bagi seorang perempuan jika setelah melahirkan akan mengalami lemas di keseluruhan tubuhnya, dan itu biasanya juga akan berlangsung lama. Apalagi jika usianya masih dibilang sangat muda, seperti menantunya itu. Alsya yang baru berusia dua puluh tahun sudah mengalami keadaan demikian.
"Kamu belum makan apa-apa, kan, nak ?." Tanya ibunya penuh perhatian.
"Iya, Bu."
__ADS_1
"Kalau begitu, ayo minum jamunya dulu, mumpung perutnya masih kosong jadi jamunya bisa cepat manjur."
"Itu apa Bu ?." Tanya Alsya penasaran dengan apa yang ada di dalam gelasnya, sebab tercium aroma rempah yang begitu menyengat di Indra penciumannya.
"Ini air rebusan daun sirih sama bawang putih."
"Apa itu rasanya pahit ?."
"Al, kamu tidak pernah meminum jamu ?." Tanya Sarah tiba-tiba karena melihat raut wajah adik iparnya yang terlihat takut dengan jamu.
Alsya menunduk. "Iya, mbak." Jawab Alsya dengan suara lirih.
"Tidak aneh, memang. Anak jaman sekarang memang jarang yang meminum jamu. Bahkan ada juga yang tidak pernah sama sekali. Kaya kamu, nak, padahal kalau minum jamu lebih aman karena tidak ada efek sampingnya, tidak kaya obat." Ujar Ibu.
"Jadi, kamu mau minum jamunya, Al?."
Alsya tampak diam seolah berfikir keras lalu akhirnya mengangguk. "Aku akan mencobanya, Bu." Jawabnya dengan ragu.
"Bener ?."
"Iya, Bu."
"Baiklah, ini, minumlah, nak." Ujar ibu mertuanya kembali menyodorkan gelas berisi jamu tersebut pada Alsya.
Alsya semakin merasakan aroma dari gelas itu semakin menusuk saat gelasnya dia dekatkan ke mulut. Setelah mengucapkan basmalah, perlahan Alsya meminum air tersebut dengan sudah payah karena rasanya yang terasa pedas, anyir, juga hambar. Alsya hampir tersedak saat cairan itu sepertinya ditolak oleh rongga mulutnya namun karena perintah sang ibu mertua yang menyuruhnya untuk segera menghabiskannya, Alsya terpaksa menelannya dengan susah payah hingga pada tetesan terakhir.
Sarah yang memperhatikan raut lucu adik iparnya hanya mengulum senyum manis. Dulu, saat dirinya lepas melahirkan Zahwa, ibunya juga rutin memberinya jamu dan di minum tiga kali sehari, sama seperti obat. Tapi memang khasiatnya tidak diragukan lagi, jika jamu bisa mempercepat penyembuhan lukanya setelah melahirkan.
Setelah gelas itu sudah menjauh dari bibir Alsya, ibu cepat-cepat memberikan sebuah gelas lagi yang berisi air hangat dan menyuruh Alsya segera menghabiskannya juga. Perut Alsya rasanya kembung karena meminum dua gelas air sekaligus, yang satu jamu dan satunya lagi air putih hangat.
"Bagaimana, Al ?. Apa rasanya enak?."
"Rasanya sangat aneh, pahit juga."
Kedua orang di sampingnya hanya tersenyum mendengar jawaban Alsya.
"Nanti siang ibu buatkan jamu lagi, ya ?. Kunyit sama temu Ireng." Ujar ibu lagi.
"Apa?!." Alsya terpekik menatap wajah ibu mertuanya.
"Kenapa nak ?."
"Hemm, ibu, gak perlu, ya ?. Alsya gak sanggup untuk meminumnya..."
"Kamu baru saja melahirkan, nak. Meminum jamu sangat bagus untuk kondisi tubuhmu biar cepat pulih kembali. Juga biar darahnya tidak amis dan cepat dikeluarkan semua." Jelas ibunya.
Alsya mendesah pasrah. Dia sangat tidak menyukai jamu, tapi karena memiliki seorang ibu mertua yang demikian, dia hanya bisa pasrah toh itu juga untuk kebaikannya sendiri.
"Al, kamu tahu rasanya temu Ireng ?."
Alsya menggeleng. "Bagaimana rasanya, mbak ?." Tanyanya kemudian.
"Rasanya sangat pahit dan membekas lama di tenggorokan."
"Beneran mbak ?!." Pekik Alsya, semakin takut saja dirinya jika harus meminum jamu lagi.
"Sarah. Kamu ini, adikmu nanti semakin takut dengan jamu !." Nasihat ibunya menatap tajam wajah putrinya.
Sarah hanya cengengesan Tampa dosa. " Hehehe iya, Bu."
"Ibu, Alsya gak perlu minum jamu lagi ya, Bu?." Mohon Alsya pada ibunya.
"Nak, temu Ireng itu bagus untuk stamina kamu. Gak papa, ya ?. Jangan diladeni ucapan mbakmu ini. Temu Ireng memang pahit sih, tapi sebentar kok."
"Tapi pahit kan, Bu ?."
"Iya, tapi sebentar."
__ADS_1
Lagi. Alsya hanya mendesah pasrah.
_______