
Alsya sedang sibuk bersenda gurau bersama sahabatnya di halaman samping. Dia begitu bahagia karena sekarang memiliki seorang teman saat suaminya sedang tidak ada karena masih memiliki tanggung jawab di pesantren, sehingga jika biasanya Alsya akan tinggal di rumah orang tuanya saat Aly berangkat, kali ini tidak, sebab dia ingin menjadi seorang istri yang mandiri tanpa harus merepotkan orang tua kembali.
Alsya langsung bergegas ke dalam rumah dan menuju pintu utama saat seseorang memencet tombol bell rumahnya. Hingga saat pintu itu terbuka lebar, dia melihat suaminya sedang berdiri bersama seorang perempuan disampingnya, bahkan mereka saling berpegangan tangan. Alsya sangat kaget akan itu, dia langsung bertanya dan apa yang diucapkan oleh suaminya ternyata membuatnya sangat terluka. Alsya langsung berlari dan mendekap erat tubuh sahabatnya dan menangis sejadi-jadinya di pelukan sang sahabat.
Dia tidak tahu jika ternyata sahabatnya melihat kejadian barusan sehingga sangat memahami keadaannya.
"Hidup itu pilihan, meski tidak ada bahagia dari salah satunya. Tapi sejatinya itu hanya menurut pemikiran kita saja, sebab apa yang kita lihat baik belum tentu baik menurut Allah, dan apa yang menurut kita buruk belum tentu juga buruk menurut Allah. Dan, apapun yang Allah berikan kepada kita sudah pasti itulah yang terbaik untuk kita."
Wanita dihadapannya semakin terisak-isak. Bagaimana mungkin ternyata dirinya bisa merasakan penghianatan dari suaminya sendiri selama ini. Dia begitu percaya terhadap sosok suaminya yang selalu bersikap romantis, memanjakannya, juga tidak pernah marah atau membuat kesal, tapi apa yang telah dilihatnya tadi benar-benar membuatnya putus asa bahkan sampai berpikiran untuk mengakhiri hubungan antara dirinya dengan suaminya itu.
"Aku tidak tahu harus bagaimana, Zahra... Aku terkejut, aku marah, aku... Hatiku sangat sakit..." Rintihannya membuat temannya ikut merasakan bagaimana hancurnya perasaan dia saat ini.
Zahra memeluk erat tubuh sahabatnya yang bergetar hebat karena terisak-isak. "Istighfar, Al... Jangan seperti ini, percayalah, bahwa Allah sudah menyiapkan yang terbaik untuk kamu..." Ucap Zahra menenangkan meski matanya pun mulai berkaca-kaca karena tidak tega melihat sahabatnya menangis sampai tersengal-sengal seperti ini. Zahra usap punggung temannya untuk membuatnya tenang dan damai.
"Zahra... Aku tidak menyangka... Aku tidak menyangka suamiku seperti itu..." Racau Alsya yang masih terus menangis.
"Iya, iya... Aku mengerti perasaanmu, Al..."
"Bagaimana dengan anak kami jika kami berpisah... Aku tidak ingin melihatnya tumbuh tanpa seorang ayah... Aku nggak tega..." Alsya terus meracau tak karuan.
"Al, kamu tidak boleh ngomong seperti itu. Kalian tidak boleh berpisah, kalian harus menjadi keluarga yang utuh untuk kehidupan bersama anak-anak kalian. Jangan ngomong seperti itu lagi, Al..."
Alsya tidak menjawab namun tangisannya masih terdengar pilu dan menyayat hati siapapun yang melihat dan mendengarnya.
Terlalu lama menangis membuat Alsya kelelahan dan berakhir tertidur dengan masih dalam pelukan sahabatnya.
"Al, sayang... Bangun... Alsya...!."
Mata yang terpejam rapat itu mulai terbuka, mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan lalu berhenti pada wajah cemas pria yang berada tak jauh jaraknya dari wajahnya.
"Mas." Panggil Alsya dengan suara serak persis seperti orang yang baru saja menangis hebat, apalagi bundar matanya masih menyisakan air mata.
"Iya, sayang ?. Kamu mimpi buruk ?." Tanya Aly cemas dengan raut wajah cemas juga khawatir.
Tangan Aly mengusap air mata yang masih membasahi pipi istrinya, beralih pada dahi Alsya yang juga basah karena keringat dingin saat menangis tadi.
Sebelumnya, Aly sempat keluar dari kamar setelah menidurkan Alsya untuk ke dapur mengambil air minum, dia juga sempat ke ruang kerja untuk mengecek berkas mingguan perusahaannya selama setengah jam-an. Dan, betapa terkejutnya dia saat kembali ke kamar, melihat Alsya menangis sesenggukan tapi matanya masih terpejam rapat.
Aly kira Alsya sedang menangis karena kesakitan pada perutnya mengingat ini adalah bulan kesembilan usia kandungan Alsya. Tapi, saat mendekatinya ternyata Alsya masih tertidur, yang sudah pasti Alsya mengalami mimpi buruk.
Aly sudah mencoba membangunkannya tapi Alsya masih terus memejamkan matanya dan menangis dengan peluh yang bercucuran di dahinya.
"Mas..." Alsya menubruk tubuh suaminya dan memeluknya erat lalu kembali melanjutkan tangisannya.
Aly semakin kebingungan dengan sikap Alsya seperti ini. Tapi dia juga tidak mungkin menanyakannya sekarang, dia lebih memilih menenangkan tangisan istrinya dulu dengan usapan lembut di punggungnya juga beberapa kali mencium puncak kepala Alsya. Apa yang dimimpikan oleh Alsya sehingga membuat istrinya sampai menangis sesenggukan, pikir Aly.
Tangis Alsya perlahan mereda, hanya menyisakan sisa-sisa isakan tangisnya saja. Aly melepaskan pelukannya dan menatap lekat wajah istrinya yang dipenuhi oleh air mata lalu mengusapnya lembut penuh kasih sayang.
"Apa mimpinya sangat buruk, Hem ?." Tanya Aly hati-hati.
__ADS_1
Alsya mengangguk.
"Sudah, tenanglah, itu hanya mimpi jangan dipikirin." ujar Aly sambil kembali membawa tubuh Alsya ke dalam pelukannya.
"Mas." Alsya mendongakkan kepalanya menatap wajah suaminya dari bawah.
"Hem ?."
"Aku tidak mau mimpi itu menjadi kenyataan..."
Aly tersenyum lembut. "Memangnya kamu mimpi apa, Hem ?." Tanya Aly kembali mendaratkan kecupannya di kening Alsya.
"Aku tidak mau dipoligami, mas." Ucap Alsya akhirnya.
Aly terdiam. Dia sungguh bingung sekarang. Apakah ini pertanda jika Alsya akan segera mengetahui hubungannya dengan Halimah ?.
Aly tatap wajah istrinya yang meredup masam masih menatap wajahnya. "Kenapa kamu tiba-tiba bilang seperti itu ?."
"Tadi aku memimpikannya, mas."
"Yang tadi membuatmu menangis?."
Alsya mengangguk. "Aku tidak sanggup jika harus berbagi seorang suami, mas. Aku nggak rela." Ucap Alsya sendu seakan sambil menegaskan agar Aly tidak melakukan hal demikian.
"Berarti kamu tidak mengizinkan jika mas menikah lagi ?."
Alsya langsung menatap tajam wajah pria dihadapannya. "Mas Aly mau menikah lagi ?!." Tanyanya panik.
"Hahh ?!, Tidak sayang. Mas hanya ingin bertanya saja." Jawab Aly gelagapan.
"Mas, apa kamu ada niatan ingin mencari perempuan lagi selain aku ?." Tanya Alsya penasaran.
"Astaghfirullah, sayang... Kamu ini ngomong apaan sih ?. Memang pernikahan kita terjadi karena sebab perjodohan, tapi, aku sama sekali tidak pernah berniat untuk menikah dengan perempuan lain lagi. Mas sudah katakan, bahwa mas telah menyukai kamu dari sebelum kita menikah."
Memang kenyataannya demikian, bukan ?. Jika Aly tidak pernah ada niatan untuk menikah lagi, tapi rupanya takdir Allah tidak ada yang tahu sehingga dirinya malah diberi tanggung jawab besar yaitu harus menikahi putri Kyainya di pesantren.
Hati Alsya menghangat mendengar penuturan suaminya, Alsya kembali memeluk tubuh suaminya sangat erat. "Iya, mas. Aku percaya sama kamu." Ucapnya yakin.
Maafkan aku. aku tidak bermaksud membohongimu. Ungkap aly dalam hatinya.
"Sayang..."
"Ya ?."
__ADS_1
Keduanya saling menatap satu sama lain dengan tatapan mata terfokus hanya pada satu titik saja.
"Al."
"Hem ?."
"Bukankah ada sistem poligami ?. Bahkan Allah menganjurkan untuk seorang pria memiliki istri yang tidak menyalahi aturan yaitu hanya sampai empat ?."
"Mas..." Mata Alsya mulai menyatakan ketidaksukaan.
"Kamu pernah mendengarnya, kan ?, Saat di pondok."
Tatapan Alsya mulai meredup kemudian terlihat kilatan bening di bundaran matanya. Alsya hembuskan nafas berat lalu menjauh dari tubuh suaminya dan menjaga jarak diantara mereka.
"Aku memang meyakini dan tidak menyangkal hukum Allah tentang poligami. Tapi, demi Allah, aku tidak akan sanggup jika harus dipoligami." Ujar Alsya kemudian tanpa menoleh ke arah suaminya lagi.
Alsya baringkan kembali tubuhnya dengan posisi membelakangi tubuh Aly. Entah mengapa hatinya sedikit terusik dengan pembicaraan tentang poligami, apalagi tadi dia sempat memimpikan hal yang sangat bersangkutan dengan poligami, dimana dia melihat suaminya datang ke rumah dan membawa perempuan yang dikatakannya adalah istrinya. Sungguh itu sangat membuat hati Alsya terpukul dan kesakitan yang mendalam.
Perlahan airmata Alsya luruh deras meluncur dari sudut matanya dan membasahi bantal yang dia tindih.
Alsya rasakan Aly memeluk tubuhnya dari belakang.
"Sayang..." Panggil Aly dengan suara lembut dan halus.
Tanpa mau menjawab, Alsya mencoba memejamkan matanya kembali. Dia masih terpikirkan masalah pasal poligami.
"Al."
"Aku mau tidur, mas."
"Sayang, mas hanya ingin bertanya, mas tidak mungkin melakukannya, mas tidak mungkin tega sama kamu..." Ucap Aly meyakinkan sambil tangannya membalikkan badan Alsya agar menghadap ke arahnya.
Tatapan keduanya saling mengunci satu sama lain.
"Percayalah."
"Aku tidak akan sanggup, mas. Jika mas Aly melakukannya, aku memilih untuk dipulangkan kembali ke orang tuaku." Ucap Alsya sungguh-sungguh.
"Sayang, jangan bicara seperti itu dong... "
"Aku serius, mas."
"Mas juga serius. Mas tidak akan melakukannya, mas tidak mungkin tega sama kamu."
"Iya."
"Ya udah, sekarang kamu istirahat ya..."
"Iya."
Alsya mulai memejamkan matanya kembali.
__ADS_1
___________