
Anand menitikkan air matanya. Dia telah mengambil tanggung jawab besar yaitu seorang wanita juga anaknya. Anand menangkupkan kedua tangannya ke wajah, ada perasaan lega saat lidahnya ternyata begitu jelas dan lantang mengucapkan qobulnya.
Tepukan di bahu membuat Anand menoleh dan terlihat wajah papanya yang sedang tersenyum bangga ke arahnya.
"Sana, jemput istri mu !." Ucap papanya dengan senyuman yang kini berganti seperti meledek.
Telinga Anand langsung memerah karena malu di ledek seperti itu. Anand bangkit dari duduknya dan dua wanita rempong yang senantiasa mengisi hari-harinya datang menghampiri.
"Ayo, kak. Jemput bidadari dulu !." Ujar Fyzha sambil menaik-turunkan kedua alisnya juga tersenyum aneh.
"Uluhh, sepupu ku sudah jadi suami sekarang, hihihi." Nareena meledek dengan senyuman nakalnya.
Anand hanya bisa pasrah menghadapi dua wanita itu, karena saat ini, jika saja bukan di tempat acara dia bisa langsung meremat kedua mulut wanita rese nya.
Fyzha dan Nareena menggandeng tangan Anand, menuntunnya menuju ke kamar pengantin untuk menjemput Bidadarinya di sana.
Hati Anand semakin bergemuruh hebat saat dia telah berdiri tepat di depan pintu kamar yang di dalamnya ada Alsya. Ini adalah hal pertama dalam hidupnya yang paling membuatnya nervous.
"Kak, jangan gemetar, hihihi." Fyzha berbisik di telinga kembarannya.
"Lihat, telinga kembaranmu, Fy !, Hehehe !." Nareena menimpali.
Anand tidak menghiraukan ledekan mereka. Dia terlalu sibuk dengan hati dan pemikirannya sendiri. Anand menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan kemudian dengan sangat hati-hati dia mengetuk pintunya.
Knop pintu diputar dari dalam dan perlahan pintunya dibuka dari dalam juga.
Anand hampir melupakan nafasnya saat melihat sosok wanita cantik yang kini sedang berdiri di depannya. Wajah merona wanitanya tidak bisa ditutup oleh riasan yang menempel di wajahnya.
Desiran lembut datang menyapa hati keduanya saat pandangan mereka bertemu pada satu titik yang langsung mengendap masuk ke dalam relung hati yang terdalamnya.
Alsya menunduk dengan hidung nya yang terlihat kembang-kempis karena malu dan Anand semakin menatap lekat wajah yang kini menjadi halalnya dengan tanpa malu-malu.
"Assalamualaikum, bidadariku..." Ujar Anand semakin membuat Alsya menunduk penuh.
Betapa merahnya wajah Alsya saat ini karena grogi juga bahagia yang bercampur malu.
Dan betapa hebohnya suasana di sekitar saat mendengar ucapan Anand yang dianggap sangatlah romantis dan huhhh menghanyutkan !.
__ADS_1
"Waalaikumsalam..." Suara Alsya seperti alunan syahdu yang menyeruak ke dalam Indra pendengaran Anand.
Anand semakin dibuat tak sabar untuk membawa Alsya ke dalam rengkuhannya dan menegaskan kepada dunia bahwa Alsya saat ini adalah miliknya !. Alsya adalah bidadarinya !.
Anand menyunggingkan senyum manisnya dan meraih tangan Alsya untuk di genggamnya erat.
Alsya tampak tertegun sejenak tapi kemudian dia mendongak menatap wajah suaminya dan selanjutnya dia menyalami tangan itu dengan penuh khidmat dan takdzim.
Suasana semakin riuh ricuh menyaksikan adegan super mendebarkan itu.
Selesai menyalami tangan suaminya, Alsya kembali mengangkat wajahnya dan menatap kembali wajah yang kini telah halal untuk dinikmatinya kapanpun dan di manapun.
Anand menggandeng tangan mungil istrinya dan membawanya menuju panggung pelaminan yang bertengger di halaman rumah. Alunan musik romantis mengiringi langkah keduanya juga menghipnotis setiap orang yang melihatnya.
Acara sungkeman di mulai. Mereka menyalami kedua orang tuanya dengan penuh syahdu dan air mata.
Abah mendekap erat tubuh putrinya yang sedang menangis sesenggukan di kakinya.
"Bahagia lah, nak. Doa Abah selalu menyertai kalian. Semoga Allah selalu memberikan Rahmat pada kehidupan keluarga kalian." Ujar Abah yang juga menangis sambil mengusap-usap punggung Alsya.
Anand menyalami tangan mertuanya juga dengan takdzim dan khidmat. Umma menyuruhnya bangkit dan umma langsung memeluknya.
"Insya Allah, dengan ridho Allah, Anand berjanji akan menjadi pemimpin yang amanah untuk keluarga kami, Anand akan memberikan jiwa dan raga Anand untuk selalu membuat Alsya merasakan bahagia." Ucap Anand dengan bersungguh-sungguh dan mantap di dalam hatinya.
Selesai memeluk Abah, Alsya beralih pada Umma nya dan menangis sejadi-jadinya di pelukan Umma. Begitupun dengan Anand yang kini menghadap ke ayah mertuanya dengan penuh penghormatan yang penuh.
"Abah percayakan putri Abah padamu, jangan sakiti hatinya, jika kamu menemukan kesalahan pada putri Abah, tegur dia dengan kelembutan kasih sayang mu dan jangan pernah membuatnya menangis karena bentakan mu. Jika kamu sudah tidak sanggup mengambil tanggung jawabnya, kembalikan putri ku, tapi jangan sampai kau menyakiti nya dengan kekerasan mu." Ucap Abah memberikan amanah nya pada sang menantu.
"Insya Allah Anand akan mempertaruhkan segenap jiwa raga Anand untuk putri Abah. Anand akan menyayanginya dengan sepenuh hati Anand."
Abah memeluk erat tubuh menantunya dengan air mata yang masih menetes.
Selesai dengan orang tua Alsya, kedua mempelai beralih pada kedua orang tua Anand.
Anand bersimpuh dihadapan papanya, meminta restu atas terjalinnya hubungan halal yang melibatkan Sang Pencipta dan papanya memberikan doa nya yang terbaik.
Alsya bersimpuh di hadapan ibu baik yang kini menjadi mertuanya. Ibu mertuanya memberikan doa-doa terbaik untuknya dan keluarga kecilnya lalu memeluknya erat sekali.
__ADS_1
Acara sungkeman selesai. Kedua mempelai mulai duduk di kursi pelaminannya dan kejutan yang membahagiakan datang menghampiri keduanya.
Alsya dan Anand menyambut kedatangan sang buah hati yang sedang berjalan menggemaskan menuju mereka.
Keduanya berjongkok di hadapan sang putra.
"Ummi, Abi." Panggil Fazal dengan suara polosnya yang terdengar sangat menggemaskan.
"Ya, sayang ?."
Fazal mendekat ke arah ibunya dan menyerahkan sebuket bunga tulip merah untuk Ibundanya.
Alsya tersenyum manis menerimanya dengan haru. Entah dari siapa putranya itu tau jika dirinya sangatlah menyukai bunga tulip dibandingkan dengan mawar.
"Makasih, sayang..." Alsya memeluk tubuh mungil Fazal dengan airmata yang kembali menetes di sudut-sudut matanya.
Anand sempat heran dengan bunga yang dibawa Fazal, tapi setelah itu dia mulai mengetahui jika istrinya berbeda dengan wanita lain. Alsya lebih menyukai tulip daripada mawar.
Anand mengusap lembut kepala putranya membuat Fazal menatap ke arahnya. "Jadi, Fazal bisa tinggal sama Abi ?." Tanya Fazal polos.
Anand tersenyum lalu mengangguk. "Iya, nak. Kita akan tinggal bersama. "
"Yess !!." Fazal melepaskan diri dari pelukan ibunya dan beralih memeluk erat tubuh Abinya.
Suasana itu tidak luput dari para undangan yang hadir. Mereka semua sangat terharu melihat adegan itu. Keluarga kecil yang bahagia.
Tapi ada sepasang mata yang menatap kejadian itu berbeda dengan yang lainnya. Sepasang mata itu berkaca-kaca juga dengan dada yang terasa sesak.
"Kamu kenapa ?."
Suara seseorang mengembalikan lamunan pemilik mata yang sendu itu.
"Tidak apa-apa. Aku hanya terharu melihat mereka."
"Ouh, iya. Mereka sangat romantis ya ?."
Ditanya bukannya menjawab tapi dia hanya tersenyum menanggapi.
__ADS_1
✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓