Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Janji Suci


__ADS_3

Aly menoleh menatap wajah Nareena dengan senyumannya yang penuh luka.


"Aku terlalu buruk, Nareen. Jika kamu ingin memutuskan hubungan kita, aku ikhlas, kamu memang pantas mendapatkan jodoh yang lebih baik lagi." Ucap Aly dengan senyuman yang membuat Nareena kesal.


Wajah Nareena langsung cemberut masam dia juga segera berdiri lagi lalu melangkah pergi meninggalkan Aly yang menatapnya dengan tatapan kosong.


Aly bukan tak ingin mengejar, Aly hanya ingin memberikan Nareena luang untuk memilih dan memantapkan hatinya. Aly sudah pasrah jika seandainya Nareena tidak menerimanya, dan memutuskan hubungan mereka. Aly kembali menatap hamparan keindahan alam tersaji di depan matanya.


"Ayo, pulang. Aku sudah kedinginan."


Aly mendongak dan mendapati wajah kesal Nareena yang berada tepat di atasnya. Senyuman Aly langsung merekah, dia berjanji tidak akan menyia-nyiakan wanita seperti Nareena yang mampu menerima semua kekurangannya itu. Aly bangkit berdiri.


"Ayo, pulang."


Merasa berjalan beriringan menuju ke parkiran mobil dan karena Nareena tidak membawa mobil sendiri sebab saat kesini pun dia tadi diantar oleh asistennya, jadi Aly akan mengantarkan calon istrinya itu pulang ke rumahnya.


Di dalam mobil yang sedang melaju membelah jalan petangnya malam, Nareena semakin kedinginan. Dia mendekap tubuhnya sendiri dengan tubuhnya yang menggigil. Padahal AC tak dinyalakan sama sekali.


Jarak ke rumah Nareena masih sangat jauh dan kemungkinan itu akan menempuh sekitar satu jam lebih jika dalam kelajuan normal.


Melihat kondisi Nareena yang semakin memburuk, membuat Aly semakin tidak tega. Dia melihat keluar jendela dan mencari sebuah toko pakaian dan akhirnya ketemu. Aly segera memasuki parkirannya lalu dia turun dari mobil dan masuk ke dalam butik itu untuk mencari pakaian untuk Nareena.


Setelah memilih-milih dengan ukuran yang mungkin kebesaran atau kekecilan di tubuh Nareena, Aly kembali masuk ke dalam mobil.


"Nareen, hey."


Nareena mendongakkan kepalanya menatap wajah Aly. Bibir Nareena bergemeletuk hebat karena saking kedinginannya.


"Ini, ganti pakaian nya dulu, biar lebih hangat." Aly menyerahkan paper bag nya pada Nareena. Nareena menerimanya dengan tubuhnya yang sudah melemas.


"Aku akan keluar dari mobil." Ucap Aly lagi lalu langsung keluar lagi dari mobil dan menutup pintunya dengan rapat untuk memberikan privasi pada Nareena.


Untungnya mobil Aly merupakan mobil yang memiliki kaca gelap jadi jika dilihatnya dari luar maka di dalamnya tidak kelihatan.


Aly benar-benar meninggalkan mobilnya karena dia langsung memasuki mini market untuk membeli minuman hangat untuk Nareena juga dirinya dan beberapa makanan berat untuk mengisi perutnya yang tiba-tiba terasa lapar, mungkin karena efek dari bermain air tadi.

__ADS_1


Aly kembali dengan membawa dua cup berisi kopi dan jinjingan plastik berisi roti dan beberapa makanan lainnya.


Bertepatan sekali, saat Aly sampai di dekat mobilnya, pintu mobilnya sudah dibuka yang berarti Nareena sudah selesai mengganti pakaiannya.


Aly masuk ke dalam. Dan menyodorkan salah satu cup kopinya pada Nareena. "Ini, minumlah." Ucapnya.


Nareena menerimanya dan mulai menyesapnya sedikit demi sedikit karena masih sangat panas.


Aly mulai menjalankan mobilnya lagi agar segera sampai ke rumah Nareena. Malam pun semakin larut, dan Nareena sudah tertidur pulas meringkuk di tempat duduknya.


Aly tersenyum melihatnya karena posisi Nareena seperti itu membuatnya sangat menggemaskan. Rasanya dia tidak sabar untuk bisa menyentuh kepala Nareena dan mengusapnya penuh dengan cinta.


Sampai di rumah Nareena yang bertepatan dengan kedua pelayan Aly yang Aly panggil langsung dari rumahnya.


"Nareen,."


Nareena menggeliatkan tubuhnya dan perlahan membuka matanya. Dia mengerjapkan matanya berkali-kali sebelum akhirnya nyawanya mulai terkumpul kembali.


"Sudah sampai, ayo turun ?!."


Nareena masuk ke dalam rumahnya dan Aly kembali melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumahnya lagi.


✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓


Setelah pulang dari pantai, Alsya dan Anand segera membersihkan diri lalu mengerjakan sholat isya berjamaah, sebab tadi mereka belum sempat melakukannya sehingga sholat isya itu harus di kerjakan di malam yang semakin larut yaitu jam setengah sembilan.


"Kamu mau langsung tidur, sayang ?." Tanya Aly setelah Alsya menyalami tangannya.


"Nanti, aku ingin mendengar Aa' mengaji dulu."


Anand tersenyum. "Baiklah."


Masih di atas bentangan sajadah, Alsya merebahkan tubuhnya lalu meletakkan kepalanya di pangkuan Anand begitu pula dengan Anand yang meletakkan telapak tangannya di atas perut Alsya. Tangan Anand bergerak lembut mengusap-usap perut Alsya yang masih tertutup oleh kain mukenah.


Anand membacakan ayat-ayat Al-Qur'an surah Maryam dan Yusuf. Surah kesukaan istrinya yang memang selalu ingin dibacakan oleh Anand menjelang tidur.

__ADS_1


Satu hal yang baru Alsya ketahui dari suaminya itu setelah dia mengandung. Ternyata tanpa sepengetahuannya sama sekali jika Anand merupakan seorang Tahfiz, bahkan dia pernah mengecam pendidikannya di pesantren agama yang sangat terkenal di Kairo, Mesir. Pantas saat acara pernikahan mereka, Anand sangat sanggup menuruti permintaan Alsya yang ingin Anand membacakan surah An-nisa sebelum melakukan acara intinya.


Momen indah inilah yang selalu membuat Alsya merasa nyaman berada disisi Anand. Anand menutup bacaan Al-Qur'an nya dengan kalimat takbir dan hamdalah.


"A'."


"Iya ?,."


"Terimakasih sudah menjadi suamiku yang selalu ada setiap aku membutuhkanmu, terima kasih telah menjadi sandaran ternyaman disaat aku sedang tidak baik-baik saja."


Tatapan mata keduanya bertemu dan saling menatap dalam. Anand tersenyum manis menatap wajah cantik istrinya.


"Kita mengikat tali cinta kita dengan menghadirkan Allah. Jadi, Apapun yang aku lakukan terhadapmu tidak lain karena aku sudah berjanji pada Allah untuk menjadi imam yang baik untuk mu. Aku ikhlas sepenuhnya melimpahkan kasih sayang ku untukmu, istriku." Anand mengucapkannya dengan sangat serius bahwa dai memang ingin menjadi suami yang baik untuk Alsya dan keluarganya.


Alsya menyusupkan wajahnya di lengan Anand. "Ingatkan aku jika aku mulai terlena, ya A. Tegurlah aku jika aku melakukan kesalahan. Semoga bersamamu aku menjadi hamba yang semakin dengan dekat penciptanya."


Anand mengecup kening istrinya lama. "Dan kamu juga jangan pernah lupa untuk melakukan hal yang kamu pinta itu padaku, agar aku juga bisa menjadi pria yang tidak melalaikan kewajiban ku sebagai seorang pemimpin yang amanah atas perintahNya."


Keduanya saling menatap dengan pandangan penuh cinta yang semakin menggelora. Sekali lagi Anand mengecup kening istrinya dengan penuh perasaan.


"A', Aku ingin meminta satu hal padamu, tolong jadikanlah aku bidadari satu-satunya di sisimu baik itu di dunia maupun di akhirat kelak." Ucap Alsya penuh keseriusan.


Dia mengatakan itu karena dia tidak ingin merasakan hal yang sama seperti dulu, dia ingin menjadi wanita beruntung seperti Khodijah yang menjadi istri satu-satunya untuk suaminya dan jikapun nanti suaminya itu menikah lagi itu ketika dia telah meninggal.


Tatapan mata Anand meredup penuh kelembutan. "Kamu akan selalu menjadi satu-satunya bidadari tak bersayap ku, sayang."


Anand membawa tubuh mungil Alsya untuk di rengkuh dengan kehangatan pelukannya. "Kalau begitu kita tidur, ya ?." Ucapnya lagi.


"Iya, A."


Alsya kembali duduk dan langsung melepas mukenanya lalu merapikannya dan diletakkan di tempat yang seharusnya. Anand juga melakukan hal yang sama.


Keduanya mulai beranjak ke atas tempat tidur dan langsung melelapkan matanya.


✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓

__ADS_1


__ADS_2