
Sampai di rumah, Aly segera menghampiri istrinya yang sedang duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya.
Mata Alsya sedang menerawang jauh ke arah jendela yang terbuka. Tatapan mata itu kosong juga terlihat sayu. Aly mendekap erat tubuh mungil istrinya dari belakang dan mendaratkan kecupannya di pipi putih sang istri yang langsung berjingkat kaget.
"Mas." Alsya melirik wajah yang berada di sisi wajahnya.
"Hem." Sekali lagi Aly mencium pipi istrinya.
Tatapan Alsya kembali ke depan, melihat tanaman hias yang mengelilingi rumahnya.
"Sayang..." Panggil Aly lembut tepat di telinga Alsya.
Aly tidak tau apa yang sedang mengganggu pikiran istrinya itu sehingga melamun bahkan malah mencuekkannya.
"Kamu kenapa, Hem ?." Tanya Aly penasaran dengan sikap Alsya yang terlihat murung.
Alsya hanya menggeleng.
Aly beranjak dari posisinya dan bersimpuh di hadapan sang istri, membawa tangan lentik istrinya untuk digenggam erat dan tentu saja sikapnya itu membuat Alsya langsung menoleh ke arahnya. "Apa kamu sedang memikirkan sesuatu, Hem ?." Tanya Aly lembut.
Alsya menatap wajah Aly begitu dalam, mencoba mencari sesuatu hal di dalam manik mata indah suaminya itu, dan yang ditemukan di sana membuat airmatanya seakan ingin melesak keluar. Meski tatapan Aly mengarah kepadanya, tapi Alsya bisa melihat jika tatapan itu sendu dan seperti sedang kacau pada sesuatu lain yang Alsya tidak tahu apa itu.
"Mas."
"Hem ?."
"Aku mau ke rumah Abah." Ucap Alsya tegas.
Di dalam lubuk hati Aly, dia langsung terhenyak mendengar perkataan istrinya itu. Pikirannya langsung teringat pada mimpi tadi malam.
"Kenapa kamu tiba-tiba meminta ke rumah Abah?. Apa ada sesuatu?." Tanya Aly ingin tahu.
Alsya menggeleng. "Tidak, mas. Aku hanya ingin berkunjung saja. Aku merindukan Abah sama Umma." Kilah Alsya karena yang sebenarnya terjadi dia ingin menceritakan semua keresahan di hatinya pada sang ayah, sudah itu saja.
Aly tidak langsung menjawab, dia terdiam cukup lama lalu akhirnya mengangguk mengiyakan. "Baiklah, habis Dzuhur kita ke rumah Abah, nanti pulangnya sekalian mampir dulu ke toko perlengkapan bayi." Ucap Aly kemudian.
"Bayi ?." Pekik Alsya spontan.
"Iya. Kita belum membeli apapun untuk dia kan ?." Aly mengusap lembut perut Alsya yang sudah membesar."
Hampir saja hati Alsya mencelos mendengar kata bayi dari bibir suaminya. Pikirannya sudah melayang kemana-mana yang bukan-bukan. Dan entah kenapa dia kini malah menerbitkan senyumnya melihat perlakuan manis suaminya itu. Tangan Alsya bergerak membelai wajah suaminya.
"Tapi kehamilanku masih delapan bulan, mas. Apa itu tidak terlalu dini untuk membeli perlengkapan bayi ?." Tanya Alsya dengan suara lembut membuat hati Aly seakan berdesir hangat.
Usapan tangan Aly di perut Alsya berhenti karena kini tangan itu beralih pada wajah Alsya. "Hanya satu bulan lagi, sayang. Menurut ku itu tidak terlalu jauh. Bahkan dulu saat kehamilan Hafidhz, kita sudah membeli perlengkapan bayi ketika kehamilanmu menginjak umur enam bulan. "
Seperti inilah Aly. Kadang Alsya merasa kesal juga ada senangnya mendapati sikap Aly yang terkesan berlebihan. Namun, lagi-lagi perasaan takut tiba-tiba menyerang membuatnya hatinya kembali resah.
"Tapi, mas. Aku ingin menginap di rumah Abah." Ucap Alsya akhirnya.
Wajah cerah Aly langsung meredup masam. "Kenapa ?. Tidak biasanya kamu meminta menginap disana."
Alsya kembali tersenyum. "Aku sangat menginginkannya, mas. Boleh yaa ?."
Kembali. Aly mengangguk mengiyakan. Dia berpikir itu pasti keinginan calon buah hatinya jadi jika tidak dituruti dia takut terjadi sesuatu pada calon bayinya itu.
"Makasih ya mas..." Alsya langsung memeluk erat tubuh suaminya yang juga langsung membalasnya.
__ADS_1
Aly mengangkat tubuh mungil istrinya ke arah tempat tidur dan mendudukkannya disana dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
"Mas." Pekik Alsya yang tiba-tiba tegang saat melihat mata Aly mulai sendu menatap dirinya.
"Ka-kamu mau apa ?." Tanya Alsya bingung.
"Aku merindukanmu, sayang..." Ucap Aly dengan suara sudah mulai berat. Dengan tatapan mata semakin sayu juga berkabut.
"Tapi, mas..."
"Aku akan berhati-hati." Jawab Aly seakan tahu apa yang sedang dikhawatirkan oleh Alsya.
Melihat kedatangan suaminya yang terlihat sangat menginginkannya itu, membuat Alsya akhirnya mengangguk pasrah. Dia tidak mungkin selalu menolak keinginan suaminya itu karena memang sudah sebulan ini mereka tidak melakukannya, sebab kandungan Alsya yang sudah semakin membesar.
Dan kini Aly membuka puasanya. Dia kembali bisa merasakan kenikmatan yang didapatkannya dari tubuh sang istri.
✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓
Di tempat lain, tepatnya di rumah Nisa dan Affan, mereka sedang membincangkan tentang keadaan Alsya juga firasatnya itu.
"Jadi, yang kita lihat beberapa bulan lalu itu benar ?." Tanya Affan memastikan.
"Aku juga berpikir kaya gitu, sayang. Tapi kita kan liatnya hanya sekilas, dari jauh juga." Nisa semakin meringkuk nyaman di dekapan suaminya.
Mata keduanya saling menatap lekat. "Lalu, apa kau menginginkan sesuatu ?."
"Iya. Aku ingin menyelidikinya."
"Baiklah. Kita akan mencaritahu. Tapi, bagaimana jika memang itu benar adanya ?. Adikmu pasti akan sangat terpuruk karena merasa dikhianati."
Keraguan membuat keduanya terdiam dengan pemikiran masing-masing.
Ponsel Affan berdering, membuat sepasang suami istri itu terkesiap. Affan mengecek siapakah yang telah menghubunginya, dan ternyata kembarannya. "Hallo, Fin. Ada apa ?." Tanya Affan dibalik sambungan telepon.
"Fan, gue kena masalah nih." Ucap Affin yang terdengar sangat gelisah.
"Masalah bagaimana ?." Tanya Affan bingung.
"Gue... Gue nabrak anak orang." Jawab pria itu yang tidak lain adalah Affin.
"Astaghfirullah. Lalu bagaimana keadaannya ?."
"Entahlah, tapi dia sedang diperiksa sama dokter."
"Dokter ?."
"Fan. Gue tau pikiran Lo kemana. Sekarang Gue lagi kacau jadi tidak bisa ikut memeriksanya."
"Oh."
"Iya. Fan gue mau minta bantuan Lo, tolong carikan pengacara, gue takut nanti keluarganya menuntut."
"Hmm, iya nanti gue kirim. "
"Oke, makasih."
"Hemm." Gumam Affan kembali menutup teleponnya.
__ADS_1
Affan menoleh ke wajah Nisa yang menatapnya dengan tatapan tanda tanya.
"Ada apa mas ?." Tanya Nisa penasaran.
"Affin lagi kena musibah, dia baru saja menabrak seseorang."
"Innalilahi. Mas mau menemuinya ?."
"Iya, sayang. Kamu mau ikut apa disini aja ?."
"Hemm aku ikut mas."
"Ya sudah, ayo ?!." Keduanya bangkit dari tempat tidur dan bergegas bersiap untuk keluar.
Beberapa saat kemudian, keduanya sudah rapi. Nisa masuk ke dalam kamar putranya sebentar untuk melihat keadaannya, sedangkan Affan berbicara pada pengasuh putranya karena mereka akan keluar tanpa membawa putranya yang sedang istirahat siang. Setelah selesai, mereka segera melakukan perjalanan menuju rumah sakit adiknya.
Perjalanan hanya menempuh waktu lima belas menit saja, mereka sudah menyusuri koridor rumah sakit.
Dari kejauhan terlihat Affin duduk di kursi tunggu sambil matanya sesekali melirik ke arah pintu IGD yang masih saja tertutup. Dia seperti sedang merutuki perbuatannya sendiri yang telah membuat seseorang hampir saja meregang nyawa karena tanpa sengaja ditabraknya.
"Assalamualaikum.." sapaan salam dari Nisa membuat Affin segera menoleh ke arah kembaran dan kakak iparnya.
"Waalaikumsalam. Fan, mbak."
"Apa masih belum selesai juga ?." Tanya Affan memastikan sambil mengajak istrinya duduk di kursi tunggu.
"Belum."
"Apa keadaannya sangat parah ?." Kali ini Nisa yang bertanya.
"Hanya luka di tubuhnya, dia juga langsung tidak sadarkan diri." Jawab Affin lesu.
Beberapa waktu lalu, Affin yang sedang mengendarai mobilnya menuju ke tempat pertemuannya dengan salah satu sahabatnya di daerah pedesaan.
Saat itu dia sedang fokus menelfon seseorang terkasihnya yang tak juga mengangkat teleponnya membuat dirinya kesal dan malah hilang fokus hingga tanpa sengaja malah menabrak sebuah motor yang sedang berhenti di samping jalan. Dan jika dilihat dari tempatnya, sepertinya pengendara motor itu memang sengaja berhenti disana karena sedang membeli makanan ringan pedagang kaki lima. Orang yang sedang duduk di Motor itu langsung terpelanting jauh begitupun dengan motornya membuat semua orang panik berteriak histeris dan langsung menghentikan mobilnya yang juga langsung oleng tak terkendali, mereka mendesaknya untuk memberikan pertanggungjawaban.
Affin langsung turun dari mobil dan menghampiri korbannya itu yang terlihat sangat mengenaskan dengan beberapa bagian tubuh mengeluarkan darah juga kehilangan kesadarannya. Dibantu oleh warga, Affin memasukkan korban itu ke mobilnya sendiri dan membawanya ke rumah sakit.
Tiba di rumah sakit, dia tidak bisa ikut memeriksa tubuh korbannya karena keadaannya yang sangat kacau juga penuh dengan noda darah. Affin memilih menyerahkan korbannya pada para bawahannya sedangkan dirinya sendiri akan pulang ke rumah untuk membersihkan diri.
"Kita berdoa saja agar keadaannya tidak terlalu parah." Ujar Nisa bijak.
"Iya, mbak." Mata Affin kembali melirik ke arah pintu yang masih saja tertutup rapat. Lalu, tiba-tiba dia teringat akan sesuatu. "Oh ya, mbak. Tadi aku ketemu Aly." Ucap Affin.
"Aly ?."
"Iya, tadi kami berpapasan di lorong sana."
Ucapan Affin membuat Affan dan Nisa langsung saling menatap dan di dalam tatapan itu mereka seakan sedang memberikan sebuah isyarat.
"Ouh, iya. Aly memang sedang menjenguk temannya yang sedang di rawat di RS." Jawab Nisa akhirnya mencoba bersikap tenang.
Tapi Affin seakan bisa membaca tatapan antar sepasang suami istri itu. "Aku akan menyuruh seseorang untuk menyelidikinya." Ucapnya kemudian membuat Affan dan Nisa terkejut.
"Apa maksudmu ?." Tanya Affan langsung.
" Sudahlah, aku tau kalian sedang menyembunyikan sesuatu. Aku faham, dan aku aku tidak akan membiarkan pria itu menyakiti hati Alsya.
__ADS_1