Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Mencoba berdamai dengan keadaan


__ADS_3

Aly bahkan terlihat paling terpuruk dari semua orang. Saat ini Aly hanya terdiam merenung di atas tempat tidurnya, tidak perduli dengan putrinya yang ada di sisinya yang kini sedang menangis karena kehausan.


Aly hanya melirik sekilas ke arah Chayra tapi tak ada pemikiran sama sekali untuk menghentikan tangis bayinya itu.


"Assalamualaikum... Punten, Gus... Ning Chayra saya bawa aja ya ?..." Ujar khodam putra yang tidak tega membiarkan bayi itu terus menangis.


Aly kembali menoleh ke arah bayinya kemudian memalingkan wajahnya lagi tanpa menjawab iya atau tidak, jika bayinya itu di ambil.


Khodam yang tidak lain adalah Fikri itu tetap membawa bayinya meski Gus nya tidak mengatakan apapun. Dia memahami bagaimana hancurnya hati Gus nya itu karena di tinggal pergi oleh sang istri.


Aly hanya menatap kosong kepergian Fikri yang membawa putrinya. Bukan Aly tidak ingin menyentuh putrinya itu, dia hanya masih belum bisa mengikhlaskan Halimah, sebab wajah putrinya itu sangat mirip dengan istrinya.


Rombongan keluarga pesantren dari Jogja datang tepat waktu sholat subuh karena salah satu khodam kepercayaan ummi langsung menghubunginya setelah berita tentang kematian Halimah terdengar. Mereka melihat jenazah Halimah masih terbaring di atas ranjang di ruang beranda lalu berpisah untuk menemui tuan rumah, Dimas dan Kyai Anwar menuju kamar Aly dan Zahra beserta Ummnya memasuki kamar Ummi Nyai, tapi sebelum itu, Zahra mengambil keponakannya yang sedang di gendong oleh salah satu santri khodam.


Zahra yang merupakan sepupu sekaligus sahabatnya juga sempat menangis histeris menyaksikan keadaan Halimah saat ini. Tapi dia segera menghentikan tangisnya karena harus menemui ummi nyai sebab tidak ingin membuat bibinya itu kembali merasa terpukul atas kepergian anaknya.


"Assalamualaikum..." Ujar Zahra dan umminya bersamaan.


Ummi Nyai menoleh lalu menjawab salamnya dengan suara lirih. Wajahnya sangat kacau karena terlalu banyak menangis.


"Bibi..." Zahra menyalami tangan sang bibi kemudian memeluknya erat di susul dengan Umminya yang juga memeluk erat tubuh kakak iparnya.


Ketiganya menangis bersama, lalu menghentikan tangisnya karena sudah merasa lelah.


"Bersabarlah, Mbak. Ikhlaskan putrimu biar dia tenang di alam sana." Nasihat istri kyai Anwar.


Ummi nyai memejamkan matanya lalu mengangguk, dia orang yang berilmu dan sangat tahu bagaimana hukumnya menangisi seseorang yang pergi dengan dengan berlebihan.


"Sabar, ya bibi..." Ujar Zahra yang ikut menenangkan bibinya.


"Iya,." Ucap ummi nyai menurut.


"Jadi, kita bisa melakukan pengurusan jenazah Halimah, Mbak ?." Tanya adiknya.


Ummi nyai mengangguk. "Iya, tapi... Bagaimana dengan Aly ?." Tanya ummi nyai penasaran dengan keadaan menantunya yang sudah pasti juga sangat terpukul.


"Abah sama mas Dimas sedang menemuinya, Bi." Jawab Zahra.

__ADS_1


Benar, di dalam kamarnya Aly di temui oleh dua pria beda usia yaitu adik dari Ayah mertuanya juga menantunya.


"Setiap yang bernyawa akan mengalami kematian, kamu jangan lupa hal itu, Ly. Bangkitlah, istrimu tidak akan menyukainya jika kamu terus terpuruk seperti ini." Nasihat kyai Anwar agar keponakan menantunya itu segera sadar bahwa apa yang dilakukannya ini sangatlah tidak baik.


Aly meraup wajahnya sendiri dengan kasar. "Astaghfirullah... Ya Allah..." Aly menoleh ke arah pan dari istrinya itu. Aly sudah sedikit lebih tenang setelah mendengar ucapan kyai Anwar.


"Dimana Halimah, Paman ?."


"Dia ada di ruang beranda. Segeralah, tidak baik menunda memproses jenazah." Ucap kyai Anwar lagi.


Aly menoleh menatap wajah pria yang dulu pernah mengaku-ngaku bahwa Alsya adalah gadisnya, pria itu kini sudah menjadi bagian keluarganya karena telah menikahi sepupu Alsya yang pernah dinodainya.


Kyai Anwar dan Dimas membantu Aly untuk bangun lalu ketiganya keluar dari kamar dan menemui jenazah Halimah yang saat ini di kelilingi oleh santri yang sedang mengaji.


✓✓✓✓✓✓✓✓✓


Di rumah, Alsya beserta keluarga yang mendengar berita tentang kematian Halimah juga sangat terkejut. Mereka tidak menyangka jika Ning Halimah, sahabat dari Alsya akan meninggal di usia muda. Dan yang paling menyakitkan adalah, dia meninggalkan bayinya yang masih berusia sebulanan.


Alsya yang baru pulang dari rumah sakit memaksa untuk berkunjung ke pesantren, dia seakan melupakan tentang permasalahannya dengan Halimah. Alsya juga tahu pasti jika saat ini suaminya sedang terpuruk karena kehilangan salah satu istrinya.


Setelah menempuh perjalanan tidak terlalu jauh, ketiga mobil itu memasuki gerbang pesantren dimana terlihat banyak santri yang sedang lalu lalang tak terkendali juga beberapa kyai besar dari pesantren-pesantren lain dan para wali santri yang juga datang untuk takziah atas kematian Halimah.


Alsya tidak sadar jika saat ini matanya telah berkali-kali meneteskan air matanya. Dia seakan tidak percaya jika sahabatnya telah berpulang ke Rahmatullah secepat itu. Affin yang duduk di sampingnya hanya menatap dalam diam memperhatikan wajah cantik gadis pujaannya itu menangisi seseorang yang bahkan telah tega menyakiti perasaannya.


Terbuat dari apa hati kamu sebenarnya, Al ?. Kenapa hati kamu lembut sekali, bahkan untuk seseorang yang sudah membohongimu selama ini.


Affin memilih tetap diam tak ingin berkomentar apa-apa hingga mobilnya sudah terparkir di deretan mobil-mobil lainnya lalu keluar dari mobil.


Affin menggendong tubuh mungil Hafidhz karena jika hanya di gandeng tangannya dan membiarkannya berjalan di keramaian yang ada tubuh mungil itu akan mengalami kesusahan saat berjalan. Alsya juga menggendong bayinya menyusul di belakang Affin di susul lagi dengan keluarganya yang satu persatu turun juga dari mobil.


Mereka sekeluarga masuk bersamaan ke dalam rumah ndalem yang di penuhi oleh beberapa kyai dan nyai dari pesantren-pesantren tetangga.


Ayah dan ibu mertua Alsya berjalan mendahului untuk menemui putranya yang pasti sedang sangat bersedih atas kehilangan sosok istrinya sedangkan yang lainnya dipersilahkan oleh khodam untuk duduk di bangku-bangku yang telah disediakan.


"Ummi." Hafidhz yang duduk di pangkuan Affin memanggil ibunya.


"Iya, nak ?." Jawab Alsya menatap wajah putranya.

__ADS_1


"Ummi, kok banyak orang disini ?." Tanyanya pada sang ibunda.


Tangan Alsya terulur mengusap Kepala Hafidzh. "Iya, nak. Karena disini ada orang meninggal, jadi banyak orang." Jawab Alsya penuh perhatian.


"Siapa yang meninggal, Ummi ?." Tanya Hafidhz lagi.


Alsya menoleh ke arah wajah Affin lalu beralih ke arah kedua orang tuanya, seakan dari tatapannya itu sedang bertanya apakah harus harus dia jawab atas pertanyaan putranya itu. Dan Abah hanya mengangguk.


"Mama kamu, nak." Jawab Alsya akhirnya.


"Mama ?. Tapi,.. Hafidhz gak punya Mama, Ummi ?."


"Hafidhz punya Mama, tapi mama Hafidhz sudah meninggal, nak." Affin yang menjawab mewakili Alsya.


Seketika setelah menjawab itu, Affin melirik ke arah Alsya yang ternyata sedang menatap ke arahnya.


"Ohh, berarti, Mama Hafidhz sudah ketemu yaa sama Allah, paman ?." Tanya Hafidhz lagi tapi kini ke arah Affin.


Affin tersenyum lalu mengusap lembut kepala Hafidzh. "Iya, nak." Jawabnya masih tersenyum.


Terlihat kerumunan orang-orang semakin riuh karena Proses pemandian segera dilaksanakan di dalam rumah ndalem berlanjut mensholati jenazahnya di masjid pesantren yang dilakukan oleh banyak orang begitupun keluarga Alsya yang laki-laki termasuk Hafidhz dan Rizal yang ikut diajak oleh orang tuanya, Affan dan Affin. Dan dilanjutkan lagi pemakaman.


Halimah dimakamkan di tanah khusus yang berisi seluruh terdahulunya di belakang pesantren, tepat di samping kanan makam ayahnya. Selain berdoa semua orang membubarkan diri, termasuk Aly yang tidak di perbolehkan oleh kyai Anwar untuk terus meratapi kepergian istrinya di tempat pemakaman.


Hingga saat ini, Alsya masih belum melihat keberadaan suaminya karena terlalu banyak orang sehingga membuat pandangan matanya terbatas. Namun setelah beberapa orang mulai berpamitan pulang, dan lingkungan rumah ndalem mulai sedikit renggang dari manusia yang memadati sebelumnya Alsya melihat seorang wanita yang sangat di kenalnya.


"Fin, titip Hafidhz dulu, ya. Aku mau ke sana dulu." Ujar Alsya pada Affin karena tidak mungkin mengajak Hafidhz untuk ikut sebab saat ini putranya itu sedang tertidur pulas di pangkuan Affin.


"Mau kemana, Al ?."


"Ketemu temen, sebentar."


"Ouh, ya sudah. Jangan lama-lama, nanti Hafidhz nyariin."


"Iya, assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."

__ADS_1


__ADS_2