Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Bayangan manis


__ADS_3

"Nareen !!." Anand menatap tajam wajah adik sepupunya. "Jangan pernah mengatakan itu lagi !, Apalagi di depan Alsya !." Ucap Anand dingin menahan kekesalannya.


Anand sangat menyayangi Alsya lebih dari apapun. Dia tidak akan terima jika seseorang menyinggung perasaan Alsya baik itu dari keluarganya sendiri. Anand tidak akan main-main dengan tindakannya jika itu menyangkut Alsya dan juga Fazal.


Anand bangkit dari duduknya dan meninggalkan Nareena yang masih terdiam di tempat karena masih dalam mode terkejut atas bentakan keras Anand.


Anand membanting pintu kamarnya lalu membanting tubuh di atas tempat tidur. Dia memperhatikan lagi wajah Alsya yang dijadikan sebagai wallpaper ponsel.


"Aku tidak akan membiarkan mereka membuat kamu merasakan terluka lagi. Cukup pria bodoh di masa lalu mu saja yang berani melakukannya." Gumam Anand sambil mengusap lembut wajah Alsya di tampilan ponselnya.


✓✓✓✓✓✓✓✓


Di lain tempat, di waktu yang sama. Alsya sedang menyenandungkan shalawat pengantar tidur untuk Fazal. Suaranya yang merdu membuat Fazal semakin tenang dan perlahan terlelap.


Alsya tersenyum manis saat melihat wajah polos putranya yang sangat menggemaskan ketika tertidur.


"Semoga nanti kamu bisa merasakan kasih sayang dari orang tua yang utuh ya nak..." Ucap Alsya lirih lalu mencium lembut kepala putranya.


Alsya turun dari tempat tidur dan keluar dari kamarnya. Di rumah sudah banyak pernak-pernik yang akan dikeluarkan pada acara pernikahannya yang hanya menghitung hari itu.


Alsya melihat sosok umma yang berjalan ke arah keluar rumah melalui pintu samping. Dengan tergesa Alsya mengikutinya dan saat di luar ternyata dia tidak hanya melihat umma saja melainkan ada juga abah.


Dengan penuh takdzim umma menyiapkan minuman hangat untuk Abah dan meletakkannya di hadapan Abah lalu umma duduk di kursi kosong di samping Abah.


"Bah, putri kita sebentar lagi akan keluar lagi dari rumah..."


Terdengar Umma berbicara dengan suara yang sangat sendu. Alsya tidak niat menguping tapi karena yang sedang diobrolkan orang tuanya menyangkut tentang dirinya membuat Alsya penasaran.


"Kita berdoa saja, semoga kali ini memang jodohnya Alsya. Oh ya, kemarin orang tua Aly menelfon, katanya semenjak Aly sehat dia sudah seperti kehilangan akal sehatnya. Aly menjadi pria yang nakal dan sering berkeluyuran tidak jelas." Abah menceritakan tentang isi pembicaraannya bersama mantan besannya.


"Astaghfirullah... Semoga Allah segera mengembalikan Aly ke jalan yang benar lagi, ya bah ?. Bagaimanapun Aly masih ayah dari cucu-cucu kita." Umma menjawab sedih.

__ADS_1


Kesalahan Aly memang fatal tapi bukan berarti orang tua Alsya tidak akan pernah memaafkannya. Karena bagaimanapun, setiap orang pasti memiliki kesalahan dan tentunya akan berubah dari kelakuan buruk di masa lalunya.


Alsya tertegun mendengar ucapan orang tuanya. Dia tidak menyangka jika Aly akan menjadi buruk seperti itu setelah berpisah dengan nya. Alsya juga teringat putri dari Aly bersama istri keduanya. Entah bagaimana nasib putri kecil yang tak berdosa itu?.


Alsya ingin bertanya, tapi dia takut jika Abah dan Umma malah salah mengartikan pertanyaannya. Alsya beranjak dari posisinya dan masuk ke dalam kamar.


Saat sampai, Alsya melihat bahwa ponselnya berdering karena ada panggilan masuk. Melihat nama yang tertera di layar ponselnya membuat Alsya langsung tersenyum.


"Hallo, assalamualaikum.." ujar Alsya dengan suara yang selalu menenangkan.


"Waalaikumsalam, bidadariku.." jawab seseorang dari seberang telepon diselingi kekehan kecil.


Alsya berdecak kesal, mendapat panggilan itu membuat wajahnya langsung merona tak tertolong. "Ada apa telfon malam-malam ?." Tanya Alsya akhirnya setelah meredamkan gejolak di hatinya yang sedikit abnormal.


Belum menjadi suami saja tingkah laku Anand sudah membuatnya selalu berbunga-bunga, apalagi setelah sah. Yang ada setiap saat wajah Alsya bisa disamakan dengan kepiting rebus atau tomat matang.


"Tidak ada apa-apa, hanya ingin mendengar suaramu saja." Ucap Anand dengan suara yang sangat lembut.


"Baiklah, istirahat yang cukup. Dan jangan lupa selalu menjaga kesehatan tubuh. "


"Hemm."


"Ya udah, sana tidur. Assalamualaikum, cantik..."


Alsya tidak bisa menahan senyumannya, kali ini Anand semakin gencar saja membuat bunga-bunga di hati Alsya bermekaran. "Waalaikumsalam." Alsya langsung mematikan sambungan teleponnya.


Meski sudah tidak terhubung, tapi Alsya masih bisa merasakan bahwa pipinya masih memerah. Anand seromantis itu, tapi dirinya malah terkadang bersikap kekanak-kanakan. Alsya teringat bagaimana dulu dia selalu menolak ucapan serius Anand mentah-mentah tanpa mempedulikan apakah tolakannya itu membuat Anand sakit hati atau tidak.


Flashback on


"Berapa kali aku harus memberitahumu ?. Aku tidaklah pantas untukmu. Kamu bisa mencari wanita di luaran sana, yang pastinya akan lebih membuat kamu beruntung, Anand."

__ADS_1


"Tidak, Al. Aku tidak ingin yang lain, aku hanya ingin bersamamu. Aku janji tidak akan membuat kamu dan Fazal merasakan kesakitan yang kalian terima dari pria brengsek itu. Aku janji, Al. Aku mohon..."


Keduanya bersikeras untuk mempertahankan kehendak masing-masing. Keduanya sama-sama keras kepala karena menginginkan satu hal yang mereka kukuhkan.


Alsya menggeleng lemah karena masih tidak ingin merubah keputusannya. "Anand mengertilah..." Ujar Alsya lirih.


"Kamu yang harus mengerti. Kamu tidak boleh menyiksa diri sendiri, kamu juga butuh sandaran untuk semua keluh kesahmu, kamu butuh teman untuk hidupmu. Fazal juga butuh seorang ayah untuk pertumbuhannya, jangan egois, Al. Jangan merusak kebahagiaan kamu sendiri dengan terus terpuruk karena masalalu kamu." Ujar Anand panjang lebar agar Alsya mengerti, tapi sepertinya Alsya tidaklah mudah untuk dibujuk.


"Aku sudah tidak lagi utuh, aku seorang janda yang memiliki anak, sedangkan kamu ?, Kamu masih bisa mencari yang lain yang lebih baik dariku..."


"Alsya, sudah aku katakan aku tidak ingin yang lain, aku hanya ingin kamu, hanya kamu, Alsya... Kenapa kamu tidak mengerti juga ?." Anand hampir habis kesabaran menghadapi sikap keras kepala Alsya.


Jika Anand adalah pemaksa, memang benar Anand memaksa Alsya untuk menerimanya. Karena dia juga tahu, selama berbulan-bulan mereka dekat dan sudah pasti Alsya juga merasakan apa yang kini Anand rasakan hanya saja Alsya lebih menjunjung tinggi sikap egois nya karena masih trauma dengan masalalu nya.


"Baiklah, aku tidak akan memaksamu lagi mulai saat ini. Maaf sudah membuat mu tertekan, aku pamit, assalamualaikum..."


Alsya yang masih terisak hanya menjawab lirih dan memandang punggung Anand yang mulai menjauh.


Dan ternyata hari itu Anand benar-benar pamit pergi. Dia tidak pernah kembali lagi hingga berhari-hari lamanya bahkan Minggu sampai bulan sekalipun. Anand tidak pernah lagi datang untuk berkunjung sekedar membawa titipan dari ibunya untuk Alsya atau Fazal. Anand bahkan tidak terlihat sama sekali di penglihatan mata Alsya yang merasa hampa tanpa kehadirannya.


Alsya merasakan kesepian saat Anand tidak pernah lagi datang ke rumahnya, bahkan Fazal pun merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan Alsya yaitu merindukan Anand. Dan saat pengajian rutinan kembali di adakan di rumah Bu Ningrum, disitulah Alsya mengetahui satu hal yaitu Anand telah kembali ke Jakarta dan pergi dengan perasaan hancur karena Alsya menolak perasaan Anand untuk yang kesekian kalinya.


Hingga dua bulan lamanya, Anand kembali ke kota Cirebon dan sikapnya telah berubah kepada Alsya membuat Alsya merasa sangat bersalah. Tapi seiring berjalannya waktu, entah diberitahu siapa, Anand datang lagi dan menanyakan lagi tentang kesiapan Alsya apakah menerimanya atau tidak. Dan disaat itulah, Alsya mencoba berdamai dengan masalalunya lalu menerima Anand sebagai masa depannya.


Namun siapa sangka, pergerakan keluarga Anand terlalu cepat bahkan tanpa menunggu lama keluarga Anand berangkat ke Jakarta untuk melamar Alsya langsung pada kedua orang tuanya.


Seistimewa itulah jika kita dicintai oleh seseorang dengan tulus tanpa memandang kekurangan dan kelebihan yang kita miliki.


Flashback off


Alsya tersenyum sendiri membayangkan kejadian itu semua. Dia tidak pernah menyangka akan dipertemukan dengan seorang pria seperti Anand.

__ADS_1


✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓


__ADS_2