
"Sudah mendingan, kak ?."
"Iya, Nora."
"Ya udah, kita ke kamar lagi ya ?."
Anora dan Fyzha. Mereka dipertemukan lagi di tempat yang sama yaitu restoran. Fyzha kembali bertemu dengan Anora ketika di parkirannya dan ternyata, Anora tinggal di daerah sekitar restoran tersebut.
Dari kemarin Anora memang menginap di rumah Fyzha untuk menemaninya yang sedang tidak enak badan sebab menurut cerita yang dikatakan oleh Fyzha, dia tinggal sendirian di rumahnya dan itu membuat Anora tidak tega meninggalkannya.
Layaknya seorang adik yang penuh kasih sayang terhadap kakaknya sendiri, Anora membantu Fyzha melakukan segala hal yang ada di rumah. Termasuk masak dan membereskan rumah.
Anora menuntun Fyzha kembali ke atas ranjangnya dan membenahi posisi tidur kakak kakaknya.
"Kakak mau apa ?, Biar aku ambilkan." Tawar Anora sangat perhatian.
"Tidak Nora, aku tidak mau apa-apa."
"Baiklah, tapi kakak harus minum air angetnya dulu ya ?." Anora membantu Fyzha meminum air hangat yang dibawakannya tadi.
"Sudah ?."
Fyzha mengangguk. Anora segera menyimpan kembali gelasnya di atas meja.
"Kak."
"Iya, Nora ?."
"Kenapa kakak masih belum juga memberitahu keluarga kakak ?."
Wajah Fyzha langsung murung. "Aku masih takut, Nora." Ucapnya lirih.
"Tapi, lama-kelamaan mereka juga akan tau kan ?."
"Iya, tapi tidak sekarang. Aku belum siap dengan reaksi mereka, aku takut kedua orang tuaku marah besar, Nora."
Anora mengerti dengan apa yang dikhawatirkan oleh Fyzha. Jika dia dalam posisi menjadi Fyzha, dia juga pasti akan melakukan hal yang sama seperti yang Fyzha lakukan, mungkin.
"Aku hanya tidak tega melihat keadaan kakak yang terus mengalami hal seperti ini."
"Mau gimana lagi, Nora ?, Aku juga bingung harus bagaimana, ini semua sudah terjadi."
"Ya sudah, kak, sebaiknya kakak istirahat ya, biar badannya tidak lemas lagi."
"Iya, tapi nanti kamu bangunin aku sebelum jam dua ya ?."
"Emang kakak mau ngapain jam duanya ?."
"Aku harus membeli bahan-bahan dapur. Stoknya sudah hampir habis semua."
Anora seperti tidak senang mendengarnya. "Kakak ini, masih mikirin dapur?, Untuk masalah dapur, sudah biar aku urus, kakak hanya perlu istirahat saja."
"Untuk kali ini aku tidak akan menurut sama kamu."
"Huhh, baiklah. Keras kepala memang ."
Fyzha terkekeh kecil mendengar ucapan gadis lulusan SMA yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri itu.
"Kamu juga istirahat, nanti kalau pulang ke rumah dalam keadaan tidak sehat yang ada malah aku yang dimarahin ibu kamu ."
"Hehehe iya, kak. Aku juga akan istirahat. Aku keluar dulu ya."
__ADS_1
"Iya."
Fyzha mulai memejamkan matanya dan tertidur pulas.
Waktu berjalan begitu cepat hingga tak terasa. Tubuh Fyzha diguncang pelan oleh seseorang. Fyzha segera membuka lagi matanya.
"Kakak."
"Hem." Fyzha menggeliatkan tubuhnya.
"Kakak jadi gak ?."
"Jam berapa, Nora ?."
"Jam dua kurang."
Fyzha kembali menggeliat. Seingatnya dia baru saja memejamkan mata beberapa menit yang lalu. Tapi nyatanya dia sudah tertidur hampir dua jam lamanya.
Fyzha bangkit dari tidurnya dan langsung mencuci muka. Untungnya setelah bangun dari tidur tubuhnya sudah kembali segar dan tidak lemas seperti sebelum tidur. Selesai mengganti pakaiannya, Fyzha mematut wajahnya di depan cermin sejenak. Dan siap.
"Ayo, Nora ?!."
"Iya."
Keduanya keluar dari rumah tanpa menggunakan kendaraan apapun untuk menuju tempat membeli bahan-bahan dapur.
Lumayan jauh, tapi mereka memilih untuk jalan kaki karena itu akan lebih menyenangkan. Keduanya tertawa lepas saat obrolan mengalir dengan kaki yang terus melangkah.
Perumahan tampak sepi karena mayoritas penduduk disini pasti sedang bergelayut pada pekerjaannya pada jam segini. Mereka hanya ada pada waktu-waktu tertentu saja, yaitu sore menjelang malam dan malam menjelang pagi Jikapun ada di rumahnya, kemungkinan mereka juga sedang istirahat.
Keduanya tersentak kaget karena suara klakson mobil yang sangat nyaring. Fyzha menoleh ke belakang.
Dia lagi ?!.
Seorang pria keluar dari mobil tersebut dan berjalan ke arah mereka. Penampilan pria itu terlihat menawan menurut Anora, karena pria itu sedang memakai pakaian casual berwarna hitam polos dipadu dengan celana jeans putih juga di lengkapi dengan kacamata berwarna hitam yang menutupi matanya.
"Kakak kenal orang itu ?." Tanya Anora lagi masih memperhatikan pria itu yang semakin melangkah mendekat.
"Kamu akan tau sendiri nanti." Ucap Fyzha tanpa menoleh. Karena saat ini tatapan matanya sedang tertuju di satu titik saja.
Fyzha menatap tajam wajah pria tersebut. Mereka sudah saling berhadapan dan pria itu perlahan membuka kacamata hitamnya.
"Hai, nona ?, Aku rasa, aku telah mengabaikan peringatanmu ?." Pria itu tersenyum, tapi di mata Fyzha senyuman itu terlihat menjijikkan.
Fyzha mencoba bersikap tenang. "Tentu saja, apa kau sudah tidak sayang lagi dengan nyawamu, tuan ?."
"Hahaha, kau meremehkan ku, nona." Pria itu menatap tajam mata Fyzha.
Mereka saling mengadu pandangan hingga akhirnya Fyzha memutuskan kontak nya dan berbalik sambil menarik tangan Anora. "Ayo, Nora ?!."
Keduanya berjalan dengan langkah tergesa-gesa. Fyzha tiba-tiba melepaskan genggaman tangannya di pergelangan tangan Anora karena salah satu tangannya tiba-tiba dicekal kuat.
Fyzha berdiam sejenak, kemudian dia berbalik bersamaan dengan tangan yang dihentakkan sangat keras. Cekalan tangan pria itu berhasil terlepas. Tapi, Fyzha tidak berhenti sampai disitu saja. Dia mulai melayangkan tendangannya tepat di dada pria itu tapi ternyata dia salah menduga. Pria itu dengan cekatan menghindari serangannya.
"Woww !!, Gerakanmu cepat juga, nona ?!." Pekik pria itu spontan.
Fyzha tidak perduli dengan ucapan pria itu yang merupakan ledekan atau pujian. Fyzha kembali melayangkan serangannya. Satu pukulan kuat berhasil mendarat sempurna di rahang pria tersebut. Di lanjut dengan pukulan lagi tapi ternyata kali ini tidak berhasil.
Fyzha dan pria itu begitu lincah bergerak, meloncat dan menghindari serangan. Fyzha sudah sangat disulut emosi saat ini, dan yang ada dalam pikirannya sekarang adalah menghabisi pria yang menjadi lawan bertarungnya itu.
Beberapa kali Fyzha memukul dan menendang, tapi dia tidak sekalipun melihat pria itu melakukan serangan balik, melainkan hanya terus menghindar dari setiap serangan yang dilakukan Fyzha.
__ADS_1
"Berhentilah, nona !. Jangan sampai aku melukai mu !." Seru pria itu di sela-sela pertarungan mereka.
Fyzha tidak menghiraukannya. Dia terus saja meluncurkan serangan-serangan mematikan.
"Kau telah mengusik kenyamanan ku !, Dan aku bukan orang yang suka berhenti di tengah-tengah, sebelum diantara kita ada yang kalah !." Ujar Fyzha menekankan setiap katanya.
Anora yang menyaksikannya hanya bisa berdiam pasrah karena dia juga takut melihat pertarungan mereka. Anora ingin melerai, tapi itu pasti sangat sia-sia karena dia tau pasti Fyzha tidak akan berhenti sebelum amarah nya terpuaskan.
"Baiklah, kalau itu maumu !, Tapi jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu dengan mu !." Pria itu rupanya juga sudah hilang kesabaran.
Pria itu tiba-tiba meliukkan tubuhnya dengan sangat elegan dan lincah. Dan setelah itu, tanpa bisa dicegah karena gerakannya yang tak terbaca karena secepat kilat, hantaman keras dari tendangannya melesat ke perut Fyzha.
Fyzha terpekik kaget dan sedikit terhuyung ke belakang tapi belum sempat dia menyerang balik, satu pukulan kembali menerjangnya yang sama-sama terkena perutnya.
"Aww !!." Fyzha ambruk di tempat.
"Kakak !!." Anora langsung berlari menyongsong tubuh kakaknya.
Fyzha tergeletak di tanah dengan keadaan yang sangat memprihatinkan. Tangan Fyzha mencengkeram perutnya sendiri yang tertutup oleh kain pakaian.
Anora duduk di sampingnya dan membawa kepala Fyzha di pangkuannya.
"Kakak, kakak tidak apa-apa ?!." Anora begitu mencemaskan keadaan kakaknya.
"Perutku, Nora..." Suara Fyzha sangat lirih.
"Nona, kau tidak apa-apa ?!."
Rupanya pria itu juga mendekat dan wajahnya terlihat sama khawatirnya dengan Anora.
Mata Fyzha terpejam dan tangan yang dari tadi mencengkeram perutnya sendiri juga ikut melemah.
"Nona, bangunlah !, Hei nona !!." Seru pria itu terlihat semakin cemas sambil menepuk-nepuk pipi Fyzha.
Tapi Fyzha memang sudah tidak bisa bertahan lagi. Dia pingsan karena kondisi tubuhnya yang semakin melemah.
"Kita bawa dia ke rumah sakit !." Pria itu berjongkok dan mencoba mengangkat tubuh Fyzha ke dalam gendongannya.
"Tunggu !." Teriak Anora menghentikan pergerakan pria itu.
"Ada apa ?."
Tatapan mata Anora tertuju pada satu titik yaitu di bawah tubuh Fyzha. "Lihatlah !." Ujarnya menunjuk arah tersebut.
Pria itu mengikuti tempat yang ditunjukkan. Karena memang pakaian yang dikenakan oleh Fyzha adalah gamis berwarna biru muda, jadi noda itu bisa terlihat sangat jelas.
Pria itu terpaku memandangi noda tersebut. "Dia...?."
"Akan aku jelaskan, sebaiknya kita bawa kakakku ke rumah sakit sekarang !."
"Iya."
Pria itu mengangkat tubuh Fyzha dan memasukkannya ke dalam mobil. Pria itu tidak perduli dengan pakaiannya yang menjadi kotor karena noda tersebut.
"Masuklah ! Biar kepalanya dipangkuan mu !."
"Baiklah ." Anora masuk dan pria itu membenahi posisi Fyzha menjadi tiduran dengan berbantalkan paha Anora.
Setelah memastikan posisi Fyzha lebih baik. Pria itu berlari memutari mobilnya dan masuk ke pintu depan bagian kemudi.
Mobil segera melesat membelah jalanan beraspal.
__ADS_1
"Katakan, ada apa dengannya ?, Kenapa sampai mengeluarkan darah seperti itu ?."