
"Lalu, kalau kunyit bagaimana rasanya, Bu ?."
"Tidak ada rasanya."
"Bener tidak ada rasanya ?!. Tidak pedas seperti jahe, Bu ?."
"Tidak."
"Kalau Alsya minum jamu kunyitnya aja nggak papa, kan, Bu ?."
"Tidak apa-apa, tapi nanti badan kamu tidak pulih-pulih, nak."
"Jadi harus meminum semuanya, Bu ?."
"Iya, nak."
"Tapi, Bu..."
"Udah, jangan takut. Cuma minum jamu aja, nak."
"Iya, Al. Nanti juga kalau sudah sering, kamu akan terbiasa."
"Baiklah, iya, Alsya mau."
"Ya udah, sorenya juga minum jamu lagi, ya ?."
"Lagi ?!."
"Iya, jamu rebusan daun sirih, sereh merah, jahe merah, kunyit sama lengkuas merah juga."
"Allaahumma..." Wajah Alsya semakin muram.
"Iya, sama kunyit putih juga." Lanjut ibunya lagi.
Sarah sudah tidak bisa menahan tawanya lagi ketika melihat wajah adik iparnya yang mengenakan dan Alsya hanya mendelik kesal ke arah kakak iparnya.
"Ibu." Alsya menatap wajah ibu mertuanya.
"Yah, anakku?."
"Ibu, kenapa tidak sekalian semua bumbu dapur aja?. Masih ada bawang merah, cabe merah, tomat merah, pala, kayu manis, garam, micin... Lah, apa lagi ?, Aku lupa." Ucap Alsya sepanjang rel kereta meluapkan kekesalannya.
Kini bukan Sarah saja yang tertawa. Ibu juga ikut terpingkal-pingkal sambil menahan perutnya yang terasa mules. Istri Aly ini memang unik, jika dulu mereka menyangka Alsya adalah gadis yang pendiam dan pemalu namun ternyata tidak demikian. Alsya malah sangat unik. Pantas saja Aly sangat tergila-gila dengan Alsya, sampai-sampai dulu ingin menikahi Alsya di usia Alsya yang belum mencapai tujuh belas sekalipun.
Alsya... Alsya... Kamu lucu sekali, nak.
Deheman seseorang membuat dua wanita itu menghentikan tawanya. Mereka menoleh serempak ke arah suara.
"Kenapa kalian tertawa seperti itu ?. Jangan bilang lagi ngebully Alsya ?." Tanya Aly sinis.
Aly mendekati tubuh istrinya yang duduk dengan punggung diberi sanggahan.
"Nggak papa, Ly. Kami tadi lagi bercanda aja. Sudah sana, kamu keluar lagi !." Usir ibunya tanpa perasaan.
"Malah di usir." Aly memutar bola matanya jengah dengan ucapan sang ibu. " Aly kesini mau bilang ke mbak Sarah sama ibu, ayo sarapan di bawah. Biar Aly yang disini menemani Alsya."
"Oh, iya, Ly. Ayo Zahwa, kita turun ?!." Sarah hendak mengajak putrinya tapi tidak disangka Zahwa malah menolak. "Zahwa."
"Zahwa masih pengen sama Dede, ibu..."
"Iya, tapi habis sarapan aja ya, nak. Sekarang Zahwa ikut ibu dulu, kita sarapan dulu ya ?."
Dengan berat hati sepertinya, Zahwa akhirnya mengangguk.
"Ibu keluar dulu ya, nak ?." Ujar ibu pada Alsya.
"Iya, Bu. Makasih jamunya." Ucap Alsya dengan senyuman manisnya.
"Iya, kamu juga sarapan, ya. Aly kamu sudah bawa sarapan untuk Alsya ?."
"Belum, Bu."
__ADS_1
"Ya sudah, kamu ambil sana, geh. Sekalian sama untukmu juga. Ibu akan disini sampai kamu datang lagi."
"Hemm. Iya, Bu."
"Kita keluar bareng Ly ?." Sarah bersuara lagi.
"Iya, mbak."
"Om, gendong...!" Zahwa langsung merengek meminta pamannya untuk gendong.
Dengan senang hati, Aly segera menggendong tubuh mungil keponakannya dan keluar dari kamar.
"Bagaimana, Al ?."
"Bagaimana apanya, Bu ?." Tanya Alsya bingung.
"Rasanya menjadi istri putra ibu ?."
Alsya tersenyum dengan rona merah di wajahnya yang tiba-tiba muncul. "Cukup bersyukur memiliki suami seperti mas Aly, Bu." Jawabnya yakin.
Ibu mertuanya tersenyum mendengar jawaban Alsya. "Kamu harus menjadi istri yang sabar ya nak ?." Ucap mertuanya lagi.
"Untuk apa, Bu ?."
"Untuk semuanya. Kamu harus bersabar menghadapi sikap Aly kalau tiba-tiba bersikap tidak seperti biasanya. Bersabarlah, kalau seandainya kamu kelelahan karena mengurus Aly dan anak kalian nanti. Bersabar jika di kemudian hari Allah turunkan ujian dan cobaan pada rumah tangga kalian." Ibu mertuanya mengambil nafas sejenak.
"Karena dalam situasi apapun, di dalam naungan rumah tangga, seorang istri adalah pemegang kuncinya. Jadi apapun yang terjadi di dalam rumah tangga, seorang istri harus bisa bersikap dewasa untuk menemukan jalan solusinya.
Banyak hubungan pernikahan di luaran sana yang hancur, dan berdampak buruk pada anak-anaknya, dan kamu tahu apa sebab hancurnya hubungan itu ?."
Alsya menggeleng, menandakan bahwa dia tidak tahu sama sekali. Dia adalah gadis belia yang kebetulan sudah mengarungi bahtera rumah tangga.
"Istrinya. Kurang rasa percaya seorang istri pada suaminya, kurang rasa peduli seorang istri pada suaminya, kurang rasa hormat seorang istri pada suaminya, itulah pemicu besar runtuhnya kerajaan rumah tangga." Lanjut penjelasannya.
Alsya begitu antusias mendengarkan nasihat atau mungkin bisa dikatakan petuah, dengan sangat baik.
"Kamu pasti bertanya, kenapa harus seorang istri yang melakukan itu semua ?."
"Jawabannya tentu tidak. Sebab suami juga harus memiliki itu semua. Jadi pada dasarnya adalah kesadaran masing-masing.
Dan yang paling penting, jangan pernah merasa paling benar sendiri, sebab kita telah melakukan semua yang menjadi tanggung jawab kita. Karena jika itu terjadi, sama saja dengan kita memperhitungkan apa yang sudah kita lakukan itu.
Itu adalah kesalahan besar, anakku.
Istri dan suami itu bukan saling mengunggulkan, tetapi saling melengkapi. Bukan saling menginginkan, tetapi saling membutuhkan. Bukan juga saling memberi, tetapi saling kasih-mengasihi.
Jika seandainya salah satu dari kalian ada yang terlena dan berbuat dengan tidak sewajarnya, tegur. Jangan takut. Pasangan itu saling mengingatkan bukan merendahkan." Ujar ibunya panjang lebar memberikan petuahnya.
Alsya dari tadi masih belum mengangkat wajahnya, dia terpekur meresapi serta memperhitungkan ucapan mertuanya. Di dalam hati, dia sungguh kagum dengan keluarga suaminya ini yang menurutnya sangat mendamaikan.
Setelah penuturan itu selesai, Alsya kembali mengangkat wajahnya. Kini air mata tampak menghiasi matanya.
"Keluarga ibu sangat luar biasa. Ajarkan aku, Bu. Agar aku bisa menjadi wanita yang ibu nasihatkan." Ujar Alsya penuh harapan.
"Ada suamimu, nak. Yang penting kalian sering berusaha saling memahami, insya Allah, Allah akan mempermudah jalanmu untuk menjadi wanita Sholehah."
"Aamiin, makasih, Bu." Alsya langsung menubruk tubuh mertuanya dan memeluknya erat sekali. Dia sungguh sangat bersyukur memiliki mertua yang penuh kasih sayang seperti ini.
Ibu pun tak hanya diam, dia mengusap-usap punggung Alsya dengan penuh kelembutan. Setelah dirasa cukup, mereka melepaskan pelukannya.
"Sudah, ya ?. Itu, suami kamu sudah kembali."
Alsya menoleh ke arah tatapan ibu mertuanya, dan benar, ternyata terlihat suaminya sedang berdiri di dekat pintu masuk kamar.
Aly mulai memasuki kamar dan menghampiri dua wanita yang sedang berlinangan air mata itu.
"Ly, kamu mengambil makanan ke rumah mertuamu ?."
"Maksud ibu, apa ?." Tanya Aly pura-pura polos.
Ibunya bangkit dari duduknya dan menggeplak baju putranya cukup keras. " Kamu mengambil makanan ke lantai bawah aja sudah seperti ngambil di mana saja ?!." Decak Ibunya geram.,a
__ADS_1
"Aly dari tadi sudah disini, kali, Bu. Cuma Aly tidak langsung masuk, Aly berdiri dulu di depan pintu. Ibunya saja yang tidak tahu kapan Aly datang." Ujar Aly membela diri.
"Karepmu, lah. Ibu mau keluar aja." Ucap ibu semakin kesal saja dengan tingkah putranya, kemudian berjalan keluar dari kamar.
Alsya yang menjadi penonton perdebatan tersebut hanya bisa tersenyum melihatnya.
"Kenapa senyumnya gak selesai-selesai ?, Hem?." Aly duduk di samping tubuh istrinya lalu kecupannya di pipi sang istri.
"Tidak apa-apa, mas. Lucu aja liat mas Aly debat sama ibu."
Aly tersenyum menanggapinya. "Ibu mengatakan sesuatu padamu, sayang ?." Tanyanya.
"Iya, ehh, tunggu. Katanya tadi mas Aly sudah di depan pintu udah lama ?."
"Aku datang pas kamu ngomong ke ibu, minta di ajarin agar menjadi wanita yang Sholihah."
"Yah, itu mah baru, mas !!. Berarti nggak datang dari tadi ?!."
"Hehehe, iya nggak. Tadi mas nemenin Zahwa dulu, beli es krim."
"Masih pagi sudah beli es krim ?."
"Anak itu tidak mau makan sebelum di belikan es krim, sayang."
"Masya Allah..."
"Ya udah, ayo kita makan ?!."
Alsya melirik piring yang tadi dibawa suaminya. "Mas cuma bawa satu piring ?."
"Kita makan berdua sepiring." Jawab Aly santai.
"Sendoknya juga satu ?."
"Satu sendok berdua juga."
Alsya hanya menghela nafas pasrah. " Baiklah, suamiku..."
Aly tersenyum manis mendengar Alsya yang mengucapkan kata suamiku, membuat hati Aly menghangat seketika.
"Cantiknya, ibu muda."
"Ehh, kok ibu muda sih, mas ?." Alsya langsung melayangkan protes.
"Memang kamu masih muda kan, sayang ?. Umurmu masih belum genap dua puluh tahun tapi sudah memiliki anak."
"Berarti salah mas Aly, aku masih sangat muda sudah dihamili." Decak Alsya.
"Yah, bukan salah mas, lah. Lagian, kamu masih sangat muda sudah memiliki suami."
Alsya melirik sinis wajah suaminya. "Untung Abah tidak mengizinkan aku nikah di umur tujuh belas tahun." Ucapnya menyindir.
"Kenapa kalau umur tujuh belas tahun kamu sudah aku nikahi ?."
"Yah nanti umurku belum genap delapan belas tahun, aku sudah jadi ibu." Alsya mencebik kesal.
"Memangnya kamu tidak mau menjadi seorang ibu dan menjadi madrasah pertama untuk anak-anakmu ?."
"Ya mau lah mas. Semua perempuan menginginkan jadi seorang ibu, tapi yah harus menyesuaikan umur juga, mas.
"Hem, iya aku faham. Ternyata istriku ini jadi doyan ngomong ya setelah punya anak ?."
"Aku bisa lebih cerewet jika anak-anak kita sudah mulai gede, mas."
"Iya, dan itu sangat wajar, kan ?."
"Hem. Mas, jadi kapan kita makannya ?."
"Astaghfirullah !. Hehe, maaf aku lupa, sayang. Yaudah ayo kita makan ?!."
Dengan senyuman seribu Watt, Alsya mengangguk mengiyakan ucapan suaminya untuk memulai makan setelah sebelumnya membaca doa terlebih dahulu.
__ADS_1
_________