Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Teman baru


__ADS_3

Brugg


 


"Astaghfirullah !."


"Astaghfirullah !."


 


Kedua wanita itu hampir saja terjerembab ke lantai karena hilang keseimbangan tubuh. Salah satu dari wanita tersebut adalah Alsya, yang baru selesai melakukan pemeriksaan terhadap kandungannya.


"Maaf, saya kurang fokus berjalannya." Ucap wanita itu pada Alsya karena dialah yang memang menabrak bahu Alsya dari belakang.


Alsya perhatikan wajah cantik wanita itu dan tersenyum ramah. "Iya, tidak apa-apa, lagian saya tidak apa-apa kok." Ucap Alsya berbaik hati.


Keduanya tersenyum.


"Mbak mau keluar ?."


"Iya, mbaknya juga mau keluar ya ?. Kita bareng aja bagaimana ?." Ajak Alsya dengan senyuman manisnya.


"Tidak masalah, mari ?!." Ujar wanita itu dengan senyuman tidak kalah manisnya.


 


Keduanya berjalan berdampingan. Obrolan terus berlangsung dari saling menanyakan nama, berapakah usia kandungannya karena perut keduanya yang sama-sama membesar, juga usia mereka dan kemanakah pasangan mereka karena mereka melakukan pemeriksaan sendirian.


Sama-sama memiliki postur tubuh mungil selayaknya anak remaja karena memang umur keduanya yang belum mencapai dua puluh tahun, sempat membuat orang-orang yang berpapasan terheran-heran, namun keduanya hanyalah menganggap itu sebagai angin lalu yang kebetulan lewat saja saat mereka sedang berjalan.


Setelah keluar dari bangunan rumah sakit, ternyata keduanya masih betah untuk saling bercengkrama.


"Yah, sudah sampai. Zahra kamu mau main ke rumahku ?." Harap-harap Alsya dengan wajah murung.


"Main ?."


"Iya, mampirlah, sebagai seorang teman baik."


"Hem, baiklah, Al. Tapi kalau untuk menginap aku tidak bisa ya ?." Seloroh Zahra membuat Alsya terkekeh.


"Iya, iya, lagian kalau kamu menginap di rumahku yang ada malah suami kamu tidak bisa tidur nantinya." Timpal Alsya yang masih terkekeh.


Zahra hanya tersenyum mendengar candaan teman barunya.


"Sudah, non?." Tanya pria paruh baya yang tidak lain adalah supir pribadi Alsya, ditugaskan oleh Aly untuk mengantarkan Alsya kemanapun istrinya pergi selama Aly tidak bisa menemaninya.


"Iya, pak. Kita langsung pulang aja. "


"Iya, non." Ucap supir itu dan langsung mengambil alih pintu belakang lalu membukanya untuk sang majikan.


Alsya mempersilahkan Zahra masuk kemudian dia menyusul di belakangnya.


 


Beberapa saat kemudian, mobil berhenti di halaman rumah milik Alsya dan Aly. Ketiganya keluar dari mobil. Alsya dan Zahra masuk ke dalam rumah sedangkan supir pribadi tadi menghampiri temannya yang menjaga gerbang di pos jaga.


Zahra membuntut di belakang Alsya saat memasuki rumah minimalis namun terkesan elegan dan modern itu.


"Silahkan,..." Ucap Alsya mempersilahkan tamunya untuk duduk lalu dia beranjak ke belakang untuk menyiapkan jamuan dan kembali dengan membawa nampan berisi beberapa makanan ringan juga dua gelas minuman berperisa lalu menatanya di atas meja.


 


Layaknya seorang sahabat, keduanya berbincang ini-itu dengan diselingi canda tawa yang membuat keduanya betah untuk saling berbagi cerita. Keduanya memang tidak jauh berbeda dalam menyampaikan ceritanya sehingga mampu menimbulkan perasaan nyaman dari masing-masing keduanya.


Waktu beranjak sore, Zahra pamit pulang dan Alsya meminta supir pribadinya untuk mengantarkan Zahra ke tempat tinggalnya meskipun Zahra menolak namun Alsya tidak menerima penolakannya sehingga dengan terpaksa Zahra menurutinya saja.

__ADS_1


Sepeninggalan Zahra yang diantar oleh supirnya, Alsya masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri dan melaksanakan kewajibannya menjalankan sholat ashar.


Dua salam penutup sholat sudah terucap dari bibirnya, lalu menyambung dengan dzikir dan doa kemudian kembali membereskan perlengkapan sholatnya dan menyimpannya di atas meja khusus.


Alsya beranjak ke atas tempat tidur yang ternyata bersamaan dengan ketukan di pintu kamarnya. Alsya urungkan niatnya untuk berbaring dan memilih membukakan pintunya.


"Ehh mbak, kenapa mbak?." Ujar Alsya setelah mengetahui siapa yang ada dibalik pintu kamarnya yang ternyata adalah asisten rumah tangganya.


"Makanan sudah siap, non. Atau non Alsya akan makan sekarang ?."


"Hemm, nanti ajalah mbak, sekarang saya mau rebahan dulu."


"Oh, ya udah non. Apa non Alsya mau mbak buatkan susu ?."


"Boleh, nanti kalau sudah selesai langsung bawa masuk kesini aja ya, mbak ?."


"Iya, non."


Alsya mengangguk lalu menutup kembali pintunya dan segera beranjak ke tempat tidur lalu merebahkan tubuhnya karena rasa lelahnya yang sudah dia tahan dari tadi. Perlahan matanya menyayup dan terlelap tenang dalam tidurnya. Bahkan ART masuk ke dalam kamarnya untuk sambil membawakan pesanannya saja Alsya tidak menyadarinya.


 


____________


 


"Mas, ihh... !."


Aly tersenyum menyaksikan istrinya kesal dengan bibir cemberut. Siapa lagi istrinya yang memiliki sikap seperti itu selain Halimah, si cerewet dan pemarah.


"Dek." Jari Aly menarik-narik dagu Halimah dengan jahil.


Tangan Halimah terus menyingkirkan tangan suaminya yang kelewat iseng, tapi matanya masih fokus pada kertas-kertas di hadapannya. Waktu ikhtibar atau ujian madrasah memang mengharuskan dirinya sibuk sebab tanggung jawab pesantren telah dialihkan kepada kepemimpinannya sebagai anak satu-satunya Abah Kyai, sebab tidak mungkin melimpahkannya pada ummi nyai, mengingat ummi nyai yang mulai sakit-sakitan.


"Hem." Gumam Halimah tanpa menoleh sedikitpun.


"Mau dibantuin nggak ?."


"Boleh, tapi jangan merusuh." Halimah melirik wajah suaminya yang sepertinya merencanakan sesuatu sehingga dia mengatakan demikian.


"Yah kalau nggak dirusuhin bakal cepat selesai." Ucap Aly seenaknya saja.


"Ya udah, nggak usah bantuin !." Sewot Halimah menatap tajam wajah suaminya.


Yang ditatap malah menyunggingkan senyum anehnya. Halimah tidak ingin menghiraukan tingkah suaminya itu, dia memilih fokus lagi pada pekerjaannya.


"Dek."


"Apa lagi, mas ?."


"Kamu ngerjain semuanya sendiri, kenapa nggak minta tolong sama ustadz-ustadzah aja sih ?."


"Mereka punya tugas sendiri, mas."


"Yah, tapi mereka setidaknya ada sedikit membantu kamu, dek."


Halimah melirik wajah suaminya dengan tatapan sengit. "Mas, kamu sekarang cerewet sekali ya ?." Ujarnya sinis.


Aly terkekeh mendengar ucapan istrinya. "Kamu lupa siapa yang membuat aku seperti ini, Hem ?."


"Aku nggak ngajarin mas untuk jadi cerewet kok ?!." Dengus Halimah kesal.


"Ehh siapa yang bilang kamu yang ngajarin aku ?." Ucap Aly dengan suara dibuat polos namun terkesan menggoda.


"Mas, kamu pernah melihat tinta pulpen melayang ?." Tanya Halimah tiba-tiba.

__ADS_1


"Kalau pulpennya diangkat yah otomatis tintanya juga terangkat lah, dek." Ucap Aly asal.


"Oh, rupanya kamu tidak tahu ya mas ?, Ya udah, sini aku tunjukkan." Halimah menggeser duduknya dan mendekat ke arah Aly.


Tangan Halimah menarik hidung mancung suaminya.


"Eh dek, kamu mau apa ?." Tanya Aly panik dengan tingkah Halimah yang tiba-tiba, apalagi senyuman manis istrinya itu terlihat mengandung arti terselubung.


"Aku cuma mau ngasih tau bagaimana tinta melayang." Ucap Halimah dan bersiap untuk melancarkan aksinya.


Aly sebenarnya faham maksud dari tinta pulpen melayang tapi dirinya juga ingin memberikan sedikit hadiah untuk istrinya sehingga membiarkan saja Halimah mendekat, dan... Ternyata benar apa dugaannya, sasaran Halimah adalah wajahnya.


 


Cup


 


"Mas !!." Teriak Halimah karena kaget dengan apa yang dilakukan oleh Aly.


 


Cup


 


"Mas, lepaskan tanganmu !." Halimah memberontak agar kedua tangannya yang dikunci oleh tangan Aly dilepaskan, namun ternyata sia-sia saja.


"Kamu yang mulai."


"Habis, mas ngeselin banget !. Lepas ihh !." Halimah menatap tajam wajah pria dihadapannya.


Aly mengambil alih pulpen yang masih digenggam Halimah dengan tangan kirinya. "Lepaskan." Pinta Aly agar pulpennya bisa diambil


"Nggak." Ucap Halimah Keukeuh.


"Lepas."


"Nggak mau !."


"Oh, baiklah." Mata Aly tertuju pada satu pulpen yang tergeletak di dekat kertas-kertas, lalu mengambilnya.


"Mas, kamu mau ngapain ?!." Ujar Halimah mulai panik karena ternyata rencananya gagal dan malah akan dikerjain balik.


"Mau melukis." Ucap Aly santai dengan senyuman anehnya.


"Mas... Jangan, ya ?, Please..." Ujar Halimah memohon dengan sangat.


Aly menyeringai lebar, mulai mendekatkan ujung pulpennya ke pipi Halimah. "Warna pulpennya merah, pas buat bikin blush-on, ya ?." Tanya Aly.


"Mas... Jangan..." Halimah terus memberontak agar pulpen itu tidak menempel di pipinya.


"Tenang sayang, ini pasti akan membuat wajah kamu semakin cantik, ada merah-merahnya." Semakin menyeramkan saja senyuman suaminya itu. Pikir Halimah.


 


Cesh


 


"Mas Aly ...!!"


"Hahaha...!!"


__________

__ADS_1


 


 


__ADS_2