Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Anggota keluarga baru


__ADS_3

Beberapa bulan setelah Alsya melahirkan si kembar, kedua saudarinya juga mengalami kontraksi dan siap melahirkan anak-anak mereka.


Dan yang paling mengejutkan adalah ternyata Fyzha dan Nareena bersamaan mengalami kontraksi dan melahirkan di hari yang sama juga.


Di dalam ruang persalinan, dua orang dokter tengah membantu dua pasien yang sama-sama melahirkan.


Affin yang merupakan seorang dokter tidak pernah ada rasa takut sedikitpun saat melihat darah, tapi saat yang mengalami pendarahan adalah istri tercintanya, Affin benar-benar seperti bukankah seorang dokter. Dia sangat takut dan tak sanggup melihat darah yang sudah menetes terus dari tubuh bagian bawah istrinya.


Fyzha mengalami pendarahan saat melahirkan, jadi dia harus menjalani pemeriksaan intensif saat akan melahirkan bayinya.


Affin bukanlah ahli ibadah, tapi dia hanyalah seorang hamba yang terus saja memohon keselamatan untuk kelangsungan persalinan istrinya. Dia tak henti-hentinya berdoa dan bersholawat agar Sang Maha Kuasa memberikan yang terbaik untuk istri dan anaknya.


"Fin... Sakit..." Rintihan Fyzha yang tak henti-henti semakin membuat Affin gemetaran dan juga gelisah.


Sudah satu jam lebih Fyzha mengalami kontraksi tapi masih belum juga mencapai tahap pembukaan akhir.


"Iya, sayang... Kamu sabar ya ?, Kita berdoa semoga baby kita segera keluar." Affin menempelkan bibir bergetarnya pada kening istrinya karena sedang sibuk berdoa.


Fyzha menggeliat-liat saat kontraksi itu seakan melilit perutnya. "Aaa...!!, Fin, sakit... Kapan baby-nya keluar..?, Huhh, aku sudah tidak tahan... Ini sakit sekali... Ibu... Fin, aku mau ketemu ibu..." Fyzha terus meracau tak karuan karena kesakitan.


"Iya, sayang. Aku akan panggil ibu sekarang." Affin melepaskan genggaman tangan istrinya dan berjalan keluar dari ruangan tersebut untuk menjemput ibu mertuanya untuk ikut masuk ke dalam.


Sampai di luar, Affin segera menyampaikan maksudnya pada ibu mertuanya dan Ningrum langsung menyetujui lalu ikut masuk ke dalam ruangan itu lagi bersama Affin.


"Ibu..." panggil Fyzha saan Melihat kedatangan ibunya.


"Iya, nak. Ibu disini."


Kedua tangan Fyzha digenggam erat oleh suami dan ibunya. Dan tak menunggu lama lagi, akhirnya kontraksi semakin sering terjadi dalam durasi yang cukup lama.


Affin segera memanggil dokternya dan ternyata menurut dokternya pun jika Fyzha sudah memasuki pembukaan terakhir.


Perjuangan penuh peluh dan teriakan kesakitan dialami Fyzha hingga sejam lamanya dan barulah keluar bayi perempuan yang sangat cantik dengan tangisannya yang melengking memenuhi seluruh penjuru ruangan.


Tangis haru langsung mewarnai wajah Affin, Fyzha dan Ningrum saat melihat sosok mungil itu direbahkan di atas tubuh Fyzha yang masih melemah.


"Masya Allah,... Cucu Oma sangat cantik." Ucap Ningrum menatap lekat wajah cucunya yang masih merah.


Fyzha memandang wajah cantik Putrinya sampai tak berkedip sekalipun. Dia sangat bahagia akhirnya putrinya bisa dilahirkan dengan selamat.

__ADS_1


Affin juga tampak sangat bahagia. Dia sangat terharu karena saat ini telah resmi menjadi seorang ayah. Affin tak henti-hentinya mencium kening istrinya.


"Yang... ?." Fyzha mendongak menatap wajah suaminya yang masih berlinang air mata.


Affin mengangguk. "Iya, sayang ?."


"Aku sudah menjadi seorang mama?."


"Mama dari putri yang sangat cantik."


Keduanya saling menatap dalam, dengan senyuman manisnya.


"Makasih." Ucap Affin lagi. Ucapan yang mengandung arti sangat dalam dan sangat banyak. Dia mewakili seluruh perasaannya dalam kata tersebut untuk segala kebahagiaan yang telah dijaga oleh istri tercintanya.


Fyzha semakin mengembangkan senyumnya menatap wajah suaminya yang sedang menatapnya juga. "Terimakasih," Ucapnya penuh syukur.


Setelah didiamkan untuk mengenal ibunya, bayinya diambil lagi oleh seorang suster untuk dibersihkan dan disiapkan agar bisa digendong oleh yang lainnya.


Fyzha sendiri juga akan dibersihkan oleh salah satu suster lain.


"Sus, bisakah jika yang melakukannya suami saya saja ?." Tanya Fyzha.


Affin mengangguk mantap. "Terimakasih." Ucapnya tulus.


Dengan penuh kelembutan, Affin segera membersihkan tubuh istrinya yang telah dikotori oleh darah dan menggantikan pakaian Fyzha menggunakan pakaian biasa milik sendiri yang dibawanya sebelumnya.


"Apa masih ada yang sakit, sayang ?." Tanya Affin di sela-sela kegiatannya.


"Hanya bagian itu saja yang masih terasa kebas dan keram."


"Hmm, baiklah. Kalau perutnya bagaimana ?."


"Terasa sedikit aneh."


"Tidak apa-apa, itu akan hilang dengan sendirinya nanti."


"Iya."


Affin menyelesaikan kegiatannya dan duduk di kursi yang berada di samping ranjang istrinya. Tangannya menyentuh wajah istrinya yang masih terlihat pucat.

__ADS_1


"Apa kamu sudah menyiapkan nama untuk bayi kita ?." Tanya Affin.


Fyzha langsung menggeleng. "Kirain kamu sudah menyiapkannya ?."


"Aku memang sudah menyiapkannya, tapi kamu mungkin punya lagi, sayang."


Fyzha tersenyum mendengarnya. "Tidak, aku yakin nama yang diberikan oleh papanya pasti akan sangat bagus."


"Insyaallah, aku sudah menyiapkan nama yang baik dan bagus untuk anak kita. Kita akan memberinya nama saat aqiqah nya nanti."


"Makasih, sayang." Fyzha beringsut mendekati tubuh suaminya dan menelusupkan kedua tangannya lalu memeluk erat tubuh suaminya.


Affin juga langsung membalasnya dengan perasaan dipenuhi bunga-bunga cintanya.


Di sisi lain, di dalam ruang persalinan juga, Aly sedang menemani istrinya berjuang mengeluarkan buah hati mereka.


Meski pernah memiliki dua istri dan empat anak, ini adalah kali pertama Aly menemani istrinya berjuang untuk melahirkan anak mereka dari awal hingga akhir. Karena, saat dulu Alsya melahirkan Hafidhz Aly hanya menemani dari pertengahan hingga melahirkan.


Aly sungguh dibuat gemetar dan cemas melihat keadaan istrinya itu yang sedang kesakitan juga berkeringat dingin.


"Mas,."


"Iya, sayang ?."


"Ridhoi aku jika seandainya aku tidak bisa hadir bersama kalian lagi." Ucapan Nareena terdengar sangat lirih dan menyayat hati suaminya.


Aly langsung menggeleng. "Tidak, sayang. Kamu akan baik-baik saja, kita akan hidup bersama dengan keluarga kecil kita. Kamu sudah janji bukan ?, Setelah anak kita berumur lima tahun, kita akan berangkat umroh bersama ?." Aly sudah tidak lagi menahan air matanya untuk tidak keluar deras.


Aly semakin deg-degan saat melihat wajah istrinya yang semakin sayu dan sangat pucat.


Nareena tersenyum. Entah apa yang dipikirkannya saat ini, meski dia sedang kesakitan tapi dia masih sempat-sempatnya tersenyum. Senyuman yang sangat dibenci Aly untuk keadaan yang sangat menegangkan seperti ini.


"Ibu dijemput saat melahirkanku, jika memang aku akan mengalami hal yang sama, aku... Aaa...! Mas... Perutku sakit sekali..." Nareena semakin menggenggam erat tangan suaminya.


Aly semakin kelabakan dibuatnya. Dia sangat tidak tega melihat istrinya itu.


Seorang dokter datang setelah dipanggil oleh suster yang dari awal menemani Nareena untuk terus melihat perkembangannya.


Dokter itu langsung mengecek kondisi Nareena. "Alhamdulillah, sekarang sudah saatnya Bu."

__ADS_1


__ADS_2