Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Bersikap adil


__ADS_3

Malam semakin larut, kedua orang tua Alsya sudah pulang dan hanya menyisakan Aly dan Halimah saja yang masih setia menjaga.


Aly duduk di sofa pojok ruangan sedangkan Halimah masih setia duduk disamping Alsya, menjaga Alsya yang sudah terlelap dari tadi.


Dari jarak yang tak terlalu jauh, Aly memperhatikan wajah Halimah yang sudah mulai kelelahan dan sepertinya mengantuk berat.


"Imah." Panggil Aly akhirnya.


Halimah menoleh. " Iya ?." Jawabnya.


"Sebaiknya kamu pulang aja, mas antar ya ?. " Tawar Aly.


Halimah melirik lagi ke arah Alsya yang masih terlelap tenang dalam tidurnya. "Aku ingin menemaninya, mas." Jawabnya lagi.


"Tapi kamu juga perlu istirahat, nggak baik begadang terus." Nasihat Aly.


"Tapi, mas..."


"Kamu akan mas antar ke rumah, mas. Biar tidak terlalu jauh pulangnya." Tegas Aly lagi seolah tak ingin dibantah.


Akhirnya Halimah mengangguk pasrah. "Iya, mas."


"Sebentar, mas panggil perawat dulu untuk menjaga Alsya."


"Iya, mas."


Aly keluar dari kamar untuk mencari seseorang untuk menitipkan Alsya selama dia mengantarkan Halimah pulang ke rumah. Hanya beberapa menit saja, Aly datang bersama seorang perawat perempuan dan setelah menitipkan Alsya, Aly segera mengajak Halimah untuk pulang ke rumahnya yang biasa ditempati bersama Alsya.


 


Beberapa saat kemudian, mereka sampai di depan gerbang rumah Aly. Aly turun dari mobil dan membuka gerbangnya lalu kembali lagi dan masuk ke dalam mobil untuk melanjutkan perjalanannya menuju halaman rumah.


Mereka turun dari mobil. Halimah memperhatikan bangunan rumah yang berukuran sedang namun terlihat elegan dan nyaman.


 


"Ayo, sayang ?!."


"Iya, mas."


Mereka masuk ke dalam rumah yang terasa sepi tak berpenghuni karena memang rumah tersebut biasanya hanya ditempati oleh Aly dan Alsya saja, dan akan ada pegawai rumah yang datang dari waktu pagi jam setengah tujuh sampai jam lima sore.


Tangan Aly menggandeng tangan mungil Halimah melangkah menuju kamar utama dan berakhir pada ranjang yang biasa digunakan Aly dan Alsya.


"Kamu nggak papa, kan, mas tinggal ?." Tanya Aly meski khawatir jika harus meninggalkan istrinya sendirian.


Halimah tersenyum dan mengangguk. "Iya, mas. Aku tidak apa-apa."


"Maaf, ya sayang." Aly mencium kening Halimah sangat lama.


"Mas, sana berangkat lagi. Kasihan Alsya sendirian di rumah sakit." Ucap Halimah sambil mendorong tubuh Aly agar menjauh dari tubuhnya.


"Iya, iya. Tapi, nanti kalau kamu ada apa-apa, langsung kabari ya ?."


"Iya, suamiku..." Tangan Halimah membingkai wajah tampan suaminya.


Sejenak mereka saling menatap hingga berakhir pada kecupan singkat yang Aly berikan di bibir Halimah. "Mas berangkat ya, assalamualaikum..."


"Iya, mas, hati-hati dijalan jalan. Waalaikumsalam."


"O ya, kalau mau apa-apa, ada beberapa bahan makanan di kulkas."


"Iya, mas."


"Mas, pergi dulu. Assalamualaikum.."


"Iya, iya mas.. udah sana."

__ADS_1


Aly tersenyum lalu beranjak keluar dari kamar.


Sepeninggalan Aly, Halimah baru menjawab salamnya dan segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


 


Aly kembali menjalankan mobilnya menuju rumah sakit. Dan saat sampai di kamar Alsya, dia masih melihat perawat yang tadi diminta tolong untuk menjaga istrinya itu.


"Anda sudah kembali, tuan ?." Tanya perawat itu sambil bangkit dari duduknya di atas sofa.


"Iya, sus. Terima kasih bantuannya ." Ujar Aly sangat sopan.


"Iya, itu sudah menjadi prioritas kami sebagai pegawai rumah sakit, tuan. Kalau begitu, saya keluar dulu ya. Assalamualaikum..."


"Iya, sus. Waalaikumsalam."


Setelah perawat itu keluar, Aly mendekati ranjang Alsya lalu duduk di kursi samping ranjangnya.


 


_______________


 


Pagi menyapa, Alsya bangun dari tidurnya dan sosok yang pertama kali dia lihat adalah Halimah. Entah kemana perginya suaminya itu.


"Al, kamu sudah bangun ?." Ucap Halimah sambil tersenyum ramah padanya.


Halimah mendekat dan duduk di samping tubuh Alsya di atas tempat tidur.


"Ning Imah belum pulang ?." Tanya Alsya.


Halimah tersenyum. "Udah, Al. Terus tadi pagi datang kesini lagi." Jawabnya.


"Oh, terus kemana mas Aly, Ning ?." Tanya Alsya lagi sambil matanya masih mencari-cari keberadaan sang suami.


Sosok yang sedang dicari akhirnya datang juga. Membuat dua wanita itu menoleh bersamaan. "Waalaikumsalam..." Jawab keduanya berbarengan.


"Mas."


"Iya, Al. Kamu sudah bangun, Hem ?." Aly mendekat lalu tangannya terulur mengusap lembut kepala Alsya.


"Iya, mas."


Keduanya saling menatap dan melempar senyum manis.


"Maaf, sepertinya aku keluar dulu kali ya ?." Ucap Halimah tiba-tiba dengan senyum kaku dan mulai turun dari ranjang.


Wajah Alsya tampak memerah karena malu, namun wajah Aly malah menyiratkan kebingungan saat melihat istri keduanya itu seperti dibakar oleh rasa cemburu.


Aly menatap lekat wajah Halimah dengan tatapan tidak terbaca.


"Mau kemana, Ning ?." Tanya Aly akhirnya.


Halimah melirik Aly sambil tersenyum ramah. "Saya mau mencari udara segar dulu di luar kang. Alsya, aku keluar dulu ya ?. " Halimah tersenyum lagi ke arah Alsya.


"Iya, Ning. Hati-hati."


"Iya, Al." Halimah sedikit membungkuk memberikan kode pada Aly untuk meminta izin keluar dan Aly hanya mampu mengangguk tanpa mengeluarkan suara.


Halimah keluar dari kamar Alsya. Melangkah menyusuri lorong rumah sakit entah ke arah mana tujuannya, yang jelas dia menginginkan udara segar untuk menenangkan gemuruh dalam hatinya.


Dia tidak bisa mengatakan tidak cemburu atas sikap yang ditunjukkan oleh Aly pada Alsya. Dan sebagai seorang istri, bukankah wajar jika dia merasakan hal demikian meski itu pada madunya sendiri.


Julukan yang terselip dalam dirinya yang sering dikatakan Aly memang benar adanya, jika dia adalah pencemburu. Halimah memang sangat baik pada Alsya tanpa ada rasa sedikitpun benci terhadap sosok sahabatnya itu meski pernah mengambil pria idaman yang selalu dia curhatkan pada Alsya. Halimah juga sangat menghargai hubungan antara Alsya dan Aly, karena bagaimanapun, dirinyalah yang masuk ke tengah-tengah diantara keduanya. Namun, satu hal yang selalu membuat hatinya masih saja hatinya tidak bisa menerima, yaitu mendengar dan menyaksikan kebahagiaan Alsya bersama suaminya sendiri yang juga merupakan suaminya.


Hubungan yang rumit, memang. Pantas saja hubungan seperti ini jarang sekali orang yang bisa menjalaninya dengan ikhlas dan lapang dada sebab jika ada hari yang bahagia, pastinya ada hati lain yang malah merasa gerah.

__ADS_1


 


"Astaghfirullah !." Halimah sedikit limbung karena bahunya ternyata menabrak sesuatu.


Halimah menoleh ke arah sosok yang baru saja bertabrakan dengannya yang ternyata seorang pria.


"Maaf, nona. Saya tidak sengaja." Ucap pria itu.


"Iya, saya juga minta maaf. Karena tadi saya juga jalannya kurang fokus. " Ucap Halimah sopan.


"Iya, tidak apa-apa nona. Kalau begitu, saya akan lanjutkan kembali jalan saya."


"Iya, silahkan."


Keduanya kembali melanjutkan langkah dengan arah berlawanan. Halimah hanya menggeleng menyadari kelakuannya sendiri yang telah berjalan tapi tidak fokus karena sedang melamun memikirkan kisah rumah tangganya.


Halimah keluar dari area rumah sakit dan berjalan menuju taman rumah sakit dan berniat duduk di salah satu bangkunya.


Langkahnya terhenti saat ada yang menarik pergelangan tangannya. Halimah menoleh pada pemilik tangan tersebut. "Mas." Panggilnya.


Tanpa basa-basi, Aly langsung memeluk erat tubuh Halimah dan mendaratkan kecupannya di kening Halimah berkali-kali.


"Maaf." Ucap Aly lirih.


Halimah langsung melepaskan diri dari pelukan hangat suaminya. "Maaf untuk apa mas ?." Tanyanya.


Aly terdiam karena memang bingung, mengatakan maaf itu untuk kesalahan apa.


"Sudahlah, mas. Aku mau cari udara segar dulu." Ucap Halimah lagi lalu melangkah pergi.


"Sayang, hey ?!." Pekik Aly karena dia sangat tahu bahwa Halimah pasti sedang cemburu. Hal yang selalu ditampakkan.


Halimah tidak menggubris panggilan Aly dan memilih untuk duduk di salah satu bangku taman rumah sakit yang kosong.


Aly mengikutinya dan duduk disamping sang istri yang sedang merajuk.


"Mas Aly ngapain ikut aku ?. Sana. Alsya sedang membutuhkanmu sekarang !." Halimah mendorong tubuh suaminya agar kembali pergi.


Aly mengurung kedua tangan Halimah dan menguncinya agar tidak kembali mendorong tubuhnya untuk segera pergi.


"Siapa yang menyuruhmu datang kesini ? Hem ?."


"Aku sendiri."


"Terus siapa yang cemburu?."


"Yah aku !."


"Jadi siapa yang salah ?."


"Mas Aly !."


"Ehh, kok mas sih ?."


"Yah, pokoknya mas Aly ngeselin !."


Sikap Halimah yang seperti inilah yang selalu membuat Aly gemas dan sangat menyukainya. Aly menarik hidung mungil Halimah.


"Mas... Ahh !. Sakit !." Geram Halimah dan langsung memukuli tubuh suaminya.


Bukannya melepaskan, Aly malah tertawa dan semakin kencang menarik hidung Halimah.


 


Cukup jauh dari jarak keduanya, seseorang sedang memperhatikan interaksi keduanya yang terlihat sangat romantis itu.


 

__ADS_1


_____________


__ADS_2