
Sepasang pengantin baru yang masih tidak pernah menunjukkan sikap selayaknya seorang yang sudah menikah. Affin masih sangat suka menjahili Fyzha dan Fyzha yang langsung marah besar jika Affin sudah mulai bertingkah.
Hubungan mereka cukup unik, memang. Sering mengalami pertikaian yang bahkan kadang mengeluarkan jurus andalannya yang sama-sama mumpuni hingga barulah selesai jika salah satu di antaranya ada yang kalah. Sebab, mereka tidak ada yang mau mengalah.
Meski selalu tidak akur, tapi Affin tidak pernah meninggalkan kewajibannya sebagai seorang suami. Dia selalu menyempatkan waktu untuk istrinya itu jika Fyzha ingin bepergian.
Yah, seharusnya Affin menyuruh supir pribadi keluarganya saja bukan?, Agar dia tidak terlalu repot. Dan Affin tidak ingin seperti itu. Dia ingin lebih dekat dengan istrinya meski awal pernikahan mereka tidak ada cinta di hati keduanya.
Affin hanya ingin berusaha untuk keluarganya agar tidak sampai membuat mereka berpisah. Tapi sayangnya usahanya itu hanya dilakukan oleh Affin sendiri sebab Fyzha sepertinya enggan untuk mencoba membuka pintu hatinya pada Affin.
Menjelang pernikahan Nareena dan Aly, Affin dan Fyzha sepakat untuk membeli sesuatu untuk dijadikan kado nantinya.
"Sudah ?."
"Iya."
"Baiklah, ayo pulang ?!."
Fyzha baru saja sampai di mejanya kembali setelah selesai dari toilet tadi, dan kenapa suami menyebalkannya itu malah menarik-narik tangannya.
"Hei ada apa ?, Tangan ku sakit, ihh !."
"Tidak usah berisik." Affin berucap seperti tidak punya perasaan.
Sudah jelas jika tangan Fyzha sedikit ngilu karena ditarik-tarik sangat kencang.
"Sebenarnya kau akan membawaku kemana sih ?!." Fyzha mengabaikan tangannya dan memilih menatap sengit wajah Affin.
"Ke rumah sakit."
Fyzha langsung marah, dan dengan satu hentakan kuat tangannya sudah dengan mudah terbebas begitu saja.
Affin memekik keras saat merasakan tangannya seperti terpelintir kuat sebab gerakan Fyzha.
"Hei, apa yang kamu lakukan ?!." Sentak Affin sambil mengibas-ngibaskan tangannya yang masih terasa sangat sakit. Mungkin jika yang melakukan itu bukanlah seorang Fyzha, Affin tidak akan mendapatkan kesakitan tersebut.
Fyzha menatap sengit. "Aku sudah bilang dari tadi, tanganku sakit kamu tarik-tarik seperti itu. Jadi impas kan ?." Ucapnya menyeringaipenuh kemenangan.
"Jika saja kau,..."
"Kau apa ?!, Hahh ?!." Fyzha semakin menantang.
Affin mendengus kesal dengan hembusan nafasnya yang terasa berat. Selalu saja seperti ini. Pernikahannya selama satu bulan dengan Fyzha tidak pernah ada romantis-romantisnya seperti yang dia lihat pada pasangan lain.
"Tidak jadi." Ucapnya akhirnya tidak ingin memperpanjang perdebatan.
"Terus tadi kenapa kamu menarik-narik tangan ku?, Memangnya ada yang penting di rumah sakit mu?." Tanya Fyzha kemudian.
"Ada kecelakaan beruntun dan banyak korban yang dilarikan ke rumah sakit, aku harus kesana sekarang."
Fyzha terkejut. Jika saja dari tadi Affin mengatakannya dia mungkin tidak akan marah-marah seperti tadi.
"Baiklah, ayo kita ke rumah sakit ?!." Kini giliran Fyzha yang menarik tangan Affin membuat si pemilik tangannya meringis kesakitan. "Hei jangan ditarik-tarik, tanganku sakit."
Fyzha segera melepaskan tangan Affin. "Oh, maaf." Ucap Fyzha merasa bersalah.
Affin mengibas-ngibaskan tangannya karena semakin terasa sakit karena ulah istrinya itu.
__ADS_1
Fyzha mengulurkan tangannya lagi. "Sini tangannya." Ucapnya karena ingin membantu.
"Mau apa ?." Affin memicingkan matanya menatap takut pada istrinya yang sangat bar-bar.
"Lama." Fyzha menarik paksa tangan Affin dan sekali lagi dia hentakkan tangan Affin bahkan kali ini lebih keras.
"Aww !!." Affin reflek berteriak sekencang mungkin atas aksi istrinya.
Beberapa pengunjung yang juga sedang berbelanja di mall itu menatap aneh ke arah Affin dan Fyzha. Affin memandang tangannya sendiri dengan tatapan yang sangat mengenaskan.
"Tadi mungkin keseleo." Fyzha melepaskan lagi tangan Affin. "Coba digerakkan." Ucapnya lagi memberi perintah.
Affin menurut dan mulai menggerak-gerakkan pergelangan tangannya. Dan benar saja, rasa sakitnya sudah gila sempurna bahkan menjadi sangat membaik.
"Masih sakit ?." Tanya Fyzha menatap lekat wajah suaminya. Dia sedikit khawatir tapi tidak menampakkannya di depan Affin.
"Tidak."
"Syukurlah, kalau begitu kita langsung ke rumah sakit saja." Fyzha kembali melangkah di depan Affin.
"Iya, makasih, nona."
Fyzha reflek menghentikan lagi langkahnya dan menoleh ke belakang. Rupanya Affin berjalan sangat lamban karena sedang fokus melihat tangannya yang sudah tidak sakit lagi itu.
Fyzha masih terus menatap wajah Affin hingga jarak mereka semakin dekat dan...
bugghh
Affin menabrak tubuh Fyzha yang sedang berdiri di depannya tapi dia tidak melihatnya.
Fyzha membelalak kaget karena bibir Affin tepat menyentuh bibirnya ketika dia hampir terhuyung ke belakang namun tak terjadi karena Affin lebih dulu menangkap tubuhnya. Fyzha segera tersadar dan langsung menjauhkan diri dari Affin dengan beberapa langkah kebelakang.
"Unsur ketidaksengajaan, sumpah." Affin membalasnya sehingga kini keduanya saling menatap dalam.
"Terserah." Fyzha membalikkan badannya lalu kembali melangkah.
Affin ikut melangkah dan mensejajarkan langkah kakinya dengan langkah kaki Fyzha. "Lagian, kenapa kamu berhenti berjalan dan malah berbalik lagi?." Affin berucap tapi tak melirik sedikitpun kepada Fyzha.
"Aku risih dengan panggilanmu padaku itu." Ungkap Fyzha sejujurnya karena dia memang tidak senang jika Affin terus memanggilnya dengan sebutan nona. Itu mengingatkan dirinya saat sedang melakukan dosa besar bersama Affin, sebab saat itu Affin menyebutnya dengan sebutan nona.
Affin menoleh. "Kenapa?, Bukankah aku selalu memanggilmu dengan sebutan itu ?." Tanya Affan.
"Aku tidak suka."
"Hem, baiklah. Kalau begitu aku akan memanggilmu dengan sebutan sayang saja."
Fyzha sedikit tersentil mendengar sebutan baru untuk nya itu. Ingin berkomentar lagi tapi dia sedang tidak mood.
Setelah memasukkan semua barang belanjaan ke dalam bagasi mobil, keduanya mulai memasuki mobilnya dan segera setelahnya mobil Affin melesat cepat menuju ke rumah sakit.
"Fin."
"Iya, sayang ?."
Affin memang paling pintar membuat Fyzha naik darah.
"Panggilan itu rasanya semakin membuatku merasa tidak nyaman." Ucapnya menyindir.
__ADS_1
Affin melirik dengan tatapan matanya yang sangat tajam. Lalu kembali lagi pada kefokusannya mengemudi.
"Terserah. Aku tidak akan merubahnya lagi, karena aku akan memanggilmu dengan sebutan itu sampai kapanpun." Ucap Affin menolak dengan tegas.
Fyzha mendengus kesal. "Iya terserah kamu saja deh." Decaknya cemberut.
"Hmm."
Keduanya saling terdiam dalam keheningan di dalam mobil.
Beberapa menit kemudian, mobil Affin sampai di parkiran khusus pemilik rumah sakitnya.
Affin keluar dari mobil dan menghampiri Fyzha yang juga sudah keluar. Dia menggandeng tangan istrinya saat melangkah masuk.
Fyzha sempat kaget tapi melihat sekelilingnya dia akhirnya tidak memberontak, toh Affin juga menggandeng tangan nya tidak terlalu kencang padahal langkah kakinya sangat terburu-buru.
Mereka sampai di ruangan pribadi Affin dan Affin segera mengganti pakaiannya dengan pakaian medisnya juga beberapa alat medis yang biasa selalu dipakainya.
Fyzha memperhatikan kesibukan Affin yang membuatnya tidak nyaman. "Kenapa kamu harus ikut turun tangan ?, Bukankah ini rumah sakitmu ?." Tanya Fyzha mengeluarkan asumsi di kepalanya.
"Ini hari Minggu, dan dokter yang seharusnya praktek hari ini sedang memiliki halangan jadi aku yang akan menggantikannya." Affin menjawab tapi dia tetap pada kesibukannya sendiri.
"Apa tidak bisa digantikan oleh dokter lainnya ?, Disini dokternya banyak, kan ?."
Entah mengapa pertanyaan yang diberikan oleh Fyzha itu sedikit mengusik hatinya. Affin mendekat ke arah istrinya yang sedang duduk di sofa. Dia memandang lekat wajah istrinya itu.
"Selagi aku masih bisa mengatasinya sendiri, itu lebih baik dibanding harus merenggut kebersamaan dokter disini yang mungkin saja sedang berlibur bersama keluarganya." Ucap Affin dengan raut wajah tenangnya.
"Lalu bagaimana dengan dirimu sendiri ?, Kamu juga sedang berlibur bersama istrimu ?."
Sangat mengejutkan. Affin tidak menyangka jika Fyzha akan mengucapkan kata-kata itu. Dia seakan sedang diterpa angin segar.
Apakah itu artinya Fyzha mengambek karena Affin lebih memilih pekerjaannya dibanding dengan menghabiskan waktu akhir pekannya bersama Fyzha ?.
Entahlah, karena yang tau jawabannya adalah Fyzha sendiri dan sang Maha Kuasa.
"Aku tinggal dulu ya?, Kalau kamu bosan kamu bisa ke kantin atau pulang saja. Nanti minta di jemput sama supir rumah." Affin mengusap lembut pipi istrinya.
"Apa kamu akan lama ?."
"Tidak tau. Aku keluar, assalamualaikum." Sebelum melangkah ke pintu keluar, Affin sempat mengecup singkat puncak kepala istrinya yang sedang ditutup oleh hijab nya.
Fyzha tertegun. Ini adalah kali pertama Affin bersikap lembut padanya dan entah kenapa Fyzha juga seolah mengikuti alurnya saja.
"Waalaikumsalam."
Affin kembali menutup pintu ruangannya dengan meninggalkan Fyzha yang berada di dalamnya.
Sepeninggalan Affin setelah beberapa menit saja sudah membuat Fyzha bosan. Dia bangkit berdiri dan tertarik untuk melihat-lihat interior ruangan tersebut.
Semua barang-barang yang sepertinya penting di susun rapi di dalam rak lemari. Fyzha terus melangkah sambil matanya menjelajah hingga dia melihat sebuah pintu di sudut ruangan.
Perlahan tangan Fyzha mendorong pintu tersebut hingga terbuka lebar dan menampilkan sebuah ruangan seperti kamar dengan dilengkapi tempat tidur berukuran sedang, lemari pakaian, rak aksesoris, meja rias juga kamar mandi. Benar-benar seperti kamar di rumah sendiri.
Mata Fyzha memperhatikan setiap sudut ruangan tersebut lalu dia duduk di tepi ranjangnya.
"Cukup nyaman." Fyzha menghempaskan tubuhnya ke pulau empuk itu.
__ADS_1
Fyzha memandang langit-langit kamar yang di cat berwarna biru langit cerah lalu beralih lagi pada sebuah pigura foto yang di tempelkan pada dinding kamarnya.