
Nareena semakin tidak mengerti. "Apa kita periksakan saja ke dokter, mas ?. Aku takut terjadi sesuatu pada Keyya." Usulnya karena dia juga hampir berpikiran sama seperti Aly. "Aku akan menghubungi Fyzha untuk membuat jadwal pertemuan dengan suaminya."
Aly langsung mengiyakan. Dia juga ingin tau tentang apa yang terjadi pada putrinya. Lagian, sekarang hubungan antara dia, Alsya dan juga Affin sudah tidak sekeruh sebelumnya. Mereka sudah berdamai dengan masa lalu.
Alsya dan Anand sudah mendengar tentang apa yang terjadi pada Keyya dari Fyzha. Keduanya sangat terkejut dan langsung datang ke rumah Nareena untuk mencari tahu yang lebih jelasnya dan untungnya Affin datang setelah dhuhur.
"Assalamualaikum..." Ujar Alsya dan Anand bersamaan.
"Waalaikumsalam, masuk ?!." Nareena sangat ramah menyambut kedatangan mereka.
Keduanya duduk di ruang tamu dan Fazal langsung bertingkah untuk mencari kembarannya ke kamar Keyya.
"Dimana Aly ?." Tanya Anand karena dia tidak melihat keberadaan suaminya sepupunya itu.
"Ada di kamarnya Keyya."
Keduanya mengangguk mengerti.
"Nareen, sebenarnya apa yang terjadi ?." Alsya sudah tidak sabar ingin mengetahui keadaan putrinya. Yah, meski sekarang Keyya sudah tidak bersamanya lagi tapi Alsya masih menganggap Keyya adalah putrinya, kembarannya Fazal.
Raut wajah Nareena terlihat sedih. "Kami juga belum tahu, tapi dari tadi malam Keyya masih terus bilang kalau punggungnya sakit." Ucapnya menjelaskan.
Alsya dan Anand terdiam mendengarkan.
"Sebelumnya Keyya tidak pernah seperti itu kan, A' ?." Alsya pada suaminya.
Alsya ingat jika ibunya Keyya memiliki penyakit serius di tulang punggungnya dan itu juga yang membuatnya harus meregang nyawa.
Anand menggeleng lemah. "Iya."
Alsya mendengus pasrah.
Aly keluar bersama kedua anak-anaknya dengan Keyya di gendong dan Fazal digandeng. Aly ikut duduk di samping Nareena dan meletakkan Keyya di pangkuan istrinya itu karena Keyya meminta bersama ibunya. Dan Fazal duduk diantara keduanya sebab dia masih ingin berdekatan dengan kembarannya.
Aly menatap merasa bersalah pada dua orang dihadapannya. Baru beberapa hari saja Keyya tinggal bersamanya tapi berita buruk tentang keadaan Keyya langsung terdengar.
"Apakah dulu Ning Imah juga sering merasakan kesakitan di punggungnya ?." Alsya bertanya pada Aly.
Aly sedikit kaget dengan pertanyaan itu tapi sudah tidak ada lagi rasa sakit dihatinya saat Alsya menanyakan tentang Halimah. Sebab sekarang, hatinya sudah penuh oleh satu nama seseorang yang kini sudah menjadi permata hatinya. Sang istri tercinta.
"Kadang, bahkan kalau sudah sangat parah bisa sampai pingsan."
__ADS_1
Kembali. Alsya menghela nafasnya berat. "Astaghfirullah.." gumamnya lirih.
"Tapi Keyya masih sangat kecil. Umurnya bahkan baru dua tahun ?." Nareena kembali bersuara.
Semua orang terdiam. Mereka membenarkan ucapan Nareena karena apakah itu mungkin jika Keyya terkena penyakit turunan dari ibunya ?.
"Iya semua tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Keyya, tapi semoga saja Keyya baik-baik saja. " Anand mencoba menenangkan hati semuanya.
Tepat setelah sholat dhuhur, Affin dan Fyzha juga dua orang pegawai rumah sakit datang ke rumah Nareena.
"Assalamualaikum..." Ujar Affin dan Fyzha bersamaan.
"Waalaikumsalam,."
Aly langsung menggiring tamu-tamunya untuk ke masuk ke kamar Keyya karena sekarang Keyya sedang ada di dalam kamar bersama ibunya.
Ternyata Keyya sedang tidur meringkuk di dekapan Ibunya. Yah, sesayang itulah Nareena pada Keyya. Memperlakukan Keyya seperti putri manjanya sendiri.
Nareena mencoba duduk dengan gerakan yang sangat hati-hati karena takut mengganggu tidur putrinya.
Fyzha yang melihat itu langsung terharu terhadap sikap Nareena yang sangat keibuan. Fyzha tidak pernah menyangka jika dibalik sikap bar-bar sepupunya itu ternyata Nareena juga adalah seorang wanita yang penuh kasih sayang terhadap anak kecil.
"Apa kabar, Nareen ?."
"Apa Keyya masih mengeluh kesakitan ?." Tanya Affin yang sudah siap melakukan pemeriksaan terhadap Keyya.
"Sudah tidak." Nareena menjawab.
Memang, sekarang Keyya sudah mengatakan jika punggungnya sudah tidak sakit lagi. Tapi kekhawatiran orang tua tidak berhenti hanya sampai situ saja, mereka ingin mengetahui lebih lanjut dengan dilakukannya pemeriksaan.
Affin mulai melakukan pemeriksaannya dibantu oleh dua suster yang dia bawa dari rumah sakit.
"Detak jantungnya normal, kondisi tubuhnya juga stabil dan tidak mengalami demam." Ucap Affin setelah menyelesaikan pemeriksaannya.
"Tapi kenapa dia sampai mengeluh kesakitan di punggungnya ?."
"Kami akan mengambil sampel darah untuk diperiksa lebih lanjut. Karena sepertinya ini adalah penyakit dalam." Ucap Affin lagi.
"Iya, lakukan saja yang terbaik." Aly memutuskan.
Affin mengangguk dan langsung mengambil sampel darah Keyya lalu memberikannya pada suster untuk disimpan.
__ADS_1
Keyya menggeliat saat proses pengambilan darahnya tapi Nareena sangat sigap untuk menenangkannya kembali dengan mengusap-usap kepalanya.
Setelah selesai semuanya. Affin dan Fyzha beserta dua suster itu pamit pergi lagi.
Keyya membuka matanya dan menatap wajah ibunya yang senantiasa tak pernah jauh dari sampingnya.
"Ibu."
"Iya, ibu disini nak. Keyya udah bangun, Hem ?."
Keyya mengangguk. "Ibu... Key laper." Cicit Keyya dengan wajahnya yang memerah.
Nareena terkekeh melihat kelucuan putrinya. "Key laper ?, Key mau apa Hem ?."
"Ikan goreng."
"Hahaha, makanan kesukaan putri ibu. Baiklah, ibu ambilkan dulu ya ?."
Keyya mengangguk.
Nareena keluar dari kamar putrinya untuk mengambilkan makanan yang diminta Keyya dan bertepatan dengan aly yang masuk ke dalam kamar putrinya. "Hai putri Abi ?." Aly duduk di samping Keyya dan mendaratkan kecupannya di puncak kepala putrinya lalu memeluknya. "Putri ayah sehat-sehat yaa, sayang." Ucap Aly dengan mata berkaca-kaca.
Aly tidak ingin kejadian dimana orang yang dicintainya pergi meninggalkannya lagi dengan cara yang sangat menyakitkan. Saat ini yang masih bersamanya hanyalah Keyya, dia tidak ingin jika Keyya juga pergi seperti Hafidhz dan Kaila. Meski Fazal masih ada, tapi dia sudah sangat jauh darinya.
Nareena datang dengan tangan membawa nampan yang berisi makanan untuk putrinya.
"Mas, Keyya mau makan dulu."
Aly mengangguk dan melepaskan pelukannya pada tubuh mungil putrinya. "Keyya mau makan sama ayah atau sama ibu ?." Tanya Aly dengan senyuman merekahnya.
Keyya menatap wajah kedua orang tuanya bergantian. "Sama ayah !."
"Sama ayah ?."
"He em."
Aly semakin tersenyum lebar. Selama ini Keyya hanya dekat dengan Nareena dan selalu menghindar jika bersamanya. Tapi, seiring berjalannya waktu ternyata putrinya itu sudah mulai terbiasa dengan adanya Aly.
"Sini, sayang." Aly mengambil alih piring yang di pegang oleh Nareena dan Nareena menyerahkannya dengan sangat terharu.
Nareena juga sama terkejutnya dengan Aly atas perubahan sikap Keyya yang kini sudah mulai dekat dengan ayahnya.
__ADS_1
✓✓✓✓✓✓✓✓