
"Assalamualaikum..."
Seseorang datang membuat Alsya terkesiap dan langsung menoleh ke arah suara. "Waalaikumsalam." Jawab Alsya setelah melihat siapa orang yang datang itu.
Dia adalah Affin yang menyempatkan diri untuk mengunjungi Alsya setelah selesai melakukan penanganan operasi darurat tadi. Affin melangkah mendekat ke samping tempat tidur Alsya.
"Apa kabar ?." Tanya Affin ramah juga senyuman manisnya.
"Alhamdulillah baik." Jawab Alsya tak kalah ramahnya.
Affin duduk di kursi samping tempat tidur Alsya sambil memperhatikan wajah cantik gadis pujaannya itu.
"Kamu ada apa kesini ?."
"Tidak ada apa-apa, hanya ingin menjengukmu saja." Jawab Affin santai dengan tatapan kini memperhatikan wajah tampan bayi yang ada di pangkuan Alsya. Tangan Affin terulur mengusap lembut kepala bayi itu.
"Dia sangat mirip denganmu, Al." Ucap Affin masih menatap lekat wajah bayi tampan itu.
"Makasih, Fin." Ucap Alsya tiba-tiba.
Affin mendongak. "Untuk ?." Tanyanya bingung.
"Semuanya. Kau selalu berbuat baik padaku." Jawab Alsya serius.
Affin tersenyum. "Apapun untukmu." Ucap Affin membuat Alsya mengerjitkan alisnya heran.
"Maksudmu?."
"Tidak, tidak. Lupakan." Ucap Affin kemudian, dia tidak ingin Alsya menjadi canggung padanya karena mengetahui perasaannya yang selama ini tertutup rapat. "Boleh aku menggendongnya ?." Tanya Affin kemudian.
"Apa kau yakin, ?." Tanya Alsya sedikit ragu dengan permintaan pria penuh pesona itu.
Yah, Alsya tidak bisa memungkiri jika Affin sangat tampan juga berwibawa dan yang paling penting adalah bahwa pria itu memiliki senyuman manis karena terdapat lesung pipi di kedua pipinya yang langsung terlihat bila pria itu tersenyum.
Affin menatap sengit wajah Alsya. "Kau meragukanku ?." Tanyanya tajam.
"I-iya, mungkin..." Ucap Alsya lirih sedikit tidak enak pada Affin.
"Ayolah,, aku ini seorang dokter. Untuk menggendong bayi saja tidak mungkin aku tidak bisa." Ucap Affin meyakinkan Alsya.
"Kau dokter bedah. " Sanggah Alsya spontan.
Affin mendengus kesal. "Jadi, apa aku boleh menggendongnya ?." Tanyanya lagi.
__ADS_1
"Hmm iya boleh, tapi hati-hati yaa ?." Jawab Alsya akhirnya.
Wajah Affin langsung berbinar, dia mencoba mengambil alih tubuh mungil bayinya Alsya dengan penuh hati-hati dan meletakkannya di gendongannya dengan penuh kelembutan.
"Tampan sekali..." Gumam Affin sambil terus menciumi wajah bayinya. "Al, kau belum memberinya nama ?." Tanya Affin kembali menatap wajah Alsya.
Pertanyaan Affin ternyata langsung membuat Alsya termenung. Dia teringat sebuah rangkaian nama yang pernah Aly buatkan untuk calon buah hatinya.
Saat dimana Aly dan Alsya sedang akan tidur, Alsya pernah mengatakan bahwa dia sudah merangkai dua nama yang bagus untuk calon buah hatinya. Satu nama perempuan dan satunya lagi nama laki-laki, sebab mereka belum tahu jika di dalam rahim Alsya merupakan perempuan atau laki-laki.
Kesadaran Alsya kembali. Dia menatap lekat wajah mungil putranya yang sedang tertidur nyaman di gendongan Affin.
"Fazal Aly Zafran..." Gumam Alsya menyebutkan serangkaian nama indah yang pernah di buat Aly.
Affin masih bisa mendengar ucapan itu, dia sedikit bereaksi saat mendengar ada nama pria yang sangat dibencinya terselip disana.
"Kau yakin akan memberikan nama itu untuknya ?." Tanya Affin memastikan.
Alsya melirik ke arah Affin kemudian mengangguk tapi sesaat kemudian menggeleng. "Entahlah..." Ucap Alsya kemudian dengan wajah kembali murung.
"Sudahlah, jangan dilanjutkan. Putramu akan memiliki nama yang indah nanti." Ucap Affin segera karena tak ingin Alsya kembali mengingat pria brengsek itu.
Pintu ruangan kembali terbuka membuat Affin dan Alsya langsung menoleh.
"Ummi.... !!" Teriak bocah kecil yang langsung berlari menyongsong ke arah Alsya.
Abah segera membantu Hafidhz untuk naik ke atas tempat tidur bersama umminya.
Hafidhz memeluk erat leher ibunya dan sesekali mencium pipi sang ibu. "Afidhz kangen Ummi..." Ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Alsya tersenyum lalu menciumi wajah putranya gemas. "Ummi juga kangen sama Hafidhz.." ucapa Alsya kembali memeluk erat tubuh mungil putranya. Alsya juga tak kuasa menahan air matanya agar tak meluncur dari sudut-sudut matanya.
Hafidhz kembali merenggangkan pelukannya dan menatap lekat wajah umminya. Tangan kecilnya mengusap lembut wajah Alsya, membersihkan sisa-sisa airmata yang masih membasahi pipi Ummi nya.
Perlakuan manis Hafidhz membuat orang-orang dewasa di sekelilingnya tersenyum manis.
"Ummi gak boleh nangis, nanti dede Kai yang ada di syurga ikut nangis..." Ucap Hafidhz lembut dengan tingkah polosnya.
Alsya semakin tak kuasa untuk menahan air matanya dan langsung memeluk kembali tubuh putranya. Dan dengan penuh kelembutan, Hafidhz mengusap-usap punggung umminya.
"Ummi kaya Afidhz, nangis terus ya Abah ?." Celoteh Hafidhz tiba-tiba dan langsung disambut kekehan oleh orang-orang di sekelilingnya. Termasuk Alsya.
Alsya melepaskan pelukannya dengan senyuman tapi masih meneteskan air matanya.
__ADS_1
"Hehehe ummi lucu, lagi nangis tapi ketawa ." Ujar Hafidhz sambil terkekeh kecil.
"Hafidhz udah maem ?." Tanya Alsya kemudian.
"Udah." Jawab Hafidhz antusias. "Kata Tante Nisa, kalau Afidhz mau ketemu ummi, Afidhz harus maem dulu." Jawab Hafidhz dengan Tingkah polosnya.
"Pinternya anak Ummi." Ucap Alsya sambil mengusap sayang kepala putranya.
"Ummi, Afidhz mau ketemu Dede. Mana dedek nya ?."
"Itu, dedek nya." Alsya menunjuk ke arah Affin.
Affin segera mendekatkan wajah bayinya ke hadapan Hafidhz. "Lucu nggak, dedeknya ?." Tanya Affin pada Hafidhz.
"Lucu, Om. Idungnya kecil kaya Ummi, hehe." Jawab Hafidhz kembali membuat orang-orang di sekitarnya tertawa melihat tingkah lucu bocah kecil itu.
Affin spontan menoleh ke arah Alsya, lebih tepatnya ke arah hidung Alsya yang ternyata benar apa yang telah diucapkan Hafidhz jika hidung Alsya kecil tapi mancung. Sesaat keduanya malah saling menatap dalam, menyelami kedalaman manik mata dari keduanya kemudian terhenti karena Alsya memalingkan wajahnya.
Affin seakan tersadar dari hanyutannya dan kembali melihat ke arah wajah Hafidhz lalu tersenyum.
Di posisi yang seperti itu, dimana Alsya duduk sambil menyandarkan punggungnya dan Hafidhz yang duduk di atas pangkuan Alsya juga Affin yang berdiri di sisi ranjang Alsya juga badannya sedikit mepet ke Alsya dengan menggendong tubuh bayi. Membuat siapapun yang melihat itu seperti melihat sebuah keluarga kecil yang bahagia.
Abah dan Umma saling menatap satu sama lain. Seolah dibalik tatapan mata itu sedang berbicara melalui isyarat matanya.
Di luar ruangan kini terlihat sosok pria yang memandang hampa juga menyimpan amarah melihat kedekatan istrinya dengan pria lain. Pria itu adalah Aly yang sedari tadi berdiri memperhatikan keadaan di dalam dibalik jendela kamar yang kecil.
Hatinya sangat gerah melihat tatapan mata Affin yang menatap ke arah Alsya dengan tatapan cinta yang begitu dalam.
"Apa yang harus aku lakukan, Al ?. Apa kamu akan mendapatkan kebahagiaan jika aku melepaskanmu ?..." Gumam Aly lirih. Hatinya entah sudah seperti apa hancurnya melihat Alsya yang tersenyum manis karena pria lain.
Aly berbalik hendak pergi namun dia sangat terkejut saat melihat kakak ipar juga suami kakak iparnya itu sedang berdiri di dekatnya.
"Mbak ?!." Panggil Aly gugup.
"Kamu yang menanamnya. Maka terimalah hasil dari perbuatan mu sendiri." Ucap mbak Nisa dengan wajah datar namun terkesan dingin.
"Maaf, mbak..." Aly menunduk penuh penyesalan.
"Kesalahan kamu pada Alsya." Ucap mbak Nisa kemudian berjalan memasuki kamar Alsya.
Aly mendongak melihat kakak iparnya yang sudah lenyap dibalik pintu dan kini hanya tersisa suami kakak iparnya itu.
"Kemarilah." Ujar Affan meminta Aly untuk mengikutinya.
__ADS_1
Meski bingung, Aly tetap mengikutinya yang ternyata melangkah menuju ke kafe yang tak jauh dari rumah sakit.
✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓