Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Pergi menjauh


__ADS_3

Jika sebelum ruh ditiupkan ke dalam gumpalan darah yang bersemayam di rahim sang ibu, pernah di tempatkan di syurga Mu. Niscaya di kala itu Engkau perlihatkan taqdir yang akan di tempah oleh raga sang pemilik ruh.


Maka disitulah aku yakin, Jika ada taqdir baik yang sampai membuatku ingin dilahirkan di dunia ini.


✓✓✓✓✓✓✓✓


Dua koper berisi penuh sudah siap dan di letakkan di sudut ruang beranda. Koper yang berisi pakaian Alsya dan juga sang bayi.


Hari ini, setelah perdebatan kuat antara Alsya dan keluarga, Alsya akhirnya diperbolehkan untuk keluar dari rumah orang tuanya.


Alsya yang sudah berniat untuk pergi jauh dari lingkungan yang selalu mengingatkan dirinya terhadap sang mantan suami, kini akhirnya diizinkan oleh Abahnya untuk melakukan perjalanan jauh.


Alsya sudah menyiapkan semuanya untuk kepergiannya hari ini bersama sang buah hati ke daerah pedesaan, bahkan keluar dari kota metropolitan ini.


Semua orang tampak berwajah suram atas kepergian Alsya dan Fazal, bahkan Mbak Nisa seakan tidak pernah mau pergi jauh dari samping Alsya di detik-detik kepergian adiknya itu.


"Al, kamu yakin akan pergi..." Entah untuk yang ke berapa kalinya mbak Nisa menanyakan hal yang sama dari pagi.


Alsya tersenyum menanggapinya. "Mbak, Alsya sudah mempertimbangkannya dengan matang, jadi, kepergian Alsya ini sudah sangat bulat." Ucap Alsya yakin.


"Tapi, Al... Nanti mbak gak bisa bertemu dengan kalian lagi... Mbak akan sangat merindukan kalian nantinya..." Rengek mbak Nisa sudah seperti anak kecil saja.


Alsya menarik tubuh kakaknya lalu memeluknya sangat erat. "Alsya hanya butuh doa dari Mbak, Alsya ingin hati Alsya kembali tertata rapi seperti dulu, Alsya ingin tenang tanpa bayang-bayang masa lalu..." Alsya mulai menitikkan air matanya.


Semua orang juga tanpa aba-aba langsung menangis dalam diam.


Alsya kembali melepaskan pelukannya pada sang kakak lalu beralih ke arah Umma, memeluknya juga dengan sangat erat. Dan kembali keduanya terisak-isak sambil Umma mengusap-usap lembut punggung Alsya.


"Kamu, baik-baik, nanti disana ya nak ?. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi kami." Ucap Umma dengan ucapan yang tersendat-sendat karena tangis.


Kemudian Alsya beralih lagi ke hadapan sang ayah yang langsung membawanya ke dalam pelukannya. "Abah yakin, anak Abah ini kuat dan hebat. Semoga kalian selalu dilindungi Allah yaa. Dan Abah juga berdoa, semoga anak Abah ini kembali dipertemukan dengan seorang pria yang terbaik." Abah mengakhiri ucapannya dengan kekehan ringan.


Alsya mendongakkan kepalanya menatap tajam wajah sang ayah. " Abah, ihh...!." Alsya merajuk kesal dan itu membuat Abah semakin terkekeh. Begitu pun dengan yang lainnya yang juga ikut terkekeh kecil.

__ADS_1


Alsya melepaskan diri dari pelukan sang ayah kemudian berjalan ke hadapan sang kakak ipar untuk mengambil Fazal.


"Jika Affin melihat ini, mungkin dia akan langsung ikut dengan mu,." Seloroh Affan membuat semua orang tersenyum, begitupun dengan Alsya.


"Affin pantas pendapatkan wanita yang terbaik, kak."


"Kamu sudah yang terbaik untuk Affin, Al." Desak Affan sepertinya masih menginginkan kembarannya itu bisa bersama adik iparnya.


"Kak Affan ini berlebihan sekali. "


"Baiklah, semoga kalian selalu dilindungi oleh Allah, apapun keadaannya. Dan jangan lupa, kalau ada apa-apa, jangan sungkan menghubungi Mbak mu."


"Iya, kak. Makasih." Alsya melirik ke supir pribadi Abahnya untuk memasukkan kopernya ke dalam mobil.


"Kami pergi dulu, yaa. Assalamualaikum..." Ujar Alsya dengan senyuman lebar namun dengan mata yang berkaca-kaca.


Alsya melambaikan tangan sebelum masuk ke dalam mobil dan sesaat kemudian, mobil yang di tumpangi Alsya dan Fazal mulai bergerak keluar dari gerbang rumah Abah.


Ya Allah... Semoga jalan yang ku pilih ini adalah hak yang tepat.


Ya Allah, jika memang ada taqdir baik yang akan menjadi alur hidupku, semoga keputusan ku inilah Yang akan menjadi jembatan untuk mencapai bahagianya...


Alsya berucap dalam hati dengan mata masih memperhatikan gerbang rumah orang tuanya yang semakin terlihat jauh dan lenyap di persimpangan jalan.


✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓


Sampai di stasiun kereta, supir pribadi Abah tidak langsung pergi karena akan menemani Alsya sampai kereta yang akan ditumpangi Alsya berjalan pergi.


Alsya sudah masuk ke dalam kereta, dia menatap ke luar jendela dan memperhatikan wajah paruh baya supir pribadi keluarganya yang berada di luar. Alsya tersenyum ramah dan melambaikan tangan saat kereta mulai bergerak melaju. Mang supir membalasnya dengan senyuman ramah juga.


Setelah keluar dari area stasiun, Alsya mulai menikmati perjalanannya dengan memeluk erat tubuh mungil sang bayi di gendongannya.


Fazal terjaga dari tidurnya, dia menatap lekat wajah sang ibu yang tersenyum manis ke arahnya.

__ADS_1


"Kita akan pergi ke tempat baru, sayang... Semoga Fazal betah ya disana ?." Alsya mengajak ngobrol bayinya.


Fazal terdiam tenang dengan mata berkedip-kedip lucu seolah menanggapi ucapan sang ibu.


Alsya semakin dibuat gemas oleh tingkah bayinya itu, dia langsung menciumi wajah sang bayi dengan sangat gemas sambil terkekeh kecil. Dan Fazal hanya terdiam tenang tidak rewel sama sekali diperlakukan demikian oleh sang ibu. Alsya menghentikan tingkahnya lalu kembali menatap wajah sang anak.


"Kapan kau gede, sayang ?. Ummi ingin cepat-cepat mendengar celotehanmu..." Alsya mencolek-colek dagu putranya membuat sang putra membuka mulutnya seolah mengira itu adalah sumber kehidupannya.


"Hahaha, Fazal lapar yaa ?." Tanya Alsya semakin girang saja melihat tingkah lucu Fazal. "Sebentar ya,..." Alsya meraih tas sedang yang diletakkan di samping kursi tempat duduknya lalu mengambil botol susu yang sudah di isi ASI nya.


"Astaghfirullah !!." Pekik Alsya saat hampir saja botol susu itu terjatuh karena sempat tersangkut di tas nya.


Meski botol itu tidak lagi di genggaman tangannya, Alsya masih bersyukur sebab itu masih aman. Alsya menoleh pada seseorang yang baru saja menyelamatkan botol susu bayi nya.


Orang itu tersenyum ramah lalu menyerahkan botol itu kembali ke pemilik nya.


Alsya menerimanya ragu-ragu dengan senyuman kaku. "Makasih..." Ujarnya tulus tapi sedikit kaku.


Orang itu masih tersenyum. "Sama-sama. " Jawabnya lirih.


Alsya mengangguk lalu menyodorkan botol susu itu pada Fazal yang langsung menyedotnya kuat.


Alsya tadi sangat fokus pada pemandangan di luar jendela dan bayinya sehingga dia tidak menyadari jika ternyata tempat duduknya bersebelahan dengan seorang pria yang terlihat masih cukup muda namun dewasa. Pria itu juga yang sudah menyelamatkan botol susu Fazal. Alsya melirik ke arah pria itu dengan sudut matanya sekilas lalu kembali fokus pada wajah sang putra.


Perjalanan lama-kelamaan terasa jenuh membuat Alsya mulai mengantuk dan akhirnya memejamkan matanya karena rasa kantuknya yang semakin berat. Alsya bahkan membiarkan Fazal yang masih terjaga dan senantiasa menikmati ASI nya dari botol susu.


"Hallo, baby ?,. Kamu tampan sekali boy ..." Pria di samping Alsya menyapa Fazal dengan suaranya lirih karena takut mengganggu ibu sang bayi.


Fazal hanya mengedip-ngepkan matanya merespon ucapan pria asing itu.


Pria itu tersenyum lalu mengusap lembut pipi Fazal kemudian kembali pada kesibukannya sendiri pada layar ponselnya.


Alsya bahkan tidak sadar jika pria asing di sampingnya itu mengajak bicara Fazal karena tertidur nyenyak.

__ADS_1


✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓


__ADS_2