Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Bos dingin & Sekretaris Aneh


__ADS_3

"Pagi, tuan..."


"Hemm."


Pagi yang cerah, tapi tiba-tiba mendung saat melihat wajah sang bos yang selalu sama. Dingin, cuek, dan menyebalkan !.


Nareena yang tadi sudah memasang senyum cerah diwajahnya untuk menyambut kedatangan sang bos, tapi setelah mendengar jawaban bosnya yang terkesan mengabaikannya itu dia langsung meredupkan kembali senyuman manisnya dan kini berganti menjadi wajah murung tak bersemangat.


Nareena dengan enggan memasuki ruangan bosnya seperti biasa yaitu memberitahukan agenda kegiatan bosnya untuk tidak harinya.


"Permisi..." Ujarnya mencoba bersikap sopan santun dan ramah.


"Iya, silahkan, langsung bacakan saja !." Titah Aly tanpa basa-basi.


Nareena mengangguk dan membuka i-pad nya lalu mulai membacakan agenda kegiatan bosnya di hari ini yang isinya tidak jauh-jauh dari pertemuan dengan beberapa kolega bisnisnya dan rapat-rapat penting dengan beberapa divisi perusahaan.


"Dimana jadwal pertemuan dengan Auristella'S Jawelry ?."


"Di Rrany_Coffee, tuan."


Aly memicingkan matanya menatap heran wajah sekretarisnya. "Milikmu ?." Tanyanya memastikan.


Nareena mengangguk kaku. "I-iya, Tuan." Jawabnya ragu-ragu.


Aly masih menatap lekat wajah Nareena yang sepertinya sedang merasa tidak nyaman.


Bagaimana tidak ?, Salah satu keturunan dari keluarga Ghuinandra, keluarga tersohor di negara ini dengan tingkat ke sekian, dan anak cucunya memiliki usaha-usaha sendiri dengan kemampuannya yang memang luar biasa. Baik itu Anand beserta kembarannya, Nareena dan Melvin. Yah, Aly mengetahui itu semua dari cerita Charyra yang merupakan kekasih Melvin.


Tapi, untuk Nareena, entah apa yang membuatnya malah menjadi sekretaris, padahal dia memiliki sebuah kafe besar di Jakarta pusat dan bahkan kafenya itu dijuluki sebagai kafe ter-elite dan terbaik di seluruh jagat Indonesia.


Aneh memang !!.


"Baiklah, kamu boleh ke mejamu lagi." Ucap Aly akhirnya.


"Baik, pak." Nareena membungkuk sopan kemudian keluar dari ruangan Aly.


Setelah sampai di mejanya kembali, Nareena langsung menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursinya. Lagi-lagi selalu sama, sikap bosnya itu selalu menyebalkan.


"Apa salahnya coba, pertemuan di kafe ku ?!, Lagian, itu juga dari ketentuan yang sudah dia buat sendiri dengan kliennya !, Ckk!, Menyebalkan sekali !." Nareena terus menggerutu tidak jelas dan semua yang dikeluarkannya itu tidak lain adalah untuk sang bosnya.

__ADS_1


Nareena memejamkan matanya karena merasa penat, dia hampir frustasi jika harus seperti itu terus. Hidupnya yang santai dan hanya tau uang masuk sendiri ke dalam rekeningnya, kini harus bersusah payah bekerja keras hanya untuk menjalani hukuman dari ayahnya.


"Ekhem !."


Deg.


Nareena tersentak kaget dan reflek membuka matanya lagi dan apa yang dilihatnya di depannya membuat dia seakan susah untuk menelan ludahnya sendiri.


Nareena segera membenarkan posisi duduknya. "Eee tuan... Apakah anda sudah dari tadi ?." Tanya Nareena takut-takut.


Aly mengangguk kemudian berlalu begitu saja.


Nareena sempat marathon jantung tapi setelah kepergian bosnya itu dia akhirnya bisa bernafas lega dan bisa duduk tenang lagi. Tapi...


"Oh tidak !." Nareena segera bangkit kemudian menyusul langkah bosnya yang ternyata sudah berjalan jauh di depan.


Bodohnya dia memang, padahal dia sendiri yang memegang agenda kegiatan bosnya tapi dia sendiri juga yang melupakan bahwa di jam saat ini, tepatnya jam delapan pagi bosnya ada pertemuan dengan kolega di ruang meeting.


Dengan langkah panjang, akhirnya Nareena bisa mengimbangi langkah kaki Aly meski saat ini jantungnya sudah seperti mau copot karena ngos-ngosan.


Aly sedikit melirik ke arah Nareena yang terlihat sangat kelelahan. Dia sedikit mengangkat sudut-sudut bibirnya melihat tingkah laku sekretarisnya. Yah, sedikit tidak lebih !.


"Lain kali, lihat kondisi sebelum mencercah orang dari belakang." Ucap Aly menyindir.


Glekk


Nareena semakin tidak memiliki muka dihadapan bos-nya. Dia kira sudah aman karena bosnya mungkin tidak mendengar semua cercaannya terhadap sang bos, tapi ternyata dia salah !. Sudahlah, kini dia hanya harus terima Nasih.


Mereka sampai di ruangan khusus untuk melakukan rapat. Aly masuk dengan penuh wibawa di susul dengan Nareena yang membuntut di belakangnya.


Di dalam sudah ada beberapa petinggi perusahaan yang menjadi klien bisnis perusahaan Aly. Aly mengangguk sopan pada mereka dan mereka membalasnya dengan hala yang sama. Dan Nareena kembali mengikuti apa yang dilakukan bosnya. Termasuk duduk di bangku yang memang disediakan untuk keduanya.


Satu jam berjalan dengan penuh ketegangan dalam rapat tersebut, hingga setengah jam kemudiannya rapat telah selesai diadakan dan beberapa dari mereka keluar dari ruangan termasuk Aly yang langsung diikuti oleh sekretarisnya.


Nareena melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Lima belas menit lagi, waktu pertemuan dengan klien di Rrany_Coffee, Tuan." Ujar Nareena mengingatkan sambil kaki yang terus melangkah panjang untuk mengimbangi langkah kaki Aly yang besar-besar.


"Hemm."

__ADS_1


Sudah biasa !.


Mereka segera menuju ke parkiran mobil khusus petinggi perusahaan dan Aly langsung memasuki mobilnya di susul dengan Nareena yang duduk di samping kiri kursi kemudi.


Perjalanan langsung dilakukan untuk mengejar waktu karena keterlambatan yang diakibatkan rapat tadi yang seharusnya hanya satu jam lebih sepuluh menit, tapi karena terlalu banyak opsi menjadikan waktunya malah ngaret sehingga bertambah dua puluh menit lagi.


Di dalam mobil hanya ada keheningan yang menyertai dicampur dengan deru mesin mobil yang berjalan cepat.


Dan ternyata alam tidak mendukung. Mobil terjebak lampu merah sehingga harus terpaksa berhenti untuk menunggu lampunya menyala hijau lagi.


Dengan perasaan takut-takut, Nareena melirik wajah Aly yang ternyata sedang fokus pada keadaan diluar mobil. Nareena mengikuti arah tatapan itu dan setelah ketemu, dia hanya bisa terdiam diri.


Sepertinya dia jenis pria yang menyukai anak-anak. Sangat cocok menjadi ayah memang. Ucap Nareena di dalam hatinya.


Lampu merah sudah selesai. Satu-persatu kendaraan mulai bergerak kembali begitupun dengan mobil Aly tapi karena mobilnya yang berada di antrian belakang, mereka masih belum keluar dari jalur macet.


Nareena bisa merasakan bagaimana dinginnya tatapan Aly memperhatikan kemacetan di depan mereka kemudian dia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan Aly yang ternyata sudah melebihi batas waktu yang ditentukan untuk pertemuan dengan kliennya.


Setelah perjalanan yang penuh dengan ketegangan, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.


Melihat kedatangan pemilik kafe tentu saja langsung membuat kehebohan di kafe tersebut. Bahkan, pihak manajernya langsung menghampirinya.


"Selamat datang, Bu Rany..." Sapanya penuh penghormatan.


"Hmm, iya. Eee kembalikan kondisinya agar kondusif kembali !, Saya datang ke sini sedang ada perlu. " Ucap Nareena dengan wajah kaku karena bingung harus bersikap bagaimana.


Manajer itu melirik ke arah Aly yang dari tadi bersikap datar saja, lalu kembali ke arah Nareena lagi. "Baik, Bu. Saya permisi." Ucapnya akhirnya.


"Iya." Nareena menghembuskan nafasnya lega.


Mereka kembali melangkah dengan tenang karena keadaan sudah kembali normal. Sesuai nomor meja yang sudah dipesan sebelumnya, mereka langsung menuju meja tersebut dan ternyata benar, kliennya beserta asistennya sudah menunggu di sana.


Aly sempat terkejut melihat wajah wanita yang menjadi kliennya itu. Ini adalah pertemuan kedua dirinya dengan wanita itu dalam keadaan yang berbeda.


"Assalamualaikum..." Ujar Aly tampak begitu sopan.


"Waalaikumsalam... Silahkan !." Jawab wanita itu ramah sekali.


Nareena yang menyaksikan itu sempat terpaku di tempat. Dia tidak pernah melihat bosnya mengucapkan salam ketika bertemu dengan kolega bisnisnya dan kali ini, dipertemuan dengan wanita cantik berpakaian tertutup bosnya begitu sopan dan hilang semua jejak dingin, datar dan arogannya.

__ADS_1


Nareena segera tersadar kemudian duduk di kursi samping tempat duduk bosnya.


__ADS_2