Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Jujur


__ADS_3

Hari acara pernikahan Nareena dan Aly semakin dekat. Segala sesuatu yang menggoyahkan hati Nareena mulai berdatangan.


Dari selentingan ucapan orang-orang tentang Aly yang tidak baik sering di dengarnya. Nareena ingin bersikap tak perduli tapi dia penasaran dan ingin mempercayai tapi dia juga tidak yakin jika Aly pernah melakukan hal tersebut.


Nareena semakin gundah gulana dengan pemikiran yang carut-marut. Benar, sajak pujangga yang mengatakan jika semakin jodoh itu mendekat semakin banyak pula rintangan untuk menghambat.


Nareena ingin curhat pada seseorang agar dia bisa lebih tenang dan syukur-syukur diberi saran. Tapi, siapa yang ingin dia ajak curhat jika saudaranya semuanya sedang dalam kesibukan masing-masing. Fyzha yang mungkin sedang merajut kasih bersama suaminya sebagai pengantin baru dan Anand yang sedang disibukkan dengan masa ngidam Alsya.


Nareena kembali menyesap kopinya yang sudah hampir habis karena sudah dua jam dia ada di kafe di tepi pantai itu.


Mata Nareena menatap kosong pada deburan ombak yang bergulung-gulung ke tepi pantai dan di seret kembali ke tengah laut lepas.


Sekelebat bayangan orang yang dia kenal. Nareena reflek bangkit dari duduknya untuk memastikan penglihatannya tadi dan ternyata benar.


Nareena segera keluar dari kafe tersebut dan mengendap-endap mengikuti langkah kaki Aly yang sedang berjalan memasuki kafe lain.


Nareena terus mengikuti langkah kaki Aly hingga sampai saat di dalam dia kembali dikejutkan dengan kehadiran Anand dan Alsya yang ternyata melakukan pertemuan dengan Aly.


Nareena mencari meja kosong yang dikira dekat jaraknya dari meja tempat mereka bertiga.


Mereka melakukan basa-basi pertemuan, samar-samar Nareena masih bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.


"Aku rasa Nareena akan sangat terkejut nantinya." Terdengar suara Anand.


"Itu sudah pasti, tapi aku juga tidak bisa langsung bercerita pada Nareena karena waktu itu Nareen mengatakan tidak ingin tau masalalu ku." Kali ini suara Aly yang terdengar.


Mereka terdiam. Nareena semakin menajamkan pendengarannya.


"Jangan sampai kebohongan menghancurkanmu lagi." Terdengar suara lembut Alsya meski ketika mengucapkannya wajahnya terlihat datar dan dingin.


Nareena memperhatikan setiap ketiga orang itu. Di sana, dia melihat tatapan mata Aly pada Alsya begitu dalam dan Alsya selalu menghindar dan tidak pernah menoleh sedikitpun ke arah Aly lalu tatapan mata Anand yang terlihat tidak suka dengan cara Aly menatap wajah istrinya.


Sangat membingungkan !.


Nareena kembali fokus mendengar obrolan mereka.


"Iya, aku tidak kehilangan sosok yang berharga dalam hidupku untuk yang kedua kalinya." Wajah Aly terlihat suram dengan penyesalan yang mendalam.


Nareena terus memperhatikan gerak-gerik mereka yang membuatnya semakin penasaran.

__ADS_1


"Penyesalan memang ada di akhir. " Anand kembali bersuara. "Mungkin terkesan egois, tapi menurutku sebaiknya kamu menceritakannya saja pada Nareena, mau dia mendengarkan atau tidak, setidaknya kamu sudah mencoba jujur." Lanjutnya.


Terlihat Aly semakin menunduk masam. Dia mengangguk mengiyakan masihat Anand.


Mereka kembali terdiam dan itu cukup lama.


Proses penyamaran Nareena terpecah karena kedatangan seorang waiter kafe yang menawarkan menunya. Dan karena dia juga butuh minum dalam misinya, Nareena memesan jus buah kesukaannya. Lalu waiter itu pergi lagi.


"Sudah lama kamu tidak mengunjungi Keyya ?,." Terdengar suara Anand lagi.


"Iya, sekarang aku sedang sangat sibuk mengurus persyaratan pra-nikah. Maaf selalu merepotkan kalian."


"Keyya tidak pernah merepotkan kami, dia sudah seperti anak kami sendiri. Tapi, meski seperti itu sebagai orang tua kamu tidak harus melupakan tanggung jawab mu, kan ?." Dari awal ucapan Alsya selalu terkesan dingin.


Sikap Alsya yang biasanya selalu murah senyum, ramah, dan penuh kelembutan, kali ini Nareena tidak melihat itu semua dalam diri Alsya dan malah sebaiknya. Alsya sekarang memperlihatkan sikap dingin, datar dan arogan.


Aly juga memperlihatkan sikap yang sama sekali bukan dirinya menurut Nareena. Aly yang dilihatnya sekarang merupakan sosok pria lemah yang hanya bisa menurut dan menurut dengan apa yang diucapkan oleh sepasang suami istri itu.


"Ada apa ini ?, Sebenarnya ada apa dengan mereka semua ?." Gumam Nareena semakin tidak mengerti. "Tanggung jawab ?, orang tua ?, Apa....?. Oh tidak." Nareena reflek membekap mulutnya sendiri karena baru mengerti sesuatu hal.


Nareena sudah tidak ingin mendengar percakapan mereka yang hanya membuatnya semakin pusing saja. Nareena bangkit ingin pergi dari sana dan pula ke rumah.


Nareena melirik ke meja yang di tempati oleh ketiga orang itu. Dan ternyata...


"Nareen ?!." Pekik Aly sepertinya reflek memanggil nama Nareena.


Nareena tersenyum kaku dan melihat Aly sedang berjalan menghampirinya.


"Hai, Al ?." Sapa Nareena meski dengan suara gugup karena baru saja ketahuan menguping.


"Hai, kamu dari kapan disini ?."


"Ohh, itu, aku tadi kebetulan juga sedang ingin mengunjungi pantai dan berakhir di sini." Nareena tidak mungkin kan, mengatakan sejujurnya jika dia ada disini karena tadi tidak sengaja melihat Aly dan mengikutinya hingga sampai ke kafe ini.


"Kak, minuman nya bagaimana ?." Waiter si pengganggu.


"Hmm iya taruh saja di meja mas."


"Baik, kak." Setelah meletakkan gelas yang berisi juz yang dipesan Nareena tadi, waiter itu kembali melenggang pergi.

__ADS_1


Nareena mulai salah tingkah karena Aly menatapnya sangat intens. Dia bingung harus berbuat apa sekarang.


Beberapa menit berlalu. Nareena sudah bergabung bersama di meja yang di tempati oleh Alsya, Anand dan Aly. Ketiganya saling diam karena bingung harus memulai dengan perkataan apa.


"Nareen." Alsya memulai memecahkan keheningan diantara mereka.


"Iya, kak ?."


"Hmm apa kamu mendengar obrolan kami tadi ?." Alsya bertanya.


Nareena tak langsung menjawab lalu dia menganggukkan kepalanya. "Iya, kak. Aku mendengar semuanya."


Semua orang terpaku di tempat sejenak.


"Aku ingin mendengarnya, semuanya." Ucap Nareena lagi langsung disambut helaan nafas panjang ketiga orang di hadapannya.


"Baiklah, kamu memang harus mengetahui semuanya." Alsya kembali bersuara.


Aly cukup tertegun melihat sikap Alsya yang sangat berbeda dengan dulunya. Alsya sekarang lebih berani dan sigap dalam menghadapi setiap masalah. Dia juga lebih terlihat sempurna dengan sikap dewasanya.


Masih bolehkah jika Aly masih merasakan menyesal karena kehilangan sosok Alsya di sisinya ?.


"Iya, aku ingin mendengarnya, Al." Nareena menatap wajah calon suaminya dengan tatapan serius.


Aly mengangguk mengiyakan. "Aku sudah pernah mengatakannya padamu, jika aku akan menceritakan semuanya jika kamu memintanya ?." Ucap Aly mencoba mengingatkan Nareena dan Nareena mengangguk mengiyakan.


"Kamu tau aku adalah seorang duda, dan kamu tau jika aku memiliki anak."


Nareena kembali mengangguk mengiyakan. "Terus ?." Ucapnya tidak sabaran mendengar penuturan Aly selanjutnya.


"Aku adalah seorang duda yang sudah dua kali menikah, Nareen. Salah satu istriku meninggal karena penyakitnya dan satunya lagi kami bercerai karena sebuah kebohongan besar yang aku ciptakan." Ucap Aly memulai menjelaskan.


Nareena membekap mulutnya tak percaya dengan cerita yang dia dengar.


"Aku juga memiliki empat orang anak dari dua wanita itu, dua laki-laki dan dua perempuan. Kedua anakku meninggal dan dua laginya masih hidup dan sekarang mereka hidup bersama ibunya." Ucap Aly melanjutkan.


Nareena sudah tidak sanggup berkata-kata lagi. Dia terlalu syok atas kenyataan ini yang terlalu mengguncang jiwa raganya. "Siapa mantan istrimu ?." Tanya Fyzha spontan karena dia tiba-tiba teringat obrolan mereka tadi yang melibatkan nama Keyya.


✓✓✓✓✓✓✓✓✓

__ADS_1


__ADS_2