Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Ragu terbongkar


__ADS_3

Affan dan Nisa hanya bisa mendengus pasrah. Rumit memang. Dari pertama kali Affin bertemu Alsya, Affin memang langsung jatuh cinta pada pandangan pertama pada sosok gadis berwajah manis nan teduh itu. Affin bahkan pernah berniat untuk melamar Alsya setelah pernikahan kembarannya dengan kakaknya Alsya. Tapi itu hanya rencana, sebab ternyata Alsya sudah lebih dulu dimiliki oleh seorang pria yang merupakan anak dari sahabat orang tuanya Alsya.


Namun demikian, meski sudah bertahun-tahun lamanya, perasaan Affin masih juga belum padam terhadap Alsya, bahkan hingga Alsya sudah akan memiliki dua anak sekalipun.


"Fin ingat, Alsya sudah memiliki anak sekarang. Kapan kau bisa melupakannya ?!." Geram Affan pada kembarannya.


Affin sudah siap mengatakan protesnya tapi tidak jadi karena ternyata pintu IGD mulai dibuka. Affin segera menghampiri partner dokternya. "Bagaimana keadaannya ?." Tanya Affin tidak sabaran.


"Kita bicarakan di ruangan saja, Fin."


"Baiklah."


Affin membuntut di belakang dokter sekaligus sahabatnya itu ke ruangan pribadinya.


"Kondisinya sedang kritis, benturan keras membuat jaringan saraf di kepalanya tegang berat." Jelas sahabatnya secara ringkas, sepertinya dia tidak perlu menjelaskan lebih detail karena Affin sudah pasti mengerti apa yang diucapkannya.


"Sampai separah itu ?." Pekik Affin gusar. Dia tidak menyangka jika keteledorannya berakibat sangat fatal.


"Sebenarnya apa yang terjadi ?."


"Aaa..! Ini semua gara-gara cewek sialan itu !. Dia membuatku terkena masalah !." Teriak Affin sambil meremas rambutnya sendiri.


"Hey !. Apa-apaan kau ini ?!. Ada apa denganmu ?!." Tanya dokter Aldan kebingungan.


"Siapa lagi kalau bukan cewek matre itu ?!." Sembur Affin semakin kesal.


"Oh, gue kira siapa. Sudahlah, kenapa juga kau masih berurusan dengannya ?." Ujar dokter Aldan terlihat mulai santai.


"Dia memegang rahasia besar gue."


"Lalu ?."


Affin menatap sengit wajah sahabatnya. "Sialan Lo !. Gue lagi panas Lo malah santai banget kaya gitu ?!." Sentaknya dan berlalu begitu saja.


Affin berjalan tergesa-gesa menuju ruangannya sendiri. Dia benar-benar kacau sekarang. Wajah rupawan dan ramah yang selalu di tampilkan olehnya seakan lenyap tiada berbekas. Tapi langkahnya tiba-tiba terhenti saat teringat satu nama yang selalu membuatnya kesal.


"Aly." Gumamnya lirih.


Affin mengubah haluan langkah kakinya. Dia segera menghampiri kembarannya yang telah dilupakan di kursi tunggu di depan ruang IGD.


"Fan."


"Bagaimana ?."


"Keadaannya lumayan buruk."


"Innalilahi." Pekik Nisa lemas.


"Mbak, bagaimana dengan Aly ?." Ujar Affin langsung mengalihkan pembicaraan

__ADS_1


"Aly ?." Tanya Nisa bingung. Tapi dia langsung mengerti sesuatu. "Apa kamu akan menyelidikinya sekarang ?."


"Iya."


"Lalu, bagaimana dengan masalahmu sendiri ?."


Affin terdiam. "Itu bisa nanti." Ucapnya kemudian.


"Baiklah. Terserah kau saja."


"Apa temannya yang di rawat disini ?."


"Entahlah."


"Kapan dia dibawa kesini ?."


"Kemarin siang."


Untuk sesaat keduanya seakan lupa akan keberadaan Affan yang hanya bisa menyimak mendengarkan.


"Fin, jangan sampai membuat masalah." Ujar Affan mengingatkan.


"Tenang saja. Aku akan bermain santai, tapi aku juga tidak bisa tidak memberi pelajaran pada pria b*eng*ek itu !." Ucap Affin yakin dan langsung pergi begitu saja.


Affin segera menuju ruangan pribadinya sebagai sang pemilik bangunan. Dia memerintahkan bawahannya untuk membawakan berkas yang berisi tentang rincian pasien yang datang kemarin. Dan hanya menunggu beberapa menit saja, seseorang salah satu pegawai rumah sakit datang dan memberikan berkas yang dimintanya.


"Nia, kau bisa membantuku ?." Ujar Affin pada pekerja yang masih setia berdiri. "Cari identitas pasien perempuan yang berusia muda." Ucap Affin lagi.


Pegawai itu terlihat mengerjitkan alisnya heran dengan apa yang diucapkan oleh atasannya. Pasien perempuan muda ?. Untuk apa ?. Itulah sekiranya yang terbesit di pemikiran wanita bernama Nia itu.


"Nia." Panggil Affin membuat Nia segera kembali pada kesadarannya.


"Baik, pak."


"Duduklah !." Titah Affin lagi.


Keduanya mulai sibuk mengumpulkan data pasien yang dicari. Setelah beberapa menit, Affin dan Nisa berhasil menemukan data pasien perempuan yang masih muda. Dan itu berjumlah enam orang.


Dari enam orang itu, memiliki riwayat penyakit yang berbeda-beda. Ada yang kanker, diabetes, tumor, kecelakaan, alergi dan melahirkan.


"Nia."


"Iya pak ?."


"Menurutmu mana yang benar ?." Tanya Affin membuat Nia kembali kebingungan.


"Ma-maksudnya bagaimana ya pak ?. Maaf, saya kurang faham ?."


"Oh astaga..." Affin mendengus kesal merutuki ucapannya barusan.

__ADS_1


Iyalah, Nia sudah pasti tidak mengerti apa maksud ucapannya barusan. Tapi, apakah dia harus mengatakannya ?.


"Saya sedang mencari seseorang yang menjadi selingkuhan suami teman saya. Menurutmu, kira-kira yang mana ?." Ucap Affin akhirnya.


"Oh, baiklah pak." Jawab Nia kembali patuh dan mulai melihat catatan datanya lagi. "Maaf, pak. Kalau menurut saya, apa mungkin seseorang akan selingkuh dengan orang penyakitan ?." Ucap Nia sedikit ragu.


"Apa maksudmu ?!." Affin memicingkan matanya menatap heran wajah Nia.


"Eee, jadi begini pak. Kan, tidak mungkin seorang suami lebih memilih wanita di luar yang berpenyakitan dibanding istrinya sendiri. Jadi, menurut saya, untuk pasien ini, ini, ini, juga ini, kita singkirkan dari pencarian." Ucap Nia sambil mengesampingkan data pasien yang memiliki riwayat penyakit. "Dan sekarang, hanya dua ini yang tersisa." Nia memberikan dua berkas identitas pasien yang datang kemarin dengan riwayat kecelakaan dan melahirkan.


Meski ragu, Affin tetap menerima uluran data pasien yang diberikan Nia. Dia memeriksanya teliti dan dengan pemikiran ruwed.


Kecelakaan ?.


Melahirkan ?.


Kemarin siang ?!.


Affin mengecek data kedatangan dua pasien itu. Pasien kecelakaan datang sebelum Maghrib, dan pasien melahirkan datang sebelum ashar ?!.


Rahang Affin seketika mengeras. Dia sangat terkejut mendapati kenyataan ini. Ternyata pria yang telah menjadi suami Alsya sudah melakukan hal menjijikkan sampai sejauh ini ?!. Dia memiliki anak dengan perempuan lain?!. Dan, Alsya tidak tahu akan hal itu !!.


Nia yang memperhatikan raut wajah bosnya sedikit merasa ketakutan. Dia tau, pasti bosnya itu sudah berhasil menemukan data pasien yang dicarinya.


"Pak." Panggil Nia ragu-ragu.


"Bereskan semuanya !." Titah Affin langsung bangkit dari kursi kebesarannya dan keluar dari ruangan.


Langkah Affin tergesa-gesa menuju ke kamar tempat dimana selingkuhan Aly berada. Dia sedang diliputi oleh amarah yang meluap-luap. Dia tidak bisa tinggal diam, dan harus segera memberi pelajaran pada pria bre*gs*k itu !.


Sampai di depan pintu kamar yang dituju. Affin mengintip jendela kamar tersebut. Di dalam sana, terlihat ada empat orang juga seorang bayi, satu laki-laki muda dan tiga perempuan, dua wanita muda dan satu wanita tua. Wajah-wajah mereka tampak teduh dan menenangkan jika dipandang. Apalagi wanita tua yang sedang duduk di kursi samping tempat tidur pasien, dia terlihat sangat tenang juga memilki kharisma yang sangat kuat.


Dan satu lagi yang membuat Affin tertegun, yaitu cara berpakaian mereka yang terlihat sangat tertutup dengan abaya panjang juga jilbab panjang, dan laki-laki mudanya mengenakan kaos polos berwarna abu-abu, memakai sarung juga peci.


Apa benar, wanita yang sedang di pembaringan itu adalah selingkuhan Aly ?. Ini terlihat sangat meragukan. Pikir Affin.


Affin mengecek lagi berkas yang ada di tangannya. Disana, tertulis jika catatan administrasinya juga dibayar bukan atas nama Aly, melainkan dari rekening bank seorang pria lain.


Di tengah kerisauan yang melanda, tampak dua suster yang akan masuk ke ruangan tersebut untuk melakukan pemeriksaan terhadap pasien. Mereka langsung menunduk hormat saat melihat kehadirannya.


"Selamat siang, pak Presdir..." Sapa mereka segan secara bersamaan.


"Kalian akan memeriksa pasien di dalam kamar ini ?." Tanya Affin.


"I-iya, pak." Jawab mereka masih menundukkan kepalanya.


"Masuklah ." Ucap Affin lagi lalu pergi dari depan kamar tersebut.


✓✓✓✓✓✓✓✓✓

__ADS_1


__ADS_2