Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Kelembutan Aly


__ADS_3

Berita tentang hubungan antara Aly dan Nareena sudah tersebar luas. Setiap staf pegawai yang bekerja di perusahaan Aly sudah mengetahuinya semua. Ditambah, sikap yang sering ditunjukkan oleh Aly pada Nareena yang kadang tidak tau tempat membuat seisi kantor selalu geger.


Bagaimanapun, lepas dari kisah masa lalu Aly, sikap Aly sekarang memang semakin tertutup rapat. Dia juga menjadi pribadi yang dingin dan arogan untuk sekarang-sekarang. Dan sikapnya yang seperti itu tentunya membuat pekerja di kantornya sedikit takut jika berhadapan dengan Aly. Tentunya terkecuali Nareena !.


"Makan siang yuk ?." Datang dengan tiba-tiba.


Nareena hampir terjengkang ke belakang karena kaget dengan suara Aly yang tiba-tiba menghalau kefokusannya.


Aly yang memang merasa bersalah hanya menyeringai kaku.


"Ngagetin tau gak ?!." Sembur Nareena masih dalam mode syok.


"Iya, iya, maaf. Aku memang salah." Ucap Aly penuh permohonan.


"Hem." Nareena mengabaikannya.


"Hey, ayo makan siang... Jangan sibuk Mulu !." Decak Aly kesal melihat calon istrinya itu yang kembali fokus pada pekerjaannya.


"Iya, siapa yang selalu membuatku menjadi orang sibuk ?!." Tatapan mata Nareena begitu tajam ke arah Aly.


Nareena memang marah tapi dia juga tetap bangkit dari duduknya dan berdiri di dekat Aly kemudian keduanya melangkah beriringan keluar dari kantor untuk mencari makan siang di luar.


"Al." Panggil Nareena setelah mereka sudah berada di dalam mobil.


"Hem ?." Aly masih fokus menyetir dan hanya sesekali melirik ke arah Nareena yang duduk di sampingnya.


"Aku boleh bertanya sesuatu ?." Nareena terlihat ragu-ragu mengucapkannya. Nareena memandangi wajah Aly yang hanya terlihat pipi bagian kirinya saja.


"Mau bertanya apa ?," Aly menoleh sebentar menatap wajah Nareena kemudian kembali mengarahkan pandangannya ke depan lagi.


"Tidak, tidak jadi." Nareena membuang muka keluar kaca jendela.


Aly mengerjitkan alisnya heran melihat sikap Nareena yang seperti sedang ingin menyampaikan sesuatu tapi terlihat ragu-ragu.


Mereka sampai di restoran. Mereka keluar dari mobil dan masuk ke dalam restoran itu dengan melangkah saling beriringan.


Di sebuah meja kosong dengan posisi terbaik, keduanya mendudukkan tubuhnya di kursinya dan memesan makanan dan minumannya.


"Tadi kamu katanya ingin bertanya ?, Kenapa tidak jadi ?."


"Lupakan saja."


"Hehh, aneh sekali kamu ini." Aly memandang heran wajah Nareena.


Nareena hanya membalasnya dengan senyuman dipaksakan.


Makanan datang, mereka segera menikmati makan siang bersama dengan disertai keheningan.

__ADS_1


"Nareen."


"Iya ?."


"Apa yang ingin kamu tanyakan tentang masa laluku ?." Tanya Aly serius.


Nareena sempat ingin bertanya kenapa rumah tangga Aly yang dulu bisa sampai hancur dan berakhir perceraian. Tapi, setelah dipikir-pikir lagi, Nareena merasa itu adalah hak pribadi Aly dan Nareena tidak seharusnya mempertanyakan hal tersebut.


Keduanya saling pandang dengan pemikiran masing-masing.


"Apa yang harus aku tanyakan ?, Itu adalah masa lalu mu, dan aku tidak harus mengetahuinya kan ?." Ucap Nareena memutuskan.


Aly mengangguk mengiyakan. Namun dia juga ingin jika hubungannya dengan Nareena tidak ada lagi kebohongan.


"Kamu yakin tidak ingin tau kenapa sampai pernikahanku yang pertama mengalami perceraian ?."


Nareena terdiam. "Tidak, aku tidak ingin tau." Jawabnya kemudian.


Aly tersenyum manis. Entah kemana sisi cerewet Nareena semenjak mereka memutuskan untuk melanjutkan kisah cinta mereka ke jenjang yang lebih serius.


"Baiklah, aku tidak akan menceritakannya jika kamu tidak memintanya."


Keduanya kembali melanjutkan makan hingga selesai dan pulang ke kantor lagi.


"Aku masuk ya ?." Ucap Aly setelah mereka sampai di depan meja Nareena.


Keduanya saling melempar senyum sebelum Aly memasuki ruangan pribadinya.


✓✓✓✓✓✓✓


Seorang gadis sedang duduk sambil memperhatikan interaksi antar dua manusia yang begitu terlihat romantis.


Dia adalah Fyzha, yang saat itu juga sedang makan siang di sebuah restoran yang ternyata membuatnya harus melihat suguhan pemandangan indah antara Aly dan Nareena.


Jarak mejanya dengan meja yang ditempati oleh mereka hanya di pisahkan oleh lima meja saja. Fyzha melihat mereka tapi rupanya mereka tidak menyadari kehadiran Fyzha.


Ikhlaskan, ya Allah... Aku mohon bantu aku melepaskan rasa ini untuknya...


Fyzha memegang dadanya sendiri untuk menenangkan diri dari rasa sesak yang menghampirinya karena melihat kedekatan Aly dengan Nareena.


Mereka dekat sudah jelas karena mereka akan menikah. Tapi kenapa rasanya hati Fyzha masih belum sanggup menyaksikan sendiri bagaimana kebahagiaan mereka.


Fyzha seruput minuman juz yang ada di hadapannya dengan mata di pejamkan rapat. Dia sedang menguatkan hati dan pikiran. Dia sedang mencoba berdamai dengan keadaan.


Semerbak harum makanan yang disajikan di meja dekat mejanya langsung mengusik kenyamanan Fyzha. Fyzha melirik piring yang berisi makanan yang membuatnya tiba-tiba merasa enek. Steak barbeque ?!.


Rasanya isi dalam perut Fyzha semakin bergejolak setelah melihat penampilan makanan tersebut yang padahal memang seperti pada umumnya. Tapi entah kenapa, Fyzha seolah menolak harum baunya. Fyzha segera bangkit dan berlari ke belakang untuk mencari toilet perempuan.

__ADS_1


Sampai di depan wastafelnya, Fyzha mengeluarkan semua yang sebelumnya dia makan. Setelah mengeluarkan muntahnya, lagi-lagi perutnya bergejolak dan kembali mengeluarkan isinya.


"Kakak kenapa ?." Seorang gadis muda berdiri di samping Fyzha dan membantu menepuk-nepuk pundak Fyzha agar Fyzha bisa mengeluarkan semuanya dan menjadi lebih baik.


Lagi-lagi perut Fyzha bergejolak dan berakhir memuntahkan semua isi perutnya.


Tubuh Fyzha melemah dan hampir terhuyung ke belakang jika saja gadis baik hati itu tidak merangkulnya.


Fyzha segera membersihkan wajahnya dan berkumur untuk menghilangkan sisa-sisa cairan yang masih ada di dalam mulutnya.


"Duduk dulu, kak."


Fyzha mengangguk dan gadis itu memapah tubuh lemasnya untuk duduk di bangku yang ada di dekat wastafel tadi. Setelah membantu mendudukkan tubuh Fyzha, gadis itu membuka tas ranselnya yang berwarna biru kelabu dan mengeluarkan air mineral kemasan botol.


"Minum dulu kak ." Ucap gadis itu menyodorkannya.


Fyzha menerimanya dan meminumnya hingga tersisa hanya setengah dari isi semula. Karena tenaganya yang masih belum pulih, gadis itu membantunya meletakkan botol minum tersebut di kursi kosong di sebelahnya.


Gadis itu kembali merogoh tasnya dan kali ini mengeluarkan minyak kayu putih. "Sini tangannya kak, biar anget." Ucapnya.


Tanpa membantah Fyzha menurut dan menyodorkan tangannya untuk dibaluri minyak tersebut dan rasa nyaman langsung menghampiri tubuhnya.


"Maaf ya kak..." Dengan penuh hati-hati tangan kecil itu mengoleskan minyak tersebut di sekitar pelipis dan di bawah hidung Fyzha.


Fyzha tersenyum mendapati kebaikan gadis baik yang tak dikenalnya sama sekali itu.


Gadis itu menyudahi kegiatannya lalu memandang wajah cantik Fyzha dengan senyuman manisnya yang di hiasi lesung pipi di wajahnya.


"Makasih ya dek." Ucap Fyzha tulus.


Gadis itu semakin melebarkan senyumannya. "Iya, sama-sama kak."


"Siapa namamu ?."


"Aku Anora." Gadis itu mengulurkan tangannya.


Fyzha menerima uluran tangannya dan mereka saling berjabat tangan. "Aku Fyzha."


"Salam kenal kak Fyzha."


"Salam kenal juga Anora."


"Apa kakak sudah lebih baik ?," Anora memperhatikan wajah Fyzha dan Fyzha mengangguk sebagai jawaban.


"Kalau begitu kita keluar dari sini yuk kak ?!."


Mereka bangkit dan keluar dari ruang toilet. Setelah di luar, mereka berpisah karena memiliki kesibukan masing-masing. Perpisahan mereka diiringi oleh senyuman hangat dan lambaian tangan.

__ADS_1


Fyzha segera menuju mejanya lagi untuk mengambil tasnya dan segera membayar tagihan biaya makanannya lalu keluar dari restoran tersebut.


__ADS_2