Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Si bucin Pasutri


__ADS_3

Satu persatu keluarga besar datang untuk melihat kondisi Alsya dan anak-anaknya. Yang pertama mbak Nisa beserta keluarganya.


"Assalamualaikum,.."


"Waalaikumsalam."


Mbak Nisa dan Affan menyalami tangan kedua orang tuanya lalu mbak Nisa memeluk adiknya dan Affan berjabat tangan dengan Anand. Tapi semuanya itu adalah bentuk apresiasi terhadap kebahagiaan yang dirasakan oleh Anand dan Alsya.


Rizal mendekati adik-adik sepupunya dan menoel-noel pipi tembam salah satu bayi laki-laki Alsya karena posisinya yang dekat dengan tepi ranjang.


Semua orang terkekeh melihat tingkah lucu bocah berumur enam tahun itu.


"Ibu." Rizal menoleh ke arah mbak Nisa.


"Iya, Rizal ?." Sahut mbak Nisa.


"Ibu, aku mau punya adik." Ucap Rizal meminta.


Semua orang langsung tersenyum memaklumi sikap Rizal yang seperti itu. Hal yang wajar karena umurnya yang sudah cukup besar tapi Rizal masih belum memiliki seorang adik, berbeda dengan Hafidzh yang jika dia masih ada, maka sekarang Hafidhz telah memiliki 6 adik. Sungguh mengagumkan, bukan ?.


Mbak Nisa mengusap kepala putranya. "Iya, nanti Rizal juga akan punya adik." Jawabnya.


Rizal terdiam dan sesaat kemudian dia cemberut. "Selalu saja. Ibu sama ayah bilang iya terus tapi gak ada terus sampai sekarang." Decaknya kesal kemudian pandangan matanya kembali pada bayi-bayi mungil tante nya.


"Tante, Al. Ini namanya siapa ?,." Tanyanya pada Alsya.


Alsya tidak langsung menjawab dan menoleh ke arah suaminya seolah menanyakan pada suaminya itu tentang hal yang serupa seperti Rizal sebab Alsya juga tidak tahu karena Anand lah yang menyiapkan nama untuk anak-anak mereka.


"Fathan, namanya Fathan, dan yang satunya lagi Alzan, dan yang perempuan namanya Zahwa." Ucap Anand menjawabnya.


Alsya tersenyum mendengarnya. Nama-nama yang sangat bagus untuk ketiga jagoannya.


Anand berdiri di samping Alsya dan memeluk tubuh istrinya. "Apa kamu suka dengan namanya ?." Tanyanya pada sang istri.


Alsya mengangguk. "Iya, nama yang sangat cantik. Makasih, A'." Alsya balas memeluk tubuh suaminya.


"Sama-sama, sayang." Anand mendaratkan kecupannya di puncak kepala istrinya.


Semua orang yang melihatnya menjadi terbawa suasana. Pasangan ini sangatlah romantis dan tidak pernah sekalipun terlihat saling marahan karena sejatinya itu adalah sikap Anand yang sangat dewasa menyikapi sikap Alsya.


Anand sangat memahami tentang apa yang Alsya suka dan yang Alsya tidak menginginkan, apapun itu.


"Tante." Panggil Rizal kembali bertingkah.


"Iya, Rizal ?."


"Fazal mana ?. Gak keliatan dari tadi ?."


Alsya sudah bersiap untuk menjawab pertanyaan keponakannya, tapi ucapannya hanya mengambang di udara karena kedatangan seseorang.


"Assalamualaikum... !!."

__ADS_1


Pintu kamar dibuka dan menampilkan sosok wanita yang sedang tersenyum lebar kepada semua orang.


"Waalaikumsalam..." Jawab semuanya yang ada di dalam kamar.


Mereka adalah pasangan Aly dan Nareena yang datang bersama kedua anak Aly. Fazal dan Keyya.


Fazal berlari menyongsong tubuh Umminya dan diikuti oleh Keyya yang lari di belakangnya.


"Ummi..."


"Ummi..."


Semua orang terkekeh pada dua anak kembar itu. Tingkah mereka memang seperti orang kembar jika disatukan seperti ini.


Alsya tersenyum menyambut kedatangan putra-putrinya.


"Iya, sayang ?." Alsya membelai lembut pipi tembam keduanya.


"Hehehe, dedeknya udah keluar ya ummi ?." Tanya Fazal melirik adik-adiknya yang dibaringkan di samping ibunya.


"Key mau liat dedek !!." Seru Keyya jingkrak-jingkrak kesenangan.


Anand terkekeh. Dia yang tadinya sedikit minggir dari samping Alsya karena kedatangan si kembar, kini mendekat lagi. "Key mau liat dedek ?." Tanyanya pada Keyya.


Keyya mengangguk antusias. "Iya, Abi !!."


"Sini, Abi gendong biar dedeknya keliatan. " Anand mengangkat tubuh mungil Keyya dan berjalan ke sisi kanan ranjang Alsya. "Tuh, dedeknya udah keliatan ?."


"Iya, dedeknya masih ngantuk jadi bobok." Jawab Anand menanggapi celotehan lucu Keyya.


Semua orang langsung terkekeh mendengar jawaban Anand yang asal keluar saja.


Berbeda dengan Fazal. Dia malah memilih untuk tetap di samping umminya.


"Ummi gak sakit lagi ?." Tanyanya dengan tatapan mata lekat memandang wajah cantik Umminya.


Alsya tersenyum juga terharu mendengarnya. "Iya, sayang. Ummi udah gak sakit lagi, kan dedeknya udah keluar."


Fazal terdiam dan melirik ke arah adik-adiknya berada lalu kembali menatap wajah Umminya.


"Fazal kasian sama Ummi..." Fazal menggelayut di lengan Alsya yang sedang terulur membelai lembut rambutnya.


"Ehh ?." Pekik Alsya spontan.


Alsya menjadi sangat terharu melihat sikap putranya yang begitu menyayangi dirinya. Begitupun dengan semua orang yang ada disana, mereka juga terharu melihat sikap Fazal yang sudah terlihat sangat menyayangi ibunya meskipun usianya yang masih sangat kecil.


Alsya melihat ke arah Anand dan ternyata Anand juga sedang menatap wajahnya.


Anand sepertinya mengerti apa maksud dari tatapan mata Alsya. Anand menurunkan Keyya dan berjalan mendekati putranya lalu mengangkat tubuh mungil Fazal dan didudukann6a di samping kanan Alsya.


Alsya langsung memeluk erat tubuh putranya. Dia sangat beruntung memiliki anak yang begitu menyayanginya.

__ADS_1


Di dalam momen yang sangat haru itu, datang lagi satu keluarga kecil. Mereka adalah pasangan Affin dan Fyzha.


Fyzha langsung melangkah cepat menghampiri Alsya.


"Sayang, jangan lari-lari !." Seru Affin langsung menahan pergerakan Fyzha yang tidak ingat kondisi.


Fyzha menoleh dan langsung menyengir saat mendapati mata suaminya yang sedang menatapnya tajam.


"Jangan lari-lari."


"Iya, maaf sayang."


Affin menghembuskan nafasnya berat lalu melepaskan genggamannya pada tangan istrinya.


Semua orang menggeleng tak percaya pada tingkah pasangan ini yang kelewat bucin. Sebenarnya memang bukan bucin sih, hanya saja kekhawatiran Affin yang terlalu berlebihan untuk istri dan calon anaknya.


Belum sampai di dekat Alsya, Fyzha berbelok ke arah Umma. "Assalamualaikum, Umma.." ujarnya sopan dan menyalami tangan Umma.


"Waalaikumsalam, nak."


Keduanya berpelukan sebentar lalu Fyzha beralih menyalami tangan Abah. "Abah."


"Apa kabar nak ?."


"Alhamdulillah baik bah."


"Alhamdulillah."


Fyzha kembali pada tujuannya yaitu menghampiri si empunya pertemuan ini. Fyzha segera memeluk erat tubuh kakak iparnya. "Selamat kak Al. Kak Al memang hebat bisa menjaga ketiga keponakanku hingga mereka bisa melihat dunia ini... !!."


Alsya terkekeh mendapati sikap adik iparnya yang terlalu rempong.


"Sayang..." panggil Affin sambil mendekat.


"Fy..." Anand juga memanggilnya dan menarik adiknya.


Kedua pria itu terlalu syok melihat Fyzha yang kelewat girang hingga memeluk tubuh Alsya sampai membuat Alsya tercekik karena dipeluk terlalu erat.


Alsya langsung menghembuskan nafas berat. Dan kedua pria itu saling merengkuh istrinya masing-masing.


Semua orang langsung tertawa lepas melihat adegan yang sangat absurd tersebut hanya karena ulah si bumil Fyzha.


"Sayang, kamu hampiri membunuh Alsya, kau tau ?." Affin memperingati istrinya.


Fyzha sontak menoleh melihat ke arah Alsya dan kakaknya yang masih saling berpelukan. Tatapan mata tajam Anand bertemu dengan Fyzha.


"Hehehe iya kak, maaf kelepasan." Ujar Fyzha merasa bersalah.


"Sayang, sudah ahh, lepas."


Affin menurut melepaskan pelukannya dari tubuh sang istri.

__ADS_1


✓✓✓✓✓✓


__ADS_2