Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Bingkai foto


__ADS_3

Fyzha tertegun melihat bingkai foto pernikahan mereka yang dalam posisi sangat dekat yaitu mereka saling menatap satu sama lain dengan kedua tangan Affin merengkuh pinggang ramping Fyzha dan kedua tangan Fyzha diletakkan di bahu dan lengan Affin.


Entah dari kapan foto itu di pajang di kamar ini?, Tapi yang jelas ada desiran hangat yang langsung menerpa hati Fyzha. Tanpa sadar Fyzha tersenyum melihat foto itu.


Sebulan sudah usia pernikahan mereka dan sebulan itu pula mereka hidup bersama dengan sikap mereka yang sangat kekanak-kanakan. Ada perasaan menyesal di hati Fyzha karena tidak pernah menghargai Affin sebagai suaminya. Tapi dia juga masih belum bisa membuka hatinya untuk suaminya itu.


"Maaf, aku belum bisa bersikap selayaknya seorang istri untukmu, tapi aku ingin berusaha, Fin." Gumam Fyzha masih menatap bingkai foto mereka.


"Huhh, Affin kapan selesainya sih ?." Decak Fyzha saat melihat jam tangannya yang sudah satu jam lebih dari kepergian Affin. "Dah lah, lebih baik aku tidur dulu."


Mencari posisi yang nyaman dan akhirnya ketemu yaitu posisi tubuh meringkuk seperti anak kecil, sangat pantas jika Fyzha juga disebut anak kecil karena tubuhnya yang sangatlah mungil, tidak pas untuk umurnya yang sudah berkepala tiga.


Jika membahas umur, ada selisih diantara umur Fyzha dan Affin yaitu empat tahun, dan lebih tua Fyzha.


Tepat setelah Fyzha sudah tertidur nyenyak, Affin menyelesaikan pekerjaannya dan sedang berjalan menuju ruang pribadinya.


"Dokter Affin." Seorang suster memanggil.


"Iya sus ?."


Mereka kini sudah saling berhadapan. "Itu dok, keluarga salah satu pasien kecelakaan tadi datang dan mereka ingin bertemu dengan dokter." Ucap suster itu menjelaskan.


Affin tidak langsung menjawab, dia terdiam karena memikirkan tentang Fyzha. Dia yakin istrinya itu pasti bosan di dalam ruangannya, itupun jika dia memang masih ada disana.


"Baiklah, antar saya kesana." Putus Affin akhirnya menyetujui untuk bertemu dengan keluarga pasien yang tadi dia tangani.


"Baik, dok. Mari."


Affin membuntut di belakang suster itu yang ternyata menuju ke depan ruang IGD.


Di depan ruangan itu terlihat ramai oleh beberapa orang yang dilihat dari wajahnya mereka seperti sedang cemas dan khawatir. Mungkin mereka sedang menghawatirkan keluarganya yang sedang menjalani pemeriksaan di ruang IGD tersebut.

__ADS_1


"Assalamualaikum..."


Mereka langsung menoleh ke arah Affin. "Waalaikumsalam, Dok." Seorang wanita setengah baya dan juga pria remaja langsung menghampiri Affin.


"Iya, ada apa ya Bu ?." Tanya Affin tak ingin basa-basi.


Wanita itu terlihat sangat khawatir akan sesuatu. "Maaf, dok. Apa bisa saya berbicara dengan Anda sebentar ?."


Affin mengangguk mengiyakan. "Kalau begitu ke kita ke ruangan saya saja." Ucap Affin.


Affin dengan dua orang yang kini berjalan bersamanya melangkah menyusuri koridor rumah sakit dan memasuki ruangan pribadi Affin.


Sebagai seorang pemilik rumah sakitnya, nyatanya Affin tidak suka jika dia terlalu di prioritaskan dalam beberapa hal. Contohnya seperti jam kerjanya yang seharusnya hanya memantau perkembangan dan kemajuan yang terjadi di rumah sakitnya tapi Affin malah sering terjun langsung ke bagian pekerjaan layaknya dokter lainnya.


Affin masuk ke dalam ruangan nya dan dia sudah tidak menemui istrinya disana.


Sepertinya dia sudah pulang ?,. Bathin Affin memperhatikan setiap sudut ruangannya yang sudah tidak ada siapa-siapa.


Dua orang tadi menyusul masuk ke dalam ruangan tersebut. "Silahkan, duduk." Tawar Affin sangat ramah.


"Baiklah, ada yang bisa saya bantu?." Sekali lagi Affin berbicara langsung pada intinya dan terlihat seperti orang yang sedang terburu-buru.


Yah, apalagi yang membuatnya gelisah selain urusan pribadinya yaitu pada Fyzha. Dia sedang khawatir akan kemarahan Fyzha yang pasti tadi sudah menunggunya sangat lama sehingga dia malah pulang duluan.


Jangan ditanyakan tentang perasaan Affin pada Fyzha untuk saat ini, sebab dia sudah menyadarinya jika nama Alsya telah terhapus sempurna di dalam hatinya dan kini telah tergantikan dengan nama baru yang kini telah resmi dia ikat oleh tali pernikahan. Walaupun, sikap Fyzha masih sama seperti saat mereka bertemu, acuh, dingin, dan seringkali mendebatnya meski pada persoalan yang sangat sepele.


"Saya dari pihak pasien yang bernama Nadia, dok. Gadis yang mengalami cidera kaki saat kecelakaan itu."


Affin terdiam seperti menimang-nimang nama yang disebutkan, dan setelah beberapa detik akhirnya dia ingat jika dia tadi melakukan operasi darurat pada pasien yang bernama Nadia. Pasien itu mengalami sobek di bagian pahanya yang harus di jahit sebanyak dua puluh jahitan, dan luka gores yang lumayan dalam di bagian tempurung kepalanya yang juga harus dijahit sebanyak lima jahitan.


"Oh, iya. Saya baru ingat, Nadia yang luka di kaki dan kepalanya ?." Ucap Affin akhirnya karena saking banyaknya pasien yang dia tangani sehingga untuk mengingat nama-namanya sedikit menyulitkan baginya.

__ADS_1


"Iya, dok."


"Lalu, apa yang perlu saya bantu ?."


"Eee, jadi begini dok. Kami bukan keluarganya Nadia, kami adalah tetangganya karena . Jadi, saat ini kedua orang tuanya Nadia juga mengalami kecelakaan dan mereka tewas di tempat kejadian."


Affin sedikit terkejut mendengarnya. Satu keluarga mengalami kecelakaan di waktu yang sama dan hanya berbeda tempat saja.


"Dok, saya minta tolong, titip Nadia."


Affin mengerjitkan alisnya bingung dengan ucapan wanita itu. "Maaf, Bu. Saya kurang mengerti apa yang ibu ucapkan ?."


Wajah ibu itu semakin terlihat sedih. "Nadia tidak memiliki sanak keluarga disini dok, keluarganya adalah orang perantauan dari luar Jawa, dan kebetulan saya adalah tetangga yang dekat dengan orang tuanya Nadia. Tapi, hari ini saya akan pindahan ke kota lain, jadi saya tidak bisa menjaga Nadia."


Affin semakin dibuat bingung oleh keadaan. Apa maksudnya peristiwa ini ?.


"Saya mohon, dok. Saya tidak tau harus meminta tolong kepada siapa lagi, Nadia tidak memiliki siapapun disini. Setidaknya hanya sampai Nadia sehat kembali." Wajah wanita itu terlihat penuh permohonan dan itu membuat Affin tidak enak hati jika menolaknya.


"Maaf, Bu. Saya tidak bisa mengiyakan sekarang, saya harus membicarakannya dulu dengan istri saya." Affin bukan tak tega, tapi dia ingat akan statusnya sekarang yang sudah bukanlah orang bebas, dia memiliki seorang istri yang kejujurannya sangat diperlukan untuk kelangsungan keluarga mereka. Dia tidak ingin Fyzha menjadi salah faham karena dia tau siapa Nadia itu yang tak lain adalah seorang gadis yang sudah dewasa juga.


Wanita tua itu seperti menghela nafas panjang. "Baik, dok. Tidak masalah, tapi saya memohon dengan sangat atas kebaikan anda." Wanita itu sedikit memaksa.


"Sekali lagi saya minta maaf, Bu. Bagaimanapun izin dari istri saya itu yang terpenting."


"Iya, dok. Kalau begitu, saya permisi dulu, dok." Wanita itu dan pria remaja yang mungkin adalah anaknya itu kembali berdiri.


Affin juga ikut berdiri. "Iya, Bu."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."

__ADS_1


Dua orang itu keluar dari ruangan Affin dan menutup pintunya lagi. Affin kembali menghempaskan tubuhnya di atas kursi kebesarannya lagi. Entahlah, dia sedang merasa pusing akan kejadian hari ini. Seseorang yang tidak dikenalnya sama sekali malah dititipkan pada dirinya. Sangat menggelikan, bukan ?. Tapi itulah kenyataannya, dan Affin harus dilanda dilema besar karena dia bingung harus bilang apa pada Fyzha untuk hal tersebut.


✓✓✓✓✓✓✓✓


__ADS_2