Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Hari H 2


__ADS_3

"Qobiltu nikaah'aha watazwijahaa 'alal mahril madzkur wa radhiitu bihii Wallahu waliyyuttaufiq !."


Alhamdulillah.


Affin menundukkan kepala, dalam hatinya bergemuruh hebat setelah mengucapkan kalimat sakral itu, air mata pun tak kuasa untuk tidak meluncur dari sudut-sudut matanya.


Tepukan tangan di pundak membuatnya terkesiap. Affin menoleh.


"Ayo, temui istrimu, nak." Ujar orang tersebut yang tidak lain adalah Aryan, ayah mertuanya.


Ezar mengangguk lalu bangkit berdiri. Ditemani oleh oleh Mbak Nisa dan Alsya, dia berjalan ke arah pintu kamar Fyzha yang tertutup rapat.


Tok


Tok


Tok


Pintu perlahan terbuka, menampakkan sosok perempuan cantik bagai bidadari. Meski setengah dari wajah itu tertutup kain, namun kecantikannya masih bisa terlihat jelas di mata Affin. Bahkan saat melihat wajah ayu Fyzha sekarang, hatinya langsung berdesir hangat.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


Tangan Affin terulur dan langsung disambut oleh tangan Fyzha yang menyalaminya dengan penuh takdzim.


Kedua mata mempelai itu terpejam, merasai sentuhan masing-masing yang mampu membuat desiran hebat di setiap hatinya.


Riuh tepuk tangan memeriahkan momen sakral tersebut, dimana kedua mempelai di pertemukan setelah adanya kalimat akad yang telah mengikat keduanya.


Usai bersalaman, Affin mendekatkan bibirnya di samping telinga Fyzha. "Apa kabar, nona ?." Affin mengucapkan kata-katanya dengan suara lirih yang hanya bisa di dengar oleh istrinya seorang.


Fyzha reflek mendongak dan langsung mendapati wajah tersenyum menyebalkan pria yang kini sudah menjadi suaminya.

__ADS_1


"Kenapa kau masih memanggilku seperti itu ?." Fyzha berbisik di hadapan Affin.


Affin semakin melebarkan senyumannya yang menurut Fyzha adalah senyuman yang sangat aneh.


"Karena aku suka memanggilmu seperti itu." Affin kembali berbisik-bisik.


Fyzha memutar bola matanya jengah. "Terserah kau saja, suamiku." Fyzha menatap sengit wajah Affin.


Affin hanya menanggapinya tak acuh saja. "Terimakasih, istriku..." Ucap Affin sambil mengulurkan tangannya untuk digandeng oleh tangan lentik Fyzha.


Sebenarnya Fyzha kesal dengan obrolan singkat mereka yang baru saja resmi menjadi pasangan suami istri. Obrolan singkat itu terasa tidak wajar dilakukan oleh sepasang pengantin baru, bukan ?. Keduanya memang tidak memiliki chemistry yang baik untuk pertemuan mereka berdua karena lebih kepada kesan percakapan antara dua kubu musuh yang siap untuk berperang.


"Ayo, nona ?!."


Dengan berat hati, Fyzha menerima uluran tangan itu dan menautkan tangan mereka seperti seharusnya. Ada rasa aneh yang tiba-tiba menjalar ke relung hati Fyzha setelah jari-jari mereka saling bertautan.


Keduanya melangkah bergandengan menuju kursi pelaminan. Acara sungkeman berlangsung, dan berlanjut dengan acara penyambutan tamu-tamu undangan yang juga ingin menyalami kedua mempelai.


Di saat sepasang calon pengantin juga naik ke kursi pelaminan untuk menyalami mereka, Fyzha sedikit sedih melihat bagaimana serasinya Aly dengan Nareena. Ada rasa belum ikhlas menyaksikan kebersamaan antara Aly dan sepupunya itu. Yah, walaupun kini statusnya bahkan sudah memiliki suami.


"Makasih, Nareen," Fyzha mencoba bersikap tenang dan menampilkan senyum manisnya di hadapan sepupunya itu.


Giliran dimana Aly berada di hadapannya, ingin rasanya Fyzha mengatakan bahwa dia sudah hancur karena rasa cintanya pada Aly yang sudah diam-diam dia pendam dari semenjak mereka pertama kali bertemu. Yah, itu terjadi pada sekitar tiga tahun lalu yang pada saat itu Fyzha sedang menjadi sekretarisnya Anand.


"Selamat, Fyzha. Semoga Allah selalu memberikan Rahmat pada kehidupan kalian." Aly berucap tulus.


Fyzha mengangguk dan menangkupkan kedua tangannya di depan dada. "Aamiin, terima kasih tuan Zuhally." Ucapnya mencoba menyembunyikan rasa sedih di hadapan pria yang sebentar lagi akan menjadi suami dari sepupunya, Nareena.


Sepasang calon pengantin itu kembali turun dari atas panggung. Dan rangkaian acara pun kembali di lanjutkan.


Setelah semua susunan acara selesai, keduanya mulai memasuki kamar pengantin tepat pada jam sepuluh malam dengan rangkaian acara yang beberapa kali di jeda untuk melaksanakan sholat wajib di waktu-waktu tertentu.


Fyzha bergegas ke kamar mandi untuk mengganti gaunnya dengan pakaian tidur. Dia ingin segera beristirahat karena tubuhnya yang sudah sangat kelelahan.

__ADS_1


Pertama kali dia membuka lemarinya, entah siapa yang telah berani mengganti isi lemarinya itu sehingga kini isinya sangatlah membuat Fyzha terkejut. Bagaimana tidak ?, Pakaian Fyzha lenyap dari sana dan tergantikan dengan pakaian yang bahkan tidak pantas di sebut sebagai pakaian. Dan setelah memilih-milih, Fyzha mendapatkan satu setel pakaian tidur yang tertutup, yaitu baju panjang dan celana panjang dan dia menggabungkan dengan kerudung simpel.


Setelah berganti pakaian, Fyzha kembali keluar dari kamar mandi dan dia tidak mendapati keberadaan Affin. Entah kemana perginya suaminya itu tapi yang jelas sekarang Fyzha sedikit lega dan merasa aman.


Fyzha langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan membalut hampir seluruh badannya dengan selimut kemudian dia mulai memejamkan matanya.


Rasanya nyaman dengan posisi yang benar-benar melegakan. Karena otot-otot tubuh yang tadi sempat tegang kini kembali lentur dan rileks. Berasa persendian dalam tubuhnya yang tadi perpisahan antara bagian satu dengan bagian lainnya lagi itu kini kembali menyambung kuat.


"Kau sudah tidur, nona ?."


Hampir saja nyenyak, Fyzha kembali tersentak dan reflek membuka matanya. Dan betapa terkejutnya dia saat mendapati wajah Affin ada di depan wajahnya. "Kamu ?!." Pekik Fyzha ingin bangkit tapi tidak bisa karena tubuhnya di kurung oleh kedua lengan panjang Affin.


"Kenapa, nona ?, Aku suamimu, bukan ?, Bahkan kita juga bisa saja melakukan hal yang lebih dari ini, kan ?." Affin tersenyum dengan senyuman yang membuat Fyzha merinding.


"Kau !!, Ihh, menyingkirlah...!, Kau sangat berat !." Fyzha berusaha mendorong tubuh Affin tapi ternyata sangat susah.


Affin semakin menyeringai menyeramkan menurut Fyzha. Dia mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Fyzha. Fyzha melengoskan wajahnya. "Affin, mau apa kamu ?!." Sentak Fyzha semakin ketakutan.


"Aku hanya ingin menyentuh istriku, apa itu tidak boleh ?." Affin rupanya sangat senang membuat Fyzha merasa deg-degan dan takut.


Fyzha memberanikan diri menatap tajam wajah Affin. "Tidak, tidak boleh !." Tolaknya tegas.


Affin memicingkan matanya menatap lekat wajah istrinya. "Kamu jadi istri gak ada manis-manisnya berbicara pada suamimu ini ?,."


Fyzha semakin menatap tajam wajah Affin seperti menantang. "Kamu juga sebagai suami tidak ada manis-manisnya ?!, Sudah jelas istrimu ini tidak mau disentuh, tapi ku malah memaksa !." Sembur Fyzha tak mau kalah.


"Mungkin kamu sudah lupa, jika seorang istri tidak boleh menolak suaminya." Affin mendebat.


"Kamu juga sudah lupa, jika istri mu sedang lelah ?, Dan kamu juga tidak boleh menyiksanya. Jadi menyingkirlah !." Fyzha dengan sekuat tenaga mendorong tubuh Affin agar menyingkir.


Affin mengalah dan melepaskan Fyzha. "Baiklah, karena aku bukan pria yang jahat yang tega menyiksa istrinya sendiri. " Ucap Affin kemudian bangkit dari tempat tidur dan langsung menuju ke kamar mandi.


Fyzha menghembuskan nafas lega melihat Affin masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


✓✓✓✓✓✓✓✓✓


__ADS_2