Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Hidup dan mati


__ADS_3

"Apa yang terjadi ?." Tanya Annisa setelah mereka sudah berada di dalam ruangan tersebut.


"Pasien mengalami pendarahan hebat, Nissa. Kamu tahu bagaimana kehamilan di usia muda memang sangat berbahaya." Jawab dokter Elana


"Astaghfirullah.. tapi, El, bukankah Alsya rutin memeriksakan kehamilannya setiap bulan ?."


"Iya. Tapi, itu tidak seratus persen menjamin, karena saat ini saja dia masih belum mencapai pembukaan ke-lima. Faktor usia mudanya memperlambat proses persalinannya."


"Padahal Alsya sudah merasakan kesakitan hampir dua jam. Apa harus melakukan SC (Seksio sesarea) ?."


"Kita bisa menunggunya untuk satu jam kedepan, jika memang tidak bisa melalui jalan normal, maka terpaksa harus melalui sesar."


"Tapi, apakah Alsya masih sanggup untuk menunggu sampai sejam lagi, dia bahkan tadi sempat pingsan."


"Kami akan memberinya suntikan agar dia bisa bertahan."


"Baiklah, lakukanlah yang terbaik untuk adikku."


"Insya Allah."


"Kalau begitu, aku keluar lagi, assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam."


Annisa keluar dari ruang bersalin. Dan betapa terkejutnya dia saat keluar ternyata melihat pemandangan buruk dari kondisi Aly yang wajahnya tampak lebam-lebam. Yah, aly baru saja diberi pukulan oleh ayahnya sendiri, bahkan saat ini ayahnya itu masih terlihat marah terhadapnya.


"Mas, sudah !. Hentikan !." Pekik ibunya Aly dan membantu Aly untuk bangkit dari duduknya.


"Dia terlalu egois, sudah sepantasnya seorang ayah menghukumnya!."


"Fakhri, sudah. Jangan memarahinya, Aly pasti punya alasan kenapa tidak ada disamping Alsya tadi." Ujar Abah mencoba menenangkan amarah besannya.


"Dia sudah sangat keterlaluan selama ini, bang."


"Sudah, ahh. Redakan emosimu ." Nasihat Abah lagi.


Aly yang berada di dalam dekapan sang ibu hanya terdiam sambil mengusap rahangnya sendiri yang terasa kebas sebab pukulan keras yang dihadiahkan oleh ayahnya itu. Aly memang bersalah disini, dia pun tidak memungkirinya dan dia memang sangat pantas mendapatkan amarah dari ayahnya.


Aly memang sangat egois pada Alsya, selama ini. Dia yang dulu sampai merengek pada kedua orang tuanya ingin segera menikahi Alsya, dia yang malah seakan lepas dari tanggung jawabnya sebagai seorang suami dengan memilih masih ingin mengecam pendidikan di pesantren, dia juga yang jarang memperhatikan Alsya disaat Alsya sedang hamil anaknya, dia, dia , dia yang teramat bersalah pada Alsya.


Entah bagaimana reaksi kedua orang tuanya juga kedua mertuanya nanti ketika mereka mengetahui satu fakta lagi tentang Aly yang bisa dikatakan sangat fatal.


"Om, Alsya sedang membutuhkan Aly disisinya, jadi biarkan Aly menemani Alsya di dalam." Annisa mulai bersuara. "Aly, masuklah !."

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Alsya, mbak ?." Alih-alih langsung masuk, Aly malah melontarkan pertanyaan demikian.


"Alsya masih menunggu. Karena kontraksi pembukaannya melambat sebab faktor umurnya yang masih muda." Jelas Annisa pada Aly, namun semua orang yang mendengarnya pun ikut kaget dengan keadaan Alsya sekarang.


"Astaghfirullah... " Aly meraup wajahnya sendiri dengan kasar. "Kalau begitu, Aly masuk dulu, mbak ?!."


Annisa hanya mengangguk mengiyakan.


Aly mulai memasuki ruangan tersebut. Sebelum mendekati tubuh Alsya, Aly dihimbau untuk memakai pakaian sterilisasi sesuai prosedur medis dan setelah selesai dia segera menghampiri istrinya yang masih berjuang sendirian demi melahirkan sang buah hati.


Peluh Alsya sudah membasahi wajahnya bersamaan dengan rintihan Alsya yang merasakan kesakitan di seluruh tubuhnya. Aly mendekati pembaringan Alsya, tangannya menggenggam tangan Alsya yang terasa dingin dan lembab karena keringat.


Alsya seakan tidak menghiraukan apapun lagi disekitarnya, rupanya rasa sakit yang luar biasa itu mengalihkan segalanya.


Mulut Aly bergetar melantunkan dzikir dan shalawat dengan suara lirih, tepat di dekat telinga Alsya.


Setelah beberapa menit melakukan hal demikian, Alsya terlihat lebih tenang meski tangannya masih menggenggam erat tangan suami dan ibunya.


"Istighfar, nak... Astaghfirullaahal Adziim..." Umma juga berbisik di telinga putrinya.


Mulut Aly tidak ada henti-hentinya menyenandungkan sholawat sambil tangan yang bebas dari genggaman jemari Alsya ia usapkan pada perut Alsya dengan lembut, seakan mencoba menenangkan bayinya agar tenang dan tidak menyiksa sang ibunda.


Menurut penuturan sang dokternya, pembukaan Alsya juga masih sangat jauh untuk proses persalinannya.


"Iya, sayang...?."


"Umma..."


"Iya, Al..?."


"Al tidak kuat... Al menyerah..." Ucap Alsya dengan air mata yang terus meluncur dari sudut matanya.


Aly juga tak kuasa menahan air matanya, dia ikut menangis dalam diam, rasanya dia ingin menukar keadaan Alsya dengan dirinya karena tidak sanggup melihat Alsya yang sedang kesakitan.


"Tidak, sayang, jangan menyerah, kamu bisa melakukannya. Jangan kosongkan hatimu, sayang..." Ucap Aly lirih.


"Tapi tubuhku sangat lemas, mas..." Ucap Alsya lagi dengan gelengan kepalanya lemah.


"Al, kamu ingin melihat anakmu, kan ?. Kamu ingin menjadi madrasah pertama untuk anakmu kan, nak ?. Jadi, bertahanlah untuk anakmu, ya...?." Ucap umma memberi support meski air matanya pun sudah menetes tanpa henti.


Alsya memejamkan matanya, dan itu langsung membuat orang-orang menjadi panik. Juga membuat dokter dan perawat segera melakukan tindakan untuk menyadarkannya kembali. Aly dan umma menepi, memberikan ruang untuk para ahli medis melakukan tugasnya.


Para ahli medis itu melakukan tindakan untuk menyadarkan kembali Alsya, mereka tampak cekatan dan terlatih dengan keadaan yang telah dialami Alsya sehingga hanya beberapa menit saja, Alsya sudah kembali terbangun, seketika semuanya bisa bernafas lega.

__ADS_1


"Alsya." Panggil ummanya.


"Sayang."


"Astaghfirullah...!." Alsya bergumam dengan deru nafas panjang.


Aly kembali membisikkan kalimat-kalimat indah sholawat bersamaan dengan usapan lembut tangannya di kepala Alsya.


"Mas...!" Pekik Alsya semakin menggenggam erat tangan dua orang disampingnya.


Dokter yang mendengar jeritan Alsya segera menghampiri dan memeriksa tubuh Alsya yang ternyata perkembangan pembukaannya sudah mencapai tahap akhir.


Sesuai yang diintruksikan, Alsya berjuang sekuat tenaga untuk mengeluarkan bayinya dari rahimnya. Lain lagi dengan Aly yang tidak sanggup melihat proses tersebut memilih menatap wajah sang istri dengan hati dan pikiran penuh dengan doa-doa terbaik untuk kedua orang tercintanya.


Beberapa saat setelah melewati perjuangan yang sungguh melelahkan bagi Alsya, umma tiba-tiba berucap hamdalah. Aly reflek melihat ke arah dokter dan perawat, yang ternyata sang dokter sudah sedang menggendong bayinya terlihat masih merah. Seketika air mata Aly kembali meluncur deras, seakan tak percaya bahwa bayinya sudah selamat lahir ke dunia. Namun ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.


"Dia tidak menangis, dok ?!." Tanya Aly khawatir.


Dokter itu tidak menjawab melainkan langsung melakukan tindakan cepat untuk menyelamatkan bayinya yang ternyata tidak menangis.


Setelah berusaha dengan segala cara, akhirnya bayi merah tersebut menangis meski tidak kencang. Namun itu sudah sangat membuat keluarganya berucap syukur.


Dokter meletakkan bayinya di atas dada Alsya. Dan betapa bahagianya Alsya saat melihat sang buah hati terlahir dengan selamat, membuat tak kuasa menahan air mata.


"Dia anakku, mas ?." Tanya Alsya dengan mata masih terfokus pada wajah bayinya.


Aly tidak menjawab pertanyaan istrinya, namun kecupannya di kening Alsya berkali-kali yang sudah mewakilkan jawabannya.


"Selamat, nak. Umma bangga sama kamu. Jadilah orang tua yang baik untuk anak mu, ya ?." Ujar ummanya.


Alsya menoleh ke arah wajah ibunya. "Makasih, umma..."


"Iya, kalau begitu, umma keluar dulu ya ?."


Alsya mengangguk. Lalu ummanya keluar begitupun dengan para tenaga medis tadi, dan beberapa saat setelahnya datang lagi tiga perawat yang berbeda dari sebelumnya, untuk membersihkan tubuh Alsya juga bayinya.


Aly masih senantiasa menemani Alsya, sampai tiba saatnya dirinya diminta untuk mengumandangkan adzan pada sang anak setelah sebelumnya bayinya dibersihkan terlebih dahulu.


Dengan air mata bahagia, Aly mengumandangkan adzan berikut dengan iqomahnya di telinga sang buah hati dengan suara lirih.


Setelah selesai, bayi itu diletakkan di pangkuan Alsya yang sedikit duduk dengan punggung diberi sanggahan bantal untuk melakukan proses pemberian ASI pertamanya.


___________

__ADS_1


__ADS_2