Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Hampir


__ADS_3

Hari sudah mulai gelap, namun Aly masih belum juga menginjakkan kakinya di rumah. Dan untuk yang kedua kalinya, Alsya mengalami hal demikian, menunggu sang suami pulang.


Jika dulu, dirinya masih biasa saja saat Aly tiba-tiba pulang larut seperti ini, tapi tidak dengan sekarang. Di usia kandungannya yang sudah membesar membuatnya sering kali merasa kekhawatiran yang sangat berlebihan.


Suara dering ponsel membuatnya terkesiap. Alsya segera mengambilnya.


"Hallo, assalamualaikum, mas." Ucap Alsya merasa hatinya sangat lega karena suaminya lah yang menelepon


"Hallo, waalaikum salam, Al. Sayang, maaf kayanya mas tidak bisa pulang malam ini. Mas masih di rumah sakit."


Alsya terdiam. Entah jawaban apa yang harus diberikan kepada suaminya itu ?.


"Al."


"Iya, mas ?."


"Kamu tidak apa-apa kan ?."


"Iya, mas. Aku tidak apa-apa."


"Hafidhz mana ?."


"Dia sudah tidur dari tadi mas."


"Oh syukurlah. Mas sudah meminta mbak Nisa untuk ke rumah menemanimu, mungkin tidak lama dia akan datang."


"Iya, mas."


"Maafkan mas ya, sayang. Nanti tidurnya jangan kemalaman, juga jangan lupa diminum susunya ya. "


"Iya, mas."


"Mas tutup dulu ya?. Assalamualaikum..."


"Waalaikum salam."


Bersamaan dengan matinya sambungan telepon, terdengar suara deru mesin mobil yang memasuki pekarangan rumah. Alsya beranjak dan melihatnya dari jendela. Sebuah mobil yang sangat familiar baginya, yah itu adalah mobil kakaknya, Anisa.


Alsya segera menuju ke pintu utama untuk membukakan pintunya dan mempersilahkan tamunya masuk.


"Assalamualaikum, Al." Ujar Anisa dengan senyuman hangat dan langsung memeluk erat tubuh adiknya.


" Waalaikumsalam, mbak. Mari, masuk, mbak mas."


"Iya, Al. "


Keduanya di persilahkan untuk duduk di sofa ruang tamu. Alsya berniat untuk mengambil suguhan tapi langsung di cegah oleh kakak iparnya karena memang kakak iparnya itu hanya datang untuk mengantarkan istrinya saja.


"Mas Affan tidak ikut menginap ?." Tanya Alsya pada kakak iparnya.


"Tidak, Al. Saya hanya mengantarkan mbak mu saja. Ya sudah, saya pulang dulu, ya ?. Sayang, mas pulang dulu." Ujar Affan pada istrinya.


" Iya, mas." Nisa menyalami tangan suaminya.


Affan sudah keluar pergi. Alsya mengajak kakaknya ke dalam kamar utama yang biasa digunakannya bersama Aly. Keduanya naik ke atas tempat tidur.


"Mbak, mas Aly ngomong apa ke mbak Nisa?."


"Aly cuma ngomong minta tolong sama mbak untuk menjaga mu, katanya dia lagi di rumah sakit nemenin temennya."


Mendengar jawaban Nisa, Alsya hanya bisa menghela nafas panjang. Dia rebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan mata dipejamkan. Entah mengapa hatinya merasa tidak tenang, dia merasa bahwa telah terjadi sesuatu pada suaminya.

__ADS_1


"Al." Nisa memanggil saat melihat wajah adiknya yang terlihat murung.


Mata Alsya kembali terbuka, menatap wajah kakaknya yang sedang menatapnya juga. "Iya, mbak ?." Ujarnya.


"Kamu kenapa?"


"Ahh, aku tidak apa-apa mbak." Decak Alsya kembali memejamkan matanya membuat Nisa semakin penasaran dengan sikap adik satu-satunya itu.


Nisa menghadapkan tubuhnya ke arah Alsya, masih menatap lekat wajah adiknya."Al, kamu bisa cerita ke mbak." Ucap Nisa lagi.


"Entahlah, mbak, aku juga bingung." Jawab Alsya tanpa membuka matanya.


"Apa kamu ada masalah dengan suamimu ?."


Tidak ada jawaban dari Alsya. Alsya semakin memejamkan matanya kuat. Hatinya tiba-tiba gelisah dan semakin tidak tenang dan perlahan setetes air mata tiba-tiba sudah menggenang di sudut matanya.


"Alsya..."


"Aku merasa mas Aly menyembunyikan sesuatu dariku, mbak.." ucap Alsya lirih lalu mulai membuka matanya dan menatap wajah kakaknya yang terlihat cemas.


Alsya menggeser tubuhnya dan meletakkan kepalanya di pangkuan sang kakak menyembunyikan wajahnya pada tubuh kakaknya dengan air mata yang semakin deras juga disertai isakan tangisnya.


Tangan Nisa mengusap lembut kepala adiknya. Alsya memang seperti ini jika ada masalah, dia akan menjadikan pangkuan kakaknya untuk meluapkan keresahan hatinya.


"Jangan mengatakan sesuatu yang belum kamu tau pasti, Al. Kamu harus percaya sama suami kamu." Nasihat Nisa lembut.


"Tidak mbak, aku yakin mas Aly telah berbohong padaku... Aku yakin itu... Hiks." Ucap Alsya semakin terisak.


"Kamu yakin ?."


Alsya mengangguk.


Nisa terdiam, langsung teringat pada bayangannya beberapa bulan lalu saat dimana dia melihat seseorang yang sama persis seperti adik iparnya sedang berjalan bersama seorang wanita di sebuah restoran.


"Sudah, jangan dipikirkan terus, itu tidak baik untuk kesehatan kamu dan kehamilanmu, Al." Nisa mengusap-usap punggung Alsya agar tangis adiknya mereda.


"Bagaimana aku tidak memikirkannya, mbak ?. Lihatlah, mas Aly sekarang tidak pulang..." Decak Alsya kesal.


"Iya iya, mbak ngerti perasaan kamu, tapi mbak minta kamu juga harus pikirkan kandungan kamu, kalau kamu menangis anak di dalam kandungan kamu juga ikut bersedih."


"Bagaimana dengan mas Aly ?."


"Nanti mbak akan minta bantuan suami mbak."


Alsya mendongakkan kepalanya menatap wajah Nisa. "Bener ?."


"Iya. Sudah ahh, sekarang kamu tidur." Nisa mengusap air mata yang masih membasahi pipi Alsya. " Mbak mau ke kamar mandi dulu." Ucap nya lagi.


Alsya menurut, menghentikan tangisnya lalu bangkit dari tempat tidur.


"Ehh, kamu mau kemana ?." Tanya Nisa bingung melihat Alsya akan keluar dari kamar.


"Aku mau ke kamar Hafidhz dulu mbak." Jawab Alsya lalu kembali melanjutkan langkahnya.


✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓°°


Pagi menyapa, Aly baru saja selesai memurajaah hapalannya sambil tangannya masih mengusap lembut kepala bayinya yang sedang tidur disamping Halimah. Seketika matanya bertemu pandang dengan mata bening sang istri, menyelami masing-masing kedalaman manik keduanya dan sesaat kemudian saling melempar senyuman manis. Tangan Aly terulur membelai pipi Halimah yang langsung memejamkan matanya meresapi kelembutan kasih sayang dari telapak tangan suaminya.


"Dek."


Halimah membuka matanya. "Iya, mas ?."

__ADS_1


"Apa kamu yakin, untuk menunda menjelaskan semuanya pada Alsya ?." Tanya Aly masih ragu atas permintaan istrinya tadi malam yang mengatakan jika Aly sebaiknya menunda untuk memberitahu Alsya tentang hubungannya dengan Halimah.


Halimah tersenyum lembut dengan tatapan mata terfokus pada mata suaminya. "Iya, mas. "


"Kenapa ?."


"Aku tidak mau kandungan sahabatku menjadi terganggu karena berita itu."


Aly mendesah pasrah. Dia sudah memikirkannya sebelumnya jika Halimah pasti akan mengatakan hal tersebut. Iya, dia juga memang khawatir jika sampai Alsya tahu tentang hal itu karena pasti akan berdampak pada kehamilannya.


"Baiklah, untuk kebaikan kalian berdua." Aly kembali mengusap wajah istrinya.


"Mas sebaiknya kamu pergilah."


"Apa maksudmu ?." Aly sedikit terkejut tiba-tiba Halimah berkata seperti itu.


"Pergilah ke rumah mu. Alsya pasti sedang menunggumu, mas."


"Bagaimana dengan kamu sendiri ?. "


"Aku tidak apa-apa, mas. Lagian sebentar lagi ummi juga akan datang kan ?."


"Tapi mas tidak bisa meninggalkan kalian disini dek."


"Mas..." Halimah menatap tajam wajah suaminya.


Aly kembali hanya bisa pasrah menuruti ucapan istrinya. "Baiklah, mas akan pergi, tapi tunggu dulu sampai ummi datang kesini." Ucap Aly tak bisa dibantah lagi.


"Assalamualaikum..." Seseorang mengucap salam bersamaan dengan pintu kamar yang dibuka.


"Waalaikumsalam..." Aly dan Halimah langsung menoleh ke arah pintu. Disana terlihat ummi dan disusul dengan dua khodam ndalem, yang tentunya salah satunya adalah Fikri.


Aly segera menyalami tangan mertuanya kemudian Halimah yang juga melakukan hal yang sama.


Dan sesuai kesepakatan tadi, Aly akhirnya pamit pergi pada semua orang disana untuk pulang ke rumahnya.


Lorong rumah sakit sudah mulai ramai karena sudah masuk waktunya jam besuk pasien. Aly terus berjalan menyusuri lorong dan ternyata berpapasan dengan adik dari suami kakak iparnya, Affin.


"Aly ?." Sapa Affin tersenyum padanya.


"Iya," keduanya berjabat tangan dengan saling melempar senyum ramah.


"Dari mana ?."


"Oh, ini... Itu habis menjenguk teman sakit." Jawab Aly sedikit gelagapan.


Affin memicingkan matanya menatap lekat wajah pria dihadapannya lalu melihat kesekeliling Aly seperti mencari sesuatu. Kemudian tersenyum dan manggut-manggut mengiyakan.


Aly sedikit lega melihat Affin seperti mempercayai ucapannya barusan. Tapi dia tidak ingin semakin berkelanjutan. "Baiklah, saya duluan ya, assalamualaikum.." ucap Aly terburu-buru namun masih terlihat santai.


"Oh iya, waalaikumsalam."


Keduanya berpisah dengan arah langkah kaki yang berbeda haluan.


Aly semakin mempercepat langkahnya menjauh dari Affin. Dia benar-benar merasa seperti seorang pembohong besar yang sedang berusaha menyelamatkan kebohongannya dengan berlari menjauh. Aly juga baru sadar jika rumah sakit yang telah didatanginya adalah milik pria tadi, adik dari kakak iparnya Alsya. Karena sudah pasti dia sedang melakukan kunjungan di tempat miliknya.


✓✓✓✓✓✓✓✓


Maaf, author baru bisa up lagi🙏🏻 kemarin-kemarin author sedang sibuk karena acara tunangan di dunia nyata 🙏🏻😊.


tapi Insya Allah, mulai sekarang author akan sering update lagi🥰🥰

__ADS_1


Terus setia menunggu alur selanjutnya yaa readers sayang...🥰🥰❤️❤️


Salam bahagia untuk kalian readers 🙏🏻🥰🥰🥰


__ADS_2