
Malam istimewa untuk pengantin baru. Semua orang membubarkan diri untuk istirahat.
"Kalian sebaiknya istirahatlah, pasti lelah seharian penuh melayani tamu undangan." Ningrum menghampiri anak dan menantunya.
Anand menatap wajah istrinya yang memang terlihat sangat kelelahan. "Kita masuk ke kamar, yang ?." Tanyanya pada Alsya.
Alsya yang memang sudah sangat lelah, menganggukkan kepalanya tanda menyetujui.
"Baiklah, ayo ?!. "Anand menggandeng tangan Alsya, membantunya bangkit dari duduknya kemudian menatap wajah ibunya lagi . "Ma, kita masuk ke kamar dulu ya ?."
"iya, sana."
Keduanya memasuki kamar pengantin yang sebelumnya dipakai Alsya saat datang ke rumah ini.
Keduanya masih bergandengan tangan saat memasuki kamar tersebut. Ruangan tersebut sudah rapi tidak seperti sebelumnya yang masih sangat berantakan karena dipakai untuk tempat merias Alsya.
" Mau mandi ?." Tanya Anand saat mereka sudah berada di dalam kamar.
"Iya, badanku gerah sekali."
"Ya sudah, kamu dulu gih yang mandi nanti gantian."
Alsya mengangguk mengiyakan lalu berjalan ke arah pintu kamar mandi dan masuk ke dalamnya.
sampai di dalam, Alsya ingin melepaskan gaunnya tapi tangan nya tidak sampai untuk melepaskan kancing-kancing kecil di belakangnya dan akhirnya dia keluar lagi untuk meminta bantuan Anand untuk melepaskan kancing-kancing tersebut.
Anand dengan penuh perhatian membantunya meski sempat terkejut saat melihat Alsya keluar dari kamar mandi dengan tanpa mengenakkan hijabnya karena itu adalah pertama kalinya Anand melihat rambut Alsya.
Semua kancing sudah dilepas, Anand juga membantu Alsya meloloskan gaunnya dari tubuh Alsya.
Melihat pemandangan tubuh Alsya yang dibalut oleh celana legging dan baju kaos polos ketat membuat Anand tertegun melihatnya. Dia langsung mengagumi keindahan tubuh Alsya yang seperti itu dan tanpa sadar Anand malah memeluk Alsya.
Alsya membeku di tempatnya karena salah tingkah. Dia sebenarnya sangat malu berpenampilan seperti itu di hadapan Anand, tapi saat teringat statusnya sekarang, dia mencoba untuk biasa saja sebab Anand sangatlah berhak terhadap tubuhnya.
Tanpa kata dan pergerakan lagi, keduanya hanya terdiam sambil merasakan kenyamanan yang terasa begitu kuat.
"A'."
"Biarkan seperti ini dulu, sayang." Anand semakin mengencangkan pelukannya.
Alsya hanya terdiam patuh kemudian setelah beberapa menit, dia merasakan Anand menguraikan pelukannya.
"Bidadariku,." Ucap Anand sambil membelai lembut pipi istrinya.
__ADS_1
Alsya menatapnya tersenyum manis. "A', boleh aku mandi sekarang ?." Tanya Alsya menatap lembut mata suaminya.
"Iya, boleh." Anand menjauhkan tangannya dari wajah Alsya.
Alsya tersenyum kemudian memasuki kamar mandi dan membersihkan diri lalu setelah selesai bergantian dengan Anand yang juga ingin membersihkan diri.
Selesai mandi, Anand mendekati Alsya yang sedang duduk di tepi tempat tidur.
Alsya menatap wajah suaminya yang jaraknya sangat dekat dihadapannya. Sedari masuk ke dalam kamar, senyuman manis dan tatapan Anand membuat Alsya salah tingkah dan grogi. Alsya memalingkan wajahnya karena sudah tak sanggup ditatap lekat oleh sang suaminya itu.
"Hei, kenapa memalingkan wajahmu ?." Anand membingkai wajah Alsya dengan kedua tangannya. "Kenapa hem ?." Tanyanya masih terus menatap wajah cantik istrinya.
Alsya menggeleng. "Aa ngeliatinnya kaya gitu banget sih ?." Decak Alsya mencoba menahan rona merah di pipinya tapi rasanya sangatlah sulit.
"Kenapa memangnya ?, Sudah halal ini kan ?."
"Yah, tapi aku malu..."
"Kenapa harus malu ?, Semua yang ada di kamu adalah milikku, begitupun sebaliknya." Anand membawa tubuh Alsya ke dalam rengkuhan kedua tangannya. "Makasih, sudah mau menjadi pendamping hidupku." Ucapnya tulus sambil menciumi puncak kepala istrinya.
Alsya menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya yang baru diresmikan tadi pagi. Dia merasakan desiran lembut menyapa hatinya. Dia mendongak menatap wajah sang suaminya. "Aku yang sangat berterimakasih padamu karena mau menerimaku yang merupakan janda ini." Ujarnya tak kalah tulusnya juga.
Anand mencium kening istrinya. "Ada pepatah mengatakan, janda lebih menarik." Anand terkekeh diakhir kalimat nya.
"Aaa... !. Sayang lepaskan, ini namanya KDRT !." Anand menarik tangan mungil istrinya yang sedang menyiksa tubuhnya. Mengunci kedua tangan Alsya di belakang tubuhnya. "Kamu ini yaa, belum sehari menjadi istri sudah menganiaya suami !." Anand menatap tajam wajah istrinya.
"Apa ?, Dasar lemah, dicubit segitiga aja sudah kesakitan." Alsya bersikap menantang.
"Oh ya ?, Kamu bilang aku lemah ?." Tatapan Anand mulai aneh membuat Alsya bergidik ngeri.
"Ehh, kenapa melihatnya jadi seperti itu ?!." Pekik Alsya ingin menghindar tapi tubuhnya dikunci kuat oleh kedua lengan Anand.
Anand semakin merapatkan tubuhnya pada tubuh Alsya. "Kamu belum mengetahui aku yang sesungguhnya sayang." Bisik Anand tepat di dekat telinga Alsya.
Glek
Hembusan nafas Anand yang menerpa bulu kuduknya saat berbicara semakin membuat tubuh Alsya menegang seketika. "A'..." Panggilnya lirih saat merasakan pelukan Anand semakin erat.
"Milikmu adalah milikku, dan milikku adalah milikmu." Ucap Anand dengan suara yang semakin lirih hampir tak terdengar.
Alsya memejamkan matanya saat merasakan Anand menciumi wajahnya. Dia semakin dibuat tegang atas perlakuan lembut Anand saat ini. Dia yang telah lama tidak pernah mendapatkan sentuhan dari seorang pria terasa sangatlah asing saat Anand menyentuh titik-titik sensitifnya.
"Boleh kan ?." Suara Anand sudah semakin lirih.
__ADS_1
Alsya tidak mungkin menolak permintaan suaminya, dia mengangguk malu-malu menyetujui keinginan sang suami untuk menjemput pahala pertamanya di malam pertama mereka.
Rembulan yang mengintip dari celah-celah jendela menjadi saksi bisu atas bersatunya dua insan yang sedang memadu kasih dengan kehangatan dan kenikmatan yang mendatangkan pahala.
Suasana remang-remang di dalam kamar itu diisi dengan kegiatan pengantin baru.
Ladang yang sempat gersang kembali disiram dan ditanami benih baru dari orang baru yang memberikan bibit premiumnya untuk pertama kalinya.
Menjalin keterikatan di dalam berumah tangga memang salah satunya adalah urusan nafkah bathin. Dimana disana mereka semakin akan merasa terikat dan saling membutuhkan satu sama lainnya.
Begitupun menjadi salah satu sebab seseorang melaksanakan pernikahan, Dimana sesungguhnya untuk mendapatkan keturunan yang akan menjadi generasi penerus ummat Islam juga bangsanya.
Kegiatan berlalu. Alsya masih berada dalam dekapan hangat tubuh sang suami. Dia yang sudah sangat kelelahan kini hanya bisa berbaring lemah untuk mengistirahatkan tubuhnya setelah kegiatan tangan menanam itu.
Anand memandang wajah cantik istrinya yang terlihat sangat meneduhkan. Rasa cintanya pada sang istri semakin kuat setelah selesai melakukan malam melelahkan itu.
Dia memang tidak mendapatkan seorang gadis, tapi tidak ada penyesalan sama sekali dalam hatinya karena dia mencintai dan menyayangi Alsya tulus apa adanya.
Anand mencium kening istrinya lama sambil meresapi kehangatan yang menjalar ke relung hatinya. Anand memeluk erat tubuh mungil istrinya.
"Jangan langsung tidur sayang." Ucap Anand dengan suara yang sangat lembut.
Alsya menggeliat kemudian menatap wajah suaminya. "Jam berapa sekarang ?." Tanyanya masih sangat kelelahan. Meluapkan lagi wajahnya ke dalam rengkuhan tubuh suaminya.
Anand tersenyum kecil melihat istrinya itu yang sampai kelelahan dibuatnya. Matanya melirik jam dinding. "Jam setengah dua."
"Hmm, baiklah. Tapi biarkan aku istirahat dulu sebentar." Alsya merengek manja semakin merapatkan tubuhnya pada tubuh Anand.
Anand mengusap-usap lembut punggung Alsya. "Iya, tapi sebaiknya kita membersihkan diri dulu. Ayo ?!, Tidak lama kok."
Dengan sangat malas akhirnya Alsya menyetujuinya dan ikut turun menyusul Anand yang berjalan menuju kamar mandi.
Dua puluh menit mereka mandi wajib bersama di dalam kamar mandi dan setelah selesai memakai pakaiannya, mereka berdua kembali menaiki tempat tidur untuk beristirahat.
Selama ini Alsya tidak pernah merasakan kenyamanan saat tidurnya. Tapi setelah kegiatan tadi, kini dia telah menemukannya kembali. Alsya merasa tidurnya begitu nyaman saat berada dalam dekapan hangat tubuh suaminya.
Keduanya terlelap mengarungi lautan mimpi bersama-sama.
__ADS_1
✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓