
Hari ke tujuh, liburan Anand dan Alsya, tapi mereka memilih tinggal diam di dalam hotel. Hal itu dikarenakan kondisi tubuh Alsya yang tiba-tiba demam tinggi tadi pagi.
Anand sekalipun tak pernah jauh dari sisi istrinya. Dia sudah menghubungi dokter untuk memeriksakan kondisi Alsya dan setelah diperiksa, ternyata Alsya mengalami kondisi terkejut akan suhu disini. Alsya yang tidak kuat menahan rasa dingin cuaca musim salju membuatnya harus istirahat cukup untuk menurunkan demamnya.
Suhu kamar pun dinaikkan menjadi dua kali lipat dari sebelum-sebelumnya oleh Anand karena saking khawatirnya dia terhadap sang istri.
Dari pagi Alsya masih terus memejamkan matanya mungkin karena badannya yang kurang sehat membuatnya tertidur sangat nyenyak hingga berjam-jam lamanya.
"Sayang... Alsya..." Panggil Anand dengan suara yang sangat lembut untuk membangunkan istrinya.
Sudah waktunya Alsya meminum obatnya jadi tega tak tega Anand harus mengganggu tidur nyenyak sang istri.
Alsya menggeliatkan tubuhnya dan perlahan matanya terbuka. "A'..." Gumamnya lirih.
"Makan dulu yuk ?, Terus minum obat sayang."
"Memangnya ini jam berapa ?."
"Sudah jam satu siang."
Alsya melebarkan matanya kemudian menatap wajah suaminya. "Aa'sudah sholat dhuhur ?." Tanyanya kemudian.
"Sudah tadi, maaf tidak membangunkanmu karena tadi panas kamu juga belum turun." Ucap Anand menyesal.
Dia menempelkan punggung tangannya di kening, pipi dan leher Alsya yang memang benar jika sekarang panas Alsya sudah turun meski masih sedikit anget.
"Tidak apa-apa, A. Aku mau sholat dulu.." Alsya mencoba duduk dan Anand segera membantunya.
"Aku antar ke kamar mandinya, ya ?."
"Iya."
Alsya di tuntun memasuki kamar mandi dan Anand segera keluar sebelum istrinya itu menutup pintu kamar mandinya.
Alsya sholat dengan keadaan yang lemas dan tak bertenaga. Ditambah cuaca yang masih terasa dingin membuatnya semakin menggigil.
Anand hanya terdiam menyaksikan istrinya sholat. Dia tidak akan pergi kemana-mana sambil menunggu istrinya itu selesai sholat.
Usai salam terakhir penutup sholat, Anand mendekat dan membantu istrinya melepaskan mukenanya dan membereskannya kemudian kembali memapah tubuh Alsya untuk naik ke atas tempat tidur lagi.
"Sekarang makan ya ?." Anand mengambil mangkuk yang berisi bubur di atas meja.
Dengan penuh telaten, Anand menyuapi Alsya hingga hampir habis dan Alsya sudah tidak mau melanjutkan makannya lagi.
"Aa' makan belum ?." Tanya Alsya karena khawatir jika suaminya itu terlalu sibuk mengurusnya sehingga melupakan dirinya sendiri.
Anand meletakkan mangkuknya di meja lagi kemudian dia duduk di samping Alsya. Membawa tubuh Alsya ke dalam pelukannya untuk membagi kehangatan.
"Sudah, aku sudah makan tadi."
"Kapan ?."
"Eee, tadi saat kamu tertidur."
"Jam berapa ?."
Anand terdiam karena bingung ingin menjawab pertanyaan Alsya. "Sayang..."
"Aa' ngurusin aku tapi Aa' malah mengabaikan kesehatan diri sendiri." Sewot Alsya tidak suka dengan sikap suaminya yang seperti itu.
"Iya, nanti aku makan, sayang."
"Iya, kapan ?."
__ADS_1
"Nanti nunggu pesanan datang. Aku sedang memesan makanan tapi belum datang."
Alsya memicingkan matanya menatap lekat wajah suaminya. "Bener ?." Tanyanya masih belum percaya.
"Bener sayang..." Anand mencoba meyakinkan.
Alsya mengangguk percaya.
Hawa dingin memang tidak terlalu menusuk jika di dalam kamar, tapi tetap saja masih terasa dinginnya meski hanya sekilas-sekilas saja.
"Sayang, kamu mau tau sesuatu tidak ?." Ujar Anand tiba-tiba.
Alsya mendongakkan kepalanya. "Apa ?." Tanyanya penasaran.
"Kamu tau?, Hari ini ada acara penting di rumah utama keluargaku di Jakarta."
"Acara apa?."
"Acara lamaran Nareena."
"Masya Allah... Benarkah ?!." Pekik Alsya sangat terkejut dengan berita yang di dengarnya. "Akhirnya Nareen menemukan jodohnya juga." Gumam Alsya lirih tapi masih bisa di dengar oleh suaminya.
Anand semakin mengeratkan pelukannya. "Kamu tau siapa pria yang akan menikahi Nareen ?." Bisik Anand membuat Alsya sedikit heran.
"Siapa memangnya. ?." Tanyanya.
"Ayahnya Fazal dan Keyya, sayang."
Deg
Alsya langsung membeku di tempatnya. Dia sangat tidak menyangka jika ternyata sepupu dari suaminya malah akan menikah dengan mantan suaminya. Tidak adakah seorang lain lagi selain pria yang dulu pernah menyakitinya itu ?!.
"Kenapa sayang ?."
"Kurasa tidak, tapi aku tidak tau apakah Nareena tau atau tidak siapa Aly ."
Alsya mengangguk kemudian disibukkan dengan pemikirannya sendiri. Rasanya seperti tidak rela jika sepupu suaminya itu harus menikah dengan seorang pria seperti Aly. Pria penuh kebohongan yang bahkan sangatlah tidak dewasa untuk bertindak. Dia takut Nareena akan merasakan hal yang sama seperti yang dia rasakan dulu saat bersama Aly.
"Jangan berburuk sangka dulu, sayang. Kita tidak tau apakah memang Aly itu sudah berubah atau belum. " Anand seperti mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh Alsya.
Alsya menatap lekat wajah suaminya. Tatapan mata keduanya begitu mendalam. "Aku tidak tau apakah memang dia sudah berubah, tapi aku sangat mengkhawatirkan Nareen, aku takut dia akan merasakan hal yang sama sepertiku dulu." Ucap Alsya mengeluarkan unek-unek di dalam hati dan pikirannya.
Tangan Anand membingkai wajah istrinya. Dia tersenyum teduh menatap wajah ayu Alsya. "Setiap orang pasti akan mengalami perubahan. Apalagi jika pernah mengalami keterpurukan. Aku yakin, Aly pasti tidak akan melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Dia sudah dewasa dan pasti sudah lebih faham." Suaminya ini memang selalu bijak dalam segala hal.
Anand selalu mengerti dan memahami setiap situasi. Dia juga selalu menunjukkan sikap pengertiannya pada Alsya.
Alsya menghambur memeluk tubuh suaminya lagi. "Iya, A. Semoga saja dia memang sudah berubah." Ucapnya.
"Aamiin..."
"Aamiin..."
"Badan kamu sudah lebih enak sayang ?."
"Lumayan. Tidak selemas tadi ."
"Alhamdulillah.."
"Oh ya, A. Dimana Nareen dan Aly bertemu ?." Tanya Alsya penasaran dengan kisah cinta sepupu dari suaminya itu.
"Hubungan antar bos dan sekretaris."
"Maksudnya ?."
__ADS_1
"Sayang, kamu tau kan Nareena adalah seorang sekretaris ?."
Alsya mengangguk.
"Yah, itu. Nareena itu kerja di perusahaan Aly dan menjadi sekretarisnya Aly."
Alsya reflek mendongak. "Dunia sungguh sempit." Ucap Alsya langsung disambut kekehan oleh suaminya.
Aly mencium pipi istrinya. "Iya, sangat sempit untuk jalur jodoh. Seperti kisah kita yang juga berada dalam lingkaran dunia itu sempit."
Tatapan mata keduanya saling mengunci dengan senyuman manis yang saling memberi.
"Masih ingat, awal pertama kita bertemu, Hem ?."
"Masih sangat mengingatnya. Aa' adalah orang baik yang aku temui saat di dalam kereta menuju kota Cirebon."
"Hahaha iya, ternyata kamu masih sangat mengingatnya, sayang."
Keduanya tertawa lepas membayangkan saat perjumpaan pertama itu terjadi.
"Kamu tau, waktu pertama kali aku melihatmu, aku langsung jatuh hati saat pandangan pertama. Aku mengagumimu karena sikap lembut kamu."
"Tapi, waktu itu aku sedang membawa Fazal ?."
"Iya, dan dari situ juga aku merasa putus cinta. Hehe aku mengira jika kamu memiliki suami."
Alsya tersenyum mendengarnya. "Dan ternyata aku seorang janda ?."
"Janda yang menggoda. Hahaha !!."
"Aa' ihh !!."
Hilang sudah rasa lemas Alsya karena sakit. Candaannya bersama sang suami membuatnya semakin sehat dan bahkan bisa mencubit perut suaminya itu dengan sangat tak berperasaan !.
"Sayang... Sakit sekali..." Anand mengadu sambil tangannya mengusap-usap perutnya yang tadi di cubit Alsya.
Alsya hanya tersenyum menang. "Lagian suruh siapa ngomong kaya gitu ?!." Sungutnya menatap tajam wajah suaminya.
"Iya, iya, sayang. Maaf. Aku bercanda kok. Tapi memang beneran, waktu itu jika saja aku tidak melihat kamu membawa bayi aku pasti akan langsung gencar mengejarmu."
"Baby sitter juga menggendong bayi ?!."
"Iya, tapi gak ada baby sitter yang dipanggil ummi oleh anak asuhannya."
Alsya terdiam karena membenarkan ucapan suaminya. Dia tersenyum kemudian melihat ke arah perut Anand tepat dimana tadi dia mencubitnya. Tangan Alsya terulur dan membelai kulit putih yang memerah itu. "Sakit ya ?."
"Perih sayang... Lihatlah, sampai merah kata gitu,." Anand mulai mendramatisir.
Alsya hanya memutar bola matanya malas. Suaminya ini memang selalu bisa mencari kesempatan dalam kesempitan.
"Kamu sudah sehat kan, sayang ?." Bisik Anand kembali memeluk tubuh Alsya.
Alsya mengangguk mengiyakan.
"Mau ya ?."
Alsya faham akan maksud dari pertanyaan itu. Dia tersenyum dan mengangguk mengiyakan.
Anand tersenyum senang mendapati persetujuan dari istrinya.
Berbagi kehangatan dalam balutan cinta di dalam rumah tangga, mereka lakukan. Hal yang semakin mengikat dua hati, dua jiwa, dan dua raga.
Siang hangat dalam balutan dinginnya musim salju di negeri Ottoman.
__ADS_1
✓✓✓✓✓✓✓✓