
Setelah hampir 3 jam perjalanan darat maupun udara, akhirnya Leon telah sampai di sebuah hotel yang akan ia tempati selama ia disana. Besok ia berencana untuk mendatangi Panti asuhan itu terlebih dahulu sebelum ia menemui Vanya.
Namun baru saja ia akan memejamkan mata, pintu kamarnya diketuk oleh seseorang. Dengan malas, Leon berjalan dan membuka pintu itu.
''Ada apa, Brian? Aku ingin istirahat,'' ucap Leon saat melihat sosok asistennya tersebut didepan matanya.
''A-ada hal yang harus saya sampaikan pada anda Tuan. Ini menyangkut Nona,'' ucap Brian yang terlihat hati-hati dalam berucap. Tentu itu menimbulkan pertanyaan di benak Leon. Ada apakah dengan adiknya.
''Masuklah,'' sahut Leon seraya meninggalkannya dan masuk ke dalam sana. Brian pun mengekor di belakang Bos-nya itu.
''Ada apa?'' tanya Leon pada asistennya. Kini keduanya telah berada di sofa.
''Sepertinya kita harus bertindak sekarang, Tuan. Saya mendapatkan laporan dari anak buah saya. Sudah seminggu ini Nona Ella berada di rumah Marcell, Tuan. Laki-laki itu mengurung Nona Ella karena mengetahui hubungan gelap Nona Ella dengan Arga Wijaya, Tuan.'' ucap Brian yang memulai menyampaikan laporannya.
''What? Da** it.'' umpat Leon saat mendengarnya.
''Ba-bahkan Nona sempat mendapatkan perlakuan kasar dari Marcell, Tuan. Puncaknya pada saat dua hari lalu. Waktu itu Arga mendatangi rumah Marcell, keduanya terlibat perkelahian. Disaat itu Nona Ella tengah pergi bersama bodyguard ke sebuah apotek terdekat. Setelah Nona Ella kembali, Nona Ella melihat perkelahian mereka. Nona Ella datang dan menghampiri mereka. Saat ingin membela Arga, Nona Ella justru menjadi bulan-bulanan Marcell, Tuan. Sedangkan Arga sendiri dikeroyok oleh kedua bodyguard Marcell.'' ucap Brian. Seketika membuat Leon murka ia bangkit dari duduknya, berbagai umpatan keluar dari mulutnya kala mendengar bagaimana penderitaan adiknya itu.
''Sialan-sialan. Ini tidak bisa di tunda lagi, Brian. Kita harus segera menjemput adikku. Siapkan semuanya, Brian. Aku mau kita pergi sekarang juga,'' bentak Leon pada asistennya. Ia masih terbawa emosi saat ini. Brian yang menyadarinya hanya bisa diam. Ia tahu betul bagaimana peringai Bos-nya tersebut.
''Tahan dulu, Tuan. Saya mendapatkan informasi jika malam ini Marcell akan pergi ke luar kota. Disaat itu kita bisa mendatangi rumah itu dan membawa Nona Ella, Tuan.'' ucap Brian yang memberi saran. Ia tahu saat ini Leon masih dalam keadaan belum bisa mengontrol emosinya, oleh karena itu ia ingin meredamnya meskipun itu belum tentu berhasil.
''APA? Kau bilang harus tunggu dulu, hah? Kamu tahu betul Brian bagaimana aku sangat ingin bertemu dengan adikku itu. Cepat lakukan perintahku sekarang!'' Leon sampai mencengkeram kuat kerah kemeja Brian dan membentaknya. Ia sangat emosi mendengar keadaan adik tercinta nya itu.
''Baik, Tuan. Saya akan menyiapkan semuanya terlebih dulu,'' usai mengatakan itu, Brian pun pergi meninggalkan kamar Leon.
Satu jam berlalu, pintu kamar Leon kembali di ketuk. Ia yakin jika saat ini Brian-lah yang mengetuknya.
__ADS_1
ceklek
"Mari, Tuan. Mobil sudah siap," ternyata benar. Tanpa menunggu lagi, Leon pun pergi dari sana bersama Brian.
Setelah mengendarai selama hampir dua jam, mobil yang ditumpangi oleh Leon dan asistennya sudah sampai di sebuah pertigaan jalan yang kanan kiri nya terdapat pagar-pagar besar. Rumah Marcell memang berada di kawasan perumahan elit disana.
''Yang mana rumahnya?'' tanya Leon.
''Sebelah kanan jalan no.2 dari sini Tuan.'' ucap Brian sambil menunjuk ke salah satu gerbang. Leon tampak mengangguk sambil mengikuti arah tunjuk Brian.
''Kapan kalian akan masuk?'' tanya Leon lagi.
''Menunggu Pemilik rumah itu keluar Tuan. Mungkin sebentar lagi,'' ucap Brian.
Leon serta yang lainnya akhirnya menunggu disana. Sedangkan anak buah Brian yang akan masuk ke dalam rumah Marcell sudah berada di dalam dua mobil hitam yang ada di seberang jalan. Itu dilakukan demi menghilangkan rasa curiga orang disekitarnya.
Setelah makan malam berlangsung, Marcell dan Vanya tak saling bicara. Keduanya saling diam menikmati makan malamnya.
''Setelah ini aku akan berangkat, Vanya. Kamu tak apa-apa kan ku tinggal?'' tanya Marcell saat mereka sudah selesai dengan makan malam mereka.
Vanya hanya menjawab gelengan kepala saja. Tapi bagi Marcell itu sudah cukup. Pasalnya sejak dua hari ini Vanya tak pernah merespon ucapannya.
Selesai dengan makan malam mereka, Vanya masuk ke dalam kamar. Sedangkan Marcell masuk ke dalam ruang kerjanya.
''Dengar. Kalian tetap berjaga disini. Aku tak mau mendengar jika kalian lalai dalam menjaga wanitaku. Ingat! Jangan biarkan Arga datang kesini dan menemui Vanya. Paham?'' ucap Marcell dengan tegas. Saat ini ia tengah bicara dengan keempat bodyguard yang ia tugaskan untuk menjaga rumah. Lebih tepatnya menjaga Vanya dari jangkauan Arga. Karena ia yakin Arga pasti akan kembali mendatangi rumahnya itu.
''Baik, Tuan.'' jawab keempat bodyguard itu dengan serempak. Marcell mengangguk mendengar ucapan mereka.
__ADS_1
''Pergilah,'' titah Marcell. Lalu keempat bodyguard itu langsung meninggalkan ruang kerja itu.
Sepeninggalnya keempat bodyguard tadi, Marcell segera mengecek beberapa dokumen yang akan ia gunakan nanti di sana. Ia memasukkan beberapa map ke dalam tas kerjanya. Terakhir ia mengecek ke layar komputernya, melihat seluruh CCTV yang ada di rumahnya. Setelah memastikan jika semua CCTV nya telah aktif dan dalam keadaan baik-baik saja, Marcell pun keluar dari sana.
Sambil menenteng tas kerja, Marcell ingin menghampiri kamar Vanya untuk terakhir kalinya sebelum ia benar-benar berangkat ke Surabaya.
ceklek
Marcell melihat Vanya sudah berada diatas ranjangnya. Laki-laki itu masuk dan berjalan menghampiri Vanya di sana.
''Aku berangkat sekarang, Vanya.'' ucap Marcell setelah tiba di sebelah ranjang Vanya.
Vanya tampak menganggukkan kepala meski tak melihat ke arah Marcell.
cup
Marcell memberikan sebuah kecupan hangat di puncak kepala Vanya. Vanya hanya diam tak bereaksi. Bahkan untuk melihat wajah Marcell pun enggan. Marcell pun segera keluar dari sana mengingat sudah wakyia berangkat.
Vanya hanya melihat punggung Marcell yang berjalan menuju ke arah pintunya.
'Selamat tinggal, Marcell. Hiduplah seperti apa yang kau inginkan meskiutak bersamaku. Aku sudah menyerah akan semuanya. Bahkan aku sudah memaafkan semua kesalahanmu. Semoga kita tidak bertemu lagi, Marcell.' gumam Vanya setelah pintu kamarnya tertutup sempurna.
Setelah berpamitan dengan Vanya, Marcell pun pergi dengan menggunakan mobil. Dengan diantar sopir, Marcell menuju ke bandara Internasional Soekarno-Hatta. Marcell yang tengah sibuk dengan ponselnya, tak menyadari jika ada empat mobil hitam yang berada di sekitar rumahnya.
''Cepat masuk sekarang,'' titah Leon di dalam mobil. Brian yang mendengarnya langsung menekan Handie talkie miliknya yang terhubung ke seluruh anak buahnya.
''Sekarang,''
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...