Sang Penakluk Cassanova

Sang Penakluk Cassanova
Bab 15 Pulang


__ADS_3

Tak terasa waktu berlalu sangat cepat. Sinar matahari yang tadinya masih sangat terik kini semakin lama kian meredup. Angin semakin lama semakin terasa mengusik permukaan kulit.


Waktu saat ini menunjukkan sudah pukul lima sore hari, membuat Vanya mau tak mau mengakhiri pertemuannya dengan seluruh penghuni panti. Jika saja malam ini ia tak ada acara, mungkin ia akan bermalam disini. Mengingat memang dirinya sudah lama tidak menginap dan menghabiskan malam dengan adik-adiknya.


"Kenapa kakak pulang sekarang? Aku masih belum puas bermain dengan kak Vanya," ucap Tristan, bocah laki-laki berusia 5 tahun seperti Alia. Tadinya ia, Vanya, Alia, dan Niko tengah bermain ular tangga bersama. ketiga bocah kecil itu sangat bahagia kala bermain dengan Vanya.


Vanya bisa melihat raut wajah ketiga bocah kecil itu tampak murung saat menatap dirinya yang kini bersiap untuk pulang. Vanya pun menghela napas lalu perlahan berjongkok di depan ketiganya, mensejajarkan tubuhnya agar sama tinggi dengan mereka.


"Maafkan Kakak ya, sayang-sayangku. Malam ini kakak masih ada acar yang tak bisa kakak tinggalkan. Sebenarnya Kakak juga masih ingin bermain dengan kalian. Tapi mau gimana lagi, kakak tidak mungkin meninggalkan pekerjaan kakak. Nanti kalau kakak ada waktu libur lagi, kakak pasti akan kesini lagi. Jangan sedih lagi ya, oke?'' ucap Vanya seraya bergantian mengelus pipi ketiga anak kecil itu. Ia sangat menyayangi adik-adiknya, sehingga ia berusaha pelan-pelan menjelaskan keadaannya saat ini. Lagipula ia tak mungkin melawan Marcell, atau ia bisa mendapatkan hukuman darinya.


"Tapi kakak janji kan, nanti kesini lagi waktu kakak ada libur?'' kini gantian Alia yang bertanya kepada Vanya. Gadis kecil itu tampak memperlihatkan kedua matanya yang kini tampak berkaca-kaca menahan sesak yang ada di dalam dadanya.


"Iya, sayang. Kakak janji." ucap Vanya sambil memperlihatkan jari kelingkingnya kepada gadis kecil itu. Alia yang melihat jari itu langsung mengangkat tangan kanannya dan membalas tautan jari kelingking tersebut.

__ADS_1


Seketika senyuman terlihat jelas di raut wajah cantik Alia. Gadis kecil itu langsung berhamburan memeluk tubuh Vanya.


Melihat hal itu, membuat Tristan dan Niko ikut-ikutan memeluk Vanya. Vanya dengan senang hati membalas pelukan dari adik-adiknya itu.


Setelah selesai berpamitan dengan semua adik-adiknya, kini ia beralih berpamitan dengan Ibu panti dan pengurus yang lain.


"Kalau begitu Anya pulang dulu, Bu. Jaga kesehatan Ibu baik-baik. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi Anya saja ya, Bu. Anya pasti akan segera datang kesini," ucap Vanya kepada Bu Meri saat ia sudah berada di samping mobilnya. Tak lupa ia memeluk tubuh wanita yang sudah tak muda itu lagi.


"Iya, sayang. Kamu tenang saja. Lagipula disini masih ada Bu Tia, Bu Asih, Pak Amin, dan Pak Burhan. Apalagi adik-adik mu juga sudah pada gede semua. jadi mereka pasti bisa menjaga Ibu dengan baik." tutur Bu Meri dengan suara lembutnya. Ia mengelus surai lembut milik Vanya. Vanya yang mendapatkan usapan itu sejenak memejamkan mata. Ia tersenyum, Ia sangat bersyukur bisa berada di bawah asuhan Bu Meri. Wanita yang kuat dan tangguh. Wanita yang sejak dulu berjuang demi membesarkan dirinya dan adik-adiknya. Oleh karena itu, ia bertekad untuk bisa membalas semua jasa-jasanya yang sudah merawatnya sejak kecil.


'Aku tak menyangka bayi yang dulunya aku temukan hampir sekarat, kini menjelma menjadi seorang gadis yang sangat baik hatinya. Ia juga sangat peduli dengan semua adik-adiknya tanpa membeda-bedakan. Entah bagaimana kamu dulu bisa sampai di depan pintu panti, yang pasti Ibu yakin wanita yang melahirkanmu adalah wanita hebat dan mempunyai sifat yang sama seperti dirimu,' batin Bu Meri. Ia sangat bangga menjadi Ibu bagi Vanya. Sejak dari kecil, Vanya tidak pernah sekalipun membuatnya kecewa. Bahkan sejak dirinya bersekolah, Vanya selalu mendapatkan peringkat pertama bahkan sampai disaat ia kuliah. Karena Vanya menyadari keadaannya sehingga membuatnya harus bisa lebih unggul dari teman-temannya di sekolah agar ia bisa mendapatkan beasiswa dan membuatnya terbebas dari segala yang berkaitan dengan pembayaran sekolah.


Setelah melalui drama panjang perpisahannya dengan seluruh penghuni panti, kini Vanya telah berada di dalam mobil. Walau dengan berat hati, ia harus tahu diri lalu ia mulai menjalankan mobilnya meninggalkan kawasan sejuk tersebut.

__ADS_1


*drrrtt


drrrtt


drrrtt*


Getaran dari ponselnya yang ada di dashboard mobil, membuat Vanya melirik padanya. Ia melihat sebuah nomor tanpa nama berusaha untuk menghubungi dirinya.


Namun setelah dirinya dengan sengaja tak menjawab panggilan tersebut, tapi nyatanya tak membuat nomor tersebut.


Aku ia memilih memelankan laju mobilnya, lalu ia berusaha menggapai ponsel miliknya. Namun, disaat ia berusaha mengambil ponselnya, ia tak menyadari jika di depannya ada sebuah mobil yang berhenti.


*brak

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ*...


__ADS_2