
''A-aku ...'' suara Vanya seakan tercekat. Ia tak mampu mengeluarkan sepatah katapun sari mulutnya. Ia bingung harus menjawab apa.
Melihat Vanya yang kebingungan, membuat Arga bergerak semakin cepat hingga kini ia berada di hadapan Vanya. Dengan cepat Arga merengkuh pinggang Vanya dan memeluknya erat-erat.
''I'm so sorry, Vanya. Tapi percayalah aku juga sangat frustasi karena tak berhasil menemukanmu,'' ucap Arga sambil mengelus punggung Vanya. Tubuh Vanya yang tadinya membeku lama kelamaan terasa bergetar akibat elusan tangan Arga.
Beberapa saat kemudian terdengar Isak tangis darinya yang semakin membuat Arga semakin merasa bersalah.
''Sorry, Vanya. Sorry,'' hanya ucapan maaf yang terlontar dari mulut Arga saat ini.
*bugh
bugh*
''Kamu jahat, Arga. kamu jahat,'' keluh Vanya sambil beberapa kali ia memukul punggung kekar Arga dengan kepalan tangannya.
Arga yang mendapat pukulan itu hanya bisa pasrah sambil terus memeluk tubuh ramping Vanya.
Dalam hatinya, Arga merasa kelegaan saat kembali dipertemukan dengan wanita one night stand nya yang ternyata adalah Vanya, wanita yang berhasil menarik perhatiannya.
'Akhirnya ku menemukanmu,' batin Arga.
Dengan kenyataan ini semakin membuatnya tak akan melepaskan Vanya begitu saja. Ia akan berjuang agar bisa bersamanya. Ia ingin menjadikannya wanita satu-satunya yang ada di dalam hidupnya.
'Haruskah aku menikahinya?' batin Arga bertanya-tanya. Ia ingin mengikat Vanya agar tidak bisa pergi darinya. Namun untuk hal satu itu, ia masih belum bisa. Ia masih trauma dengan yang namanya pernikahan.
Setelah sekian lama, Vanya menghentikan pukulannya. Bahkan isak tangisnya mulai tak terdengar di telinga Arga. Perlahan-lahan Arga mengendurkan pelukannya. Ia memegang kedua bahu Vanya dan berusaha menatapnya. Vanya hanya menundukkan kepalanya.
''Van? look at me,'' ucap Arga yang seketika membuat Vanya memberanikan diri untuk mendongak keatas.
Pandangan mata mereka beradu. Vanya menatap mata Arga dengan tatapan yang sulit diartikan, sedangkan Arga menatap Vanya dengan tatapan memujanya.
Setidaknya Arga merasa lega karena Vanya tidak membencinya karena ia tak menemukan itu di kedua mata Vanya.
''I love you, Vanya. Bahkan aku menyukaimu pada pandangan pertama saat kamu berada di bawahku dulu hingga sekarang,'' ucap Arga yang seketika mendapat pukulan yang cukup keras di dada kirinya.
bugh
__ADS_1
Vanya seketika merona mendengar ucapan Arga. Entah mengapa Vanya kini tak bisa membenci dirinya. Emosi yang tadinya meletup-letup kini menguap begitu saja. Apalagi mengingat perlakuan Arga selama ia kenal, tak menunjukkan bahwa dia adalah laki-laki breng..sek.
Mendapatkan hal itu membuat Arga tersenyum. Apalagi melihat Vanya yang kini menundukkan kepalanya karena menyembunyikan rona merahnya semakin membuat Arga dibuat gemas saja.
Sedetik kemudian Arga teringat dengan kalung tadi. Ia kembali merogoh kantong jasnya dan mengambil kalung yang tadi ia perlihatkan. Tanpa menunggu persetujuan Vanya, Arga memakaikan kalung itu pada leher jenjangnya. Mengembalikan kepada pemilik yang sebenarnya.
''Aku kembalikan kalungmu, Vanya. Akhirnya aku bisa menemukan pemiliknya setelah sekian lama berpisah,'' ucap Arga seraya melingkarkan tangannya di leher itu. Vanya membeku ditempatnya. Ia sendiri tak menyangka bisa menemukan barang satu-satunya yang merupakan peninggalan dari orang tua kandungnya.
''Thanks. Kalung ini sangat berharga bagiku,'' ucap Vanya lirih. Bahkan ia sampai meneteskan air matanya saat ia bisa memegang kalung itu. Melihat Vanya yang kembali meneteskan air mata membuat Arga kembali memeluk tubuh wanita itu.
''Hm, aku sangat mencintaimu, Vanya. Jangan tinggalkan aku,'' ucap Arga disela-sela pelukannya. Vanya semakin dibuat berbunga-bunga oleh ucapan Arga. Meski ia sudah memiliki kekasih, namun ia kini juga merasakan getaran-getaran cinta yang mulai tumbuh dalam hatinya.
Vanya tak membalas ucapan itu, namun kedua tangannya kini terulur dan melingkar di pinggang Arga.
Arga tampak tersenyum merasakan Vanya yang juga membalas pelukannya. Ia tak peduli jika Vanya tak membalas ucapannya, yang jelas ia yakin jika Vanya mempunyai rasa yang sama pada dirinya. Ia pun bertekad bahwa ia bisa membuat Vanya juga mencintainya kelak.
'Aku akan membuatmu juga mencintaiku, Vanya. Aku pasti bisa,' dalam hati Arga menyemangati dirinya.
krukk
'Menggemaskan sekali,' batin Arga.
''Kamu lapar, baby?'' tanya Arga sambil menahan senyumnya.
''Ti-tidak. Si-siapa yang lapar?'' ucap Vanya berusaha menekan rasa malunya.
'Memalukan,' batin Vanya. Ingin sekali ia berlari ke ujung dunia agar bisa menyembunyikan wajahnya yang kini sudah merah seperti tomat karena malunya.
Cup
Arga tak tahan lagi untuk tidak menci..um bibir itu. Vanya yang mendapatkan serangan itu seketika mendongak sambil melototkan kedua tangannya.
Cup
Cup
Arga semakin bersemangat menci..umi bibir tipis itu karena melihat wajah Vanya yang menggemaskan. Lalu keduanya saling tatap satu sama lain. Arga dan Vanya saling menatap lekat hingga entah siapa yang memulai, kini keduanya saling memajukan wajah mereka dan keduanya pun berci...uman.
__ADS_1
Ciuman yang awalnya lembut, lambat laun semakin memanas. Bahkan tanpa sadar Vanya mele..ngunu disela-sela ci..uman itu.
Eugh
Arga yang mendengarnya semakin dibuat bergairah lalu tangannya membuka jasnya sendiri dan melemparkannya asal. Lalu ia melepaskan ci..uman itu dan beralih ke leher jenjang Vanya. Vanya yang sudah terbuai dalam permainan itu hanya bisa pasrah sambil mendongakkan kepalanya, memberi akses untuk Arga agar bisa lebih leluasa menjelajah dirinya.
Ah,
Vanya semakin mende...sah saat Arga menyesap dalam-dalam lehernya hingga meninggalkan bekas merah kehitaman disana. Vanya pun tanpa sadar mengangkat tangan kanannya menyusupkan jari-jemari nya di rambut lebat Arga. Ia meremas rambut Arga menyalurkan rasa nikmat akibat ulahnya itu.
Arga semakin hilang kendali dibuatnya. Lalu tanpa ba bi bu, Arga langsung mengangkat tubuh Vanya dan membawanya menuju sofa yang tadi mereka tempati. Saat Arga hendak kembali ingin menci..um Vanya, tangan Vanya menekan dada Arga.
''Why?'' tanya Arga bingung.
Vanya hanya bisa menundukkan kepalanya.
''Iam hungry,'' cicit Vanya yang seketika membuat Arga tersadar. Lalu ia pun terbahak-bahak karena lupa jika tadi Vanya memang kelaparan.
Hahaha
Vanya yang melihat Arga justru menertawakannya, membuatnya kesal hingga Vanya mencebik. Ia sampai memukul-mukul Arga dengan bantal sofa itu.
*bugh
bugh
bugh*
''Rasakan, rasakan ini. Rasakan,'' ucap Vanya sambil terus memukul-mukul Arga dengan bantal itu. Arga yang mendapat serangan itu langsung terbangun. begitu juga dengan Vanya, ia seketika menegakkan tubuhnya sambil terus memukuli Arga.
''Oke-oke. Sorry, baby. Oke?'' ucap Arga meminta maaf kepada Vanya karena telah menertawakannya. Vanya hanya mencebik sambil mengalihkan pandangannya.
''Baiklah, aku psankan makanan dulu untuk kita, oke?'' ucap Arga lalu ia beranjak dari duduknya. Sebelum ia melangkahkan kakinya menuju telepon yang ada di meja dekat televisi itu, ia memberikan kecupan mesra di kening Vanya.
''I love you,''
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1