
Dengan napas memburu, Arga terbangun dari mimpi buruknya. Mimpi yang selalu hadir hampir disetiap malamnya selama hampir lima tahun ini. Bahkan kadang Arga harus mengkonsumsi obat tidur agar ia bisa tidur dengan nyenyak.
Waktu masih menunjukkan pukul dua pagi. Itu artinya ia baru saja tidur dua jam. Arga melihat disekelilingnya. Ia berada di dalam ruangan pribadi yang ada di kantornya.
Sunyi. Tak ada seorangpun yang ada di sana. Perlahan Arga bangkit dari pembaringannya. Ia berjalan kearah lemari yang berisi koleksi wine miliknya. Mengambil bathrobe, Arga memakainya demi menutupi tubuhnya yang hanya menggunakan ****** ******** saja.
blub
Suara penutup botol wine itu terbuka. Arga membawa botol wine itu keluar dari kamarnya. Menghempaskan tubuhnya di sofa, Arga menghabiskan waktunya yang tak lagi bisa tidur dengan sebotol wine favoritnya.
*gluk
gluk
gluk*
Tanpa menggunakan gelas, Arga langsung meminumnya dari botolnya. Satu teguk, dua teguk, hingga tanpa ia sadari kini wine itu sudah berkurang hampir setengahnya.
tes
"Vanya,"
"Vanya,"
"I love you,"
"Ha-ha-ha, you Drive me crazy,"
"Hah, Vanya,"
"Nya,"
"Vanya,"
*tes
tes*
__ADS_1
Rancaun demi rancaun terdengar di dalam ruangan kerja yang sunyi senyap itu. Meski lirih, namun sangat jelas terdengar karena memang dalam keheningan malam. Tetesan air mata mengalir dari sudut mata elang Arga yang kini terlihat tak berdaya.
Hancur. Berantakan. Hidup Arga yang dari luar tampak sangat sempurna berbanding terbalik dengan keadaan hatinya. Arga terlalu pintar menyembunyikan perasaannya dari orang-orang di sekitarnya.
Hanya kegelapan malam yang mengetahui bagaimana tak berdayanya seorang Arga hanya karena seorang wanita.
''Rasanya aku tidak kuat lagi, Van. Rasa rindu ini perlahan membunuhku," keluh Arga sambil terus menengguk minumannya. Mata yang sudah memerah, wajah tampan yang kini sudah berantakan menjadi pemandangan biasa Arga disaat ia sendirian di malam hari.
Sekalipun itu sang Papa, tak pernah tahu jika putranya itu tengah dalam keadaan hancur. Dihadapan semua orang, Arga masih terlihat seperti manusia pada umumnya. Meski lebih dingin, tapi ia masih ramah dengan orang-orang yang ia sayangi.
''Dimana kah kamu, baby? Betapa jahatnya kau meninggalkanku seperti ini. Lihatlah, baby. Aku tak bisa hidup tanpa hadirmu.''
hah, hah, hah,
Dengan memukul-mukul dadanya, Arga melampiaskan semua tangis kerinduannya yang sudah menggunung pada wanita yang dicintainya itu. Pencariannya tak pernah membuahkan hasil. Panti asuhan tempat tumbuh kembang Vanya pun juga tak bisa ditemukan.
Semua hilang dalam sekejap bagaikan seperti ombak yang ada di lautan.
''Aku merindukannya. Sangat merindu. Bagaikan seperti tanah kering yang menanti akan datangnya hujan.''
prang
Botol digenggaman seketika terjatuh dan hancur berantakan. Arga pun kehilangan kesadarannya karena sakit di relung hatinya yang teramat sangat. Ia hanya ingin tidur dengan tenang. Wajah cantik Vanya yang memenuhi kepala membuat Arga harus menghilangkan kesadarannya agar ia bisa bertahan hidup tanpa dirinya.
Lelehan air mata masih tampak mengalir dari kedua sudut mata Arga yang kini terpejam.
''Pertemukan kami, Tuhan. Jika tidak bisa di kehidupan ini, pertemukan kami di kehidupan selanjutnya,'' pinta Arga dalam tidurnya.
Keesokan harinya
Dinda tampak berjalan santai menyusuri lorong kantornya. Tak jarang banyak karyawan yang menyapa dirinya.
''Pagi, Din.''
''Pagi, Pak Alan.''
''Pagi, Mbak Din.''
__ADS_1
''Pagi, Mala.''
Dengan senyum ramahnya, Dinda membalas sapaan para karyawannya disana. Hingga tanpa terasa kini ia sudah sampai di meja kerjanya yang ada di depan ruangan kerja sang big bos.
''Semangat manis dihari Kamis,'' ucap Dinda yang menyemangati dirinya sendiri. Wanita itu mulai membuka laptop dan juga berkas-berkas miliknya.
Dinda melirik ke arah jam tangannya. Dahinya berkerut saat melihat jam yang kini sudah menunjukkan pukul delapan lebih tiga puluh menit. Ia pun segera mengecek ponselnya. Nihil. Tak ada satupun panggilan atau pesan dari sang Bos.
''Tumben si bos belum datang,'' Dinda mengira jika kemarin Arga pulang dan sekarang laki-laki itu belum datang.
Sedangkan di dalam ruangan, perlahan jari jemari Arga mulai bergerak-gerak. Kedua bola matanya juga perlahan bergerak ke kanan dan ke kiri. Sedetik kemudian Arga mencoba membuka matanya yang dirasa berat sekali untuk dibuka.
Argh
Arga memegang kepalanya yang terasa sakit. Ia berpikir pasti akibat minuman yang semalam ia minum itu. Kini rasa sakit itu menjalar di seluruh badannya hingga merambat pada perutnya.
Ugrh
Arga mencoba membangunkan tubuhnya. Ia berpegangan pada sandaran sofa untuk menjaga keseimbangannya. Arga merasa dunia seakan berputar-putar saat ini. Mata yang belum sepenuhnya terbuka, pusing yang sangat menyiksa kepala, membuat Arga kesulitan untuk berdiri dari sana.
Sialan,
Arga mengumpati dirinya sendiri yang tak bisa menjaga keseimbangannya dengan baik. Perlahan Arga berdiri dari duduknya sambil terus berpegangan pada sofa. Dengan berjalan tertatih-tatih sambil tangan kirinya memegang kepala, Arga mencoba berjalan menuju ke kamar pribadinya yang ada tak jauh dari sofa itu.
Namun saat dirinya hampir sampai di depan pintu, tubuhnya tak bisa menjaga keseimbangannya hingga membuat Arga terhuyung ke samping kanan dan akhirnya menabrak meja yang ada di samping pintu kamarnya.
prang
Suara pecahan dari guci keramik yang ada di atas meja itu. Guci tersebut terjatuh setelah tanpa sengaja Arga menyenggolnya karena berusaha berpegangan pada meja.
"Apa itu? Jangan-jangan..." suara pecahan guci yang begitu nyaring terdengar sampai di telinga Dinda yang berada di luar ruangan Arga.
Dengan langkah tergesa-gesa wanita itu berjalan dan membuka pintu ruangan milik sang CEO.
"ASTAGA. TUAN ARGA,"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1