Sang Penakluk Cassanova

Sang Penakluk Cassanova
Bab 108 Welcome to the New Live


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan selama lebih dari tujuh belas jam lamanya, kini Vanya sudah sampai di bandar udara internasional Charles de Gaulle atau lebih sering disebut dengan bandara Rossy.


Sesampainya di negara tersebut, Leon segera membawa Vanya (Ella) pulang ke rumah orang tua nya yang berada tak jauh dari pusat kota Paris.


Meski waktu sesudah menunjukkan pukul sembilan malam, suasana di kota maju tersebut masih padat. Apalagi mengingat Paris merupakan kota tersebut ke-sepuluh di dunia.


Mobil mewah yang ditumpangi oleh Leon dan Vanya (Ella) membelah jalanan disana. Karena saat ini tengah musim gugur, menjadikan pohon-pohon yang ada di sepanjang jalan tersebut tampak kering dan hanya tinggal batangnya saja. Vanya (Ella) menatap keluar jendela mobil selama perjalanan mereka. Leon tampak membiarkannya, memaklumi karena ini pertama kalinya Vanya (Ella) pergi ke luar negeri sejauh ini.


Tiba-tiba mobil yang ditumpangi mereka berhenti setelah melewati jalanan ramai. Vanya (Ella) menengok ke depan sana. Terlihat sebuah gerbang besar yang menjulang tinggi di depan mobil mereka.


*tin


tin*


Sopir mobil itu membunyikan klaksonnya sebanyak dua kali. Tak beberapa lama kemudian terbukalah gerbang besar tersebut.



Sebuah mansion megah dan mewah terpampang jelas di depan mata Vanya (Ella). Vanya (Ella) sampai tak berkedip melihatnya. Meski sudah malam, namun tak membuat mansion tersebut tak indah. Justru karena lampu-lampu yang hidup membuat pemandangan mansion dimalam hari semakin bertambah indah.


Perlahan mobil mewah tersebut berjalan memasuki pelataran mansion milik kedua orang tua mereka.


''Ayo turun, Ell.'' ucap Leon saat mobil mereka sudah berhenti. Vanya (Ella) terlihat masih larut dalam pikirannya.


''Ell? Baby?'' panggil Leon lagi.


''Eh, i-iya, Kak?'' sahut Vanya (Ella). Ia menoleh pada Leon dan tersenyum padanya.

__ADS_1


''Ayo kita turun. Daddy sudah menunggu kedatangan kita di dalam sana,'' ajak Leon lagi. Vanya (Ella) hanya bisa mengangguk sambil tersenyum tipis.


Leon dan Vanya (Ella) turun dari mobil tersebut. Sepanjang lantai keduanya pijak merupakan lantai yang terbuat dari bahan marmer dengan kualitas terbaik. Vanya (Ella) sampai tak bisa berkata-kata apa-apa saat menyadari betapa kayanya kedua orang tuanya.


''I-ini beneran rumah kita, Kak?'' bisik Vanya (Ella) saat keduanya berjalan beriringan menuju ke arah pintu masuk utama. Leon yang mendengar ucapan Vanya (Ella) seketika berhenti lalu menghadap ke arah Vanya (Ella).


''Benar, Ell. Ini rumah kita. Rumah kedua orang tua kita. Kakak ingin kita mulai lembaran baru disini bersama kedua orang tua kita. Mungkin kedepannya Kakak akan sangat protektif terhadap mu, Ell. Kamu harus bersiap ya, tapi percayalah itu semua bentuk cinta kasih Kakak padamu.'' ucap Leon dengan lembut seraya mengusap pucuk kepala Vanya (Ella). Vanya (Ella) tentu sangat bahagia bisa mempunyai Kakak laki-laki seperti Leon. Vanya (Ella) memberanikan dirinya untuk memeluk tubuh kekar sang Kakak.


''Terimakasih, Kak. Terimakasih sudah menemukanku dan membawaku pergi dari sana. Aku sangat takut, Kak. Aku takut kalau aku selamanya akan terjebak dalam neraka itu,'' ucap Vanya (Ella) sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh Leon. Leon membalas pelukan sang adik sama eratnya. Ia merasa sedih saat teringat bagaimana kehidupan Vanya (Ella) selama ini sedangkan dirinya hidup dalam kemewahan harta kedua orang tuanya.


''Sssttt.... Enough, baby. Jangan lagi diingat apa yang sudah berlalu. Kakak akan selalu berada disamping mu kedepannya. Kakak akan melindungi mu dengan segenap jiwa dan raga Kakak. Kakak sangat menyayangimu, Ella.'' ujar Leon sambil mengelus lembut punggung Vanya (Ella).


Tanpa keduanya sadari ada sepasang mata yang memperhatikan keduanya. Bahkan kedua matanya mengeluarkan air mata yang tak bisa ia cegah.


''El-Ella juga menyayangimu, Kak.'' Vanya (Ella) mulai membiasakan dirinya dengan panggilan tersebut. Kakak beradik itu berpelukan lama hingga sebuah suara menginterupsi keduanya.


Suara berat seorang laki-laki membuat Leon dan Vanya (Ella) mengurai pelukan mereka. Leon melihat Daddy-nya tengah berdiri di ambang pintu masuk mansion. Leon tersenyum lalu ia menggandeng tangan Vanya (Ella) berjalan menghampiri sang Daddy.


''Dad, ini...'' belum juga Leon menyelesaikan ucapannya, Chris lebih dulu memeluk tubuh Vanya (Ella) dengan sangat eratnya.


''Daddy tak percaya ternyata kamu masih hidup, Sayang. Maafkan Daddy, Maafkan Daddy yang tak bisa menemukanmu lebih cepat. Maafkan Daddy,'' Dengan suara seraknya Chris berulangkali mengucapkan maafnya pada Vanya (Ella). Ia merasa sangat tidak berguna karena tak bisa menemukan Vanya (Ella) dulu.


Vanya (Ella) yang baru kali ini merasakan kasih sayang seorang Ayah seketika menangis. Ia sangat bersyukur karena bisa bertemu dengan keluarga kandungnya.


''Dad-Daddy?'' ucap Vanya (Ella) dengan terbata. Ia juga masih tak percaya bisa mengucapkan kata itu dari mulutnya.


Chris yang mendengar suara Vanya (Ella) memanggil dirinya dengan sebutan Daddy, membuatnya tak bisa membendung air matanya.

__ADS_1


Keduanya tampak saling menumpahkan segala rasa di dalam diri masing-masing. Bahkan Leon pun juga sampai meneteskan air matanya melihat kebahagiaan hari ini.


'Aku berjanji akan menjadi lebih kuat lagi agar bisa menjadi tameng untuk keluarga tercinta ku ini. Aku sangat menyayangi kalian,' batin Leon.


'Terimakasih, Tuhan. Disisa akhir hidupku ini, Aku bisa bertemu dengan malaikat kecilku yang telah lama menghilang. Terimakasih,' ucap Chris dalam hati. Ia sangat bersyukur atas nikmat yang telah Tuhan berikan padanya dan keluarganya.


'Semoga kebahagiaan ini abadi selamanya, Tuhan. Jangan biarkan kami terpisah lagi, seperti yang sudah-sudah. Berkatilah hidup kami,' doa Vanya (Ella) kepada sang pencipta.


Setelah menumpahkan segala tangis haru mereka, Vanya (Ella), Leon, dan Chris segera masuk ke dalam mansion.


Vanya (Ella) kembali tertegun melihat interior megah dalam sana. Sepanjang mata melihat Vanya (Ella) disuguhkan dengan furniture - furniture yang mampu membuat Vanya (Ella) terkagum-kagum. Namun sebisa mungkin Vanya (Ella) tak memperlihatkan keterkejutannya dengan semua hal itu.


Selama berjalan, Chris tak melepaskan rangkulannya di tubuh ramping Vanya (Ella). Vanya (Ella) pun tak menampik jika dirinya juga sangat senang mendapat perlakuan lembut seperti itu.


''Ayo, Sayang. Kamu harus makan dulu. Kamu pasti sangat lapar setelah perjalanan panjang kalian,'' ucap Chris seraya menarik kursi untuk Vanya (Ella). Vanya (Ella) hanya bisa tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia pun segera duduk di kursi yang bersebelahan dengan kursi Daddy-nya.


Sedangkan Leon tampak geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Daddy-nya itu.


''Sepertinya mulai sekarang ada yang dimanja sama Daddy nih,'' nada suara Leon sarat sinisnya


Tak lupa ia memberi lirikan mata pada Vanya (Ella) dan juga Chris. Vanya (Ella) tampak tersenyum saat mendengar sindiran keras dari sang Kakak. Sedangkan Chris tak ambil pusing, Ia tetap fokus terhadap putri kecilnya tersebut.


''Jangan dengarkan dia, Sayang. lebih baik kita makan dulu saja, okay?'' ucap Chris mengalihkan pembicaraan. Vanya (Ella) tersenyum menganggukkan kepala. Chris mengusap pucuk kepala Vanya (Ella) dengan sayangnya.


''Tom, siapkan makanannya sekarang juga. Putriku sangat lelah dan juga lapar setelah perjalanan jauh dari Indonesia kesini,''


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2