Sang Penakluk Cassanova

Sang Penakluk Cassanova
Bab 122 Zein's birthday party


__ADS_3

Setelah dengan bersusah payah menjelaskan kepada Ella, akhirnya Leon bisa terbebas dari jeweran tangan Ella yang sangat menyakitkan itu.


Sedangkan Ella yang masih ragu untuk mempercayai perkataan sang Kakak hanya bisa menatapnya dengan tatapan mata tajamnya.


Seakan tahu jika Ella masih meragukan ucapannya, membuat Leon hanya bisa menghela napasnya. Memang salahnya sendiri yang asal berbicara tanpa filter kepada sang adik yang memang sensitif dengan perihal itu.


"Sudahlah, dari pada kamu masih gak percaya sama kakak, lebih baik kita masuk dan bergabung bersama yang lainnya." Ajak Leon. Kemudian ia membuka pintu mobil dan keluar dari sana. Ella juga melakukan hal yang sama.


Dengan menggapit lengan sang kakak, Ella dan Leon memasuki villa milik Zein tersebut. Dentuman musik, suasana ramai dan sedikit temaram membuat villa itu bagaikan seperti sebuah diskotik.


Ella yang tak mengenal seorang pun di dalam sana hanya bisa berpegang pada sang kakak dan menemaninya berkeliling menyapa beberapa temannya yang memang diundang di acara itu.


"Happy birthday, Dude. Sangat meriah sekali," ucap Leon dengan sedikit berteriak di telinga Zein. Zein tampak senang melihat kedatangan Leon malam ini.


"Thank's sudah datang. Ini pacarmu?" Tanya Zein yang sama dengan Leon sebelumnya. Ia berteriak di telinga Leon kerena memang musik di dalam sana sangat kencang hingga membuat jantung mereka sesekali bergetar. Pasalnya ini pertama kalinya Zein melihat Leon berjalan dengan seorang wanita, cantik pula.


"Tidak, dia adikku. Kenalkan namanya, Ella." Ucap Leon pada Zein. Lalu Leon mengenalkan Zein pada Ella juga. Mendengar jika wanita yang bersama Leon itu adalah adiknya, membuat wajah Zein seketika berbinar.


"Hi, Aku Zein." Dengan senyum menawannya, Zein mengulurkan tangan kanannya untuk berkenalan dengan Ella. Sebenarnya Ella tak suka dengan hal itu, namun ia juga tak ingin mempermalukan sang kakak.


"Hi Kak, aku Ella." Ella membalas Zein hanya dengan senyuman tipis dan membalas uluran tangan itu. Tak sampai tiga detik, Ella melepaskan tautan tangan itu. Meski sedikit kecewa dengan reaksi yang ditunjukkan oleh Ella, namun Zein masih bisa tersenyum.


"Aku tak tahu jika kau punya adik secantik ini, Leon." Ucap Zein berkomentar. Kedua matanya masih terpaku melihat kecantikan paripurna Ella. Meski menggunakan gaun malam yang simpel, namun terkesan elegan saat digunakan olehnya.


"Ya, adikku memang sangat cantik. Ceritanya sangatlah panjang jika aku menceritakan semuanya sekarang." Sahut Leon sambil merangkul tubuh Ella. Ella sekilas menoleh ke arah Leon dan tersenyum padanya. Senyum yang mampu membuat Zein terpana melihatnya.

__ADS_1


'So beautiful,' batin Zein yang melihatnya. Meski sebenarnya Zein masih ingin bersama dengan Leon dan juga Ella, namun ia harus menyapa teman-temannya yang lain.


"Silakan dinikmati acaranya. Aku harus kesana sebentar," ucap Zein yang dari tempatnya berada bisa melihat kedatangan temannya yang lain. Leon dan Ella hanya bisa menganggukkan kepala. Leonpun segera membawa sang adik mendekati tempat dimana seluruh makanan dan minuman berada.


Dengan sabar, Leon terus mendampingi sang adik yang tengah menikmati minuman dan juga sepiring berisi cake cokelat kesukaannya. Leon menemani Ella sambil serius melihat ke ponselnya, memeriksa pekerjaannya.


"Ini sangat enak, Kak." ucap Ella dengan wajahnya yang berbinar nikmati cake itu. Leon yang duduk di sebelahnya hanya bisa tersenyum sambil mengelus surai pendek Ella. Keduanya menikmati acara malam itu dengan hanya berdua di sebuah meja.


Tanpa keduanya sadari ada sepasang mata yang memperhatikan keduanya tanpa berkedip. Seorang laki-laki yang juga salah satu tamu undangan disana, karena memang ia juga salah satu teman Zein. Dari sudut mata laki-laki itu tampak air matanya menggenang dan sedetik kemudian meneteslah air mata itu.


'Apa ini benar-benar nyata?' batin laki-laki itu. Ia masih tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Kedatangannya ke negara ini sebenarnya hanya ingin melepas penat dari semua beban pekerjaan dan juga pikirannya yang hingga kini masih melayang jauh tak tentu arah. Tapi siapa sangka, justru kedatangannya kesini menjadi sebuah jawaban akan semua pertanyaannya selama ini. Pertanyaan akan takdir apakah yang akan terjadi kepada dirinya dan juga cintanya. Dan inilah takdir yang ia sangat harapkan.


"Kak, aku ingin ke toilet," ucap Ella saat ia sudah menghabiskan cake nya. Leon yang sedang menerima laporan dari asistennya sejenak berhenti dan menatap ke arah Ella.


"Toilet? Mau Kakak antar?' tanya Leon menawarkan diri. Ella tampak menggeleng sambil tersenyum tipis.


"Baiklah, jangan lama-lama, oke?" Ucap Leon. Ia sedikit khawatir mengingat jika sebelumnya ia mendapat laporan jika laki-lakiasa.lalu sang adik ternyata juga diundang dalam acara ini. Laki-laki misterius itu terus mengawangi gerak gerik Ella.


Setelah mendapat ijin, Ella bergegas beranjak meninggalkan tempat duduknya. Ia berjalan mengikuti arah tunjuk toilet. Sesampainya di ujung lorong, Ella segera masuk ke dalam toilet disana. Sekitar lima menit, Ella selesai dengan hajatnya. Kemudian Ia keluar dari bilik toilet dan mencuci kedua tangannya di wastafel yang tersedia di luar bilik toilet.


Awalnya Ella menunduk, setelah selesai perlahan Ella menegakkan tubuhnya dan menatap ke arah cermin depannya. Hingga kedua matanya terbelalak menatap wajah seseorang yang berada dalam satu cermin dengannya.


Deg


Deg

__ADS_1


Deg


Detak jantung Ella seakan seperti berhenti berdetak. Napasnya tercekat saat melihat wajah laki-laki yang ia rindukan selama ini, terpampang jelas di depan matanya. Tanpa bisa ia cegah air matanya jatuh menetes di kedua pipinya. Air mata yang selama lima tahun belakangan ini menemani keheningan malamnya.


Satu jam yang lalu


Seorang laki-laki bertubuh tegap dan tampan tampak memasuki area villa tersebut. Ia datang ditemani oleh salah satu adik sahabatnya yang memang tinggal di kota itu demi menjalankan bisnis milik keluarganya. Seorang wanita modis namun terlihat galak dari perangainya.


"Apa dia temanmu, Kak? Aku masih tidak percaya. Bagaimana bisa kakak kenal dengan laki-laki sekelas Zein?" Tanya adik laki-laki itu.


''Kamu tak percaya jika kakak memang berteman dengannya?" Tanya si laki-laki itu. Tanpa pikir panjang, sang adik menggeleng keras sambil menampilkan wajah yang tampak jelas meragukan ucapannya.


Laki-laki itu hanya bisa menghela napasnya. Tak mau ambil pusing dengan keraguan sang adik, laki-laki itu langsung mengajak adiknya itu untuk masuk dan menemui sang pemilik acara. Setelah berkeliling sebentar, akhirnya keduanya berhasil menemukan Zein.


Saat laki-laki itu hendak melangkahkan kakinya menuju ke tengah-tengah ruangan, kedua matanya menangkap sosok punggung wanita yang sangat familiar dimatanya. Ia berpikir sejenak lalu ia kembali melangkahkan kakinya.


"Hi, Bro. Happy birthday," ucap laki-laki setibanya ia di hadapan sang pemilik acara. Si adik laki-laki itu tampak tertegun di tempatnya. Ia benar-benar tak percaya jika Kakaknya itu mengenal pengusaha sukses seperti Zein Hamid Karzai.


'Gila. Kak Arga benar-benar mengenal pengusaha sukses ini. Ini berita yang sangat mengejutkan. Aku akan memberitahu Vale tentang hal ini.' batin wanita itu dengan senyum menyeringainya.


Ya. Laki-laki itu adalah Arga. Sedangkan wanita yang menemaninya disana merupakan Angel, adik dari sahabatnya yang bernma Daniel Valentino. Ia mendapatkan undangan party dari salah satu kenalannya saat ia berada di dalam sebuah tempat pelelangan barang antik. Arga mengenal Zein ketika keduanya tengah memperebutkan sebuah lukisan klasik dan bernilai tinggi.


"Thank's sudah datang," ucap Zein saat melihat temannya itu datang. Kemudian Arga juga mengenalkan Angel pada temannya itu. Ketiganya tampak mengobrol santai sambil menikmati acara disana.


"Kau kenal dengan laki-laki dan perempuan itu?" Tanya Arga sambil menunju memakai dagunya ke arah seorang laki-laki dan perempuan di meja yang tak jauh dari mejanya. Zein tampak memganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Namanya Leon. Tepatnya Leonard Christofer Nerotoun Dan wanita yang duduk disampingnya itu adalah adiknya,"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2