Sang Penakluk Cassanova

Sang Penakluk Cassanova
Bab 98 Leon keluar dari Rumah Sakit


__ADS_3

Selama seminggu penuh Leon menjalani perawatan di rumah sakit itu. Kini tiba hari dimana saatnya ia keluar dari sana dan segera pergi menemui adik tercintanya.


''Bagaimana persiapan nya?'' tanya Leon pada asistennya - Brian.


Saat ini Leon tengah mengganti baju rumah sakit dengan pakaian formalnya.


''Sudah, Tuan. Tiket sudah saya pesankan. Beberapa anak buah kita juga sudah menunggu di Indonesia, menunggu kedatangan Tuan disana.'' jawab Brian. Tampak Leon menganggukkan kepala mendengar jawaban itu.


Setelah ia berpakaian rapi, ia pun menghampiri Brian.


''Ayo kita keluar dari sini. Aku sudah muak berada di sini, Brian.'' ucap Leon sambil mengambil ponsel miliknya dan menatap wajah Vanya yang kini dijadikan layar wallpaper ponselnya.


''Baik, Tuan. Mari,'' ucap Brian lalu ia mempersilakan Tuan-nya itu keluar dari sana.


Setelah menyelesaikan administrasi di sana, Leon beserta asisten dan anak buahnya pergi meninggalkan rumah sakit.


''Lalu bagaimana dengan wanita itu? Sudah kau selidiki, Brian?'' tanya Leon padanya. Saat ini keduanya tengah berada di dalam mobil. Mereka sedang dalam perjalanan menuju bandara internasional yang ada di negara tersebut.


''Sudah, Tuan. Wanita itu yang selama ini mengurus Nona, Tuan. Dia adalah kepala sekaligus pemilik dari panti asuhan tempat Nona Ella dibesarkan. Ini, Tuan.'' ucap Brian sambil menyerahkan tabletnya yang tengah menampilkan informasi tentang wanita yang dimaksud oleh Leon.


Tampak raut wajah Leon yang serius membaca kata demi kata yang terlihat disana. Tak lupa ia juga memperhatikan setiap foto yang juga ada disana.


''Meriana? Pelita Kasih? Ternyata wanita itu sengaja mengubah namanya agar tak bisa dilacak.'' ucap Leon saat ia melihat nama mantan pelayan keluarganya dulu.


''Benar, Tuan. Menurut penyelidikan saya, wanita itu memang dulunya merupakan mantan seorang pelayan di Bali. Mungkin itu merupakan keluarga Tuan.'' sahut Brian.


''Bagaimana dia bisa sampai di kota Surabaya?'' tanya Leon.


''Kalau berdasarkan hasil dari penyelidikan anak buah saya yang ada di tempat panti asuhan, wanita itulah yang mendirikan panti tersebut diatas tanah milik mendiang orang tuanya, Tuan.'' ucap Brian. Leon hanya bisa mengangguk sambil terus memperhatikan foto-foto semasa kecil adiknya itu.

__ADS_1


'Tapi kenapa wanita itu membawa kabur Ella? Apa mungkin ada konspirasi dibalik ini semua? Tidak mungkin wanita itu berani mengambil resiko besar pada waktu itu. Atau mungkinkah wanita itu adalah mata-mata yang dikirim oleh para musuh Papa dulu? Atau jangan-jangan Mama terlibat dalam peristiwa itu?' berbagai pertanyaan kini muncul di benak Leon.


Apalagi melihat bagaimana dekatnya wanita itu dengan Ella. Tampak sekali jika wanita itu sangat menyayangi Ella dari foto mereka. Kepala Leon sampai pusing memikirkannya.


''Kita turun dulu. Lanjutkan nanti jika kita sudah ada di dalam pesawat,'' ucap Leon saat ia menyadari mobil yang ditumpangi mereka telah memasuki area bandara.


''Baik, Tuan.'' sahut Brian.


Mereka pun bergegas turun dari mobil dan berjalan menyusuri bandara dan mulai menjalani proses-proses yang berlaku.


Di Indonesia


Sudah dua hari Vanya dirawat pasca perkelahian Arga dan Marcell yang membuatnya terkena imbas kemarahan Marcell.


Selama itu pula Marcell terus berada di samping Vanya meskipun keberadaannya tak dihiraukan oleh wanita itu.


Kini Vanya berubah menjadi semakin dingin. Tak pernah sekalipun ia mengucapkan sepatah kata meskipun jika keadaannya membutuhkan bantuan orang lain.


Seperti saat ini, setelah menyantap sarapan paginya, Vanya duduk di kursi yang menghadap ke arah jendela kamarnya. Tak ada kegiatan lain yang ia lakukan selain itu. Mengingat masih merasakan sakit di beberapa bagian tubuhnya. Bahkan perban dikepala Vanya masih ada, karena ia sempat di hempaskan ke dinding oleh Marcell. Oleh karena itu Vanya mendapatkan luka di bagian pelipis nya.


'Akankah hidupku akan seperti ini seterusnya? Hidup ku bagaikan seperti di dalam neraka. Haruskah aku pergi? Tapi bagaimana dengan semua adik-adik ku di panti? Haruskah aku mengorbankan hidup mereka demi kebebasanku? Oh Tuhan, berikan aku petunjuk MU.' batin Vanya. Tak terasa setetes air mata kembali menetes di pipi mulusnya.


Ya, hanya tetesan demi tetesan mata yang ditunjukkan oleh wanita cantik itu. Tubuhnya kini tak seperti dulu lagi. Baru seminggu saja ia disini, tubuhnya sudah mulai menyusut, tak seindah pada saat ia masih menjadi model dulu.


Semenjak Marcell mengurungnya di rumah itu, Marcell sudah mengurus semua pekerjaan Vanya. Membatalkan beberapa pekerjaan yang sudah terlanjur di tanda tangani oleh kekasihnya itu.


Sedangkan dikantor, Marcell juga selalu dikejar-kejar oleh Renata. Wanita itu selalu menanyakan dimana keberadaan sahabatnya itu. Namun Marcell masih bungkam, tak ada jawaban yang diberikan kepada Renata. Marcell yakin jika Renata tahu dimana keberadaan Vanya, wanita itu pasti mendatanginya.


Karena hari ini bertepatan pada hari Minggu, membuat Marcell meluangkan waktunya untuk menemani Vanya. Meski ia tak pernah dianggap, namun laki-laki itu tak pantang menyerah. Ia selalu berada di samping Vanya.

__ADS_1


ceklek


Marcell datang membawa sebuah nampan ditangannya. terlihat sebuah piring berisi cake kesukaan Vanya. Tak lupa juga segelas jus jambu merah sebagai pelengkap.


''Van?'' panggil Marcell. Laki-laki itu mendekat ke arah Vanya dan meletakkan nampan itu diatas meja samping kursi Vanya.


Mendengar suara dari Marcell membuat Vanya semakin diam. Tak ada respon darinya, sekedar tolehan kepala pun Vanya terasa enggan.


''Ini cake kesukaan mu. Makanlah,'' ucap Marcell dengan suara yang lebih lembut dari biasanya ia berbicara. Ia menyadari jika perlakuannya kali ini melampaui batasnya. Bahkan hingga membuat Vanya mengalami banyak sekali memar di bagian tubuhnya.


Marcell tampak menghela napasnya saat menyadari Vanya tak menghiraukan ucapan maupun keberadaannya.


Satu jam, dua jam, hingga lima jam berlalu. Tak ada obrolan dari keduanya. Vanya masih setia dengan diamnya. Ia hanya sesekali beranjak dari duduknya jika ia ingin pergi ke kamar mandi. Meski pelan, namun ia tak mau menerima bantuan dari orang lain apalagi bantuan dari Marcell.


Mau tak mau Marcell harus kembali mengalah. Bahkan makanan dan minuman yang ia bawa hingga kini tak disentuh olehnya. Vanya lebih memilih minum air putih yang disediakan oleh Maid disana.


''Sampai kapan kamu akan mendiamkanku, Vanya? Maafkanlah aku. Aku mengaku salah, aku janji gak akan menyakitimu lagi, hm? Bicaralah padaku lagi, Vanya. Aku sangat merindukanmu,'' ucap Marcell saat Vanya sudah kembali duduk di kursinya. Ia memandang ke arah pemandangan luar yang ada di depan matanya itu. Seakan itu lebih menarik daripada mengobrol dengan Marcell.


''Vanya?'' panggil Marcell lagi. Namun sia-sia, wanita masih tak mau mengeluarkan suara emasnya.


''Baiklah, terserahmu saja. Yang penting kamu masih berada di sini. Hm, aku ingin memberitahu padamu jika malam ini aku akan pergi ke Surabaya. Ada seminar disana dan itu perlu sekitar dua sampai tiga hari. Kamu baik-baik ya, di rumah. I love you,'' ucap Marcell seraya beranjak dari duduknya. Ia menghampiri Vanya.


cup


Marcell berikan sebuah kecupan di pucuk kepala Vanya. ''Jaga dirimu baik-baik disini, aku akan segera pulang.'' imbuhnya sambil mengelus kedua pundak Vanya dengan kedua tangannya. Setelah itu ia berjalan meninggalkan kamar yang ditempati oleh Vanya. Selama dua hari ini Vanya berada di kamar tamu yang ada di lantai bawah. Marcell harus menyiapkan pakaian nya ya akan ia bawa ke Surabaya.


Namun tak pernah Marcell sadari jika hari ini mungkin adalah hari terakhir dirinya melihat Vanya.


'Aku akan pergi malam ini. Selamat tinggal, Marcell.'

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2