
Melihat reaksi Marcell yang membentaknya, tak lantas membuat Cynthia pantang mundur. Ia semakin gencar menggoda Marcell yang notabene adalah laki-laki paling tampan di kantor tersebut sekaligus pemilik nya.
''Kamu kenapa hari ini, Sayang? Kenapa kamu marah-marah terus? Apa kamu butuh pelampiasan? Aku datang untuk membantumu,'' ucap Cynthia sambil berjalan melenggak-lenggokkan tubuhnya menghampiri Marcell.
Marcell yang masih dikuasai oleh emosi seketika berdiri dari duduknya dan menatap tajam ke arah wanita itu.
''Keluar sekarang. Atau kau akan menyesal karena telah membangunkan singa yang telah tertidur lama,'' desis Marcell.
Cynthia yang tidak mengenal sisi gelap Marcell salah mengartikan ucapan dari Marcell. Ia justru tersenyum penuh arti mengartikan jika singa yang dimaksud adalah senja...ta laras panjang milik laki-laki itu.
''Tidak akan, Sayang. Aku memang menantikannya,'' ucap Cynthia sambil membuka resleting gaunnya yang ada di belakang. Hingga saat gaun itu merosot kebawah, terpampang lah tubuh mu..lus dan seputih salju itu di hadapan Marcell. Apalagi Cynthia sengaja tak memakai apapun sehingga tubuhnya kini tampak po..los.
Amarah bercampur has...rat kini menyatu dalam diri Marcell. Miliknya menge..ras, meronta agar melepaskannya sekarang juga.
''Jangan salahkan aku jika aku bisa saja membu..nuhmu, Jala**.'' desis Marcell sambil mencengkeram kuat rambut indah perempuan itu.
Cynthia pun sampai mendongak dibuatnya.
''Ya, bu...nuh aku dengan senja...ta tempur mu, Sayang. Aku sangat merindukannya.'' ucap Cynthia sambil tangannya membelai milik Marcell dari luar.
Da** it
Dengan kasar Marcell membawa tubuh Cynthia ke sofa. membelakanginya dan menaikkan sebelah kakinya ke atas sofa. Marcell menurunkan celananya hingga kemudian ia langsung mengarahkan nya ke dalam tubuh Cynthia. Kedua tangan Marcell pun memegang kuat pinggang Cynthia agar tak berpindah.
Akh
Jeritan Cynthia mulai terdengar. Ia cukup terkejut karena Marcell melakukannya tanpa pemanasan terlebih dahulu. Semakin lama gerakan itu semakin cepat. Semakin cepat lagi hingga Cynthia merasakan perih dan linu pada inti tubuhnya.
''Pe-pelan pe-lan sa-saja, Ma-Marcell,'' ucap Cynthia disela-sela permainan itu. Marcell yang sudah berada dalam mode sisi gelapnya tak mengindahkan ucapan dari Cynthia.
''Never. Ini belum apa-apa Cynthia. Dari awal aku sudah katakan, jangan dekati aku. Inilah aku, kau akan merasakan apa yang Laura rasakan dulu. Bersiaplah,'' desis Marcell saat miliknya mulai berdenyut-denyut ria. Marcell semakin kuat menarik rambut Cynthia hingga membuat wanita itu meringis kesakitan. Mungkin ada beberapa helai rambutnya yang rontok akibat tarikan itu.
__ADS_1
'Ah, sakit sekali. Laura? Laura Allison? Bukannya dia sedang berada di luar negeri berobat akibat kecelakaan yang menimpanya dulu? Apa hubungannya dengan Marcell? Ah, ini sakit sekali.' batin Cynthia yang masih bertanya-tanya tentang apa arti ucapan dari Marcell.
Akh
Jerit Cynthia seketika menggema di ruangan milik Marcell tersebut. Ia terkejut bersamaan merasakan sakit yang teramat sangat saat Marcell dengan tanpa aba-aba memasukkan miliknya di bagian belakang Cynthia.
Ouch
Disaat Marcell merasakan kenikmatan tiada tara saat melakukan itu, berbeda halnya dengan Cynthia yang merasa seperti akan pingsan akibat sakit yang dideritanya. Tak ada dipikirannya sama sekali jika Marcell tega melakukan hal itu padanya. Ia baru mengetahui bahwa Marcell menyukai gaya yang cukup mengerikan.
''Sa-sakit, Marcell. A-ampun. Hen-hentikan, Marcell. Hen-hentikan. Sa-sakit se-sekali,'' diiringi tangisan yang menyayat hati, Cynthia memohon kepada Marcell agar ia menyudahi permainan yang menyakitkan itu.
''Tidak, Cynthia. Tidak akan bisa berhenti, sebelum aku puas. Inilah yang kau dapatkan karena sudah berani menantang ku, Ouch ...'' geram Marcell sambil terus mengaduk-aduk tubuh Cynthia yang semakin lama semakin melemas. Sesekali kedua mata Marcell melihat darah segar yang kini mengalir di ***** nya. Ia sangat yakin jika itu adalah darahnya Cynthia. Senyum seringainya tercipta melihat hal menjijikan itu.
Bagian punggung Cynthia pun sudah banyak sekali bekas gigitan Marcell hingga mengeluarkan luka dan juga bekas cakaran serta ceki...kan tangan Marcell di leher jenjang Cynthia. Jerit tangis Cynthia tak dihiraukan oleh Marcell. Hanya pelampiasan yang Marcell butuhkan dan kebetulan sekali wanita itu dengan suka rela mendatanginya.
Eungh
''Inilah yang terjadi pada Laura, Cyn. Dan kau dengan bo dohnya mengantarkan nyawamu sendiri kepada dewa kematian mu,'' desis Marcell kepada Cynthia yang kini sudah kehilangan kesadarannya.
Tanpa ada rasa bersalahnya, Marcell dengan santai memakai kembali celananya.
Setelah itu Marcell berjalan menghampiri meja kerja nya, mengambil ponselnya di sana. Mencari sebuah nama dari daftar kontaknya dan segera meneleponnya.
"Halo, Tuan."
"Datanglah ke kantorku sekarang. Bawa juga dua anak buahmu untuk mengangkat seseorang."
"Baik, Tuan."
Setelah mendengar sahutan dari seberang, Marcell segera mematikan panggilan tersebut. Marcell segera menyelesaikan pekerjaannya tanpa menghiraukan tubuh pingsan Cynthia yang masih dengan posisi tengkurap tak berpakaian di atas sofa tersebut.
__ADS_1
Satu jam kemudian terdengar suara ketukan dari luar pintu ruangannya. Marcell menghentikan aktivitas nya dan segera memerintahkan orang di luar sana untuk masuk ke dalam ruangannya.
''Tuan?'' panggil ketiga laki-laki bertubuh besar dan kekar itu. Ketiganya tampak membungkukkan badannya hormat pada Marcell.
Marcell hanya menganggukkan kepala melihat kedatangan mereka.
''Bawa wanita itu ke markas kalian. Buat wanita itu trauma hingga kehilangan kewarasannya seperti yang sudah-sudah.'' titah Marcell.
Ketiga laki-laki itu tampak berbinar mendengar ucapan Bos-nya tersebut. Apalagi wanita kali ini adalah seorang model top tanah air. Tentu saja setiap laki-laki akan sampai mengeluarkan air liur mereka saat melihat tubuh nya.
''Boleh dipakai, Tuan? Seperti wanita yang dulu?'' tanya salah seorang dari ketiga orang tersebut.
''Hm, terserah kalian. Aku hanya mau terima beres.'' sahut Marcell.
''Baik, Tuan. Tuan tenang saja, kami akan melakukan semuanya dengan sempurna tanpa ada kesalahan.'' ujar salah satu dari mereka yang merupakan ketuanya.
''Bagus. Lalu, bagaimana dengan wanita yang terakhir kali itu?'' tanya Marcell.
''Maksud Bos, Laura?'' tanya ketus itu lagi.
''Hm,''
''Aman, Bos. Dia sekarang ada di Rumah sakit jiwa Kasih Ibu.'' jawab ketua.
''Bagus. Kalau begitu cepatlah bawa pergi wanita itu dari sini. Aku akan mentransfer uang bonus untuk kalian,'' titah Marcell dan dengan senang hati ketiga laki-laki itu melaksanakan perintah dari Bos-nya itu.
Bahkan ketiga laki-laki itu tampak saling berebut saat mengangkat tubuh Cyntia. Dan Marcell tak menghiraukan ketiganya. Ia pun kembali pada berkas-berkas miliknya. Setidaknya kini ia bisa lega, dapat melampiaskan segala amarah serta nafsunya pada tempatnya.
''Jangan menyalahkanku dalam hal ini. Aku sudah sejak awal memperingatkan wanita-wanita itu agar tak memancing amarahku. Dan akhirnya mereka jugalah yang menjadi tempat pelampiasan amarah serta naf**ku.''
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1