Sang Penakluk Cassanova

Sang Penakluk Cassanova
Bab 94 Kedatangan Arga


__ADS_3

Satu jam yang lalu


*tin


tin*


Sebuah mobil mewah berhenti di depan gerbang tinggi milih kediaman Marcell. Salah satu penjaga disana tampak keluar dan melihat dari lubang gerbang. Tak lama penjaga keluar dari pintu kecil yang ada di samping gerbang.


''Ada yang bisa saya bantu, Tuan ?'' tanya penjaga itu.


''Aku ingin bertemu dengan Tuan-mu. Buka gerbangnya,'' jawab Arga setelah ia membuka jendela mobilnya.


Setelah Marcell mendatanginya beberapa hari lalu di perusahaan nya, Arga mulai menyelidiki Vanya. Mulai dari apartemen, tempat kerja, hingga Renata Arga datangi. Namun ia tak menemukan Vanya


Bahkan Renata pun juga khawatir karena ini pertama kalinya Vanya pergi tanpa meninggalkan pesan apapun pada sahabat nya itu.


Arga juga meletakkan mata-mata yang berada di sekita rumah Marcell agar ia bisa mendapatkan informasi dari sana. Hingga tadi ia mendapatkan informasi dari mata-mata nya yang mengatakan jika Marcell hari ini pulang setelah pergi ke Bandung selama tiga hari.


''Tuan Marcell tidak ada di rumah, Tuan. Sebaiknya Tuan kembali saja,'' sahut penjaga.


Arga tampak menyunggingkan senyumnya saat mendengar itu. Jelas-jelas ia mendapat informasi bahwa Marcell pulang, namun penjaga itu Berani-beraninya berbohong pada dirinya.


''Apa pagar ini kuat?'' tanya Arga pada penjaga. Tentu si penjaga itu tampak mengerutkan dahinya.


''Maksud Tuan ?'' tanya penjaga itu.


''Kau berbohong. Jelas-jelas aku tahu kalau Marcell saat ini berada di rumah. Tinggal pilih, kau buka gerbang sialan itu atau aku sendiri yang akan menghancurkannya, hah?'' ucap Arga dengan santai namun penuh dengan tekanan di dalamnya. Apalagi tatapan mata tajamnya mampu merobohkan tembok pertahanan si penjaga.


*vroom


vroom*


Arga mulai menginjak pedal gas nya dalam-dalam hingga membuat mobilnya terdengar sangat berisik dan menggema di keheningan malam.


''Jangan, Tuan. Sebaiknya Tuan pergi saja dari sini atau Tuan Marcell akan turun tangan langsung menghabisi Tuan.'' ucap penjaga itu. Namun bukan Arga namanya yang takut dengan ancaman kecil dari orang seperti penjaga itu.


Brakk


Suara perpaduan antara kap mobil depan milik Arga dan juga gerbang besar dan tinggi itu.


''Jangan, Tuan.'' Cegah penjaga itu. Namun tidak di dengarkan oleh Arga. Ia kembali memundurkan mobilnya lebih jauh, hingga ia dengan cepat menabrakkan mobilnya ke gerbang itu lagi.


brakk


Lagi. namun suara itu lebih nyaring dari yang tadi. Bahkan pagar itu kini tampak sedikit terbuka. Arga menyunggingkan senyumnya.


'Ternyata gerbangnya lemah, selemah pemiliknya.' batin Arga yang masih sempat-sempatnya mencibir sang pemilik rumah yang ia datangi itu.

__ADS_1


''Stop, Tuan. Saya akan melaporkan anda pada pihak berwajib karena sudah mengganggu ketenteraman rumah ini.'' ucap penjaga itu.


Arga menatap nyalang pada penjaga itu. Lalu ia kembali memundurkan mobilnya.


*vroom


vroom


vroom*


Deru mobil Arga semakin terdengar menggema di sana. Ia menambah kecepatan mobil itu hingga menunjuk pada jarum maksimal. Setelah beberapa saat kemudian, Arga segera melepaskan pedal remnya hingga kemudian mobil mewahnya itu dengan kecepatan tinggi menabrak gerbang itu hingga membuat gerbang itu roboh.


BRAKKK


Tampilan mobil Arga kini tak berbentuk lagi. Namun Arga tak memperdulikannya. Yang ada dalam pikirannya kini hanyalah Vanya. Ia ingin bertemu dengannya. Karena ia yakin jika wanita yang dicintainya itu kini berada dalam rumah itu.


ckitt


Mobil yang dikendarai oleh Arga kini tiba di halaman depan rumah Marcell. Tanpa menunggu waktu lama lagi, Arga segera turun dari mobil. Kedua mata Arga bisa melihat Marcell tengah berdiri di depan pintu rumah.


Arga tampak menyunggingkan senyumnya melihat rivalnya itu. Dua orang bodyguard milik Marcell berlari menghampiri Arga dan mulai menyerangnya. Dengan sigap Arga menghindari pukulan demi pukulan yang dilayangkan oleh keduanya.


Meski pertarungan tersebut tidak seimbang, namun Arga mampu melumpuhkan keduanya. Arga memang sangat ahli dalam bidang tersebut. Tak ayal membuatnya sangat ditakuti oleh orang-orang yang mengenalnya.


*bugh


bugh


bugh*


'Dasar, tak berguna.' desis Marcell.


cuih


Arga tampak meludahi ke arah muka dari salah satu bodyguard yang baru saja ia lumpuhkan itu. Kini tatapannya tertuju pada laki-laki yang merupakan kekasih dari wanita yang dicintainya itu.


''Ck ck ck. Lihatlah! Bahkan dua lawan satu tapi masih menang aku. Hanya segitu doang kemampuan orang-orang mu, hah?'' sindir Arga dengan tatapan mengejeknya. Jangan lupa senyum seringainya tercipta saat melihat bagaimana raut muka Marcell saat ini.


Kurang ajar


Marcell pun melayangkan bogeman mentahnya pada Arga. Namun seakan bisa membaca serangan itu, Arga dapat menghindarinya.


*bugh


bugh


bugh*

__ADS_1


Pertarungan sengit itupun terjadi. Baik Arga dan Marcell terlihat seimbang, meski terdapat beberapa legam bahkan darah di wajah keduanya.


''Cuih, bajingan! Dimana Vanya, hah?" teriak Arga sambil terus menerus memukul lengan Marcell yang diletakkan di depan wajahnya. Marcell terlihat melindungi wajahnya dari serangan Arga.


"Tak ada di sini." sahut Marcell sambil mendorong tubuh Arga sehingga membuatnya terhuyung. Marcell memanfaatkan hal itu lalu ia dengan cepat mengayunkan kaki kanannya hingga mengenai pelipis kiri Arga.


bruk


Tubuh Arga tersungkur di lantai. Namun dengan cepat ia bangun lalu kembali menghantamkan bogeman mentah di rahang Marcell.


*bugh


cuih*


Marcell seketika meludah saat ia merasakan hantaman kuat di rahang kirinya. Ia sampai di buat meringis akibat pertempuran itu.


Perkelahian antara Arga dan Marcell berlangsung sengit dan sama kuatnya. Meski wajah keduanya juga nampak lebam, namun keduanya masih memiliki tenaga untuk melanjutkan perkelahian itu.


Hingga suara deru sebuah mobil menghentikan aktivitas keduanya. Arga yang curiga dengan mobil itu segera berbalik dan pergi menghampirinya. Namun belum sempat ia melangkah jauh, Marcell lebih dulu menarik kerah belakang Arga dan segera membanting tubuh kekarnya.


*Argh


brukk


Fu**ing sh***


Arga pun mengurungkan niatnya lalu segera membalas serangan yang diberikan padanya. Arga tampak fokus dengan aktivasnya itu hingga tak menyadari jika kedua bodyguard lain datang menghampiri nya dan langsung menghajarnya dengan brutal.


Marcell cukup puas dengan ketangkasan kedua bodyguard nya yang ini. Lebih baik dari bodyguard nya yang tadi.


bruk


Tubuh Arga tersungkur seketika saat ia mendapatkan tendangan tiba-tiba dari belakang.


''Sh**.'' umpat Arga lalu ia segera bangkit dari tempat nya. Namun baru saja ia berdiri tegak, ia kembali mendapatkan tendangan di dagunya membuatnya meringis kesakitan.


Cuih


Terlihat darah bercampur liurnya keluar dari mulutnya. Arga tergeletak di lantai marmer itu. Dengan kasar kedua bodyguard itu menghajar tubuh Arga membabi buta. Sedangkan Marcell tampak melihatnya dengan melipat kedua tangannya di depan dadanya.


''Hentikan.'' Teriak Vanya sambil menghampiri tubuh lemah Arga di bawah sana. Vanya tampak meneteskan air matanya saat melihat laki-laki yang kini dicintainya itu tengah terkapar tak berdaya.


Arga tampak menyunggingkan senyumnya saat melihat wajah cantik yang dirindukannya itu.


''Akhirnya aku menemukanmu, baby.''


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2