
Setelah berbicara dengan Arga, Vanya pun memutuskan untuk pergi ke ruang rawat Jonathan.
Setibanya di sana Vanya sudah melihat sepasang laki-laki dan perempuan paruh baya yang tengah berada di depan ruang rawat itu.
''Permisi, Tuan, Nyonya,'' sapa Vanya sopan. Kedua orang itu terlihat menatap ke arah Vanya.
''Anda siapa?'' tanya pria paruh baya tersebut.
''Saya adalah rekan Jonathan, Tuan. Kebetulan saya tadi yang mendampingi Jonathan setelah kecelakaan itu terjadi. Karena memang kejadian tersebut berada di depan mobil saya.'' jelas Vanya.
''Oh, my God. Terimakasih Nona atas bantuannya. Kami berutang Budi kepada Nona,'' ucap wanita yang Vanya yakini merupakan ibu dari Jonathan.
''Tidak, Nyonya. Sudah sepantasnya kita sebagai sesama harus tolong menolong, bukan? Apalagi saya juga mengenal baik Jonathan. Jadi jangan terlalu dipikirkan,'' sahut Vanya seraya tersenyum.
''Terimakasih, Nak. Kamu sangat baik hati. Jo sangat beruntung bisa mengenal wanita sebaik dirimu,'' puji wanita tersebut yang seketika membuat Vanya sedikit tersipu malu.
Vanya dan kedua orang tua Jonathan pun terlibat obrolan santai sambil menunggu Jonathan sadar dari pingsannya. Ia bisa menilai jika kedua orang tua Jonathan sangat menyayanginya mengingat Jonathan merupakan anak bungsu mereka dari tiga bersaudara. Apalagi Ibunya juga menceritakan bagaimana masa kecil Jonathan hingga dewasa seperti sekarang. Vanya menanggapinya hanya dengan senyuman manisnya.
''Sepertinya saya harus segera pergi sekarang Uncle, Aunty. Sudah malam, lagipula besok pagi-pagi sekali saya harus terbang ke Indonesia,'' ucap Vanya berpamitan kepada kedua orang tua Jonathan. Jonathan sendiri sudah sempat siuman walaupun sebentar. Karena setelah itu ia kembali tidur agar bisa mempercepat proses penyembuhan lukanya.
''Baiklah, jaga diri baik-baik, Nak. Terimakasih banyak, semoga kita bisa bertemu lagi,'' ucap Ibu Jonathan sambil memeluk dan mencium kedua pipi Vanya. Ayah Jonathan juga tampak melemparkan senyum meski wajahnya memang datar. Namun sebisa mungkin ia berusaha ramah kepada Vanya. Dan Vanya bisa memaklumi itu.
''Iya, Aunty.'' Setelah itu Vanya keluar dari ruangan tersebut dan meninggalkan rumah sakit.
Karena waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Vanya pun memutuskan untuk mencari hotel yang terdekat. Hanya berjarak seratus meter dari sana terdapat sebuah hotel yang tak terlalu besar namun juga tidak terlalu kecil.
Setelah menemukannya, ia segera memasuki lobi hotel untuk check-in dan memasuki kamarnya.
''Haih, leganya.'' keluh Vanya saat dirinya menghempaskan tubuhnya terlentang di atas ranjang empuk itu.
Tubuhnya sangat lelah hingga tanpa ia sadari terdengar suara dari cacing-cacing yang ada di dalam perutnya.
Krukk
''Astaga. Aku belum makan malam,'' Vanya menepuk jidatnya karena sampai lupa makan malam. Memang tadi di rumah sakit kedua orang tua Jonathan sempat menawari Vanya makanan, tapi dengan sopan ia menolak.
__ADS_1
Tak mau menunggu lebih lama, Vanya pun bangkit dari tidurnya lalu meraih telepon genggam di sana untuk menghubungi bagian pihak hotel dan memesan makan malamnya. Setelah menunggu hampir setengah jam, makanan itupun datang. Sepiring pasta dengan beberapa camilan dan segelas jus jambu favoritnya.
''Akhirnya, kenyang juga.'' ucap Vanya sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Bahkan ia merasa perutnya sedikit begah karena tadi saat memakannya sedikit terburu-buru alhasil membuatnya begah.
Saat dirinya sudah merasa sedikit mengantuk, Vanya beranjak dari sana dan memasuki kamar mandi.
Setelah membersihkan tubuhnya, Vanya langsung naik ke atas ranjang dengan menggunakan bathrobe nya. Tak mungkin ia menggunakan pakaiannya tadi. Karena ia akan menggunakannya lagi besok.
Tringg
Belum juga lima menit Vanya memejamkan mata, ponselnya berdering mengganggunya.
Ia melihat nama Marcell di sana. Vanya masih menimbang-nimbang perlu diangkat atau tidak.
"Halo," ucap Vanya.
"Dimana? Gak jadi pulang?"
"Besok, Cell. Tadi ada kecelakaan di depan mobil yang aku tumpangi. Dan ternyata yang kecelakaan adalah Jonathan. Oleh karena itu, aku berinisiatif untuk menjenguknya." ucap Vanya memberikan alasan nya.
"Besok pagi." jawab Vanya.
"Baiklah. Aku akan mendatangimu nanti. See you tomorrow, i miss you,"
"Hm. Oke. Bye," ucap Vanya lalu memutuskan panggilan itu.
Seketika tubuh Vanya lemas saat mendengar ucapan Marcell yang akan mendatanginya. Itu berarti ia harus menunda pertemuannya dengan Arga. Agar tak membuat Marcell curiga.
'Aku harus beritahu Arga soal ini,' batin Vanya.
Vanya segera mencari kontak Arga dan mengirimi pesan yang berisi tentang menunda pertemuannya besok dikarenakan Marcell menginginkannya untuk bertemu juga.
Tringg
Vanya hanya bisa geleng-geleng kepala saat melihat Arga yang langsung menghubunginya.
__ADS_1
"Ha ..
"Halo, baby? Apa maksud mu? Kenapa harus di tunda? Aku sangat merindukanmu, baby. Kenapa juga laki-laki itu mengajakmu bertemu? Aku tak menyukainya,"
"Ya beginilah resikonya, Hon. Kamu harus pahami keadaanku, oke? Tak mudah bagiku untuk berpisah darinya. Dia yang tak mau melepaskanku," ucap Vanya. Dari awal ia sudah menekankan kepada Arga tentang hubungan mereka. Vanya sendiri masih memiliki status sebagai kekasih Marcell. Sangat tidak etis jika Vanya keluar dari agency tersebut hanya karena hubungannya dengan Arga. Lagipula Vanya belum terlalu yakin jika hubungannya dengan Arga bisa berlanjut ke jenjang yang lebih serius. Apalagi ada kesenjangan diantara keduanya yang sangat kontras.
Arga hanya bisa diam dan menurut. Mengikuti segala permintaan dari wanita yang dicintainya itu. Meski dalam hati ia sangat membenci hubungan mereka yang sembunyi-sembunyi.
'Aku harus memikirkan cara agar bisa memisahkan Vanya dengan Marcell secepatnya,' batin Arga menyeringai.
''Baiklah, baby. Terserah kau saja,'' sahut Arga pada akhirnya ia juga yang mengalah.
''Thanks, Hon. I miss you,'' ucap Vanya.
''Aku juga sangat merindukanmu, baby. Apalagi keliaranmu. Oh, God. Membayangkan saja aku sudah on,'' ucap Arga yang terdengar frustasi di telinga Vanya.
Vanya hanya bisa tergelak mendengarnya.
''Ha-ha-ha. Itu salahmu sendiri, Honey. Sabar ya, tunggu kepulanganku. Ah, aku jadi teringat tentang malam-malam kita selama disini, Honey. Oh my God,'' ucap Vanya yang semakin membuat Arga semakin tersiksa apalagi suara Vanya dibuat seseksi mungkin.
''Jangan menggodaku, baby. Kamu tahu sendiri bukan, bagaimana aku? Aku bisa pergi mendatangimu sekarang juga,'' ucap Arga tegas. Vanya terkekeh mendengar ucapan dari kekasih gelapnya itu.
''Haha sorry, Honey. Sangat menyenangkan sekali saat mendengarmu frustasi seperti sekarang. Ah, aku jadi ingin cepat-cepat pulang dan menemui mu,'' ucap Vanya.
''Oh, God. you're so naughty, baby. But i like it,'' ucap Arga.
Kedua insan itu pun tertawa bersama-sama. Kemudian Vanya mempunyai ide jail yang tiba-tiba muncul terlintas di benak nya.
''Kamu dimana sekarang, Honey?Sedang apa?'' tanya Vanya.
''Why? Aku ada di apartemen, sedang menikmati wine sambil menelepon mu,'' jawab Arga.
''Okay. Wait a second,'' ucap Vanya. Lalu panggilan tersebut langsung diputuskan oleh Vanya.
''Kita lihat bagaimana reaksinya, Ha-ha-ha,''
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...