
Saat ini Arga dan Vanya sudah berada di dalam mobil milik Vanya. Setelah tadi Arga dengan paksa menarik masker dan topi yang menutupi wajah Vanya, akhirnya Arga mengetahui wajah cantik Vanya yang terluka. Tanpa menunggu persetujuan Vanya, Arga mengambil kunci mobil milik Vanya dan ikut masuk ke dalam mobil itu.
''Tidak bisakah kamu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi padamu, Vanya?'' tanya Arga yang duduk di belakang kemudi.
''A-aku sudah bilang kan tadi. Aku habis jatuh dari tangga apartemen ku,'' jawab Vanya sambil memalingkan wajahnya ke arah luar jendela mobil. Arga tentu tahu jika Vanya saat ini tengah berbohong kepada dirinya. Namun ia juga tidak bisa memaksa Vanya untuk mengatakan alasan mengapa dia berbohong padanya. Karena memang keduanya tidak mengenal dekat.
''Aku bukan anak kecil yang bisa kamu bohongi, Van. Aku tahu memar yang ada di wajahmu itu merupakan hasil dari pukulan seseorang. Siapa yang memukulmu?'' tanya Arga lagi. Ia baru tahu jika Vanya merupakan gadis yang keras kepala. Padahal pertama kali ia melihat Vanya, ia berpikir jika Vanya merupakan gadis yang pendiam. Namun siapa sangka, dibalik sifat pendiam nya ternyata tersimpan pula sifat keras kepalanya.
''Please, Ga. Jangan memaksaku,'' ucap Vanya memohon kepada Vanya. Entah mengapa melihat Vanya yang kukuh tidak memberikan jawaban pasti membuat Arga merasa geram. Namun sebisa mungkin ia tak ingin memperlihatkannya.
''Baiklah kalau begitu, Vanya. Aku bisa dengan mudah mendapatkan jawabannya tanpa harus menanyakannya kepadamu. Sekarang, aku antar kamu pulang. Aku akan membantumu untuk mengobati lukamu,'' ucap Arga seraya mulai memasang seat belt nya. Vanya yang mendengar ucapan tersebut seketika langsung menggelengkan kepalanya.
''Tidak. Jangan, Arga. Sebaiknya aku pulang sendiri. Aku bisa mengobatinya dengan tanganku sendiri. Tidak usah mengantarku,'' ucap Vanya menolak tawaran yang diberikan oleh Arga. Ia tak mau semakin banyak masalah jika Marcell mengetahuinya.
''Aku tidak menerima bantahan, Vanya.'' ucap Arga dengan nada dinginnya. Tatapan matanya seakan menusuk ke dalam jantung Vanya. Sehingga membuat nyali Vanya menciut. Kini ia hanya bisa diam sambil menundukkan kepalanya.
*Vroom
Vroom*
Mobil sport mewah milik Vanya mulai berjalan meninggalkan area parkir apotek tersebut. Suasana malam hari ini terasa lebih dingin dari biasanya. Saat Arga tengah fokus dengan kemudinya, Vanya justru tampak melihat ke arah luar jendela. Tak ada sepatah katapun yang terucap dari mulut keduanya sepanjang perjalanan mereka menuju apartemen. Baik Vanya dan Arga tak ada yang ingin memulai membuka suara.
__ADS_1
Citt
Suara decitan dari rem mobil terdengar di seluruh penjuru basemen apartemen mewah tersebut. Tak banyak mobil yang terparkir disana. Tampak hanya beberapa yang parkir, mungkin yang lainnya sedang keluar. Mengingat hari ini merupakan hari Sabtu, banyak anak muda yang menghabiskan malam Minggu dengan berkencan, Mungkin.
''Van, Vanya?'' panggil Arga. Tak ada sahutan dari wanita itu.
''Van?'' sekali lagi. Arga hanya geleng-geleng melihat Vanya yang tidak merespon panggilan darinya.
''Vanya?'' kini dengan tepukan di bahu kiri Vanya, akhirnya gadis itu tersadar dari lamunannya. Bahkan ia sedikit terjingkat mendapatkan tepukan dari Arga.
''E-eh. Sudah sampai ya? Maaf,'' ucap Vanya yang tidak enak dengan Arga. Karena dirinya, Arga rela mengantarkannya hingga sampai di apartemennya.
''It's oke. Ayo turun,'' belum sempat Vanya mengatakan sesuatu, terdengar suara panggilan dari ponsel miliknya.
''Em, bentar ya. Aku angkat telepon dulu,'' ucap Vanya yang mendapatkan sebuah anggukan kepala dari Arga.
'Marcell? Ngapain laki-laki brengsek itu ngehubungin gue lagi.' batin Vanya. Karena saat ini ia sedang bersama laki-laki lain, mau tak mau ia harus mengangkatnya, walau dalam hati rasanya enggan.
''Halo?'' ucap Vanya.
''Eugh.. Ha-halo, Vanya. Aku mau bilang jangan sampai kamu masuk kantor sebelum lukamu sembuh semua, Ouh ...'' ucap Marcell diseberang sana dengan suara beratnya. Bahkan terdengar napasnya memburu dan diakhir kalimatnya Vanya mendengar suara Marcell yang mende...sah.
__ADS_1
'Baji...ngan! Dia sengaja meneleponku disaat dia sedang bersama wanita lain. Dasar bina...tang,' batin Vanya geram. Bahkan tanpa ia sadari kedua tangannya mengepal kuat.
Karena didalam mobil itu hening, sehingga membuat Arga bisa mendengar semua yang diucapkan seorang laki-laki di seberang sana.
''Ah,'' kini Vanya semakin yakin jika laki-laki yang masih menjadi kekasihnya itu sedang bersama dengan wanita lain karena terdengar pula suara seorang wanita di sana.
Tak ada lagi air mata yang menggenang di pelupuk matanya saat ini. Yang ada hanya memerah, kedua matanya memerah seakan seperti ada bara api di dalam sana. Da..danya membuncah seakan ingin keluar dari sarangnya. Bukan lagi karena penghianatan yang dilakukan oleh sang kekasih, melainkan karena hubungan mereka yang tidak bisa diakhiri. Marcell menolak keras saat Vanya menginginkan hubungan mereka putus. Bahkan akibat permintaannya itu, Marcell semakin gila mengha...jar tubuh ringkihnya.
''Sebaiknya urusi saja wanita yang kau tunggangi saat ini. Aku tahu apa yang harus aku lakukan, Bina... tang!" sahut Vanya dengan menekankan kata bina...tang dibelakangnya. Dengan sekuat hati ia mengatakan itu dengan suara yang dibuat sedingin mungkin. Ia tak mau lagi bersedih hanya karena baji...ngan sekelas Marcell.
"Dasar wanita..." belum sempat Marcell membalas ucapan Vanya, Vanya lebih dulu mematikan panggilan itu secara sepihak. Ia sudah tidak Sudi mendengar kalimat yang pastinya ia tahu apa yang akan terucap.
''Dasar baji...ngan!'' desis Vanya sambil masih meremas ponsel miliknya yang masih dalam genggaman.
Sejak tadi, Arga yang masih duduk disampingnya itu selalu memperhatikan gerak gerik serta perubahan raut wajah Vanya. Ia sengaja tidak bersuara terlebih dahulu karena ingin menghormati Vanya yang sedang ditelepon oleh kekasihnya. Darimana ia tahu jika yang menghubungi Vanya adalah kekasihnya - Marcell? Itu dikarenakan ia sempat melirik kearah layar pipih tersebut sebelum Vanya mengangkat panggilan tadi.
Arga pun dibuat geram dengan kelakuan Marcell yang seakan semena-mena terhadap Vanya. Ia tidak habis pikir dengan kekasih Vanya. Disaat Vanya tengah kesakitan akibat luka yang di deritanya, justru laki-laki itu malah bersenang-senang dengan wanita lain di luaran sana. Ini juga merupakan pertama kalinya Arga tampak peduli dengan seorang wanita. Setelah sekian tahun ini ia tidak lagi berhubungan dengan wanita selain naf...su belaka.
'Kenapa aku juga ikutan kesal dengan laki-laki baji...ngan itu? Tidak, tidak. Aku hanya kasihan melihatnya. Apalagi dia sahabat dari istri sahabatku sendiri. Iya, hanya kasihan.' batin Arga yang merasa gamang dengan ucapannya sendiri. Tak mau menunggu lebih lama lagi, ia berusaha membuyarkan lamunan Vanya.
''Bisakah kita turun sekarang?''
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...