
Setelah dari restoran tersebut, Vanya dan kedua asistennya langsung pulang ke hotel tempat mereka menginap.
Ketiga wanita itu dengan santai melangkahkan kaki memasuki lobi hotel dan memasuki lift. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata manusia yang memperhatikan ketiganya semenjak mereka memasuki area hotel.
''Aduh, sepertinya saya mau keluar dulu, Nona. Ada yang harus saya beli,'' ucap Gita tiba-tiba saat mereka tengah menunggu lift terbuka.
''Mau kemana ?'' tanya Vanya.
''Saya lupa beli softex, Nona. Hehehe,'' jawab Gita sambil memperlihatkan deretan gigi putihnya.
''Kalau begitu biar ditemani Asti. Bagaimana? Kamu mau kan As, pergi mengantar Gita?'' tanya Vanya pada Asti.
''Baik, Nona.'' jawab Asti. Lalu keduanya pergi meninggalkan Vanya yang tengah berdiri menunggu lift terbuka.
Tanpa Vanya sadari ada seseorang yang kini berada didekatnya. Vanya tak memperhatikan sekitar karena ia memang tengah menunduk sambil mengetuk-ngetuk heels-nya demi membunuh rasa bosannya.
Ting
Suara pintu lift terbuka. Vanya pun masuk ke dalam sana diikuti oleh seseorang yang sejak tadi di belakangnya.
Ting
Pintu lift kembali tertutup. Sejurus kemudian terasa ada sebuah lengan kekar yang memeluk tubuh Vanya dari belakang. Sontak hal itu membuat Vanya tersentak. Namun sepersekian detik kemudian ia merasakan lega setelah mendengar suara yang sangat familiar di telinga nya.
''I Miss you, baby.'' suara berat seorang laki-laki.
''Ar? Kau disini?'' tanya Vanya lalu dengan cepat ia membalikkan tubuhnya menghadap kebelakang. Vanya kini bisa melihat wajah tampan yang dirindukannya itu.
Arga tampak tersenyum saat melihat wajah terkejut Vanya melihat kedatangannya.
''Hm, aku tak bisa jauh darimu, baby.''ucap Arga lalu ia mengecup bibir seksi Vanya. Vanya pun tersenyum lalu dengan senang hati membalas ciuman itu.
Untung keadaan lift saat ini sedang sepi. Sehingga keduanya dengan leluasa bisa melampiaskan kerinduan mereka.
__ADS_1
Namun kesenangan itu tak berlangsung lama, pintu lift kembali terbuka di angka lima, membuat kedua insan itu tersentak dan buru-buru melepaskan ciuman mereka.
Terlihat beberapa orang yang nampak seperti sebuah keluarga memasuki lift itu. Vanya dan Arga melangkah mundur, memberikan tempat untuk delapan orang yang terdiri dari empat orang yang sudah paruh baya dan dua orang yang sudah berumur lalu dua lagi seperti anak mereka yang masih berumur sekitar belasan tahun.
Saat ini posisi Arga berada di belakang Vanya. Saking sempitnya ruang, membuat Vanya sedikit menghimpit Arga. Melihat bentuk tubuh Vanya dari belakang, membuat Arga tergoda untuk menyentuhnya.
Tiba-tiba Arga berjongkok disana, seolah tengah membenahi tali sepatunya yang terlepas. Merasa aman, ia berdiri dengan gerakan pelan sambil tangan kanannya menyentuh kaki mulus Vanya yang saat ini tengah menggunakan rok mini hingga di atas lututnya.
Vanya yang merasakan tangan kekar Arga mengelus kakinya langsung tersentak. Namun dengan cepat ia menutup mulutnya rapat-rapat agar tak menimbulkan suara yang nantinya bisa membuat curiga orang-orang yang ada di sana.
Semakin lama elusan tangan Arga semakin keatas hingga posisi Arga kini sudah kembali berdiri seperti semula. Namun bedanya tangan kanannya masih bertengger di dalam rok mini Vanya. Tanpa sadar Vanya sedikit membuka kakinya agar memudahkan tangan Arga bergerak di bawah sana.
Arga tersenyum saat melihat wajah Vanya memerah menahan gejolak yang diciptakannya itu. Kini tangan Arga sampai di pangkal Vanya. Bergerak pelan di luar kain penutup milik Vanya. Bergerak pelan, memutar-mutar, keatas kebawah, sesekali sedikit menusuk disana. Sekuat tenaga Vanya menahan diri untuk tak membuka mulut agar tak mengeluarkan desahannya.
Vanya semakin dibuat gila saat jari Arga dengan sengaja menjepit biji kecil miliknya disana. Bahkan ia sampai menundukkan kepala lalu menyenderkan kepalanya pada bahu Arga. Arga hanya bisa terkekeh melihat wajah frustasi Vanya saat ini. Namun tak dapat ia pungkiri saat ini dirinya pun sudah sangat terpancing dan merasa hasratnya sudah memuncak.
''Kamu sudah basah, baby.'' bisik Arga dengan senyum terpatri di bibirnya.
''Kau sangat nakal, Tuan.'' balas Vanya dengan suara lirih.
Suara pintu lift terbuka*. Dengan cepat Vanya menetralkan dirinya dan kembali berdiri tegak. begitu juga dengan Arga. Ia menarik tangannya dari dalam rok milik Vanya.
Rombongan orang tadi berhenti di lantai nomor dua puluh satu. Setelah kedelapan orang itu keluar, lift kembali tertutup.
Melihat hal itu dengan cepat Vanya membalikan badannya dan langsung menyerang bibir Arga.
Eugh
Desah Vanya disela-sela ciuman mereka. Ciuman itu berlangsung lama dan menggebu-gebu hingga pintu lift kembali terbuka di lantai nomor tiga puluh. Lantai dimana kamar Vanya berada.
''Aku sudah sampai di lantai kamarku,'' ucap Vanya setelah ia melepaskan ciuman mereka. Napas keduanya masih memburu satu sama lain.
''No, baby. Kau ikut denganku sekarang. Kita menuju ke kamarku,'' ucap Arga langsung kembali menyambar bibir Vanya tanpa menunggu balasan darinya.
__ADS_1
Vanya yang tak bisa menolak hanya menganggukkan kepala dan kembali membalas serangan itu.
Ting
Kini tibalah mereka di lantai lima puluh, lantai paling atas di hotel mewah tersebut.
Arga tersenyum saat mengetahui asistennya memesankan kamar paling mewah untuknya dan Vanya.
'Aku akan memberikan Dinda bonus tambahan,' batin Arga.
Melihat pintu lift terbuka, membuat Arga langsung mengangkat tubuh Vanya ala bridal dan membawanya keluar dari sana. Berjalan sampai di depan sebuah pintu bernomor satu kosong satu kosong.
''Ambil kartuku di saku jas, baby.'' titah Arga langsung diiyakan oleh Vanya. setelah mendapatkan kartu akses itu, dengan cepat Vanya menempelkannya di pintu hingga membuat pintu itu terbuka dengan sendirinya.
Ceklek
Dengan cepat Arga menurunkan Vanya setelah keduanya telah memasuki kamar itu. Menyandarkan tubuh ramping Vanya di dinding. Menyerangnya, menciuminya, menekan dan menggigit-gigit kecil di permukaan tubuh Vanya yang menjadi candu baginya.
Akh
Suara merdu Vanya mulai terdengar syahdu di telinga Arga. Dengan cepat ia melucuti pakaian milik Vanya. Begitu pula dengan Vanya, ia juga segera membuka pakaian milik Arga dengan terampil. Melemparkan pakaian mereka masing-masing, berjalan menuju ke arah ranjang sambil bibir mereka saling bertautan. Sesampainya di ranjang, Arga segera memainkan inti permainannya. Membentak keras ke dalam sangkar miliknya. Saling melampiaskan kerinduan yang telah melanda mereka sejak beberapa hari tak bertemu.
Gerakan liar dan cepat, saling menuntut membuat keduanya berada dalam lembah kenikmatan yang tiada tara. Tak puas dengan satu posisi, Arga dan Vanya bergantian hingga keduanya bisa mencapai dimana titik kenikmatan yang keduanya inginkan. Peluh keringat membasahi tubuh keduanya, namun tak mampu meredam kobaran api asmara yang ada dalam diri keduanya.
*akh..
Ouch ...
Akh* ..
Seakan tak ada lelah keduanya terus menerus melakukan permainan itu hingga pagi menjelang. Entah sudah berapa kali keduanya mencapai puncak kenikmatan cinta mereka bersama. Hanya deru napas yang kini terdengar nyaring dari mulut keduanya. Mencari pasokan udara banyak-banyak, seakan keduanya habis berlari berpuluh-puluh kilometer jauhnya.
''I Love you, baby.'' ucap Arga sambil menciumi pundak polos Vanya dari belakang. Saat ini keduanya tengah terbaring lemas setelah menyelesaikan permainan panas mereka semalam suntuk.
__ADS_1
''Love you too, Honey.''
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...