Sang Penakluk Cassanova

Sang Penakluk Cassanova
Bab 96 Dilarikan ke Rumah Sakit


__ADS_3

''Ayo cepetan, keburu ada orang yang melihat.'' ucap seorang laki-laki kepada kedua temannya yang sedang mengangkat tubuh seorang laki-laki dari dalam mobil mereka.


Kedua orang itu meletakkan tubuh tak berdaya itu bersandar di dinding parkir sebuah perusahaan besar.


Setelah selesai, mobil yang ditumpangi ketiga orang itu segera meninggalkan tempat itu sebelum ada orang yang melihat aksi ketiganya.


*tap


tap


tap*


Suara hentakan heels terdengar nyaring. Tampak seorang wanita tengah berjalan keluar lift dan berjalan menyusuri basemen perusahaan tempatnya bekerja.


tin tin


Suara mobilnya terdengar saat ia menekan remot miliknya.


''Akhirnya pulang juga. Semua gara-gara bos laknat itu. Haih,'' ucap wanita itu seraya masuk ke dalam mobilnya.


Saat mobilnya hendak meninggalkan area basemen, sorot lampu mobilnya menangkap sesuatu yang tak jauh dari tempat nya berada.


''Apaan tuh?'' gumam wanita itu. Lalu ia menghentikan laju mobilnya yang sudah beberapa meter. Dengan penuh kehati-hatian wanita itu keluar dari mobilnya dan menghampiri sesosok tubuh seorang laki-laki yang tengah bersandar di balik dinding.


*deg


deg*


Detak jantung wanita itu terdengar memburu setiap ia melangkahkan kakinya mendekati dinding tersebut. Semakin lama semakin dekat hingga kini ia berada hanya dua tiga meter.


'Siapa dia?' batin wanita itu. Semakin tinggi rasa penasaran nya membuat wanita itu kian mendekat hingga kedua matanya terbelalak saat ia berdiri di samping tubuh itu.


''Tu-tuan Arga?'' ucap wanita itu terbata saat melihat kondisi Bos-nya sendiri.


Wanita itu seketika menoleh ke kanan dan ke kiri nya. Tak ada satupun orang yang ada di basemen kantornya.


Dengan cepat wanita itu mengambil ponselnya di dalam saku jasnya dan kemudian menelepon seseorang. Tak lama kemudian terlihat dua orang tergopoh-gopoh menghampirinya.

__ADS_1


''A-ada apa Non Dinda?'' tanya salah seorang dari kedua orang yang berbaju keamanan disana.


''Bantu angkat Tuan Arga ke mobil saya, Pak. Disana,'' ucap Dinda sambil menunjuk ke arah mobilnya berada.


''Baik,'' sahut petugas keamanan itu lagi. Lalu kedua orang itu mengangkat tubuh Arga dan memasukkannya ke dalam mobil Dinda.


''Terimakasih, Pak. Untuk saat ini jangan sampai ada yang tahu masalah ini. Kalian paham?'' tanya Dinda dengan tegas.


''Baik, Nona.'' sahut keduanya serempak.


Setelah itu Dinda langsung masuk ke dalam mobilnya dan segera mengemudikan mobil itu menuju ke rumah sakit milik Alvin - teman Bos-nya.


"Halo?''


"Saya dalam perjalanan ke rumah sakit, Tuan. Siapkan semuanya," ucap Dinda to the point'.


''Saya tidak sedang jaga, Mbak Dinda yang cantik.'' sahut Alvin di seberang sana.


''Kembalilah ke rumah sakit sekarang, Tuan. Saat ini saya membawa Tuan Arga yang dalam keadaan tidak sadar. Cepat, Tuan. Saya hampir sampai,'' ujar Dinda.


''APA? Bagaimana bisa terjadi? Oke aku akan memerintahkan bawahannya untuk menyiapkan segalanya. Aku akan segera menyusul ke sana.'' sahut Alvin yang terkejut mendengar ucapan dari asisten Arga.


Selang sepuluh menit kemudian mobil yang dikendarai oleh Dinda telah sampai di lobi rumah sakit. Di sana juga sudah ada beberapa dokter serta perawat yang menyambut kedatangan Dinda.


ckitt


Setelah Dinda menghentikan mobilnya, beberapa petugas rumah sakit itu langsung membantu mengeluarkan tubuh Arga dari dalam mobil. Dipindahkan ke ranjang pasien. Lalu tubuh tak berdaya itu di bawa langsung menuju ke ruangan IGD yang tak jauh dari sana.


Beberapa dokter dan perawat langsung ikut memasuki ruangan tersebut. Sedangkan Dinda hanya bisa menunggu di luar ruangan.


Dinda mulai mengabarkan kondisi Arga kepada Papa Arga dan teman-teman Arga. Ia juga menghubungi suaminya supaya tidak membuat suaminya mencemaskan dirinya karena terlambat pulang.


'Semoga tidak terjadi apa-apa dengan Tuan Arga,' batin Dinda berdoa sambil memejamkan matanya.


''Mbak Dinda?'' terdengar suara seseorang yang memanggilnya dari kejauhan.


''Tuan Alvin.'' sapa Dinda sambil sedikit membungkukkan badannya.

__ADS_1


''Bagaimana keadaan Arga, Mbak?'' tanya Alvin masih dengan napasnya yang naik turun akibat ia berlarian sepanjang lorong rumah sakit.


''Masih ditangani dokter, Tuan.'' jawab Dinda.


Tak selang waktu lama datanglah seorang laki-laki yang masih terlihat gagah meski umurnya tak lagi muda. Tampak jelas raut wajahnya yang menunjukkan kekhawatirannya disana.


''Bagaimana keadaannya?'' suara berat laki-laki itu seketika membuat Dinda terperanjat dan berdiri dari duduknya seketika.


''Tu-tuan besar? Saat ini Tuan Arga masih dalam penanganan dokter, Tuan.'' ucap Dinda sambil menundukkan kepala.


''Apa sudah ketemu siapa yang sudah membuat putraku seperti ini, Din?'' tanya laki-laki bernama Arya Wijaya - pemegang kekuasaan tertinggi di kerajaan Wijaya Group. Saat ini Arga sekedar mengambil alih tugas dan pekerjaan Papanya. Sedangkan pemilik semua itu masih bertanda tangan milik Arya Wijaya.


Meski semua aset keluarga masih milik Papanya, namun Arga juga memiliki bisnis seperti beberapa club' malam, apartemen, hingga beberapa villa yang juga atas namanya.


''Belum, Tuan. '' jawab Dinda


Tak beberapa lama kemudian Dida pun meminta ijin pada Tuan Arya untuk pulang, mengingat ia mempunyai dua orang putra yang masih memerlukan kasih sayangnya. Untung saja Tuan Arya menyetujui permintaan Dinda mengingat dulu Dinda juga pernah menjadi asistennya.


Setelah melalui berbagai pemeriksaan, dokter mengatakan jika Arga tak apa-apa. Hanya luka luar saja yang harus mendapat perawatan. Untuk organ dalamnya tidak terjadi apa-apa. Arya saat ini masih menemani putra semata wayangnya di dalam kamar inap VVIP rumah sakit itu.


Tampak pula ada beberapa teman Arga yang juga turut hadir untuk memberi semangat kepada Arga maupun Arya. Daniel, David, Alex, dan Alvin masih senantiasa menunggu Arga siuman bersama Papanya.


*tok


tok


tok*


Seorang laki-laki memasuki kamar inap itu dan segera mendekatkan diri kepada Arya. Dia adalah Roy. Bawahan serta orang kepercayaan Arya Wijaya sejak ia masih menjabat hingga saat ini. Semenjak ia mendengar kabar soal keadaan sang anak, Arya langsung memerintahkan kepada Roy untuk menyelidiki semuanya.


''Bagaimana, Roy?'' tanya Arya to the point'. Keempat sahabat Arga tampak juga ikut menyimak percakapan keduanya. Namun Arya juga tak mempermasalahkannya. Ia juga mengenal dekat dengan mereka semua dan menganggap mereka seperti Arga - putranya.


''Saya sudah memeriksa CCTV perusahaan, Tuan. Dan saya menemukan jika Tuan Arga turun dari sebuah mobil hitam dengan diseret oleh dua orang laki-laki misterius.'' jawab Roy. Arya tampak diam mencermati setiap kata yang diucapkan oleh orang kepercayaannya itu. Ia tak akan gegabah mengambil keputusan.


''Lalu? Sudah kau selidiki orang-orang itu?'' tanya Arya.


''Sudah, Tuan. Mereka merupakan bodyguard bayaran yang saat ini disewa oleh seorang laki-laki bernama Marcell Darwin, pemilik dari M.D ENTERTAINMENT.''

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2