Sang Penakluk Cassanova

Sang Penakluk Cassanova
Bab 92 Lepaskan aku,


__ADS_3

Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Marcell pun meninggalkan kantor. Akhirnya kini ia bisa fokus pada Vanya tanpa ada gangguan dari orang lain.


Mobil yang dikendarai Marcell saat ini sudah sampai di halaman rumahnya. Dengan menenteng sebuah paperbag berisi kue kesukaan Vanya, Marcell melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.


''Dimana Vanya?'' tanya Marcell pada pelayannya.


''Di kamar, Tuan.'' jawab si pelayan.


''Dia tak keluar sama sekali?'' tanya Marcell seakan menginterogasi pelayannya.


''Keluar saat makan saja, Tuan.'' jawab pelayan itu lagi.


Marcell hanya menganggukkan kepala lalu ia berjalan menaiki tangga.


Ceklek


Pandangan mata Marcell tertuju pada punggung seorang wanita yang tengah berdiri membelakanginya sambil melihat ke arah keluar jendela.


Senyum Marcell seketika mengembang lalu ia perlahan mendekat setelah meletakkan paperbag itu di atas meja.


''Ngapain berdiri disini, hm? Kenapa gak duduk saja?'' tanya Marcell sambil melingkarkan kedua tangannya di perut Vanya. Tak ada keterjutan pada diri Vanya saat merasakan pelukan dari Marcell. Perlahan Vanya mengurai genggaman tangan kekar Marcell itu kemudian ia berjalan tanpa menghiraukan keberadaan Marcell.


Marcell yang tadinya bersemangat untuk pulang kini berganti dengan amarah karena Vanya kini mendiamkannya. Dengan cepat Marcell menarik lengan Vanya dan mencengkeramnya.


''Kenapa, Vanya? KENAPA?'' bentak Marcell tepat di depan wajah Vanya. Vanya sampai memejamkan mata kala Marcell meninggikan suaranya.


''Aku lelah, Marcell. Aku lelah dengan hubungan tak sehat ini. Ku mohon lepaskan aku,'' mohon Vanya sambil menatap lekat kedua mata Marcell. Bahkan kini kedua mata Vanya tampak berkaca-kaca. Sudah tak ada yang ia inginkan dari hubungan keduanya. Karena hanya kesakitan yang akan diterima masing-masing.


''Apa kamu bilang, Vanya? Lelah, HAH?'' bentak Marcell sambil mencengkeram kuat rahang Vanya hingga membuat wanita itu tak mampu lagi menahan laju air matanya.


*Plak


plak*


Marcell yang sudah kalap langsung menampar kedua pipi mulus Vanya bergantian. Saking kerasnya membuat sudut bibirnya tampak mengeluarkan bercak darah.

__ADS_1


Tak ada lagi tangis Vanya. Ia sudah terlalu biasa mendapatkan perlakuan itu dari Marcell. Memang itu akan Vanya dapatkan jika ia menentang atau menolak perkataan Marcell. Namun Vanya juga sudah tidak bisa menahan dirinya lagi. Ia hanya ingin bebas. Toh Marcell masih bisa mendapatkan wanita lain selain dirinya.


''Kenapa? Toh kamu masih bisa mendapatkan wanita yang kamu inginkan diluar sana, Marcell. Jadi kumohon jangan menahanku lagi,'' balas Vanya.


''Tidak. Itu tidak akan pernah terjadi, Vanya. Bahkan sampai matipun hanya kamu yang akan menjadi ratu di istanaku.'' sahut Marcell sambil berusaha keras menahan dirinya agar tak sampai menyakiti Vanya lebih dalam lagi.


Namun Vanya tampak menggeleng mendengar ucapan darinya.


''Aku tak butuh menjadi seorang ratu jika kamu masih ada ratusan selir diluaran sana, Marcell. Sudah, cukup. Hubungan ini tidak akan pernah bisa membaik. Justru akan semakin memburuk kedepannya.'' ucap Vanya.


''Jangan, Vanya. Aku janji tidak akan ada wanita lain selain dirimu. Jangan pernah berniat meninggalkanku, Vanya. Karena aku tak mengijinkan itu,'' sahut Marcell.


''Aku tak butuh ijinmu, Marcell. Kamu bukanlah siapa-siapa ku lagi. Sudah ratusan kali kamu juga berjanji padaku tapi nyatanya tak ada satupun yang kamu penuhi. Diulang lagi. Diulang lagi, hingga membuatku berada di titik dimana aku merasa menjadi wanita paling bodoh karena masih bersama laki-laki seperti dirimu.'' ucap Vanya.


Mendengar ucapan Vanya membuat Marcell tak bisa lagi menahan dirinya.


''Sepertinya hukumanku kemarin belum juga menyadarkan mu, Vanya. Sini, kamu.'' sahut Marcell lalu ia menyeret tubuh Vanya dan menghempaskan tubuh ringkih itu di atas ranjang.


''Lebih baik bunuh aku, Marcell. Aku akan sangat berterimakasih kepada mu jika kamu mau melakukan itu padaku,''


plak


srakk*


Marcell pun mulai menghajar kembali tubuh ringkih Vanya. Tak ada suara yang terdengar dari mulut Vanya. Wanita itu hanya diam. Pasrah dengan semua perlakuan Marcell layaknya sebuah manekin. Hanya tetesan air mata yang menunjukkan begitu berat dan sakitnya jiwa dan raga Vanya saat ini.


Tak ada harapan lain selain kematian yang saat ini ia inginkan. Bahkan Marcell dengan sengaja menekannya dalam-dalam, tapi tetap tak ada reaksi yang ditunjukkan oleh Vanya. Bahkan hanya kerutan alis saja tak terlihat.


''Fu**ing sh**. Jangan sampai aku menjadi brutal supaya bisa mendengar suaramu, Vanya.'' bentak Marcell di sela-sela permainannya.


Diam. Vanya masih setia dengan keterdiaman nya. Bahkan rasa sakit pada intinya tak membuat wanita itu meringis apalagi mengeluarkan Isak tangisnya.


Marcell semakin brutal menghajar tubuh Vanya. Bahkan ia sampai menggigit-gigit beberapa bagian tubuh Vanya sampai mengeluarkan darah. Tapi masih tak bisa membuat Vanya mengeluarkan suara.


Namun satu hal yang pasti. Tak pernah sekalipun Marcell bermain di belakang Vanya. Entah mengapa ia masih tak tega melakukannya dengan wanita yang sebenarnya ia cintai itu.

__ADS_1


Argh


Setelah mendapatkan pelepasannya, Marcell segera beranjak dari tubuh lemah Vanya.


*prangg


prangg


brakk


prangg*


Dengan membabi buta Marcell melemparkan semua benda yang ada di dalam kamar itu ke sembarang arah. Kali ini emosi Marcell berada pada puncak tertinggi. Napasnya memburu, kedua matanya memerah dipenuhi oleh amarahnya.


''Kau hanya milikku, Vanya. Hanya milikku,''


*Argh


prangg


prangg*


Marcell melampiaskan segala emosi yang menguasai dirinya pada semua benda yang ia miliki. Hancur, berantakan. Seperti hati kedua insan tersebut. Hancur seperti benda-benda yang dilemparkan oleh Marcell, berantakan layaknya bagaimana pemandangan kamar itu saat ini.


Sedangkan Vanya hanya bisa diam sambil memeluk erat kedua lututnya di atas ranjang itu. Ia melihat dengan kedua matanya bagaimana kalapnya Marcell malam ini. Inilah kali pertama ia melihat bagaimana Marcell melampiaskan amarahnya pada benda. Karena biasanya Marcell akan melampiaskan semuanya pada dirinya. Tapi kali ini tidak.


'Hubungan ini memang seharusnya tak pernah ada. Baik aku dan kamu tak akan bisa bersatu, Marcell. Tak akan bisa. Bukan hanya karena aku yang menjadi tempat pelampiasan amarah dan nafsumu. Tapi kamu juga sudah tak bisa lagi menggenggam tanganku dan juga hatiku, Marcell. Tak ada lagi namamu di dalam hatiku. Tak ada lagi. Semuanya kini sudah berubah. Berubah karena seiring berjalannya waktu.' batin Vanya.


Setelah puas melampiaskan segala emosi yang menguasainya, Marcell dengan langkah gontai berjalan menuju ke kamar mandi.


tes


Tak terlihat dimata Vanya saat ini kedua mata Marcell meneteskan air mata. Posisi Marcell yang memang membelakangi Vanya. Marcell sendiri juga merasakan sesak yang teramat sangat di relung hatinya kala mengingat setiap kata yang diucapkan oleh Vanya. Setiap kata kalimat yang mampu menembus kedalam kalbunya.


'Bagaimana aku bisa melepasmu, Vanya. Bagaimana? Sedangkan kamu adalah gadis yang sejak kecil aku inginkan untuk menjadi pendamping hidupku,'.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2