Sang Penakluk Cassanova

Sang Penakluk Cassanova
Bab 8 Penyakit jantung


__ADS_3

"A-ada apa, Tu-tuan ?" tanya Vanya gugup dengan perilaku Arga yang menatapnya dengan tatapan elangnya.


Apalagi dirinya kini tidak bisa lagi menghindar. Arga tampak tersenyum tipis melihat tingkah Vanya yang menurutnya sangat menggemaskan.


Setibanya ia berada di depan Vanya, Arga mencondongkan wajahnya hingga berjarak hanya beberapa senti dari wajah cantik Vanya.


"Saya mau numpang ke kamar mandimu," ucap Arga dengan setengah berbisik.


"Eh,"


Setelah mengatakan itu, Arga menegakkan tubuhnya dan berjalan melewati Vanya dan menuju ke kamar mandi yang memang letaknya di samping tubuhnya.


srett


Bunyi pintu kamar mandi tertutup menandakan laki-laki itu sudah masuk ke dalam sana. Seketika membuat Vanya akhirnya bisa bernapas lega.


*deg


deg


deg*


Suara detak jantung Vanya terdengar nyaring saat ini. Ia pun hanya bisa mengelus dadanya, guna menetralisir detak jantungnya itu.


'Ada apa denganku? Berada di dekat laki-laki itu membuatku bisa-bisa cepat mati, akibat penyakit jantung yang kini mulai kuderita. Oh Tuhan, tenangkan aku,' batin Vanya.


*di dalam kamar mandi


deg


deg


deg*

__ADS_1


"Kenapa aku tertarik dengan wanita itu? Kenapa aku merasa familiar dengannya? Tapi, bukankah ini pertama kalinya aku bertatap muka dengan wajahnya?" gumam Arga sambil buang air kecil disana. Sejurus kemudian ia mengalihkan pandangannya menyisir kamar mandi milik model tersebut.


Setelah selesai, ia berdiri di depan wastafel sambil mencuci tangannya disana.


"Aromanya. Ya, aroma tubuhnya membuatku merasa nyaman. Sepertinya aku pernah merasakan aroma ini sebelumnya. Tapi kapan?" Arga terus menolog dengan dirinya. Entah kenapa ia merasa pernah bertemu dengan sosok Vanya. Tapi kapan? Setahunya ia tidak pernah terlibat apapun dengan wanita itu.


"Ah, Entahlah. Gue jadi pusing sendiri."


Setelah selesai, Argapun segera keluar dari ruang lembab tersebut.


*beberapa saat kemudian


srett*


Pintu kamar mandi itu kembali terbuka, memperlihatkan Arga yang sudah selesai dengan hajatnya. Namun, ia tidak melihat keberadaan sang empu pemilik apartemen tersebut. Ia pun berspekulasi mungkin Vanya sudah diluar kamar. Ia pun segera pergi keluar dari sana. Walau sebelum itu, ia kembali mengedarkan pandangannya melihat seksama kamar pribadi milik wanita itu.


'Nyaman,'


Satu kata yang terlintas dipikiran Arga kala ia melihat penataan ruang dan dekorasi kamar tersebut. Tidak banyak pernak pernik, sederhana namun terasa hangat. Berbeda dengan miliknya yang terkesan manly dan maskulin.


Langkah kaki Arga perlahan berjalan keluar kamar dan mengedarkan pandangannya mencari sosok wanita tadi. Sesekali ia menikmati suasana yang tercipta di dalam apartemen milik sahabat dari kekasih sahabat terbaiknya itu. Beberapa saat kemudian pandangannya berhenti di salah satu sudut ruangan yang ia yakini merupakan dapur apartemen tersebut.


wanita itu terlihat sedang berkutat di sana dengan tubuh membelakangi Arga. Arga bisa melihat lekuk tubuh wanita itu yang menurutnya lumayan seksi. Bulatan yang ada pada tubuh wanita itu tidaklah besar tapi baginya sangat pas untuk ukurannya.


'Ah, apa yang sedang aku pikirkan sekarang,' ucap Arga dalam hati. Ia hanya geleng-geleng kepala membayangkan hal itu.


"Ekhem," suara berat Arga sedikit keras membuat Vanya yang tengah sibuk itu seketika membalikkan tubuhnya. Ia bisa melihat Arga sudah keluar dari kamar pribadinya.


"Kau sudah selesai? Aku sedang bikin cokelat panas. Kamu mau?" ucap Vanya menawarkan minuman favoritnya kepada Arga.


"Aku tidak suka cokelat. Kopi saja," ucap Arga.


Mendengar hal itu membuat Vanya mengangguk paham.

__ADS_1


"Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan membuatkan itu untukmu," ucap Vanya. Lalu ia segera mengambil cingkir miliknya dan segera membuatkan secangkir kopi untuk tamunya itu. Sedangkan Arga? Ia langsung saja duduk di ruang makan tersebut sambil menunggu kopinya dibuat.


Tak beberapa lama kemudian Vanya keluar dari area dapur sambil membawa secangkir kopi ditangan kanannya, lalu segelas cokelat panas di tangan kirinya. Dengan perlahan ia menghampiri Arga yang tengah duduk sambil bermain dengan ponselnya.


"Ini, kopinya." Ujar Vanya sambil meletakkan kopi tersebut di depan Arga.


"Thanks," ucap Arga. Vanya hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis.


Setelah itu ia berjalan mengitari meja dan duduk di seberang Arga. Keduanya tampak menikmati minuman mereka masing-masing.


"Terimakasih," ucap Vanya tiba-tiba memecah keheningan yang tercipta diantara keduanya. Mendengar ungkapan itu membuat Arga hanya tersenyum sambil mengangguk kecil, lalu ia kembali menikmati kopi miliknya itu.


Keduanya kembali diam satu sama lain. Vanya yang memang sedikit pendiam, tidak tahu harus memulai pembicaraan apalagi, sedangkan hari sudah semakin malam. Ingin mengusir, tapi ia sedikit sungkan terhadap laki-laki itu.


Sedangkan Arga? Ia hanya diam sambil menikmati kopi, sesekali ia curi-curi pandang kepada wanita didepannya itu.


*drrrtt


drrrtt


drrrtt*


Ponsel milik Arga bergetar. Arga yang menyadarinya buru-buru mengambil ponsel itu. Terlihat sedikit kerutan di dahinya, kala ia melihat pesan yang masuk ke dalam nomornya itu.


Pemandangan itupun tak luput dari perhatian Vanya. Ia jadi sedikit penasaran akan pesan yang diterima laki-laki itu.


"Sepertinya aku tidak bisa lama-lama. Ada urusan yang harus aku lakukan sekarang. Thanks for the coffe," ucap Arga kepada Vanya.


"Aku juga terimakasih sudah mau mengantarkan kami," balas Vanya. keduanya pun berdiri lalu Vanya mengikuti langkah Arga dari belakang. Ia bermaksud untuk mengantar laki-laki itu hingga sampai di depan apartemen nya.


Namun belum sampai pintu apartemen, Vanya menabrak punggung kokoh Arga kala laki-laki itu tiba-tiba berhenti sebelum mencapai pintu.


Bugh

__ADS_1


"Aduh,"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2