
Keesokan harinya
Karena Vanya (Ella) telah kembali dan berkumpul bersama mereka, Leon dan Chris memutuskan untuk mengambil cuti kerja dan menghabiskan waktu bersama dengan keluarganya. Seperti saat ini, biasanya kedua laki-laki itu sudah berangkat ke kantor. Tapi sudah jam delapan lebih, keduanya masih betah berada di meja makan bersama Vanya (Ella) mengobrol setelah sarapan pagi bersama.
hahaha
Suara gelak tawa terdengar dari sana karena Chris menceritakan bagaimana kisah masa kecil sang Kakak. Begitu pula dengan Vanya (Ella), wanita itu juga menceritakan bagaimana saat dirinya menikmati masa kecil bersama anak-anak panti.
Saat ketiganya tengah asyik bersenda gurau, terlihat seorang laki-laki datang menghampiri mereka.
''Permisi, Tuan. Saya datang ingin mengantarkan pesanan Tuan.'' ucap Brian sambil meletakkan sebuah paperbag berukuran kecil di hadapan Leon. Leon yang mengetahui itu tampak tersenyum tipis seraya menganggukkan kepala.
''Thank's, Brian.'' sahut Leon.
''Kalau begitu, saya kembali ke kantor dulu, Tuan.'' setelah mengatakan itu, Brian segera pergi meninggalkan kediaman pemilik dari perusahaan tempat ia bekerja.
''Itu apa, Kak?'' tanya Vanya (Ella) sepeninggal Brian dari sana. Chris tampak tersenyum memperhatikan keduanya.
''Ini? Ini buatmu, Ell.'' jawab Leon seraya mendorong paperbag itu kearah Vanya (Ella). Vanya (Ella) mengeryitkan dahinya menatap paperbag itu.
Perlahan Vanya (Ella) mengambilnya dan melihat ke dalamnya.
''I-ini,'' Vanya (Ella) tak bisa meneruskan ucapannya saat melihat sebuah kotak yang berlogokan buah apel disana. Ponsel. Leon memberikan sebuah ponsel baru untuk adik tercintanya itu.
''Pakailah, Ell. Kamu tentu sangat memerlukan itu. Dengan itu kamu bisa menghubungi Kakak juga Daddy jika kami sudah kembali ke kantor. Kamu juga bisa menghubungi teman-teman mu yang ada disana,'' mendengar ucapan sang kakak, membuat Vanya (Ella) mendongak. Pikirannya kembali teringat pada kehidupannya yang lalu. Meski sedih, tapi sebisa mungkin Vanya (Ella) tidak memperlihatkannya pada Kakak dah Daddy-nya.
''Thank's Kak.'' sahut Vanya (Ella) dengan senyuman manisnya. Terlihat giliran Chris yang mengambil dompetnya dari dalam saku celananya.
__ADS_1
''Dan ini, Sayang. Daddy berikan ini untukmu,'' ucap Chris sambil memberikan tiga buah kartu pada Vanya (Ella). Salah satu diantaranya ada yang berwarna hitam, atau lebih dikenal dengan sebutan black card (Kartu tanpa batas). Kartu yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang benar-benar kaya raya.
"Daddy? I-ini terlalu banyak, Dad. Aku masih ada tabunganku selama ini,'' ucap Vanya (Ella) yang merasa masih ragu untuk menerima semua itu. Lagipula ia masih memiliki tabungan yang isinya lumayan banyak.
''No, Ell. Simpan semua kartu milikmu. Mulai sekarang gunakan semua fasilitas yang kami berikan. Biarkan kakak merasakan bagaimana memanjakan seorang adik,'' sahut Leon dengan raut wajah yang memohon pada Vanya (Ella). Vanya (Ella) yang tak mampu menolak keinginan malaikat penyelamat nya itu hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Kedua matanya pun kini sudah tampak berkaca-kaca melihat Leon dan juga Chris.
'Aku sangat bahagia bisa bertemu dengan kalian. Aku juga bersyukur memiliki kalian sebagai keluarga kandung ku. Terimakasih Dad, terimakasih Kak. Aku janji akan berbakti kepada kalian. Kini hidupku lebih berwarna setelah bersama dengan kalian.' batin Vanya (Ella).
''Baiklah, Kak. Aku akan mengikuti semua kemauan Kakak dan juga Daddy,'' ucap Vanya (Ella) pada Leon dan Chris.
''Sudah, kalau begitu ayo, Sayang. Kita temui Mommy mu,'' ucap Chris seketika membuat Vanya (Ella) tersentak.
deg
Ada perasaan yang tak menentu dirasakan oleh Vanya (Ella) mendengar kata Mommy. Ada rasa haru, sedih, deg-degan bercampur menjadi satu. Chris memegang lembut tangan kiri Vanya (Ella) sambil memberikan senyumnya.
''Jangan takut, ada Daddy dan juga kakakmu yang akan menemanimu ke dalam.'' tutur lembut Chris membuat Vanya (Ella) sedikit merasa lebih tenang. Ia pun beranjak dari sana dan mengikuti langkah Daddy-nya menuju ke kamar yang selama du puluh tahun belakangan ini menjadi tempat tidur sang Mommy.
Chris mengajak Vanya (Ella) masuk ke dalam kamar tidur istrinya. sedangkan Leon mengikuti dari belakang.
tit... ti...tit...
Suara mesin detak jantung Avril memenuhi ruangan kamar mewah tersebut. Terlihat juga dua orang perawat yang bertugas membantu Avril dan memantau setiap perkembangannya.
''Bagaimana kondisinya, Sus?'' tanya Chris pada perawat itu.
''Sepertinya semangat Nyonya Avril semakin tinggi, Tuan. Sejak pagi kami sudah melihat beberapa kali jari jemari Nyonya bergerak.'' ucap salah satu perawat disana. Chris tentu sangat bahagia mendengar kabar membahagiakan itu.
__ADS_1
''Jadi, Mommy... '' belum sempat Leon meneruskan ucapannya, Chris terlihat menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
''Iya, Son. Mommy kalian memang sudah beberapa hari belakangan ini sudah menampakkan beberapa perkembangan. Jika Daddy pikir-pikir lagi, itu semua semenjak kamu kecelakaan di Singapura beberapa waktu lalu. Kamu ingat kan?'' ucap Chris menyela perkataan sang Anak.
''Tapi kenapa Daddy gak ngasih tahu Leon?'' tanya Leon yang tak terima jika Chris menyembunyikan soal Avril darinya.
''Sorry, Son. Waktu itu Daddy masih belum terlalu berharap dengan keadaan Mommy. Kamu tahu sendiri bukan bagaimana usaha kita untuk menyembuhkan mommy?'' ucap Chris bertanya pada Leon tentang masa lalu mereka. Leon tentu mengangguk cepat
''Sorry, Son. Waktu itu Daddy masih belum terlalu berharap dengan keadaan Mommy. Kamu tahu sendiri bukan bagaimana usaha kita untuk menyembuhkan mommy?'' ucap Chris bertanya pada Leon tentang masa lalu mereka. Leon mengangguk, ia sendiri juga ikut terjun langsung mencari dokter paling terbaik dari yang terbaik dari belahan bumi manapun. Namun hanya satu jawaban pasti yang mereka ucapkan pada saat itu.
'Hanya keajaiban yang bisa membuat nyonya bisa sadar dari tidur panjangnya,'
Itulah kata-kata yang terucap dari mulut para dokter yang pernah memeriksa dan menangani Mommy Avril.
''Lalu bagaimana tanggapan dokter, Sus?'' tanya Leon pada perawat itu.
''Baru Lina menit yang lalu saya menghubungi dokter Michael, Tuan. Beliau dalam perjalanan kemari,'' jawab perawat tersebut. Chris dan Leon tampak saling menganggukkan kepala mendengar penjelasan dari perawat itu.
''Baiklah, kalian keluar dulu, Sus. Beri kami ruang untuk bicara dengan Nyonya.'' ucap Chris. Kedua perawat itu lantas segera keluar dari kamar tersebut.
''Ell?'' panggil Chris pada Vanya (Ella) yang sejak tadi masih berdiri tak jauh dari ranjang sang Mommy. Tubuhnya terasa berat sekali, kedua matanya tampak memerah dan berkaca-kaca melihat keadaan wanita yang melahirkannya ke dunia itu.
Leon pun segera merengkuh tubuh ringkih sang adik. Ia tahu bagaimana perasaan Vanya (Ella) saat ini. Melihat Mommy mereka yang tercinta tengah tertidur pulas selama bertahun-tahun lamanya.
Vanya (Ella) merasakan sesak yang teramat sangat di dalam dadanya saat melihat tubuh sang Mommy yang tak berdaya. Meski tertidur, wajah Mommy mereka masih terlihat cantik. Hanya saja sedikit pucat, membuat Mommy mereka bagaikan seorang putri snow white yang ada di kehidupan mereka.
Tapi bedanya meski sang Daddy menciumi wajah serta bibir Avril, nyatanya tak bisa membuat wanita itu terbangun dari tidurnya.
__ADS_1
''Ayo, baby. Temui Mommy,''
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...