Sang Penakluk Cassanova

Sang Penakluk Cassanova
Bab 22 Belum move on?


__ADS_3

Suasana di pesta ulang tahun milik Jonathan semakin meriah saat melihat dirinya tengah mencium seorang wanita cantik.


*huuuuu


huuuuu*


Rona merah mulai terlihat di kedua pipi milik Rebecca. Walau ia sudah sering berciuman dengan Jonathan bahkan lebih dari itu, tapi keduanya jarang mengumbar kemesraan mereka di depan umum.


"Aku tak sabar untuk melahap mu, baby." Bisik Jonathan tepat di depan wajahnya saat dirinya melepaskan ci... umannya.


"Aku malu, Jo. Mereka semua melihat kita," ucap Rebecca sambil menunduk. Jonathan hanya terkekeh melihat tingkah menggemaskan dari kekasihnya itu.


"Mereka mesra sekali," ucap Vanya yang juga menyaksikan kedua sejoli itu. Apalagi ia baru melihat wanita yang merupakan kekasih dari Jonathan tersebut. Marcell yang ada di sampingnya hanya bersikap biasa saja melihat adegan tersebut.


"Bukankah dia itu model top yang ada di Amerika, ya? Bagaimana keduanya bisa bersama? Ini juga pertama kalinya aku melihat Jo mesra dengan seorang wanita. Apa keduanya sudah lama menjalin hubungan?" tanya Vanya sedikit berbisik kepada Marcell.


"Hm, hubungan mereka rumit diawal." jawab Marcell singkat. Ia tak terlalu tertarik mengurusi kehidupan orang lain.


"Apa mereka akan menikah nantinya?" tanya Vanya lagi. Ia terlihat sangat antusias melihat keduanya. Bagaimana tidak antusias? Seorang model top internasional berada dalam satu acara dengannya, ditambah lagi model tersebut menjalin hubungan dengan sepupu dari kekasihnya.


"Bisakah kau diam, Vanya? Kau sangat berisik malam ini," ucap Marcell dingin. Tak lupa ia menghadiahi Vanya tatapan mata tajamnya.


Vanya yang mendapat perlakuan itu langsung terdiam. Ia lupa jika yang disampingnya itu adalah Marcell Darwin, bos sekaligus kekasih kejamnya.


Vanya yang sudah kehilangan mood nya, memilih mengalihkan pandangannya sambil menikmati minuman yang disajikan disana.

__ADS_1


"Aku mau ambil minuman dulu," ucap Vanya lalu beranjak dari tempat duduknya tanpa menunggu jawaban dari Marcell.


"Sabar, Vanya. Sabar," gumam Vanya sambil berjalan menuju meja panjang yang ada tak jauh dari tempat duduknya.


"Sepertinya ini enak," ucap Vanya yang melihat gelas-gelas kaca yang mempunyai warna beda-beda. Ia mengambil salah satu diantaranya yang berwarna biru dan mencicipinya.


"Eungh, rasanya." ucap Vanya yang merasakan tenggorokannya serasa terbakar. Saat lidahnya berusaha mencecapi sisa-sisa rasa minuman yang tertinggal di dalam mulutnya, pandangan matanya tak sengaja melihat kearah dua orang laki-laki yang ia kenali.


"Bukankah itu Arga dan Alvin?" gumam Vanya yang melihat kedatangan kedua laki-laki itu.


"Ternyata mereka juga di undang kesini,"


Sambil menikmati minumannya, Vanya masih mengamati dua laki-laki itu. Ia melihat malam ini penampilan Arga sangat memukau. Walau hanya menggunakan setelan formal, namun ia merasakan aura memikat yang menguat dari tubuh Arga.


"Jadi, acara yang ia katakan tadi adalah ini." gumam Vanya yang baru menyadari ternyata Arga dan dirinya menghadiri acara yang sama.


Ia tersenyum kala melihat kedatangan Arga dan juga Alvin.


"Akhirnya kalian datang juga. Ku kira kalian tak akan datang," ucap Jonathan lalu ia meraih pinggang Rebecca yang terlihat terkejut melihat kedatangan kedua laki-laki itu.


'Arga,' batin Rebecca. Pandangannya berubah sendu pada Arga. Jujur ia tak menyangka akan bertemu dengan mantan kekasihnya itu disini.


Sedangkan Jonathan? Ia bersikap seperti dengan sengaja memamerkan kemesraannya dengan Rebecca di depan Arga.


"Tentu saja kami akan datang. Apalagi kau mengundang kami. Tak mungkin kan kami mengabaikan undangan pesta dari mantan teman kami? Benarkan Arga?" ucap Alvin yang menyindir hubungan antara Arga dan Jonathan dimasa lalu.

__ADS_1


"Hm," Arga hanya berdehem menjawabnya. Pandangan matanya masih tertuju pada wanita yang berada di samping Jonathan. Rebecca pun membalas tatapan mata Arga yang ditujukan padanya.


Disaat Arga menatap ke arah Rebecca dengan tatapan bencinya, justru Rebecca menatapnya dengan tatapan sendunya. Seakan orang bisa melihat kesedihan yang terpancar dari mata indahnya.


"Ehem. Sepertinya loe masih belum bisa move on ya dari kekasihku ini, hm?" ucap Jonathan sinis. Lalu dengan sengaja ia mengecup pipi kiri Rebecca seraya mencengkeram kuat pinggang wanita itu. Ia merasa kesal dengan Rebecca, karena ia tahu Rebecca masih mempunyai rasa dengan Arga.


"Excuse me? Belum bisa move on? Sorry ya, perasaan gue udah hilang semenjak gue tahu penghianatan kalian waktu itu." ucap Arga dingin. Ia tak terima jika masih dianggap mempunyai rasa dengan Rebecca.


"Benarkah? Aku tak percaya." ucap Jonathan sambil menyipitkan matanya. Karena ia tahu Arga dimasa lalu sangat mencintai Rebecca. Bahkan saking mencintainya, ia tidak mau menyentuhnya karena ia beranggapan tak ingin melakukannya sebelum menikah dengannya.


Namun karena Arga tak mau melakukannya, membuat Jonathan-lah yang menyentuh Rebecca dan memberi kepuasan batin padanya.


"Whatever," sahut Arga. "By the way, Happy birthday. Gue pergi dulu," imbuh Arga.


Lalu ia membalikkan tubuhnya dari hadapan Jonathan diikuti juga oleh Alvin. Ia sudah muak dengan Jonathan maupun Rebecca. Ia mulai gerah dengan situasi disana. Namun belum sempat melangkahkan kakinya menjauh, ia kembali berhenti kala mendengar ucapan dari mantan temannya itu.


"Loe mau kemana? Kalau loe emang udah nggak ada rasa sama Rebecca, kenapa loe seakan berusaha menghindar? O iya, selama ini juga gue nggak pernah dengar loe punya hubungan dengan wanita lagi. Gue yakin kalau loe emang belum bisa move on darinya," ucap Jonathan dengan suara yang sengaja ia keraskan. Akibat ucapan tersebut, membuat beberapa orang yang ada di sekitar mereka mulai berbisik-bisik, menggosipkan ketiganya. Arga yang mendengarnya seketika mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.


Alvin yang sudah geram dengan ucapan demi ucapan yang terlontar dari mulut Jonathan langsung membalikkan tubuhnya. Ia dengan cepat menarik kerah kemeja Jonathan.


"Jaga ucapan loe!" desis Alvin. Lalu ia merasakan bahunya ditepuk oleh seseorang. Ternyata itu adalah Arga. Ia melihat Arga menggelengkan kepalanya sebagai tanda jangan meladeninya. Lalu dengan kasar Alvin melepaskan cengkeramannya.


Setelah Alvin memundurkan tubuhnya, Arga berjalan mendekati Jonathan hingga hanya berjarak beberapa sentimeter saja di depan wajahnya.


"Asal loe tahu ....

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2