Sang Penakluk Cassanova

Sang Penakluk Cassanova
Bab 27 Wijaya Group


__ADS_3

*Wijaya group


Pagi-pagi Arga sudah dihadapkan oleh meeting bulanan yang selalu ia hadiri dengan semua kepala divisi kantornya. Ia cukup puas dengan kinerja para karyawannya karena tiga bulan belakangan ini pengunjung hotelnya meningkat hampir dua puluh lima persen. Walau ia tak memberikan pujian ataupun senyuman, tapi seluruh karyawannya tahu jika Presdir mereka puas dengan melihat Arga yang tidak marah-marah pada saat meeting berlangsung. Karena biasanya jika ada sedikit masalah, ia langsung meluapkan emosinya di depan seluruh orang yang hadir di dalam meeting tersebut.


Setelah memakan waktu hampir tiga jam lamanya, akhirnya meeting bulanan tersebut selesai juga. Dengan diikuti seluruh kepala divisi kantornya, Arga melangkahkan kakinya keluar dari ruangan. Sesampainya ia di depan meja sekretarisnya, Arga menghentikan langkah.


''Maaf, Tuan. Di dalam ada Tuan Alvin yang sudah menunggu kedatangan Tuan sejak tiga puluh menit yang lalu,'' ucap sekretarisnya itu.


''Hm,''


Ceklek


Arga melihat Alvin tengah duduk santai di sofa disana sambil memainkan ponselnya. Bahkan sampai dia tidak mengetahui keberadaannya yang saat ini sudah berdiri di ambang pintu ruangannya.


*tap


tap


tap*


Alvin yang tadinya tengah memainkan ponselnya, kemudian ia mendongakkan kepala saat mendengar derap langkah seseorang. Ia menyunggingkan senyumnya saat melihat kedatangan sahabatnya itu.


''Akhirnya selesai juga meeting loe,'' ucap Alvin. Arga menghampiri Alvin dan duduk bergabung dengannya disana.


''What's up?''


''Nggak ada. Gue hanya penasaran aja sama loe. Memang loe sudah nggak ada perasaan sama sekali sama Becca?'' tanya Alvin. Arga mengeryitkan dahi mendengar pertanyaan tak bermutu dari sahabatnya itu.

__ADS_1


''Kenapa loe sebut-sebut nama dia lagi? Bukannya kemarin gue udah kasih tahu sama mereka ? Loe nggak mungkin nggak denger,kan?'' ucap Arga. Ia sangat sensitif jika sudah disinggung mengenai masa lalu kelam tersebut.


''Denger sih. Tapi ...'' belum sempat Alvin melanjutkan ucapannya, Arga lebih dulu menyela.


''Sudahlah. Semua itu udah nggak ada gunanya dibahas. Lagipula sekarang gue udah bahagia dengan hidup gue sekarang. Kalau loe kesini cuma mau ngomongin itu, lebih baik loe pergi deh. Kerjaan gue masih banyak. Emangnya loe nggak ada kerjaan apa? Gimana pasien-pasien mu?'' ucap Arga. Alvin mengalihkan pandangannya ke arah jam tangannya. Masih ada waktu dua jam sebelum jam prakteknya dimulai. Jadi ia masih bisa bersantai sedikit lebih lama.


''Jam praktek gue masih lama.'' ujar Alvin santai. Arga yang mendengarnya hanya bisa geleng-geleng kepala. Tanpa menghiraukan keberadaan sahabatnya, Arga berjalan ke arah meja kerjanya, lalu menekan tombol 1 di teleponnya.


"Ya, Tuan?"


"Kesini sebentar, Din."


"Baik, Tuan."


tutt


Tak beberapa lama kemudian terdengar suara ketukan dari luar ruangan nya.


Terlihat seorang wanita berambut pendek sebahu masuk ke dalam ruangan Arga. Wanita itu merupakan asisten Arga yang sudah bekerja sejak papanya masih memimpin perusahaan tersebut. Dinda Kirana nama wanita itu. Wanita yang sudah memiliki dua orang anak itu tampak masih cantik dan bertubuh ideal. Membuat wanita itu tampak masih single.


"Ya, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" ucap Dinda sopan. Meski wanita itu menggunakan celana panjang dan blouse sederhana, tak menghalangi kesan anggun wanita itu. Apalagi wajahnya yang tampak masih kencang meski usianya sudah hampir tiga puluh lima tahun. Bahkan membuat Alvin tetap saja terpesona melihat Dinda itu.


"Hai mbak Dinda. Hari ini mbak Dinda cantik banget," ucap Alvin yang kini mulai mengeluarkan rayuan maut nya.


Mendengar ucapan tersebut membuat Dinda dan Arga menatap ke arah dokter itu. Wanita itu geleng-geleng kepala melihat sahabat baik bosnya itu yang sejak dulu selalu saja menggodanya.


''Hentikan rayuanmu, Alvin. Dinda tidak mungkin tergoda olehmu,'' sarkas Arga.

__ADS_1


''Lagipula suami saya jauh lebih tampan dari Tuan Alvin, Tuan. Jadi saya tidak mungkin berpaling darinya,'' sahut Dinda sambil melemparkan senyum manisnya kepada Alvin.


''Si...Alan,'' gerutu Alvin. Baik Arga dan Dinda hanya bisa tersenyum melihat wajah tampan Alvin yang ditekuk itu.


''Jadi, ada apa, Tuan?'' tanya Dinda kepada Arga.


''Setelah ini apa jadwalku?'' tanya Arga.


''Sampai menjelang makan siang anda tidak ada kegiatan, Tuan. Tapi nanti setelah makan siang akan ada meeting dari beberapa agency model yang akan merekomendasikan beberapa model mereka untuk digunakan sebagai wajah dalam iklan hotel baru kita, Tuan.'' jawab Dinda. Arga manggut-manggut saja mendengarnya.


''Dari agency mana saja,Din?'' tanya Arga.


''Sebentar, Tuan.'' ucap Dinda lalu ia segera mengecek di iPad yang ia bawa itu.


''Em, ada tiga agency, Tuan. Diantaranya ada M.D Entertainment, H.M Entertainment, Starmedia Entertainment, Tuan. Meeting tersebut akan dilaksanakan di sini.'' imbuh Dinda menjelaskan kepada Arga tentang meeting nanti siang.


''Baiklah, aku mengerti. Kalau begitu pergilah,'' ucap Arga lalu ia mengibaskan tangannya pada Dinda.


''Baik, Tuan. Saya permisi dulu,'' ucap Dinda. Lalu ia segera meninggalkan ruangan milik atasannya tersebut.


''Ga?'' panggil Alvin.


''Hm,''


''M.D Entertainment bukannya itu milik sepupunya Jo?'' tanya Alvin memastikan.


''Hm,'' lagi-lagi hanya deheman yang keluar dari mulut Arga. Namun kali ini ada sedikit lengkungan di bibir laki-laki itu yang membuat Alvin penasaran.

__ADS_1


''Apa yang sedang kau rencanakan, Arga?''


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2