
SPC 130 -
Akhirnya sesi lamaran Arga dan Vanya berjalan dengan lancar. Lamaran yang dilengkapi dengan deraian air mata membuat kedua keluarga itu kini terasa lebih dekat dan hangat. Kini seluruh tamu disana tengah menikmati suguhan di atas meja besar sana.
Chris dan Arya tampak terlihat obrolan mereka mengenai bisnis mereka. Avril, Vanya, dan Arga juga terlihat berbincang serius tentang pelaksanaan rencana pernikahan mereka. Sedangkan rombongan Alex, Valerie, Olivia, dan Angel tampak menikmati makanan mereka sambil mengobrol santai. Sesekali mereka nimbrung obrolan kedua calon pengantin tersebut.
Drrrt
Drrrt
Drrrt
Disaat asyik-asyiknya mengobrol, ponsel milik Angel bergetar di dalam tasnya. Dengan cepat ia mengambilnya dari dalam sana. Kening Angel mengerut saat melihat sebuah nama yang terpampang jelas di layar pipih itu.
'Ben? Ada apa dia ngubungi aku saat ini?' batin Angel bertanya-tanya.
"Aku angkat telepon dulu," ucap Angel kepada ketiga nya. Merekapun hanya bisa menganggukkan kepala. Tanpa menunggu lama, Angel pun segera pergi menyingkir dari ruang tamu itu. Setelah berada sedikit lebih jauh dari tempat itu, Angel segera menjawab panggilan tersebut.
"Halo," ucap Angel.
"Gawat, Nona." Terdengar suara penuh kekhawatiran dari nada suara Ben.
"Ada apa, Ben? Bicara yang jelas," sahut Angel dengan nada yang sudah berubah dingin dan datar.
"Itu, Nona. Perusahaan baru kita yang ada di Rennes tiba-tiba terbakar. Saya diberi tahu oleh anak buah saya yang berada di sana," ucap Ben melaporkan pada Angel kejadian yang tengah terjadi. Angel yang mendengarnya seketika meradang. Perusahaan baru yang didirikan dengan keringatnya itu tiba-tiba terbakar tanpa ada alasan yang jelas.
"Baji***. Apa yang dilakukan anak buahmu disana, huh? Perintahkan pada mereka untuk segera menyelidiki semuanya. Dan kau, sekarang jemput aku di xxx. Kita akan pergi ke Rennes sekarang juga. Ingat. Aku akan mencabut nyawa kalian jika kalian tak bisa menemukan siapa keparat yang telah berani mengusikku. Camkan itu," dengan napas yang masih memburu, Angel mematikan panggilan tersebut.
Sial
Baji***
__ADS_1
''Aku pasti akan menemukanmu, brengsek. Berani-beraninya kau bermain-main denganku. Lihat saja apa yang bisa aku lakukan jika sampai aku menemukanmu," ucap Angel dengan kedua matanya menerawang jauh ke luar jendela. Saat ini ia tengah berdiri menghadap ke luar jendela yang memperlihatkan pemandangan taman belakang rumah itu.
Setelah bisa menekan amarahnya, Angel pun segera pergi dan kembali kepada semua orang yang ada di ruang tamu tak jauh dari sana. Tanpa Angel sadari ada sepasang telinga yang mendengarkan semua ucapan dan juga umpatan dari mulutnya barusan.
'Siapa sebenarnya wanita ini? Kadang tampak lembut, tapi kadang terlihat menakutkan sekali.' batin Leon yang saat ini berada di luar jendela. Ia sejak tadi berada diluar karena ia tengah menikmati cerutunya. Tentu ia sangat penasaran dengan sosok wanita muda seperti Angel. Dengan cepat ia merogoh sakunya dan mengambil ponselnya.
"Halo, Tuan." Terdengar suara laki-laki yang menjawab panggilannya.
"Ada pekerjaan untukmu. Selidiki siapa Angela Richard dan perusahaan di Rennes yang saat ini tengah terbakar. Lakukan secepatnya," setelah mengatakan itu, Leon bergegas masuk kembali ke dalam rumah setelah ia mematikan puntung rokok nya yang masih setengah itu.
Sesampainya Leon di dalam sana, ia bisa melihat raut wajah kedua orang tua dan juga adiknya yang saat ini tengah memancarkan aura kebahagiaan mereka. Tanpa Leon sadari ia juga ikut tersenyum kala melihat mereka tersenyum.
'Semoga kebahagiaan ini selalu menghinggapi kehidupan kami, Tuhan. Jangan kau renggut senyuman dari wajah mereka,' Leon berdoa kepada Tuhan untuk kebahagiaan keluarganya.
Saat waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam, rombongan dari Arga pun berpamitan kepada keluarga Vanya.
"Baiklah, kalau begitu Chris. Kami pamit dulu," ucap Arya kepada Chris. Kepala keluarga Nerotouw itu hanya bisa mengangguk sambil tersenyum kepada calon besannya.
Keluarga Arga beranjak dari tempat duduknya diikuti pula oleh keluarga dari pihak Vanya. Vanya dan kedua orang tuanya mengantar kepergian rombongan menantu sampai ke depan rumah.
Meski mobil yang ditumpangi oleh rombongan dari Arga sudah tak terlihat dari pandangan Chris dan Avril, namun ia yakin jika saat ini putrinya itu tengah berbunga-bunga sampai tak sadar jika semua tamu mereka sudah pulang.
"Ayo masuk, Sayang." Ucap Chris yang mengajak sang putri untuk masuk ke dalam rumah.
"I-iya, Dad." Sahut Vanya dengan gelagapan. Chris, Vanya, dan Avril pun terlihat berjalan memasuki rumah mereka kembali.
Setibanya mereka di dalam, mereka melihat Leon yang berjalan menuruni tangga sambil memakai jaket kulitnya. Saat ini ia terlihat sudah berganti dengan pakaian santainya.
"Mau kemana, Leon?" Tanya Avril saat Leon sudah berada di depan mata mereka.
"Aku harus kembali ke Rennes, Mom. Ada urusan penting yang harus aku lakukan disana," ucap Leon sambil tersenyum kepada keluarganya.
__ADS_1
"Ada apa, Son? Something bad has happened?" Kini giliran Chris yang menanyakan hal itu kepadanya. Dengan cepat Leon menggeleng mendengar ucapan dari sang Papa.
"Tidak ada, Dad. Semua masih aman terkendali." Jawab Leon seraya memeluk tubuh sang Mommy untuk berpamitan. Lalu dengan Ella hingga akhirnya Leon juga memeluk tubuh Chris.
"Kalau begitu aku berangkat dulu, ya? Bye," ucap Leon seraya pergi meninggalkan keluarganya yang terlihat masih penasaran dengan kepergian Leon.
"Benarkah tidak terjadi apa-apa, Dad?" Tanya Vanya pada Chris. Chris yang ada di sebelah Vanya menggeleng keras sambil memeluk tubuhnya.
"Tidak, baby. Jika pun ada sesuatu yang terjadi pada perusahaan kita, Daddy pasti sudah mengetahuinya jauh sebelum Leon mengetahui," Vanya pun akhirnya bisa bernapas lega setelah mendengar penuturan dari mulut sang Daddy.
Keesokan harinya
Arga mendatangi rumah Vanya. Semalam Arga sudah berjanji akan mengajak Vanya untuk pergi ke suatu tempat. Vanya pun sangat bahagia mendengarnya. Apalagi ini pertama kalinya keduanya bisa mengekspos kebersamaan mereka diluar sana.
"Jangan pulang terlalu malam, Sayang." Ucap Avril kepada Vanya. Avril saat ini tengah mengantar kepergian Vanya bersama Arga. Arga tersenyum mendengar ucapan calon ibu mertua nya itu.
"Tenang saja, Mom. Tak akan terjadi apa-apa selama ada aku," ucap Arga sambil tersenyum tipis. Avril yang mendengarnya hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Justru karena bersamamu, Mommy jadi was-was." Vanya dan Arga langsung tertawa bersama mendengar ucapan dari Avril.
Setelah berpamitan dengan Avril, Arga segera mengajak wanitanya itu pergi meninggalkan rumah mewah tersebut. Di dalam perjalanan Arga dibuat pusing oleh pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Vanya padanya.
"Jawab aku, Hon. Sebenarnya kita mau kemana?" Entah sudah berapa kali Vanya mengucapkan kalimat yang sama. Arga yang mendengarnya hanya bisa geleng-geleng kepala tanpa membalasnya. Vanya hanya bisa mendengus kesal karena tak bisa mendapatkan jawaban dari pertanyaan nya itu.
"Jawab aku, atau ..." Vanya tak meneruskan ucapannya. Tapi Arga bisa merasakan sebuah tangan yang tiba-tiba sudah berada di paha kanannya. Sambil menyetir, Arga melototkan kedua matanya kepada Vanya.
"Jangan macam-macam, baby. Kita sedang ada di jalan," ultimatum dari Arga. Namun seakan tuli, Vanya lebih gencar menggoda iman Arga dengan lengan kanannya yang kini sudah bertengger di atas miliknya. Memberikan elusan pada luar celana itu hingga beberapa saat kemudian terasa benda itu mulai mengeras.
"Jawab aku, Hon."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1